
Waktu berjalan seiring jam yang berputar, ada yang pergi dan ada pula yang datang, ada pertemuan ada pula perpisahan.
Seperti kisah mereka, kini Zila sudah tumbuh dewasa, dia tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik seperti ibu nya almarhumah Anya.
Zila sudah masuk salah satu universitas ternama di kota nya, dia menjadi bintang nya kampus karena kepintaran dan kecantikan nya.
Nathan yang kini beranjak remaja, semua kegiatan nya di pantau sama anggar dan Ara.
Rania yang sudah masuk TK terlihat lucu, imut dan cantik nya seperti Ara waktu kecil, apalagi lesung pipi di kedua pipi nya persis mamah nya banget.
Bu Carlota, bu Malika dan dokter Rendra pun sudah pergi meninggalkan mereka semua.
Semakin anak-anak nya dewasa, tanggung jawab Anggar dan Ara selaku orang tua semakin besar.
Mereka harus benar-benar menjaga anak-anak mereka dari segala pergaulan yang dapat menjerumuskan.
Seperti biasa pagi ini mereka berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan pagi.
"Pah, kalau nanti Nathan lulus dengan nilai terbaik mau kasih hadiah apa? Tanya Nathan yang sebentar lagi dia lulus dari sekolah menengah pertama nya.
"Kamu mau apa sayang? Anggar pun balik bertanya.
"Aku mau di beliin motor ya pah, biar nanti ke sekolah nya pakai motor ngga usah di antar-antar lagi sama pak Wawan." ucap Nathan.
"Mamah ngga setuju kalau kamu pakai motor, mamah sering lihat kalau anak sekolah pakai motor itu suka kebut-kebutan di jalanan" Ara pun protes.
"Nathan janji mah, Nathan ngga bakalan kebut-kebutan di jalan" Nathan pun berjanji sambil mengangkat dua jari nya keatas.
"Sudah lah mah, kita belikan saja" ucap Anggar.
"Pah, papah ngga lihat di jalanan mereka kalau bawa motor ugal-ugal lan, mamah ngga mau terjadi apa-apa sama Nathan" ucap Ara sedikit menaikan nada bicara nya.
"Kan Nathan sudah berjanji tadi mah" jawab Anggar.
"Sekali ngga setuju tetap tidak setuju." jawab Ara.
"Nia, ayo kita berangkat" ajak Ara dengan wajah kesal nya.
"Iya mah." jawab Rania sambil menghampiri Ara.
"Mah," teriak Anggar memanggil istri nya, tapi Ara tidak mau mendengar nya dan terus saja pergi ngantar Nia sekolah.
"Ini semua gara-gara kamu sih dek, ngapain juga minta motor" ucap Zila.
__ADS_1
"Bukan nya mendukung malah ikut ngomelin" jawab Nathan sambil cemberut.
"Ogah dukung nya juga, kamu juga kemarin ngga dukung kakak pas kakak mau ganti ponsel" jawab Zila.
"Kan ponsel kakak juga masih bagus dan belum lama, sedang kan aku kan belum punya motor" jawab Nathan.
Anggar yang tidak berhasil menyusul Ara pun kini kembali ke ruang makan dan duduk diantara Zila dan Nathan.
"Pah, maaf kan Nathan, gara-gara Nathan mamah jadi marah" ucap Nathan sambil menunduk.
"Sudah lah, nanti papah bicara baik-baik sama mamah, mungkin mamah lagi ngga mood jadi nya begitu" jawab Anggar.
"Ya sudah kamu selesai belum sarapan nya, kita berangkat, kamu mau sama pak Wawan apa bareng sama papah? Tanya Anggar.
"Pak Wawan nganter Zila aja pah, soal nya ada kuliah pagi Zila" ucap Zila.
"Ya sudah Nathan biar papah yang antar, papah tunggu di mobil" ucap Anggar sambil berlalu dari mereka berdua.
*
*
Zila siang ini sudah menyelesaikan kuliah nya, seperti biasa dia selalu berkumpul bersama teman-teman sekelas nya.
"Malam minggu besok kita nongkrong di cafe biasa yuk? Ajak Sesil.
"Aku ngga janji, soal nya aku takut di larang keluar rumah" jawab Zila dengan wajah sendu nya.
"Biasa nya juga kamu selalu bisa dan selalu di izin kan" ucap Sesil.
"Masalah nya pagi tadi mamah lagi marah, dia lagi kesal sama Nathan" jawab Zila.
"Emang nya apa yang telah di lakukan adik tampan mu itu? Tanya Intan.
Mereka telah mengetahui tentang keluarga Zila, karena mereka sering main dan mengerjakan tugas di rumah nya Zila.
"Dia minta di beliin motor, tapi mamah marah dan ngga setuju" jawab Zila.
"Ya mungkin mamah Ara khawatir karena Nathan masih remaja" jawab Sesil.
"Ya mungkin saja, kalian tahu kan mamah kalau udah marah gimana" ucap Zila.
"Iya, aku saja sampai ngga berani menampak kan diri di depan mamah Ara, kalau mamah Ara sudah diam aku suka takut" jawab Intan.
"Mamah Ara itu kalau marah ngga ngoceh ngga apa ya, tapi diam itu yang membuat semua orang salah tingkah dan bingung untuk melakukan apa" ucap Sesil.
__ADS_1
"Ya begitulah, kalau mamah lagi marah, kita melakukan kesalahan sedikit saja pasti lama membujuk nya lagi" jawab Zila.
Ketika mereka lagi asik ngobrol, tiba-tiba datang seorang pria yang terkenal tampan di kampus itu.
"Hai Zila, pulang nya aku antar yuk" ajak Aksa cowok tertampan di kampus itu.
Aksa ini cowok tertampan di kampus ini tapi sayang Aksa seorang playboy yang ngga cukup dengan satu wanita, tapi ngga ada yang tahu kalau Aksa ini seorang playboy, karena dia selalu pintar bermain lidah, untuk meyakinkan para wanita nya.
""Hai Aksa, ngga ah nanti cewek kamu marah" jawab Zila.
"Cie jadi Zila aja nih yang diajak pulang? Tanya Intan, dan hanya di kasih senyuman oleh Aksa.
"Aku jomblo kok, makanya aku berani ajak kamu" ucap Aksa.
"Udah lah Zil ikut saja, lumayan kan? Ucap Sesil.
"Udah sana ikut saja" ucap Intan.
"Ayo,sini aku pakai kan helm nya" ucap Aska sambil memakai kan helm kepada Zila.
Zila pun tersenyum dan terpana melihat ketampanan dan kelakukan soswit dari seorang Aksa.
"Ayo naik" ajak Aska sambil memegang tangan Zila untuk membantunya untuk naik ke motor gede kesayangan Aksa.
Zila pun naik dan duduk di atas jok belakang motor nya Aksa.
Aksa pun melajukan motor nya dengan secara perlahan, Zila pun melambaikan tangan nya kepada Sesil dan Intan sambil tersenyum, Intan dan Sesil pun mengangkat kedua jempol nya.
"Pegangan dong Zil," ucap Aska sambil meraih tangan nya Zila dan melingkarkan nya di atas perut Aksa.
Zila pun dengan malu-malu memeluk pinggang nya Aksa.
"Kamu udah punya pacar belum Zil" tanya Aksa.
"Belum" jawab Zila malu-malu.
"Berarti boleh dong aku sering-sering antar jemput kamu" ucap Aksa.
"Takut ada yang marah ah nanti" jawab Zila.
"Ngga ada aku jamin deh" jawab Aksa.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka pun terus saling bercerita dan saling mengenal kepribadian masing-masing diselingi bercanda dan tertawa.