
Pagi-pagi Ara terbangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dari sisa percintaan semalam bersama sang suami.
Setelah di rasa semua nya sudah selesai, Ara pun menyiapkan perlengkapan Anggar untuk pergi ke kantor.
Mulai hari ini dan seterusnya Ara fokus mengurus suami dan anak nya, karena mulai hari ini dia sudah tidak bekerja di kantor mau pun di cafe lagi.
Ara pun berniat pergi ke kamar nya Zila, tapi baru juga dirinya berdiri, mendadak kepalanya sedikit pusing dan perut nya pun terasa mual.
Ara pun berjalan dengan perlahan sambil memegang kepala nya yang sedang pusing.
Anggar yang merasakan sudah tidak ada Ara di samping nya pun mulai membuka mata nya dengan perlahan, samar-samar mata nya melihat Ara yang lagi sempoyongan berjalan ke kamar mandi, Anggar pun langsung terbangun dan membuka mata nya lebar-lebar.
"Yang, kamu kenapa? Teriak Anggar lalu dengan tanpa sadar dalam keadaan tubuh yang tanpa penghalang sedikit pun Anggar berlari menghampiri Ara lalu memapah nya ke kamar mandi.
"Kepala ku pusing mas dan perut ku sedikit mual, kayak nya masuk angin deh, karena semalaman aku ngga pakai baju tidur nya" ucap Ara.
Sesampai nya di kamar mandi, Ara pun memuntahkan semua cairan dari mulut nya.
"Kita ke dokter ya Yang? Ajak Anggar sambil memijit pelan tengkuk Ara.
"Ngga usah mas, aku istirahat saja hari ini" jawab Ara sambil melihat ke arah Anggar yang tubuh nya tanpa ada penghalang sedikit pun.
"Mas, kamu ini, pakai baju dulu kenapa? Kata Ara sambil menatap ke arah Anggar.
"Tadi aku kaget Yang liat kamu sempoyongan, jadi aku langsung bangun dan menghampiri kamu aja, ya biarin lah, kan cuma ada kamu aja di sini juga" jawab Anggar.
Ara pun menggelengkan kepalanya pelan, "Ya sudah aku mau istirahat" kata Ara lalu keluar dari kamar mandi.
Anggar yang merasa kasihan kepada Ara pun dengan sigap langsung menggendong Ara dengan ala bridal style.
"Mas, kamu ini ngagetin saja" teriak Ara sambil mengeratkan kedua tangan nya ke leher Anggar.
"Biar kamu ngga pusing berjalan Yang, lalu Anggar pun merebahkan Ara dan menyelimuti nya.
__ADS_1
"Ya sudah hari ini kamu istirahat saja, mas mau mandi dulu" ucap Anggar lalu mencium kening Ara.
Ara pun hanya mengangguk kan kepalanya dengan mata yang terpejam, sungguh baru kali ini dia merasakan pusing seperti ini.
Anggar pun sudah selesai dengan ritual mandi nya, dan ia pun memakai baju yang telah di siapkan istri nya.
"Pah, mah, buka pintu nya, udah siang bangun" teriak Zila sambil terus menggedor pintu kamar Anggar.
Anggar pun membuka pintu kamar nya lalu memberikan kode kepada Zila dengan jari telunjuk dia tempelkan di bibir nya.
"Syut, jangan berisik sayang, mamah lagi istirahat, dia lagi ngga enak badan" ucap Anggar.
"Mamah sakit pah? Tanya Zila dengan khawatir lalu masuk ke dalam kamar.
"Iya, makanya Zila jangan rewel ya hari ini, kasihan mamah" ucap Anggar.
"Iya pah, kalau begitu ZIla akan menemani mamah di sini hari ini, ZIla ngga bakalan rewel dan bandel" kata Zila sambil naik ke atas tempat tidur dimana Ara sedang terbaring dan memejamkan mata nya.
"Kamu sudah bangun nak? Tanya Zila dengan bibir tersenyum sambil menatap ke arah Zila.
"Sudah mah, bahkan sudah mandi, nih wangi kan? Jawab Zila.
"Mana coba sini mamah cium" kata Ara sambil meraih wajah ZIla lalu mencium seluruh wajah anak tiri nya itu.
"Eh iya anak mamah yang cantik sudah wangi sekali" kata Ara.
"Ya sudah kalau begitu papah juga akan nemenin mamah ah" ucap Anggar sambil mau naik ke atas tempat tidur.
"Tidak, papah harus pergi bekerja, kalau papah ngga bekerja, nanti ZIla sama mamah ngga bisa jajan dan jalan-jalan" teriak Zila.
"Iya mas, sudah mas berangkat kerja sana, aku di temenin Zila saja" kata Ara.
"Kalian berdua mengusir papah? Tanya Anggar sambil menatap ke arah istri dan anak nya.
__ADS_1
"Iya" jawab Ara dan zila kompak secara bersamaan.
"Kalian berdua memang sekongkol untuk mengusir papah, ya sudah kalau begitu papah berangkat kerja, asal kan kalian ikut sarapan, papah ngga mau ke dua bidadari papah ini pada sakit semua" ucap Anggar.
"Oke deh pah" jawab Zila.
"Mas, aku ngga ikut sarapan ya? Rengek Ara.
"Ngga bisa, kita harus sarapan bareng-bareng, apalagi kamu yang lagi pusing, kamu harus sarapan lalu minum obat dan istirahat" jawab Anggar tegas.
"Tapi aku mau nya makan rujak mas, kayak nya seger deh" jawab Ara sambil menelan air liur nya.
"Mamah, masa pagi-pagi begini makan rujak, mamah sarapan dulu nanti siang baru boleh makan rujak, tapi jangan pedes-pedes mah, rujak nya yang manis saja seperti Zila" kata Zila sambil tersenyum.
Ara pun tersenyum sambil menatap ke arah Zila, "Kamu kok pintar sih sayang, tapi mamah ngga mau makan apa-apa selain rujak, kalau ngga makan rujak mamah ngga bakalan makan apa-apa" jawab Ara sambil cemberut.
"Betul kata Zila Yang, masa masih pagi kamu mau makan rujak, nanti siang aja ya mas belikan rujak nya" Anggar pun mencoba merayu istri nya.
"Ngga mau, pokok nya sekarang aku mau makan rujak" teriak Ara sambil meneteskan air mata nya.
"Kok kamu nangis sih Yang, aku kan cuma ngga mau kamu tambah sakit kalau jam segini makan rujak" ucap Anggar sambil mengelus lembut puncak kepala Ara.
"Papah jangan buat mamah nangis dong pah? Kan mamah kasihan" ucap Ara sambil memeluk Ara.
"Sudah ya mah jangan menangis, nanti Zila bilangin ke omah dan uti kalau papah sudah membuat mamah menangis" ucap Zila sambil menghapus air mata Ara.
Ara pun mengangguk sambil tersenyum, "Mamah ngga apa-apa sayang, mamah cuma mau makan rujak saja" jawab Ara.
Anggar pun heran dengan sikap Ara pagi ini, lalu ia pun berpikir dan belajar dari pengalaman waktu almarhumah Anya dulu di saat sedang mengandung Zila anak nya.
"Apa mungkin Ara lagi hamil, kalau benar, ah aku bahagia sekali mau punya anak lagi" gumam bathin Anggar sambil menatap ke arah Ara yang masih dalam mode ngambek nya.
"Ya sudah kalau begitu papah sarapan dulu, habis itu papah belikan rujak buat mamah, tapi dengan satu syarat mamah harus makan nasi dulu walaupun cuma satu suap" Anggar pun mencoba merayu Ara, lalu pergi ke bawah.
__ADS_1