
Acara demi acara pun sudah terlaksana dan kini saat nya pembagian medali dan sambutan anak-anak yang berprestasi.
Satu per satu anak yang di panggil naik ke panggung dan di pakaikan medali nya, kini giliran anak yang berprestasi di panggil.
"Baik acara demi acara sudah kita lewati dan kini saya akan memanggil anak yang paling berprestasi di sekolah ini, anak yang berprestasi di tahun ini adalah Fazila Prameswari Anggara" guru yang menjadi mc tersebut dengan lantang memanggil nama Zila untuk naik ke panggung.
Tepuk tangan pun riuh dari orang tua siswa yang hadir, apalagi keluarga Hardian, semua nya bahagia dikala cucu dirinya termasuk anak yang paling berprestasi.
Zila pun naik ke atas panggung dan menerima ucapan selamat serta sedikit hadiah dari kepala sekolah nya.
"Silahkan Zila untuk mengucap kan sepatah dua patah kata nak" ucap guru yang menjadi mc sambil memberikan mic nya kepada Zila.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, pertama-tama Zila ucapkan terimakasih buat ibu guru dan ibu kepala sekolah yang sudah mendidik Zila setahun ini, maaf ya bu kalau Zila suka nakal dan ngga bisa diam di kelas? Ucap Zila sambil menatap para guru dan ibu kepala sekolah nya, mereka pun mengangguk sambil tersenyum.
"Zila juga mau mengucapkan terimakasih buat omah dan opah yang sudah merawat Zila dari kecil, maafin Zila ya omah, opah, kalau Zila suka sering marah-marah karena ngga mau berangkat sekolah" ucap Zila sambil menatap pak Hardian dan bu Carlota.
Pak Hardian dan bu Carlota pun tersenyum dan mengangguk sambil melihat ke arah Zila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Papah, makasih sudah mau ngurusin Zila, maaf kalau Zila suka ngambek dan marah-marah ngga jelas sama papah, Zila tahu kalau papah selalu berusaha buat ngurusin Zila walau papah lagi sibuk sama kerjaan papah, Love You papah" Zila pun menatap Anggar dan memberikan ciuman dari jauh nya.
Anggar pun tersenyum sambil tangan nya seperti mengambil ciuman dari Zila dan menyimpan di hati nya.
__ADS_1
"Bunda, lihat lah anak mu ini, aku sudah besar bunda, aku sudah mau masuk SD, Bunda pasti bahagia di sana dan bunda pasti senang kan lihat Zila berdiri di sini sekarang Bunda? bunda akan selalu ada di hati Zila sampai kapan pun, maafin Zila kalau Zila jarang menemui bunda, bukan Zila dan papah ngga sayang bunda lagi, tapi papah harus kerja dan Zila harus sekolah, tapi Zila janji setiap hari libur Zila akan datang ke rumah bunda, bunda Zila kangen bunda, hanya do\*a yang bisa Zila kirim buat bunda, bunda yang tenang di sana ya? Bunda jangan khawatir kan Zila di sini, I LOVE YOU and I MISS YOU BUNDA" ucap Zila dengan deraian air mata nya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam dan mencerna semua kata-kata Zila, semua yang mendengar meneteskan air mata nya.
Tak ada seorang pun yang tidak meneteskan air mata nya mendengar perkataan seorang anak yang menginjak usia enam tahun ini, Zila memang pantas masuk kategori anak yang berprestasi, karena dia pintar dan seperti orang yang sudah dewasa di usia nya.
"Nah kan kamu ngga termasuk yang di sayang Zila, dasar cewek mu ra han, mampus kamu ngga dianggap sama Zila" gumam bathin bu Ratih sambil melirik sinis ke arah Ara yang sedang menangis tersedu.
"Dan untuk mamah Ara" Zila pun menatap Ara sambil tersenyum dengan air mata yang masih menetes di pipi nya.
Ara yang merasa di sebut nama nya pun menatap ke arah Zila sambil mengusap air mata yang terus menetes di pipi nya dengan tisu.
"Apa? Kenapa Zila memanggil dia mamah di depan orang banyak? Gumam bu Ratih sambil menatap ke arah Ara.
"Mamah, makasih udah mau hadir di kehidupan Zila dan papah, maafin Zila ya mah pertama kali Zila ketemu mamah sudah manggil dengan panggilan mamah, padahal Zila tahu mamah belum punya anak, tapi entah kenapa ZIla ingin sekali mamah itu menjadi ibu Zila, Zila yakin kalau mamah punya hati yang tulus untuk menyayangi ZIla dan papah, mah maafin Zila ya yang suka ngerepotin mamah, suka ganggu waktu istirahat mamah, mamah selalu sabar menghadapi Zila dan papah, sekarang Zila sudah punya dua ibu, yang satu bunda dan yang satu lagi mamah" Zila men jeda kalimat nya.
Ara merasa terpanggil hati nya untuk berdiri dan melangkah ke atas panggung untuk menghampiri Zila dan memeluk nya.
"Mamah di kirim tuhan untuk menjadi ibu Zila, mamah jangan khawatir walaupun bunda masih ada di hati Zila dan papah, tapi mamah juga berada di hati kami dan posisi nya sama, I LOVE YOU MAH" ucap Zila sambil memeluk Ara, mereka berdua pun menangis dalam pelukan mereka.
"I LOVE YOU TO sayang" jawab Ara sambil memeluk erat Zila dengan deraian air mata nya.
__ADS_1
Ara ngga menyangka dengan sikap Zila yang sudah dewasa sebelum waktunya, Zila ngga menyangka akan diakui Zila di depan orang banyak.
Ruangan pun berubah menjadi dramatis setelah melihat Ara dan Zila berpelukan di atas panggung.
"Lihatlah anak kita Yang, dia sudah besar, dia sudah seperti orang dewasa karena kemandirian nya selama ini, maafkan aku yang belum bisa sepenuh nya ngurusin anak kita Yang, tapi aku akan selalu berusaha membuat dia tersenyum dan bahagia selalu" gumam Anggar dengan deraian air mata nya.
"Apa, jadi benar perempuan itu sekarang mamah nya ZIla, mampus aku" gumam bu Ratih sambil melihat kearah Zila dan Ara yang sedang berpelukan.
"Mah, makasih ya? Ucap Zila sambil menghapus air mata Ara lalu mencium seluruh wajah Ara.
"Sama-sama sayang, makasih juga Zila udah mau mengakui mamah ini mamah Zila di depan orang banyak" jawab Ara lalu mencium seluruh wajah Zila.
Anggar pun ikut naik ke atas panggung lalu memeluk mereka berdua.
"Makasih buat kalian berdua yang sudah hadir di dalam hati papah" ucap Anggar sambil mencium Ara dan Zila.
Tepuk tangan pun riuh dari semua orang yang hadir, mereka tersenyum bahagia dengan air mata yang menetes, semua ikut terharu dengan keluarga kecil nya Anggar.
Dikala semua lagi terharu, Zila yang masih megang mic pun bicara lagi.
"Maaf uti belum ke sebut, makasih uti, semenjak uti hadir, Zila makin mandiri, makasih dengan semua pesan-pesan uti buat Zila" ucap Zila sambil tersenyum
__ADS_1