Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Perhatian Kecil


__ADS_3

Kini semua nya sudah berada di meja makan, tinggal Ara dan Anggar saja yang belum kelihatan.



"Papah sama mamah mana sih, lama banget, ntar kesiangan lagi ke sekolah nya" ucap Zila.



"Maaf sayang mamah tadi kesiangan bangun nya" jawab Ara yang baru masuk ke ruang makan dengan Anggar.



Para orang tua tersenyum lebar begitu mereka melihat rambut Anggar dan Ara pada basah,



"Terima kasih ya Allah, akhir nya Anggar sudah membuka hati nya untuk Ara" gumam bathin bu Carlota.



"Wah, bakalan punya cucu lagi nih" gumam bathin pak Hardian sambil tersenyum.



"Terima kasih ya Allah, engkau yang maha mem bolak balik kan hati manusia, akhir nya nak Anggar menerima Ara sebagai istri nya, semoga mereka berdua bahagia selamanya, Aamiin" gumam bathin bu Malika.



"Mamah masuk kerja hari ini? Terus mau ngantar Zila dulu ngga? Tanya Zila.



"Iya sayang karena masa kontrak kerja mamah belum habis, jadi mamah harus masuk kerja, ya mamah antar Zila sekolah dulu, baru mamah berangkat kerja" jawab Ara sambil memberikan piring yang sudah dia isi dengan makanan buat Anggar.



"Terus kalau pulang nya Zila di jemput siapa? Tanya Zila.



"Gimana kalau yang antar sekolah mamah dan papah tapi yang jemput pak Roni, kan kalau mamah yang harus jemput, kasihan, nanti mamah nya kecapaian" jawab Anggar.



Betapa senang hati Ara mendapat kan perhatian seperti itu dari suami nya.



"Iya sayang, kalau mamah nya terlalu capek nanti mamah nya susah buat punya bayi, katanya Zila ingin punya adik? kata bu Malika dengan lembut.



"Iya deh, Zila mau di jemput sama pak Roni, asal kan setiap berangkat mamah sama papah yang antar Zila" jawab Zila.



Semua ya pun tersenyum mendengar jawaban dari Zila.



"Memang cucu omah ini cucu yang paling pintar" kata bu Carlota.



"Iya pasti paling pintar omah, orang cucu omah nya juga cuma Zila doang kok" jawaban Zila membuat semua nya tertawa.


*

__ADS_1


*


Mereka pun kini sedang di perjalanan untuk mengantar kan Zila ke sekolahan nya.


"Sayang mamah ngantar nya ngga masuk ke dalam ya? Soal nya mamah udah kesiangan, gimana? Mamah janji besok-besok kalau ngga kesiangan mamah pasti ngantar nya sampai masuk ke dalam" kata Ara.



"Oke deh mah, ngga apa-apa, lagian Zila kan udah besar, udah mau masuk sekolah dasar" jawab Zila.



"ternyata anak mamah makin hari makin pintar, sekarang aja duduk nya ngga mau di gendong sama mamah lagi" kata Ara sambil melihat ke arah jok belakang, dimana mulai pagi ini Zila akan selalu duduk di jok belakang.



"Kan kalau Zila di gendong mamah, nanti baju kerja mamah kusut" jawab Zila, Ara hanya tersenyum mendengar jawaban dari Zila.



"Sudah sampai, silahkan turun tuan putri yang cantik" kata Anggar.



"Pah,, mah Zila belajar dulu ya? Pamit Zila sambil mencium telapak tangan Anggar dan Ara lalu turun dari mobil dan melangkah menuju kelas nya.



Setelah Zila sudah ngga kelihatan lagi, Anggar pun menjalankan kembali mobil nya menuju ke kantor.



"Makanya mas nanti lagi jangan ajak aku ngelonin mas melulu ya, kalau hari sekolah Zila, jadi nya kan kesiangan" kata Ara sambil menatap ke arah Anggar.




"Mas aku turun di sini saja, biar ke sana nya jalan saja, udah dekat kok" Ara pun meminta berhenti sebelum mobil masuk ke parkiran kantor.



"Lo kenapa di sini Yang, berarti kamu harus jalan kaki dong? Tanya Anggar ambil menepikan mobil nya.



"Ngga apa-apa mas, aku sudah biasa kok, lagian kan kalau ada yang lihat aku semobil bareng mas, apa kata karyawan lain nya" jawab Ara sambil mengangkat tangan nya di hadapan Anggar.



Anggar pun membuka dompet lalu memberikan Ara lima lembar uang berwarna merah.



"Lo, mas aku tuh bukan minta uang? ucap Ara sambil menatap ke arah Anggar.



"La itu bukan nya kamu minta uang? Tanya Anggar sambil mengernyitkan kening nya.



"Aku tuh mau mencium tangan nya mas, kan aku mau berangkat kerja" jawab Ara sambil mencium telapak tangan nya Anggar.



"Ya sudah uang nya sekalian kamu ambil juga, buat makan siang nanti, kamu kan ngga bawa bekal tadi" kata Anggar.

__ADS_1



"Mas ko tahu kalau aku suka bawa bekal dari rumah? Tanya Ara sambil memasukan uang nya ke dalam tas.



"Dulu Zila pernah bilang" jawab Anggar.



Ara pun mengangguk, "Ya sudah nanti kesiangan, aku turun ya mas" kata Ara dengan tangan yang sudah siap untuk membuka pintu mobil, Tapi tangan nya di pegang sama Anggar.



"Tunggu sebentar, lihat ke arah mas" ucap Anggar, dan Ara pun menatap ke arah Anggar.



Anggar pun mencium seluruh wajah Ara dan yang terakhir Anggar mencium bibir nya Ara.



"Sudah dong mas, udah siang ini, nanti lipstik ku luntur lagi" cerocos Ara sambil melihat wajah nya di kaca depan mobil.



"Ya sudah maafkan mas ya? harus nurunin kamu di sini? Anggar pun merasa tak tega melihat istri nya yang harus berjalan ke kantor, meskipun jarak nya sudah dekat.



Anggar pun melajukan kembali mobil nya dengan hati yang sedih, karena melihat istri nya jalan kaki.



Ara pun setengah berlari masuk ke dalam kantor, "untung pas waktu" gumam Ara sambil menekan jempol nya ke mesin absen.



Ara pun langsung menuju ke ruang pantry, di sana sudah pada kumpul para office boy dan office girl termasuk bu Hani yang menjadi kepala OB.



"Pagi semua, maaf bu saya ngga telat kan? Tanya Ara kepada bu Hani.



"Ngga kok kamu datang pas jam kerja mau di mulai" jawab bu Hani.



"Hai kamu kemana saja dua hari ini ngga masuk, jangan bilang lo sudah merayu bos-bos besar ya" teriak Dina dengan kedua tangan dia taro di depan dada nya.



"Dina stop, Ara tidak masuk karena dia izin, dan pihak HRD pun memberikan izin nya kok" jawab bu Hani.



"Sudah lah bu, jangan belain wanita mu ra han ini, saya tahu kenapa dia ngga masuk dua hari ini" kata Dian dengan ketus.



"Ya ampun jangan sampai Dina tahu kalau aku sudah menikah dengan pak Anggar" gumam bathin Ara.



"Sudah sekarang waktu nya kerja, bukan waktunya untuk gibah dan menyebar gosip, yang penting sudah ada izin dari kantor, terserah apa yang mau dia lakuin" bu Hani pun menyuruh mereka untuk memulai pekerjaan nya.

__ADS_1


__ADS_2