
"Ra, sejak aku bertemu dengan kamu aku sudah menyukai mu, aku mencintai mu Ra, jadi mau kah kamu jadi pacar ku? Tanya Jo dengan wajah memohon nya.
Ara kaget dengan semua yang di ungkap kan oleh Jo, Ara ngga menyangka kalau Jo akan melakukan semua itu kepada dirinya.
Ara pun menatap ke arah suami nya yang sedang menatap tajam kearah dirinya, lalu dia pun kembali melirik ke arah Jo.
"Pah, mamah lagi main drama ya? Tanya Zila, karena Zila mengira Ara lagi drama untuk menghibur pengunjung.
"Iya sayang, kamu diam ya, jangan gangguin mamah" jawab Anggar sambil terus menatap ke araha istri nya.
"Oke pah, jawab Zila lalu melihat layar ponsel nya, karena Zila lagi nonton film kartun kesukaan nya.
"Ya, ternyata Jo menyukai Ara" gumam bathin Lusi sambil menatap ke arah Jo.
"Terima, terima" teriak para pengunjung dengan begitu semangat nya.
Ara melirik ke arah Mela dan Lusi lalu kembali menatap ke arah Jo.
"Jo, sejak aku masuk dan berdiri di atas panggung ini, kamu adalah orang pertama yang selalu memberi semangat dan dukungan untuk ku, aku hargain perasaan kamu, tapi aku hanya menganggap kamu sebagai teman saja tidak lebih" jawab Ara.
Pengunjung yang tadi bersorak sorai dan menyuruh nya di terima pun kecewa dan terdiam.
Seketika susana cafe itu hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring dan juga hanya suara Jo dan Ara yang terdengar.
"Ya ampun Ra, kenapa kamu tolak, bang Jo itu tulus mencintai kamu" gumam bathin Mela.
Mela tahu karena Jo sering curhat kepada nya, bahkan menyatakan di atas panggung pun ide dari Mela.
"Cowok se keren Jo, kamu tolak Ra? Ya ampun Ra, kapan lagi kamu di tembak di depan orang banyak sama cowok se keren dia, andaikan posisi kamu itu adalah aku, aku akan langsung jawab iya, Ra" gumam bathin Lusi.
"Tapi kamu bisa mencoba nya lewat pertemanan itu Ra? Jo masih berusaha.
"Maaf Jo, aku ngga bisa, dan juga untuk semua yang mengenal aku, aku minta maaf, karena malam ini adalah malam terakhir saya di atas panggung ini" jawaban Ara membuat pengunjung kembali riuh.
"Kenapa Ra? Apa karena pernyataan aku barusan, hingga kamu sampai harus berhenti bernyanyi di sini? Tanya Jo sambil berdiri.
__ADS_1
Jo kaget mendengar kalau ini adalah malam terakhir nya Ara.
"Bukan Jo, bukan karena itu, aku punya alasan sendiri kenapa aku memilih untuk berhenti dari panggung ini, maaf kan aku Jo" jawab Ara lalu membalikan tubuh nya dan turun dari atas panggung.
Tapi dengan gerakan cepat Jo meraih tangan Ara dan menghentikan langkah Ara.
"Beri aku alasan kenapa kamu menolak aku Ra? Teriak Jo.
"Maaf Jo, aku sudah ada yang memiliki" jawab Ara sambil melepaskan genggaman tangan Jo.
"Tidak, kamu ngga mungkin ada yang memiliki, aku tahu kamu Ra, aku ngga percaya alasan kamu" teriak Jo,
Anggar yang sudah gatal semenjak tadi pun akhir nya menghampiri Ara kearah panggung.
"Sayang sudah selesai? Ayo kita pulang" ajak Anggar sambil menatap ke arah Jo.
"Sudah mas, Jo, ini lah alasan aku kenapa ngga menerima kamu" jawab Ara sambil meraih tangan Anggar.
"Dia adalah istriku" jawab Anggar dengan suara lantang dan jelas, bukan hanya Jo yang merasa kaget, tapi semua yang berada di cafe tersebut dan yang mendengar jawaban dari Anggar pun kaget dan hampir tidak percaya, termasuk Mela dan Lusi.
"Istri? Jadi kamu sudah menikah Ra? Gumam Jo dengan perasaan yang hancur.
"Iya Jo, kita nikah baru ada sebulan, makanya waktu itu aku tidak masuk tiga malam" jawab Ara.
Sebenar nya Ara merasa kasihan melihat Jo yang seperti itu, tapi apa mau dikata, mungkin ini yang terbaik buat Jo, biar dia tidak terlalu berharap terus pada dirinya.
Jo pun terduduk lemas dengan perasaan hancur nya.
"Sudah lah Jo, kamu itu seorang pria, masa kamu lemah, ayo kembali ke panggung" kata Aldo.
Jo pun bangun dan kembali ke panggung lalu memainkan gitar nya kembali dengan perasaan yang benar-benar hancur lebur.
"Pak Leonal, terima kasih banyak, sudah banyak membantu saya, dan maaf kan saya juga jika selama saya bekerja di sini melakukan kesalahan" ucap Ara sambil mengatupkan kedua tangan di dada nya, dengan bibir tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama Ra, kamu bahagia selalu ya Ra, kalau suami kamu menyakiti hati kamu, kamu langsung datang dan temui saya ya? Saya akan bawa kamu jauh dari negara ini" Canda Leonal.
"Insya Allah suami saya ini ngga bakalan menyakiti hati saya pak" jawab Ara sambil tersenyum dan menatap ke arah Anggar.
"Mau pulang sekarang Ra? Tanya Aldo yang berada di belakang Ara.
Ara pun membalikan tubuh nya dan langsung memeluk Aldo.
"Makasih ya bang semenjak aku masuk kesini abang selalu membimbing dan melindungi aku" ucap Ara sambil memeluk Aldo.
Anggar yang melihat istri nya memeluk Aldo di depan mata nya pun langsung menarik tangan Ara.
"Rasa cemburu mu itu besar sekali pak Anggar" ucap Leonal dengan tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Mas, bang Aldo sudah ku anggap sebagai kakak ku, jangan cemburu deh" ucap Ara.
"Siapa pun dia, aku ngga suka kamu peluk-peluk laki-laki lain" kata Anggar.
Aldo pun hanya tersenyum dengan kecemburuan suami Ara.
"Ya sudah, turuti saja suami kamu Ra, daripada nanti ada perang dunia ke tujuh" kata Aldo.
"Ya udah kalau begitu kami pulang, Zila ayo nak, kita pulang" kata Anggar.
Anggar dan Ara pun pergi dengan tangan bergandengan dan di samping nya memegang tangan Zila.
Jo yang sudah mulai memainkan gitar nya lagi langsung meraih mic nya kembali dan ia pun bernyanyi.
Jo menyanyikan lagu yang berjudul Pergi Sulit Bertahan Sakit dari Reza Pahlevi.
Suara Jo lumayan walaupun tidak terlalu bagus, dia bernyanyi dengan perasaan hancur hingga membuat yang mendengar nya pun terbawa perasaan hingga pada meneteskan air mata, mereka ikut merasakan perasaan yang sedang di rasakan oleh Jo.
Ara yang sedang berjalan dengan di gandeng Anggar pun mendengar Jo menyanyikan sebuah lagu, dan lirik nya membuat dia juga ikut sedih dan merasakan perasaan Jo saat ini.
__ADS_1
"Maaf kan aku Jo, kita di takdir kan tidak bersatu, karena aku sudah ada yang memiliki" gumam bathin Ara sambil berjalan.