
"Jadi kita ngga kembali ke kantor lagi Pak? Tanya Lastri.
"Ngga usah, kamu temenin istri saya belanja" jawab Anggar.
Lastri pun sangat senang mendengar perintah dari Anggar, dia pun memanfaatkan waktu untuk sekedar cuci mata.
"Ya Allah, aku beruntung sekali menjadi sekertaris nya pak Anggar, selain baik, dia juga mengerti dengan bawahan nya" gumam bathin Lastri sambil berjalan di belakang Anggar dan Ara.
Mereka pun seakan-akan melupakan rasa capek dan lelah, mereka terus membeli semua perlengkapan bayi sampai benar-benar dirasa sudah benar-benar lengkap.
"Sudah lengkap kan mah? Tanya Ara sambil melihat ke arah barang yang ia beli.
"Sudah sayang, kalau begitu kita istirahat dulu" jawab bu Carlota.
"Kamu kelihatan sangat capek sekali Yang, kalau begitu kalian tunggu saja di cafe sekalian makan, nanti aku nyusul kesana" ucap Anggar.
"Lastri kamu gandeng istri saya, bawa dia ke cafe" ucap Anggar pada Lastri.
"Ya sudah ayo kita tunggu di cafe saja, biar Anggar yang bayar dan bawain semua nya" ucap bu Carlota.
"Ya sudah aku tunggu di cafe ya mas" ucap Ara lalu pergi meninggalkan Anggar.
Anggar menatap semua belanjaan nya, dia sampai menggelengkan kepala nya, hingga struk belanjaan panjang seperti kereta api.
Anggar pun menghubungi pak Roni untuk membantu membawakan semua barang belanjaan yang banyak itu.
"Pak, antarkan saja langsung ke rumah, nanti bapak balik lagi ke sini jemput kita ya" ucap Anggar.
"Baik den, ini belanjaan nya sudah semua kan den? Tanya pak Roni.
"Iya sudah pak, kalau ngga dianterin dulu kita ngga bisa masuk nanti, mobil nya penuh sama belanjaan begini" ucap Anggar sambil menutup pintu mobil nya rapat-rapat.
"Baik den, kalau begitu saya berangkat sekarang" ucap pak Roni lalu melajukan mobil nya.
Anggar pun langsung menuju cafe yang ada di mall tersebut, untuk menemui keluarga nya.
"Kamu kok disini juga? Tanya suara seseorang yang dia kenal di belakang nya.
"Papah? Papah lagi ngapain di sini? Anggar malah balik bertanya dengan kehadiran pak Hardian di mall itu.
__ADS_1
"Tadi papah di hubungi mamah kamu, biar makan bareng kata nya, makanya dari kantor papah langsung menuju ke sini" jawab pak Hardian.
"Oh, ya sudah ayo mereka sudah kumpul di cafe." ajak Anggar, mereka pun melangkah menuju cafe dimana keluarga mereka sudah duduk manis di sana.
"Tuh papah sama opah" ucap Zila sambil menunjuk ke arah pak Hardian sama Anggar.
Mereka pun menatap ke arah yang Zila tunjuk sambil tersenyum.
"Sini mas, udah aku pesenin kesukaan mas" ajak Ara sambil menyiapkan makanan buat suami nya.
"Tahu aja istri cantik ku ini, kalau mas lagi pengen makan ini" ucap Anggar sambil duduk di samping Ara.
"Iya dong suamiku yang mantan duda" jawab Ara dan membuat semua orang tertawa.
"Kamu ini Yang" ucap Anggar sambil mengambil makanan nya di meja.
"Mah, makanan papah udah di pesenin juga belum? Tanya pak Hardian ngga mau kalah.
"Udah dong pah, masa Anggar saja di pesenin sama istrinya, papah ngga" jawab bu Carlota sambil memberikan makanan buat suami nya.
Mereka pun makan termasuk Lastri, Lastri tak henti-henti nya selalu tersenyum melihat keharmonisan keluarga mereka, dirinya merasa sangat beruntung bisa berada di antara mereka.
*
*
"Pak, bu, makasih untuk hari ini sampai saya diajak ke rumah bapak dan ibu segala, kalau begitu saya permisi pulang" ucap Lastri sambil tersenyum.
"Ngga nginep aja Las? Tanya Ara.
"Ngga bu, besok kan saya harus kerja lagi, ngga ada baju buat kerja nya" jawab Lastri.
"Oh ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya" ucap Ara.
"Sebentar Las, aku panggilkan pak Roni dulu biar kamu diantar pak Roni pulang nya." ucap Anggar.
"Ngga apa-apa pak, saya naik taxy online saja" ucap Lastri.
"Jangan, ini sudah malam, kamu diantar pak Roni saja" ucap Ara.
"Baik kalau begitu, terima kasih ya pak, bu," ucap Lastri.
"Iya, sama-sama Las" jawab Anggar dan Ara bersamaan.
__ADS_1
*
*
Semenjak kejadian di mall beberapa waktu lalu, Leni pun tidak pernah menampak kan wajah nya lagi di depan Anggar.
Perut Ara pun semakin membuncit dan tinggal menunggu waktu nya saja.
Malam ini mereka sudah tertidur lelap sekali, tapi tidak untuk Ara, dia ngga bisa tidur karena merasakan sakit di pinggang dan perut nya.
Ara pun gelisah dia menahan rasa sakit itu karena takut mengganggu suami nya yang sudah terlelap.
Anggar yang merasakan kalau Ara sering bergerak pun mengerjapkan mata nya.
"Kamu belum tidur Yang? Tanya Anggar sambil sedikit membuka matanya.
"Aku ngga bisa tidur mas, pinggang sama perut ku sakit ini"jawab Ara sambil menahan rasa sakit nya.
"Yang? Jangan-jangan kamu mau melahirkan? Sebentar aku panggil mamah dulu" ucap Anggar sambil berlari ke kamar nya bu Carlota.
"Mah, mamah, bangun mah, Ara mau melahirkan" teriak Anggar sambil terus mengetuk pintu kamar orang tua nya.
"Ada apa sih nak, malam-malam gangguin orang tidur saja" ucap bu Carlota yang belum menyadari nya.
"Mah, Ara mau melahirkan mah" teriak Anggar.
"Apa! Ayo kita bawa ke rumah sakit, sebentar mamah mau bangunkan papah dulu." ucap bu Carlota lalu kembali masuk ke dalam kamar dan membangun kan suami nya.
Anggar pun langsung mencari pak Roni dan menyuruh nya untuk menyiapkan mobil.
"Pah bangun, ayo kita ke rumah sakit, menantu kita mau melahirkan" teriak bu Carlota sambil menggoyang kan tubuh pak Hardika.
"Apa mah, papah masih ngantuk ini, sebentar lagi aja ya mah" ucap pak Hardika yang masih setengah sadar dari tidur nya.
"Pah bangun, Ara menantu kita mau melahir kan, buruan kita ke rumah sakit" teriak bu Carlota sambil mengguncang kan tubuh suami nya.
"Apa! Ara mau melahirkan" teriak pak Hardian yang langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju mobil.
"La, mamah kok di tinggal sih pah, kan mamah yang bangunin, ampun si papah kelakuan nya" gumam bu Carlota sambil menyusul suami nya ke luar.
Anggar pun berlari kembali ke kamar nya dan langsung membawa Ara menuju mobil yang sudah di siapkan pak Roni.
"pak ayo jalan" teriak pak Hardian sambil menepuk pundak pak Roni yang sedang manasin mobil nya.
__ADS_1
"Tuan kan non Ara nya juga belum masuk, masa kita harus jalan duluan" ucap pak Roni dengan sedikit heran dengan kelakuan tuan nya itu.