Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Prasangka Dina


__ADS_3

"Ya sudah sekarang kita makan siang dulu, kamu harus banyak makan biar ngga lemas" kata Anggar sambil membuka makanan yang dia pesan.



"Maksud mas? Mas please deh pikiran nya jangan kemana-mana, ini masih di kantor lo" jawab Ara.



"Lah? Salah mas dimana? Benar kan kamu harus makan biar ngga lemas? Coba kalau kamu ngga makan memang masih kuat buat bekerja? Pasti lemas kan? Tanya Anggar.



"Oh,,,,kirain apaan? Kata Ara sambil tersenyum malu.



"Nah berarti pikiran kamu yang kemana-mana" kata Anggar.



"Sudah lah ayo kita makan, ntar aku telat lagi" ucap Ara sambil mengambil makanan nya.



"Suapin dong" rengek Anggar sambil tersenyum menggoda.



"Manja kamu mas, Zila saja udah ngga mau di suapin, ngga malu kamu sama Zila" ucap Ara sambil memasukan sendok ke mulut suami nya.



"Kan di sini ngga ada Zila Yang, kenapa mesti malu" kata Anggar ngga mau kalah.



"Zila sudah di jemput belum ya mas? Tanya Ara.



"Sudah tadi mas sudah telepon pak Roni" jawab Anggar.



"Mas, nanti malam aku mulai nyanyi di cafe lagi ya? Soal nya udah tiga malam aku ngga masuk" ucap Ara sambil terus menyuapi Anggar.



"Aku bisa bicara sama pak Leonal Yang, kalau kamu berhenti kerja di situ" kata Anggar.



"Ya ngga bisa gitu mas, kan pernikahan kita belum ada yang mengetahui, jadi biarkan berjalan seperti biasa nya dulu aja ya? Ucap Ara.



Anggar pun terdiam sambil mengunyah makanan nya.



"Kamu pulang dari cafe biasanya jam berapa? Tanya Anggar.



"Jam dua belas malam mas" jawab Ara sambil melahap makanan nya.



"Apa!! Jam dua belas malam? Terus pagi nya kamu harus kerja di sini? Kamu setiap hari seperti itu Yang? Tanya Anggar kaget.



"Iya mas" jawab Ara sambil mengangguk kan kepala nya.



"Memang nya kamu ngga ngantuk apa? Tidur cuma sebentar doang" Anggar ngga habis pikir sama istri nya ini.

__ADS_1



"Kan kalau jam makan siang, aku tidur dulu sebentar" jawab Ara santai.



Anggar pun terdiam, dia tatap wajah istri nya, sungguh istri nya ini wanita kuat, wanita yang pantang menyerah dengan keadaan, dia rela tidur cuma sebentar demi bisa membawa ibu nya berobat dan demi kebutuhan nya sehari-hari.



"Mulai sekarang kamu ngga bakalan tersiksa lagi sayang, aku akan selalu ada buat kamu" gumam bathin Anggar.



Tak terasa makanan yang sudah ada di tangan Ara pun kini sudah habis tanpa tersisa.



"Ya sudah aku ke pantry dulu ya mas? Ucap Ara sambil membereskan tempat makan dan membuang nya ke tempat sampah.



"Kasih penutup nya dong, masa ngga ada penutup nya" ucap Anggar.



"Penutup apaan mas? Tanya Ara sambil mengernyitkan kening nya.



Anggar pun menunjuk ke arah bibir sambil tersenyum menggoda.



Ara pun menempelkan bibir nya ke bibir Anggar, tapi Anggar tidak mau cuma hanya menempel saja, dia pun akhir nya menjelajah di setiap deretan gigi Ara.



"Sudah cukup mas, aku harus secepat nya keluar dari sini, sebelum mereka melihat aku" ucap Ara sambil mendorong Anggar agar menjauh darinya, lalu dia pun pergi dari ruangan Anggar.




"Pintu nya terbuka, bu, sini ngumpet biar kita tidak ketahuan lagi melihat nya" bisik Dina sambil menarik tangan Ranti ke bawah meja.



Ranti dan Dina pun sembunyi di bawah meja, sambil mata nya terus melihat ke arah pintu ruangan Anggar.



Ara pun keluar dari ruangan Anggar dengan mata melihat ke kiri dan ke kanan, sambil sedikit merapihkan baju nya.



"Aman, ngga ada orang" gumam Ara lalu pergi dengan sedikit berlari menuju pantry.



"Gila, tuh si Ara, berani-berani nya main bersama atasan di kantor lagi" gumam Dina yang masih bisa di dengar oleh Ranti.



"Kalau benar dia menggoda pak Anggar, awas saja kamu Ara" gumam Ranti dengan mata penuh dengan kebencian.



"Ya sudah kalau begitu, kita hajar aja si Ara gimana bu? Dina pun mulai menghasut Ranti.



"Oke, tapi nanti saja, kita lihat waktu yang pas dulu" jawab Ranti.



"Oke deh bu kalau begitu saya ke ruangan saya dulu ya bu" kata Dina lalu pergi meninggalkan Ranti.

__ADS_1



"Hai Ara kamu istirahat makan dimana? Kok ngga kelihatan dimana-mana? Tanya Dina dengan wajah curiga nya.



"Aku,,,aku ,,,,,," Ara pun bingung mencari alasan.



"Jangan bilang kamu melayani atasan kita di dalam kantor ini ya? Kalau ketahuan baru tahu rasa kamu" kata Dina.



"Siapa yang melayani atasan? Tanya bu Hani dengan suara lantang nya.



"Siapa lagi kalau bukan anak buah kesayangan mu itu" jawab Dina dengan senyum smirk nya.



"Maksud kamu? Bu Hani pun nanya balik kepada Dina.



"Ya siapa lagi kalau bukan Sahara, dia selama makan siang berada di ruangan pak Anggar, coba ibu bayangkan, sejak kapan pak Anggar membolehkan orang lain masuk ke ruangan nya selain bu Hani? Kata Dina.



"Apa benar yang diucapkan Dina? Tanya bu Hani sambil menatap ke arah Ara.



"Be,,benar bu, kan ibu yang nyuruh tadi" jawab Ara sambil menunduk.



"Tuh kan benar apa yang saya bilang? Kata Dina merasa menang.



"Ayo bu marahin si Ara, kasih dia sp tiga sekalian" gumam bathin Dina sambil melirik ke arah Ara dengan senyum mengejek nya.



"Oh memang saya yang menyuruh nya kok tadi atas permintaan pak Anggar sendiri, terus di ruangan pak Anggar apa yang kamu kerjakan sampai lama di sana? Tanya bu Hani.



"Saya hanya di suruh pak Anggar membersihkan ruangan nya, karena tadi jadwal makan siang jadi saya di beri makanan oleh pak Anggar" jawab Ara.



"Aku ngga boleh gegabah ngambil keputusan, akan aku selidiki dulu, benar apa ngga nya mereka ada hubungan" gumam bathin bu Hani.



"Alah, itu sih alasan kamu saja, mana tahu kamu melakukan hal yang lebih dari bersih-bersih, apalagi pas keluar dari ruangan pak Anggar kamu sedikit merapihkan baju kamu itu" Dina terus mencecar Ara.



"Tuh kan baru aja satu kali masuk ke ruangan mas Anggar, sudah ada yang mengetahui nya, bagaimana kalau tiap hari" gumam bathin Ara.



"Sudah-sudah ayo kembali bekerja, kamu Dina, kamu jangan asal tuduh kalau kamu ngga ada bukti yang kuat" ucap bu Hani.



"Selalu di belain, udah jelas-jelas dia melayani pak Anggar, masih saja di bela" kata Dina.



Mereka pun pergi ke ruang kerja masing-masing.


__ADS_1


"Mulai sekarang aku harus memperhatikan Ara" gumam bathin bu Hani.


__ADS_2