
Kini Ara pun sudah berada di kediaman pak Hardian, dia langsung menuju kamar nya Zila.
"Maafin mamah ya nak, mamah belum bisa menjadi ibu yang kamu inginkan"gumam bathin Ara sambil mencium lembut kening Zila.
Zila yang seperti merasakan kehadiran Ara pun bibir nya sedikit tersenyum dalam tidur nya.
Ara pun lalu membenarkan posisi selimut nya lalu pergi meninggalkan kamar Zila.
Ara pun masuk ke dalam kamar di lihat nya sang suami yang sedang terlelap, bibir Ara pun tersenyum lalu ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.
Setelah selesai dengan ritual nya Ara pun langsung menghampiri tempat tidur lalu berbaring di samping suami nya.
"Maafin aku mas, aku belum menjadi seorang istri yang kamu ingin kan, aku hanya ingin menyelesaikan tugas ku dulu, setelah semua nya selesai aku akan fokus menemani mu dan anak-anak kita nanti nya" gumam bathin Ara sambil mengelus puncak kepala Anggar lalu mencium mesra kening nya.
Ara pun melepaskan guling yang lagi di peluk nya, lalu dirinya masuk ke dalam pelukan Anggar.
Seakan Anggar tahu kalau yang dia peluk itu istri nya Anggar pun mengerat kan pelukan nya,.
Karena rasa lelah dan sudah mendapatkan tempat ternyaman nya dalam pelukan Anggar, Ara pun tidak lama akhirnya tertidur pulas.
*
*
Pagi hari nya Anggar terbangun dan yang pertama dia lihat adalah wajah cantik istri nya yang masih terlelap tidur.
"Kasihan kamu Yang, aku janji begitu ibu mu sehat nanti, aku akan langsung mengadakan resepsi dan mengumumkan ke semua orang kalau kamu itu adalah istri ku" gumam bathin Anggar lalu mencium kening Ara yang masih dalam pelukan nya.
Ara yang merasa ada benda kenyal yang terus-terusan menyentuh kening nya, kini mengerjap kan matanya, perlahan dia membuka mata nya.
"Mas, kamu udah bangun? Tanya Ara dengan suara khas bangun tidur nya.
"Kamu tidur aja lagi, nanti mas bangun kan" kata Anggar sambil mengeratkan pelukan nya.
Mereka pun saling memeluk, karena cuaca di pagi itu sangat dingin sekali ditambah ACE yang masih menyala, yang di bawah sana pun berontak ingin mencari kehangatan.
Ara yang peka dengan apa yang di inginkan suami nya pun menatap lekat kearah mata Anggar yang sedang terpejam.
__ADS_1
Anggar terpejam bukan tertidur, tapi dia sedang menahan rasa yang di bawah sana yang sudah berontak ingin keluar dari sarang nya.
Ara tersenyum melihat kelakuan suami nya, karena gemas Ara pun mencium lembut bibir Anggar.
Anggar yang sedang memejamkan mata nya pun langsung membuka mata nya di kala benda kenyal kesukaan nya nempel di bibir nya.
Ara yang masih menempelkan bibir nya sambil menatap ke arah mata Anggar pun sedikit tersenyum, lalu sedikit menggerak kan bibir nya sedikit demi sedikit.
Anggar pun mulai membalas nya, tapi sayang begitu Anggar mau membalas permainan bibir nya Ara malah melepaskan bibir nya dari bibir Anggar dan menelungkup kan wajah nya di atas dada Anggar.
"Kamu nakal ya" kata Anggar sambil menggelitik pinggang Ara.
Ara pun tertawa sambil berontak karena merasakan rasa geli di tubuh nya.
"Ampun mas, ampun sudah cukup" teriak Ara sambil tertawa.
"Mau ngerjain mas lagi ya, ayo" kata Anggar sambil terus menggelitik pinggang Ara.
"Ngga mas, ngga, ampun, sudah mas, geli" teriak Ara.
Mereka pun saling menatap sambil tersenyum, dimata mereka penuh dengan cinta yang tulus.
Sedikit demi sedikit wajah mereka pun saling mendekat dan tidak lama kemudian kedua bibir itu bertemu dan saling mencurahkan semua isi hati lewat penyatuan bibir mereka.
Terjadilah kegiatan panas itu di pagi hari yang dingin ini, Entah lah semenjak mulai merasakan lagi dari beberapa tahun kebelakang yang sempat vakum karena di tinggal Anya, Anggar kini selalu ingin merasakan nya terus, seakan-akan tubuh Ara sudah menjadi candu bagi nya.
Mereka pun terus menerjang pagi ini dengan olahraga yang menguras tenaga tapi membuat mereka melayang.
Kini Anggar pun terkulai lemas di samping istri nya, "I Love You" bisik Anggar sambil memeluk tubuh Ara yang masih dalam keadaan tanpa penghalang apapun.
"I Love You To mas" Ara pun menjawab sambil tersenyum.
Tangan Anggar pun menyentuh perut Ara, "Semoga kamu cepat hadir ya nak, papah sama kak Zila menunggu mu sayang" gumam Anggar sambil mengelus perut Ara.
__ADS_1
"Mas, seandainya aku hamil, mas mau anak laki-laki apa perempuan? Tanya Ara sambil mengelus tangan Anggar yang masih nempel di perut nya.
"Mas ngga pernah berharap jenis kelamin nya apa, mau laki-laki atau pun perempuan bagi mas sama saja, asalkan bayi dan ibu nya selalu sehat" jawab Anggar lalu mencium tengkuk Ara.
Ara pun tersenyum begitu mendengar jawaban yang begitu manis dari bibir suami nya.
"Sudah ah, ayo bangun, nanti keburu Zila kesini berabe lagi" ucap Ara sambil melepaskan pelukan Anggar.
Ara pun menutup tubuh nya dengan selimut tebal nya dan turun dari tempat tidur.
Begitu Ara melangkah kan kaki nya, selimut yang ara pegang untuk menutupi tubuh nya pun di tarik sama Anggar hingga membuat Ara terduduk kembali di atas tempat tidur.
"Mas ih" teriak Ara sambil mempertahan kan selimut yang dia pegang.
"Bareng dong Yang mandi nya" jawab Anggar lalu membuka selimut yang Ara pegang.
"Kenapa di buka juga selimut nya, aku malu mas, aku kan lagi ngga pakai apa-apa" ucap Ara.
"Kenapa mesti malu, aku sudah melihat dan merasakan setiap inch tubuh kamu" jawab Anggar lalu menggendong Ara ala bridal style dan pergi ke kamar mandi.
"Mas" teriak Ara yang kaget dengan perlakuan suami nya sambil mengalungkan ke dua tangan nya ke leher Anggar.
"Jangan teriak, ntar mereka sangka aku ngapa-ngapain kamu lagi" kata Anggar sambil berjalan.
Anggar pun membawa Ara ke kamar mandi dengan keadaan tubuh mereka sama-sama tidak ada penghalang nya.
Anggar pun menurunkan Ara di bawah shower lalu dia menyalakan nya.
"Ngga berendam mas? Tanya Ara.
"Kita coba di bawah guyuran shower ya Yang, biar sensasi nya berbeda" kata Anggar sambil memainkan kedua matanya.
"Mas, nanti Zila ngambek lagi kalau aku kelamaan menemui nya" kata Ara.
__ADS_1
"Sebentar aja Yang? dan mau tidak mau akhir nya Ara pun pasrah dan menuruti kemauan suami nya, maka terjadilah kembali di bawah guyuran shower.