
Kini mereka pun sampai ketempat pemakam dimana Anya dimakam kan.
Mereka pun mengelilingi makan Anya dan ber do\*a, Zila pun menaburkan bunga di bantu oleh Anggar dan Ara.
"Bunda, Zila udah mau masuk SD, bunda bahagia kan lihat Zila sekarang? Semoga bunda juga bahagia disana" ucap Zila sambil menaburkan bunga diatas makam Anya.
Mereka pun satu persatu men do\*a kan almarhumah Anya.
"Ya sudah ayo, sekarang kita menuju makam ayah nya mamah kamu nak" ajak pak Hardian.
Mereka pun semua menatap ke arah pak Hardian, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pak Hardian.
"Kenapa semua nya pada menatap papah? Tanya pak Hardian sambil melihat ke arah mereka.
"Beneran pah? Papah ngajak ke makam almarhum ayah Ara? Ucap Ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca"
"Iya nak, sekalian izin kan ibu mu besok mau pergi berobat" jawab pak Hardian.
"Kita ke makam nya eyang kakung ya mah? Tanya Zila.
"iya sayang" jawab Ara.
Mereka pun meninggalkan makam Anya dan menuju ke makam ayah nya Ara.
*
*
Malam ini Anggar harus rela tidur sendirian karena Ara meminta tidur bareng ibu nya untuk malam ini.
Anggar pun mengizinkan, karena Anggar tahu perasaan Ara yang tidak pernah jauh dari ibunya, sedangkan besok mereka akan berjauhan dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan.
Sedang kan Zila memilih tidur bersama opah dan omah nya.
"Nak, kamu baik-baik ya? Kamu harus mendengar apa kata suami kamu, jangan suka membantah nya, karena kewajiban seorang istri adalah mematuhi suami" kata bu Malika sebelum tidur.
"Iya bu, Ara akan selalu mengingat semua pesan ibu" jawab Ara sambil memeluk ibu nya.
__ADS_1
"Kamu sudah dewasa nak, bahkan kamu sudah punya suami, tapi ibu merasa kamu ini masih kecil, ibu selalu ber do\*a untuk kebahagiaan kamu, nanti kalau ibu pulang, kamu harus memberikan ibu kabar bahagia ya? Ibu ingin menimang cucu selagi ibu ada" kata bu Malika sambil mengelus punggung Ara.
Ara pun hanya mengangguk kan kepala nya sambil terpejam, karena merasa nyaman dalam pelukan ibu nya Ara pun tertidur dengan lelap.
*
*
Di pagi hari mereka sibuk karena mau mengantarkan ke bandara.
"Ayo sayang kita ngantar omah, opah dan uti ke bandara" ucap Ara setelah selesai mengepang rambut Zila.
"Ayo mah" Zila pun berdiri dan menarik tangan Ara lalu mereka berjalan menghampiri semua nya yang sudah siap berangkat.
"Nah kedua bidadari papah akhir nya turun juga" kata Anggar sambil menatap kearah tangga.
"Sudah siap semuanya, kalau begitu ayo kita berangkat, takut keburu siang dan macet di jalan nya" ajak pak Hardian.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, tapi Ara meminta duduk di belakang bersama ibu nya, dan Zila semobil sama pak Hardian dan bu Carlota dengan pak Roni yang mengemudi.
Mereka pun pergi menuju bandara dengan melajukan mobil secara beriringan.
*
*
"Lagi nunggu Ara ya bu? kalau udah siang begini belum datang, pasti ngga bakalan masuk bu" kata Dina yang melihat bu Hani terus melirik ke arah pintu.
"Masuk kok, cuman datang nya terlambat, karena harus ke bandara dulu ngantar ibu nya" jawab bu Hani.
"Apa bu? Ke bandara? Tanya Dina dengan nada yang ngga percaya.
"Naik pesawat kan mahal? Apa dia mampu? Gumam bathin Dina.
"Iya ke bandara, karena ibu nya mau berobat di Luar Negeri" jawab bu Hani.
"Benar kan bu semua yang saya omongin kemarin? Kalau Ara itu suka melayani para bos termasuk pak Anggar, bukti nya kalau bukan melayani para bos mana mungkin dia akan punya uang untuk membiayai berobat ibu nya di Luar Negeri, berobat di luar Negeri itu sangat membutuh kan uang yang banyak sekali, kalau cuma mengandalkan kerja sebagai office girl seperti ini, puluhan tahun pun belum tentu cukup uang untuk berobat di sana" kata Dina.
Bu Hani pun terdiam, "Benar juga semua yang diomongin Dina, tapi aku ngga boleh suudzon dulu, aku harus memastikan semua nya" gumam bathin bu Hani.
"Sudah lah ayo kamu mulai kerja, mau apa yang di lakukan sama Ara itu urusan dia" ucap bu Hani.
__ADS_1
Dina pun bersiap untuk melakukan semua tugas nya sambil menggerutu.
Dina hari ini kebagian membersihkan lantai di lantai atas yang tedapat ruangan Anggar, tapi tetap kalau ruangan Anggar yang bersihkan hanya bu Hani, Dina hanya membersihkan bagian luar nya saja dan ruangan lain nya.
Dina pun terus menggerutu sambil membersihkan lantai.
"Kamu itu kalau kerja jangan sambil ngoceh, kerja yang benar" teriak Ranti.
"Eh, bu Ranti, saya kira ngga ada yang mendengar nya" jawab Dina sambil menatap ke arah Ranti.
"Kamu kenapa? Apa karena tadi ngga sarapan jadi kamu marah-marah begitu? tanya Ranti.
"Bukan bu, saya sarapan kok tadi pagi" jawab Dina.
"terus kenapa, itu wajah kusut amat kayak yang belum di setrika, padahal kemarin kan sudah libur" ucap Ranti.
"Siapa yang ngga kesal coba bu, masa si Ara telat datang aja selalu dibelain sama bu Hani, bukan nya di marahin atau di kasih sp ini malah diam saja, ngga adil kan bu? Kata Dina.
"Ara telat datang ke kantor? Kok bisa sama sih dengan pak Anggar" gumam Ranti yang masih bisa di dengar oleh Dina.
"Nah kan benar, selalu saja sama, apa ibu ngga curiga? Kalau saya sih curiga bu, apalagi saya pernah melihat mereka di cafe tertawa bersama, seperti yang ada hubungan spesial gitu" jawab Dina.
"kalau memang benar akan aku kasih pelajaran tuh si Ara" gumam Ranti sambil menahan amarah nya.
"Sini deh bu saya bisikin" kata Dina lalu membisikan sesuatu kepada Ranti.
"Gimana bu? Bagus kan ide saya, biar dia jera menggopda pak Anggar" kata Dina.
"Oke nanti siang kalau si Ara nya sudah ada masuk kamu kasih tahu saya" jawab Ranti sambil tersenyum penuh dengan misteri.
*
*
Anggar pun sudah sampai di parkiran perusahaan, Ara dan Zila dia bawa, karena kalau jam segini di parkiran sepi ngga ada orang.
"Zila ikut sama papah dulu ya? soal nya mamah mau absen dulu, nanti kalau menjelang makan siang, mamah ke ruangan papah" kata Ara sambil menatap Zila.
__ADS_1
"Oke mah, tapi mamah jangan lama-lama ya? Zila suka jemuh kalau di ruangan papah" kata Zila, Ara pun hanya mengangguk lalu turun dari mobil dan masuk lebih dulu.