
Keluarga Hardian lagi berkabung, kini rumah keluarga Hardian pun banyak kerabat dekat mengucapkan bela sungkawa, jasad pak Hardian memang sudah di makam kan di tpu dimana Anya di makam kan.
Zila yang dari kecil selalu sama omah dan opah nya kini ngga bisa di tanya, dia terus menangis di dalam kamar nya.
"Opah maafin Zila selama ini Zila suka buat kesal opah" gumam Zila sambil menangis.
"Aku masih ingin sama opah, kenapa opah tinggalin Zila, kenapa opah" teriak Zila.
"Kak, sudah jangan nangis terus, mendingan kita kirim do\*a buat opah, Nathan juga sedih di tinggal opah, tapi kalau kita sedih terus seperti ini kasihan omah juga, mending kita hibur omah biar ngga sedih terus" ucap Nathan yang kini berada di kamar nya Zila kakak nya.
"Coba lihat sama kakak, omah dari tadi tak sadar kan diri terus, mamah repot dengan adik Rania, jadi Nathan minta tolong sama kakak, jangan nangis lagi, please" Nathan pun memohon sama Zila agar dia berhenti untuk menangis.
Bu Carlota yang terus -terusan ngga sadar kan diri dan menangis pun masih belum mau bicara selain menangis dan memanggil-manggil nama suami nya.
"Pah, kenapa begitu cepat kamu ninggalin mamah, papah ngga sayang mamah lagi, mamah ngin ikut papah" teriak bu Carlota.
"Mah, sudah ya jangan nangis terus? Kasihan papah kalau lihat mamah seperti ini? Mamah ingat kan pesan papah terakhir ke mamah? Ara pun membujuk mertua nya biar ngga bersedih terus.
"Papah ngga suka lihat mamah bersedih, papah ngga suka lihat mamah menangis" gumam bu Carlota sambil menghapus air mata nya.
Ara bukan nya ngga bersedih, tapi Ara menahan sekuat tenaga kesedihan nya, karena ada Rania yang masih bayi membutuh kan nya.
"Mamah do\*a kan saja papah biar dia tenang di sana, diampuni segala dosa nya dan di tempatkan di syurga, papah bakalan sedih kalau melihat mamah terus-terusan seperti ini, lihat Rania mah, dia ikut sedih lihat omah nya sedih begini" ucap Ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bu Carlota pun berhenti menangis lalu melirik ke arah Rania yang sedang menatap nya dalam gendongan Ara.
"Maafin omah ya sayang, omah janji omah ngga bakalan sedih lagi" ucap bu Carlota dalam isak tangis nya.
Rania yang diajak bicara sama bu Carlota pun tersenyum sambil tangan nya keatas seperti mau meraih sesuatu.
"Iya omah, omah tersenyum lagi ya? Buat kita, omah kalau tersenyum cantik lo" ucap Ara dengan nada suara yang menirukan anak kecil membuat bu Carlota ikut tersenyum.
Anggar yang kebetulan masuk ke kamar ibu nya pun sedikit tersenyum melihat istri nya berhasil membuat ibu nya tersenyum kembali, walaupun memang masih terlihat sedih.
__ADS_1
"Ternyata adik Rania di sini, kakak cari-cari dari tadi sama kak Nathan" ucap Zila sambil masuk ke kamar bu Carlota di ikuti Nathan.
"Iya kakak, adik mau hibur omah biar ngga sedih terus" jawab Ara dengan masih suara anak kecil nya.
Mereka pun semua nya tersenyum mendengar celotehan Ara yang menirukan suara anak kecil, mereka tersenyum dengan air mata yang masih keluar dan menetes di pipi.
*
*
Waktu terus berlalu, tiga bulan sudah pak Hardian meninggalkan istri, anak dan cucu nya.
Selama tiga bulan juga bu Carlota terus-terusan menangis tanpa sepengetahuan anak, menantu dan cucu-cucu nya.
Semakin hari badan bu Carlota pun semakin kurus, dia sudah ngga nafsu untuk makan.
"Omah sayang, makan dulu yuk? Zila suapin" bujuk Zila.
"Omah ngga lapar sayang" jawab bu Carlota dengan memaksakan senyuman nya.
"Omah ngga mau makan lagi ya kak? Bisik Nathan yang baru datang dan berdiri di samping kakak nya.
"Nathan ganteng seperti ayah dan opah kamu nak" jawab bu Carlota sambil menyentuh pipi nya Nathan.
"Omah sayang Nathan ngga? Tanya Nathan dengan penuh kesabaran.
"Omah sayang banget sama Nathan, Nathan adalah duplikat dari wajah opah waktu muda" jawab bu Carlota sambil menahan tangis nya.
"Kalau omah sayang sama Nathan, omah harus makan sekarang juga, mau kak Zila yang suapin atau Nathan yang suapin? tanya Nathan kembali.
"Atau mau cama Lania? Teriak Ara yang baru masuk sambil menggendong adik Rania.
Bu Carlota pun tersenyum sambil melihat ke arah Rania yang berada dalam gendongan Ara menantu nya.
"Nia emang bisa suapin omah? Tanya bu Carlota.
"Ica dong Omah" jawab Ara sambil mengibas-ngibaskan tangan Rania.
__ADS_1
"Wah sedang apa nih pada kumpul di sini? Tanya Anggar sambil menghampiri mereka semuanya.
"Kita lagi ajak omah untuk makan pah" jawab Nathan.
"Mah, kita makan yuk? Tuh lihat cucu-cucu omah, mereka sampai jam segini belum pada mau makan karena menunggu omah" ajak Anggar sambil menyentuh bahu sang bu.
"Kalian belum pada makan? Tanya bu Carlota sambil melihat kearah cucu-cucu nya satu per satu.
"Belum, kami menunggu omah" jawab Zila dan Nathan bersamaan.
"Nia juga belum makan lo omah" ucap Ara masih dengan suara anak kecil nya.
"Lah, kan Nia memang belum makan apa-apa, sebentar lagi ya sayang, Nia juga makan kok" jawab bu Carlota sambil mengelus lembut kepala Rania.
"Iya omah Nia yang cantik" jawab Ara sambil tersenyum.
"Ya sudah ayo kita makan, nanti kalian sakit lagi kalau pada telat makan" ucap bu Carlota.
Nathan pun mendorong kursi roda yang di duduki oleh bu Carlota.
Semenjak pak Hardian meninggalkan untuk selama -lama nya, bu Carlota pun kesehatan nya menurun hingga dia sudah ngga sanggup untuk berjalan jauh dan berdiri lama-lama.
"Ayo kita makan, omah mau disuapin sama siapa? Tanya Zila.
"Bagaimana kalau satu orang satu suap, kita giliran" ucap Ara.
"Setuju mah, jadi kita semua menyuapi omah dengan rasa kasih sayang dari kita semua" jawab Nathan.
"Kalau begitu suapan pertama berarti papah dulu ya? Di lanjut sama mamah terus kak Zila, Nathan dan juga Nia" ucap Anggar.
Mereka pun menyuapi bu Carlota satu persatu dengan cara bergantian, bu Carlota pun terlihat tersenyum dengan kelakuan anak, menantu dan cucu-cucu nya yang terus berusaha agar dirinya mau makan.
"Pah, kamu lihat kan aku sangat di sayang sama mereka? Mereka berusaha membuat aku tersenyum, mereka berusaha membuat aku bahagia, tapi semua nya hampa pah, semua nya hampa kalau tidak ada papah di samping mamah." gumam bathin bu Carlota sambil menatap wajah anak, menantu dan cucu-cucu nya.
__ADS_1