
Dokter Rendra pun masuk ke dalam ruangan di mana orang yang selalu hadir di dalam hati nya sedang terbaring di sana.
Dokter Rendra lalu mendekat dan melihat orang yang sangat dia rindukan sedang tertidur.
"Kamu masih cantik seperti dulu, perasaan aku ngga pernah berubah sedikit pun kepada kamu Ka? Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Atau kamu sudah benar-benar melupakan aku? Gumam dokter Rendra sambil terus menatap wajah bu Malika dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan.
Ingin sekali dokter Rendra memeluk bu Malika yang sedang terbaring karena saking rindu nya, tapi dia mencoba bersabar dan menahan nya, karena posisi mereka sekarang adalah dokter dan pasien.
Bu Malika yang merasa ada orang di dekat nya pun mengerjap kan mata nya, begitu dia membuka mata nya, dia melihat orang yang pernah hadir di hati nya.
"Rendra? Kamu di sini? Gumam bu Malika lalu memejamkan mata nya kembali, karena dia pikir ini hanya sebuah mimpi saja.
"Kenapa kamu hadir di mimpi ku Ren? Padahal kita sudah lama ngga bertemu dan kasih kabar" gumam bu Malika yang masih bisa di dengar oleh dokter Rendra.
"Aku nyata ada di samping kamu, ini bukan mimpi, bagaimana kabar mu Ka? Tanya dokter Rendra sambil tersenyum.
Mendengar penuturan yang di lontarkan dokter Rendra dengan jelas di telinga nya, bu Malika pun langsung membuka kedua mata nya.
"Rendra? Jadi ini semua bukan mimpi? Kata bu Malika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, ini aku Ka" jawab dokter Rendra sambil tersenyum.
"Suara nya, wajah nya, dan senyuman nya masih sama" gumam bathin bu Malika sambil terus menatap wajah dokter Rendra.
"Saya yang akan mengobati kamu sampai kamu sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga kamu" ucap dokter Rendra.
"Kamu pasti nya juga sudah bahagia dengan pasangan dan anak-anak kamu Ren, semoga kamu selalu bahagia Ren" gumam bathin bu Malika.
*
*
KITA KEMBALI KEPADA YANG MUDA DAN BANTUIN ANGGAR YANG LAGI KEPEDESAN.
"Nanti aku sembuhin dengan servis yang memuaskan" bisik Ara sambil mengambil mangkuk yang ada di tangan nya Anggar.
"Kepedesan nya juga sekarang Yang, masa di sembuhin nya nanti" bisik Anggar.
Ara pun memutar bola mata nya lalu memberi kode, kalau di sana ada Zila anak nya.
__ADS_1
Anggar melihat air minum nya yang sudah kosong di gelas pun mempunyai ide.
"Nak, tolong ambil kan papah minum ya? Papah kepedesan ini, kalau nyuruh mamah kasihan mamah nya lagi pusing" kata Anggar sambil menahan rasa pedas di bibir nya.
Zila yang merasa kasihan sama papah nya pun mengangguk.
"Baik pah" kata Zila sambil meraih gelas kosong dari meja, lalu pergi meninggalkan Anggar dan ARa.
Anggar melihat ke arah pintu, di rasa Zila sudah pergi, Anggar pun langsung menatap ke arah Ara.
"Yang" panggil Anggar dengan lembut.
"Apa mas" jawab Ara yang belum peka.
"Aku kepedesan ini" ucap Anggar.
"Kan Zila lagi ngambil minum mas" jawab Ara.
Anggar yang sedikit kesal karena Ara ngga peka langsung meraih dagu sang istri lalu menempelkan bibir nya ke bibir Ara.
Ara yang mengerti pun langsung merespon akan keinginan suami nya.
Mereka berdua pun terbuai dengan cumbuan mereka dengan rasa pedas gurih, hingga mereka tidak sadar kalau akan ada Zila yang datang kembali membawa segelas air putih.
Pintu kamar pun terbuka membuat Ara kaget dan langsung menjauh kan wajah Anggar dari hadapan nya.
"Pah, ini minum nya" teriak Zila sambil menghampiri Anggar dan Ara.
Anggar pun pura-pura masih kepedesan lalu mengambil gelas dari tangan Zila dengan sedikit senyuman nya sambil melirik ke arah Ara.
"Modus mu mas" gumam bathin Ara.
"Yang, coba kamu tes pakai ini ya? Ucap Anggar sambil memberikan dua buah tespack kepada Ara.
"Tespack? Kata Ara sambil mengerut kan kening nya.
__ADS_1
"Tespack itu apaan mah? Tanya Zila.
"Tespack ini adalah alat untuk mengetahui apakah ada adik bayi di perut mamah atau tidak" jawab Anggar.
"Adik bayi? Kalau begitu ayo mah cek sekarang" teriak Zila yang sangat antusias sekali.
"Alat ini lebih bagus nya itu di gunakan di pagi pas bangun tidur sayang, kalau sekarang takut hasil nya ngga akurat" jawab Ara.
"Oh kalau gitu Zila mau tidur sama mamah ah, biar besok pagi-pagi Zila yang tahu duluan kalau di perut mamah ada adik bayi nya" ucap Zila.yang membuat kaget Anggar.
"Ngga, ngga bisa, nanti malam aku ngga bisa tidur dengan tenang kalau ZIla tidur sama Ara, aku kan ingin melanjutkan yang tadi" gumam bathin Anggar.
"Boleh sayang, tapi kalau belum ada adik bayi nya, kamu jangan kecewa ya?" jawab Ara sambil tersenyum.
"Iya mah, tapi Zila akan berdo\*a supaya ada adik bayi di perut mamah, Zila mau adik perempuan ya mah, biar ZIla bisa main sama adik bayi nya" kata Zila sambil mencium perut Ara.
"Sayang, kan belum ada adik bayi nya, kenapa sudah di cium-cium segala? ucap Ara sambil tersenyum melihat kelakuan anak tiri nya.
"Ngga apa-apa mah, kali aja habis Zila cium perut mamah, adik bayi nya ada" jawab Zila.
"Sayang, dengerin mamah ya? Nanti kalau di perut mamah ada adik bayi nya mau itu perempuan atau pun laki-laki, Zila harus tetap menerima dan menyayangi nya sebagai adik Zila" ucap Ara sambil mengelus lembut puncak kepala Zila.
"Iya sayang, yang penting mamah dan adik bayi nya sehat selalu" ucap Anggar.
"Kamu mau adik bayi tumbuh di perut mamah ngga? Tanya Anggar.
"Ya mau lah pah, biar Zila ada teman nya, kan teman-teman Zila di sekolah juga pada punya adik dan kakak" jawab Zila.
"Nah kalau Zila mau ada adik bayi di perut mamah, berarti malam ini Zila harus tidur sendiri di kamar Zila, biar adik bayi nya cepat hadir di perut mamah" Anggar mulai mengeluarkan modus nya karena malam ini dia ngga mau di ganggu.
Ara yang mendengar penuturan Anggar pun melirik ke arah Anggar, sedang kan yang di lirik hanya tersenyum sambil memainkan kedua alis nya.
"Oke deh kalau memang gitu, tapi besok pagi mamah periksa pakai alat itu, harus ada Zila di sini" ucap Zila.
"Iya, besok papah akan bangunin Zila pagi-pagi sekali" jawab Anggar dengan senyum kemenangan nya.
__ADS_1