
"Bilang aja cemburu ngga usah gengsi" gumam Ara yang masih bisa di dengar oleh Anggar.
"Kalau kamu memang cemburu, berarti kamu sudah membuka hati kamu untuk aku mas, aku akan selalu sabar hingga waktu nya tiba kamu membuka seluruh hati kamu dan menerima aku seutuh nya" gumam bathin Ara dengan sedikit menyunggingkan senyuman di bibir nya.
"Kalau iya aku cemburu gimana? bisik Anggar sambil memeluk erat tubuh Ara dari samping.
"Berarti mas, sudah membuka hati mas untuk ku walaupun hanya sedikit" jawab Ara sambil menatap mata Anggar.
"Bantu aku membuka hati ini, aku akan mulai membuka hati ku untuk kamu, tapi izin kan aku untuk masih menyimpan nama Anya" ucap Anggar lalu mencium leher nya ARa.
"Aku akan selalu sabar dan akan membantu mas membuka hati mas untukku, aku juga mengizinkan mas menyimpan nama almarhumah istri mas di hati mas, asal mas jangan lupa kalau aku adalah istri mas untuk sekarang dan masa kedepan nya nanti, aku ngga nyuruh mas untuk melupakan almarhumah istri mas, tapi mas harus menerima kenyataan kalau sekarang akulah yang menjadi istri mas, yang akan menemani mas hingga mas tua nanti" jawab Ara sambil menegelus lembut kepala Anggar.
"Makasih Sayang" jawab Anggar sambil mencium mesra pipi Ara.
"Apa aku ngga sa;ah dengar? Barusan mas Anggar panggil aku dengan panggilan sayang kan? Apa cuma halusinasiku saja? Gumam bathin Ara sambil menatap wajah Anggar.
"Kenapa? Ada yang aneh ya? Tanya Anggar.
"Ngga, aku cuma salah dengar mungkin" jawab Ara sambil mencari kenyamanan dalam pelukan Anggar.
"Memang nya kamu mendengar apa? Kata Anggar sambil menganggkat dagu Ara agar menatap nya.
"Sudah lah mas, lupakan saja, lebih baik sekarang kita tidur, karena besok pagi kita mulai dengan rutinitas kerjaan lagi" jawab Ara.
"Kamu ngga mau memberikan ciuman sebelum tidur dulu ya? Anggar pun mengeluarkan modus nya.
"Memang nya harus ya? Tanya Ara sambil menatap ke arah mata Anggar.
"Wajib" jawab Anggar dengan senyuman menggoda nya.
__ADS_1
Ara pun mendekati bibir Anggar dengan mata masih menatap mata Anggar, bibir mereka pun bertemu, Ara sedikit membuka bibir nya dan membiarkan Anggar bernain di sana.
Mereka pun menikmati malam ini dengan penuh perasaan, Anggar yang sudah mulai membuka hati nya kepada sang istri, sangat menikmati sekali dengan apa yang mereka lakukan malam ini.
Sungguh malam ini malam yang terindah buat keduanya, Ara sangat bahagia sekali dengan perlakuan Anggar kepada dirinya.
Memang ini adalah malam ke dua bagi mereka mereguk sebuah kenikmatan, tapi entah kenapa malam ini Ara merasa sangat bahagia, karena Anggar terus memanggil namanya disaat Anggar selalu mendapatkan kenikmatan yang telah ia berikan.
Kini Anggar sudah tergeletak di samping Ara sambil mengatur nafas nya.
"Makasih sayang, makasih kamu selalu sabar menghadapi aku, makasih kamu telah dengan tulus menyayangi dan mengurus Zila, makasih juga untuk malam ini, I Love You" ucap Anggar sambil memeluk tubuh Ara yang masih tanpa ada penghalang nya lalu mencium lembut kening Ara.
"Apa aku ngga salah mendengar nya mas? ini bukan mimpi kan mas? Kalau misalkan ini hanya mimpi, tolong jangan bangun kan aku, karena aku masih ingin merasakan dan mendengar isi hati kamu mas" ucap Ara sambil memejamkan kedua mata nya.
"BUkalah mata mu dan tatap mata ku ini, ini bukan mimpi sayang, tapi ini nyata, ini sungguh-sungguh nyata" jawab Anggar.
Perlahan Ara membuka kedua mata nya, nampak lah wajah tampan Anggar dengan senyuman khas nya
"Kamu juga cantik sayang, aku sangat suka dengan lesung pipi mu ini" ucap Anggar sambil mencium mesra lesung pipi nya Ara.
"Mas, sudah cukup aku geli" teriak Ara sambil meronta-ronta dalam pelukan Anggar.
"Sekali lagi ya? Please? Anggar pun memohon minta di layani kembali sama Ara istri nya.
Ara hanya mengangguk pasrah dengan keinginan suami nya, Ara paham banget akan keadaan suami nya yang sudah lama ngga merasakan kenikmatan dunia.
Akhir nya terjadi kembali penyatuan diantara mereka sampai mereka benar-benar berada di puncak kenikmatan yang selalu membuat mereka melayang-layang.
*
*
__ADS_1
Pagi hari Ara bangun kesiangan, dia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuh nya dari sisa percintaan semalam dengan suami nya.
Setelah Rapih dengan baju kerja nya, Ara langsung ke kamar Zila untuk memandikan dan mempersiapkan keperluan Zila.
"Sayang bang,,,,,,un,,,," teriak Ara sambil membuka pintu kamar Zila, tapi Ara sudah tidak melihat Zila lagi diatas tempat tidur nya.
"Sayang kamu dimana? Ara pun mencari nya sampai ke kamar mandi, tapi tetap saja ngga ada.
"Apa Zila sudah ke bawah ya? Gumam Ara lalu membalik kan tubuh nya dan kembali ke kamar nya.
"Mas bangun udah siang" Ara pun membangun kan Anggar dengan menggoyangkan bahu nya.
"Sebentar Yang, lima menit lagi ya? Anggar pun mencoba bernegosiasi.
"Ya sudah kalau mas ngga mau bangun, aku ngga mau melayani mas lagi kalau mas pingin, dan mas hanya aku kasih seminggu sekali, malam minggu saja" teriak Ara karena kesal dengan suami nya yang susah di bangunkan padahal udah siang dan harus berangkat kerja.
"Iya Yang aku bangun" teriak Anggar yang langsung terbangun dan berlari ke kamar mandi dengan tubuh yang masih tanpa penghalang.
Ara pun tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan suami nya, apalagi Ara melihat burung Anggar yang terombang ambing efek berlari.
Ara pun merapihkan tempat tidur nya, lalu menyiapkan baju kerja suami nya beserta dasi, kaos kaki dan jam tangan yang akan di pakai oleh suami nya.
Tidak berapa lama Anggar pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang benar-benar basah.
"Ini mas baju nya sudah aku siapin" teriak Ara sambil merapihkan rambut di depan meja rias.
"Jangan terlalu cantik, nanti banyak cowok yang godain lagi" kata Anggar sambil memakai baju nya.
Ara pun menghampiri suami nya dan membantu memakai kan kemeja dan memakaikan dasi.
"Ya kalau ada yang godain wajar lah mas, kan setahu mereka aku ini masih sendiri" jawab Ara sambil memasang kancing kemeja yang di pakai Anggar.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu dengan secepat nya kita laksanakan pesta pernikahan kita" jawab Anggar dengan wajah yang di tekuk, Ara hanya tersenyum melihat wajah Anggar yang seperti itu.