
"Tolong putar rekaman cctv sekitar ruangan saya"perintah Anggar kepada satpam itu.
"Baik pak, mari ikut saya" ajak pak satpam.
Mereka pun kini sudah berada di ruangan dimana ruangan itu khusus tempat nya pemantauan setiap sudut gedung ini.
"Putar mulai dari jam makan siang" kata Anggar sambil menatap layar besar yang ada di depan nya.
"Baik pak, satpam itu mulai mencari rekaman di jam istirahat di sekitar ruang Anggar.
Mereka semua serius menatap ke arah layar besar itu, tidak ada yang bicara sama sekali.
Di awal rekaman tidak ada hal yang aneh, semua nya seperti biasa, hingga Anggar keluar dari ruangan dan tidak lama terlihat Dina menghampiri Ranti, terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu, tapi mereka tidak memperdulikan nya, karena target mereka adalah Ara.
Tidak berapa lama terlihat Ara keluar dari ruangan dan menghampiri Ranti.
Mereka masih tetap fokus kepada layar besar itu dengan pikiran masing-masing.
"Seperti nya Sahara mau kearah gudang pak" ucap pak satpam setelah melihat ke layar sebelah nya yang menampak kan Ara sedang berjalan terus sendirian.
"Mau apa non Ara masuk ke gudang? Perasaan selama ini Ara jarang mauk ke gudang" gumam bathin bu Hani.
"Mau apa dia ke gudang? Gumam Anggar.
Selagi Anggar berpikir, tiba-tiba dia di kaget kan oleh pak satpam yang melihat Ara masuk ke gudang.
"Pak, Sahara masuk dan mencari sesuatu" ucap pak satpam itu.
Anggar dan bu Hani kembali menatap layar besar itu dan menampak kan sang istri lagi mencari sesuatu di tumpuk kan kertas.
Hingga terlihat Dina masuk dan membekap sambil memegang tangan nya Ara.
"Dina? Gumam bu Hani yang masih bisa di dengar oleh satpam dan Anggar.
"Siapa dia bu? Berani-berani nya dia melakukan itu kepada istri saya" ucap Anggar sambil menahan emosi nya.
__ADS_1
Karena emosi tanpa sadar Anggar mengungkap jati diri Ara.
Pak satpam pun kaget mendengar ucapan dari Anggar.
"Apa! Jadi Sahara istri nya pak Anggar, waduh gawat, mana saya tadi sudah tidak sopan memanggil nya dengan nama" gumam bathin pak satpam.
"Saking marah nya pak Anggar sampai dia tidak sadar mengakui nya langsung kalau Ara adalah istri nya, Dina kamu dalam masalah besar, kenapa kamu melakukan ini Dina? Gumam bathin bu Hani.
"Dia, Dina pak, office girl juga, maaf kan saya yang sudah lengah pak? Jawab bu Hani sambil menunduk, bagaimana pun Dina adalah di bawah naungan dia, jadi bu Hani merasa ikut bersalah.
"Ayo kita ke gudang, kalian ikut sama saya" teriak Anggar.
Mereka pun berdiri dan mau keluar dari ruangan, tapi satpam yang menyalakan rekaman itu melirik sebentar ke arah rekaman hingga dia melihat sosok Ranti masuk ke dalam gudang.
"Pak bu Ranti juga ikut masuk ke gudang" teriak pak satpam dan kembali duduk untuk mengulang kembali rekaman dimana Ranti masuk ke dalam gudang.
Anggar dan bu Hani pun kembali membalikan tubuh nya dan menatap kembali ke layar.
Pak satpam pun meperbesar volume cctv yang berada di gudang.
Mereka pun kaget dengan semua yang mereka lihat dan mereka dengar, hingga aksi Ranti menampar Ara pun jelas di mata mereka semua nya.
Anggar sudah ngga tahan dengan tingkah mereka yang telah menyakiti istri nya, apalagi Anggar melihat mata istri nya berkaca-kaca menahan sakit di pipi nya.
"Antar kan saya ke sana" teriak Anggar lalu berjalan cepat keluar dari ruangan satpam itu.
"Kamu juga ikut saya" teriak Anggar pada satpam yang satu nya lagi, satpam itu mengangguk lalu mengikuti langkah mereka menuju ke gudang belakang.
*
*
"Tante lihat mamah Zila ngga? Tanya Zila pada Susi.
"Kok anak ini nanyain mamah nya, bukan nya kata orang-orang pak Anggar itu seorang duda yang di tinggal kan istri nya meninggal" gumam bathin Susi.
"Tante, Zila ini nanya lo, kok tante malah melamun sih" kata Zila.
__ADS_1
"Eh, iya maaf, non cuma tante bingung, bukan nya mamah non udah, emm, udah meninggalkan non ya? Tapi kenapa non masih mencari mamah nya? Ucap Susi dengan wajah bingung nya.
"Iya tante, bunda udah tenang dan bahagia di syurga, tapi yang Zila cari ini mamah baru Zila, itu lo tante mamah Zila juga kerja di sini dan baju nya juga sama baju yang tante pakai" jawab Zila sambil menunjuk baju kerja yang di pakai Susi.
Susi yang bingung makin bingung dengan penuturan dari Zila, jujur Susi selalu ketinggalan berita dalam hal apapun, karena prinsip Susi dia di sini kerja bukan mau mencari tahu dan tidak mau tahu urusan orang lain.
"Iya nama nya siapa non? Tanya Susi.
"Nama nya mamah Ara tante? Orang nya cantik dan ada lesung pipi nya itu lo" kata Zila sambil menyentuh ke dua pipi nya dengan ke dua telunjuk.
"Apa! Jadi Ara itu istri nya pak Anggar? Tapi kenapa Ara masih kerja menjadi office girl ya? Gumam bathin Susi.
"Gimana tante? Kenal tidak? Tanya Zila kembali.
"Iya sayang tante tahu kok, tapi kita kan di suruh menunggu di sini, jadi kita tunggu di sini saja ya? ucap Susi.
Susi pun mengajak Zila bermain sambil terus berpikir apa benar Sahara yang seorang office girl yang ia kenal itu adalah istri dari atasan nya.
*
*
"Dia adalah istri saya! Teriak seseorang yang baru masuk dengan wajah yang sudah menampakan kemarahan nya.
Ranti, Dian dan Ara pun terkejut dengan suara barithon yang mereka kenal itu, mereka bertiga langsung menatap ke arah Anggar dengan berbagai ekspresi.
"Pak Anggar? Gumam mereka bertiga.
"Apa yang telah kalian lakukan terhadap istri saya, hah! Teriak Anggar yang emosi melihat pipi Ara kemerahan akibat kena tamparan dari Ranti.
"Istri? Gumam Ranti dan Dian dengan wajah keterkejutan dan ketakutan mereka.
"Tolong bawa mereka berdua ke kantor polisi" teriak Anggar kepada ke dua satpam nya.
Kedua satpam tersebut langsung memegang Ranti dan Dina, sedang kan Anggar langsung memeluk Ara dengan nafas yang masih memburu karena marah dengan apa yang telah di lakukan Ranti dan Dina kepada istri nya ini.
"Apa yang kamu lakukan Dina? Kamu menjerumuskan diri kamu sendiri" ucap bu Hani sambil menatap tajam ke arah Dina.
__ADS_1
Bu Hani menatap tak percaya kepada Dina, memang selama ini Dina tidak begitu menyukai Ara, tapi bu Hani tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan kepada Ara.