Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Kesepian


__ADS_3

"Mel, perasaan tadi abang lihat Ara masuk ke ruang ganti, sekarang kemana? Tanya Jo sambil melihat ke arah pintu ruang ganti.



"Iyah ada bang, tapi kayak nya ngga nyanyi dulu deh, soalnya lagi di panggil sama bang Aldo, tahu sendiri kan kalau bang Aldo sudah ngajak kita ke ruangan nya, pasti ngoceh sampai pagi" jawab Mela.



"Pasti efek ngga masuk dua hari kemarin" gumam Jonathan.



"Ya sudah kita aja lah, Ara nya belum bisa gabung" ajak Mela sambil ngambil mic.



Mereka pun memulai aksi panggung nya tanpa kehadiran Ara kembali.


*


*


Anggar yang belum bisa tidur di kamar nya, terus menatap poto almarhumah.


"Yang, aku akan terus menjaga Zila anak kita sampai dia sudah ngga membutuhkan aku lagi, maaf kan aku yang sekarang sudah membuka hati ini untuk Ara, meski aku sudah membuka hati ku tapi kamu selalu ada di sini" gumam Anggar sambil menyentuh dada nya.



"Nanti kalau kita semua libur, aku akan ajak Zila ke makam nengok kamu, kamu yang tenang di sana ya Yang, I Love U' setelah mengucapkan beberapa kalimat Anggar pun menghampiri tempat tidur lalu membaringkan tubuh nya.



"Ngga ada kamu sepi Yang, padahal sebelum nikah sama kamu juga aku tidur sendirian, tapi kenapa terasa berbeda, padahal baru beberapa malam saja aku tidur sama kamu, ah lama sekali sih kamu pulang nya Yang" gumam Anggar sambil memeluk sebuah guling.



Setelah bergelut dengan rasa ngga nyaman karena ngga ada Ara tidur di samping nya, Anggar pun akhir nya tertidur pulas.


*


*


"Serius? Hebat kamu Ra, kamu sudah bisa mencairkan es yang sudah beku di hati nya pak Anggar, selamat ya Ra, tapi kalau kamu adain pesta, undang abang ya? kata Aldo.


"Ya iya dong bang, masa abang ku yang satu ini ngga aku undang" jawab Ara sambil tersenyum.



"Tapi suami kamu ngga marah kalau kamu nyanyi setiap mala? Tanya Aldo.



"Awal nya ngga ngizinin bahkan dia mau langsung ngomong ke pak Leonal, tapi aku yang melarang nya" kata Ara.


__ADS_1


"Kamu ini aneh Ra, mau di senangin sama laki malah milih hidup susah, kalau abang jadi kamu ya milih diam di rumah lah dari pada harus kerja" ucap Aldo.



"Ya siapa yang ngga mau begitu bang, aku pun juga ingin nya seperti itu, tapi kan pernikahan kita ini masih rahasia, jadi aku ngga mau gegabah dan membuat nama baik suami ku hancur" jawab Ara.



"Benar juga sih yang kamu omongin Ra, berarti setelah tiga bulan dari sekarang kamu akan berhenti dong kerja di sini Ra? Tanya Aldo.



"Ya mau gimana lagi bang, aku harus menepati janjiku pada suami dan anakku" jawab Ara.



"Ya sudah kalau begitu abang harus mulai mencari pengganti kamu dari sekarang, kalau misalkan udah ada pengganti nya, kapan pun kamu mau berhenti boleh, ngga usah nunggu tiga bulan lagi Ra" ucap Aldo.



"Beneran bang? Makasih abang ku yang ganteng, tapi gimana dengan pak Leonal?" tanya Ara.



"Giliran di baikin baru bilang ganteng, kemarin kemana aja? Kamu tenang aja, pak Leonal urusan abang sama suami kamu" jawab Aldo, Ara pun tertawa melihat raut wajah Aldo.



"Kalau kamu sudah ngga nyanyi di sini lagi, kamu jangan sombong sama abang ya Ra? Ah abang kok jadi sedih gini ya, padahal kamu masih ada di depan abang" kata Aldo dengan wajah sendu nya.




"Ya sudah, sekarang kamu pulang saja udah malam juga nanti suami mu ngga bisa tidur lagi ngga ada yang bisa di peluk, kasihan sekali nasib nya masih pengantin baru udah di tinggal-tinggal" kata Aldo sambil tertawa.



"Rese kamu bang, eh tapi beneran kan aku boleh pulang sekarang? Ara pun memastikan nya.



"Iya boleh, anggap saja malam ini hadiah pernikahan kamu" Canda Aldp.



"Huh ngga modal, masa hadiah nya cuma begini doang" gerutu Ara sambil me manyun kan bibir nya.



"Ya hadiah beneran nya nanti saja kalau resepsi nya diadakan? Eh iya, ngomong-ngomong resepsi nya kapan Ra? Tanya Aldo.



"Nanti saja pulang ibu berobat dari Luar Negeri bang" jawab Ara.

__ADS_1



"Memang nya ibu kamu mau berobat di Luar Negeri Ra? Biaya nya ngga murah lo Ra, biaya nya bisa buat kita miskin kalau hanya punya uang pas-pas san saja" kata Aldo.



"Ya iya bang, aku juga ngga berani bawa ibu berobat ke Luar Negeri, uang dari mana aku bang? berobat di sini saja aku harus kerja siang malam" kata Ara.



"Terus itu siapa yang bawa ibu kamu berobat? Tanya Aldo penasaran.



"Papah dan mamah mertua ku yang mau bawa ibu berobat ke Luar Negeri dan mereka menanggung semua nya" jawab Ara.



"Kamu beruntung Ra mempunyai suami dari keluarga pak Hardian, mereka itu orang kaya tapi ngga sombong, mereka pun tidak perduli kita dari kalangan mana, jadi kamu harus berbakti sama mereka, jangan kamu kecewakan keluarga mereka" Aldo pun memberi pesan pada Ara.



"Iya bang, aku akan selalu ingat pesan abang, makasih ya bang selama ini abang selalu membantu aku, dari awal aku menginjak kan kaki ku sampai detik ini, abang selalu membantu dan mengerti aku" kata Ara sambil memeluk Aldo.



"Sama-sama Ra, kamu adalah adik abang yang abang sayangi di sini" jawab Aldo sambil membalas pelukan Ara.



"Berarti kalau di luar sini aku bukan kesayangan abang lagi dong" kata Ara sambil melepaskan pelukan nya.



"Ya kita sama, kamu juga pas di rumah yang kamu sayang hanya suami kamu bukan abang" jawab Aldo, mereka pun tertawa bersama, lalu ke luar dari ruangan Aldo.



"kamu pulang sama siapa? Ini udah malam lo, jarak dari sini ke rumah pak Hardian lumayan jauh" tanya Aldo sambil berjalan.



"Aku di jemput pak Roni sopir nya papah bang" jawab Ara sambil mengambil ponsel nya lalu menghubungi pak Roni minta di jemput.



Ara pun menunggu sambil melihat penampilan Mela teman sepropesi nya.



"Abang tinggal dulu ya Ra? Kamu hati-hati di jalan" kata Aldo, lalu pergi meninggalkan Ara setelah mendapat jawaban sebuah angguk kan dari Ara.



"Kenapa Ara malah duduk di sana? Apa malam ini dia ngga nyanyi lagi? Kamu kenapa sih Ra? Aku tuh kangen sama kamu? Gumam bathin Jo sambil memetik gitar nya.

__ADS_1


__ADS_2