Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Nathan Anggara Saputra


__ADS_3

Kini Ara sudah berada di dalam ruangan vvip, Anggar mengingin kan yang terbaik dan membuat nyaman istri dan anak nya itu.



"Ah tampan sekali cucu omah" ucap bu Carlota sambil menggendong bayi nya Ara.



"Lihat ketampanan nya menurun dari papah" ucap pak Hardian sambil menunjuk wajah nya sendiri.



"Ah kata siapa? Tanya bu Carlota.



"Kan mamah juga suka bilang gitu ke papah kalau papah ini tampan" jawab pak Hardian sambil tersenyum.



"Kok mamah mendadak amnesia ya pah" ucap bu Carlota dengan ekspresi seperti orang lupa.



Anggar dan Ara hanya tersenyum melihat kelakuan kedua orang tua nya.



"Papah, mamah," teriak Zila sambil membuka pintu ruangan.



Zila datang bersama bi Nani, tidak lupa bi Nani juga membawakan sarapan buat tuan dan nyonya nya.



"Sayang kenapa teriak-teriak" tanya Zila.



"Papah dan mamah jahat, kenapa ngga ngajak ZIla ke sini semalam, Zila kan ingin lihat adik bayi nya" ucap Zila sambil cemberut.



"Kan semalam Zila lagi tidur nyenyak, papah ngga tega buat bangunin Zila" bujuk Anggar.



"Jangan ngambek, tuh lihat adik bayi nya lagi di gendong sama omah" ucap Ara sambil menunjuk ke arah bu Carlota.



"Omah itu adik bayi Zila, omah Zila pengen cium dong" pinta Zila setelah mendekati bu Carlota.



"Cium sebentar saja ya sayang, kasihan masih bayi" ucap bu Carlota, Zila pun mencium pelan adik bayi nya.



"Oh ya nak, namanya siapa jagoan cucu papah ini? Tanya pak Hardian pada Anggar.



"Kok jagoan? Memang adik bayi nya cowok ya? Tanya Zila yang baru sadar kalau adik nya berjenis kelamin pria.



"Iya sayang adik Zila cowok, ngga apa-apa kan? Tanya Ara.



"Iya deh ngga apa-apa yang penting Zila punya adik saja" jawab Zila dengan wajah bahagia nya.



Mereka semua pun tersneyum mendengar jawaban dari Zila.



"Jadi siapa nama nya? Tanya bu Carlota.



"Aku yang kasih nama ya pah, mah" ucap Zila memohon izin, Ara dan Anggar pun mengangguk tanda menyetujui nya.


__ADS_1


"Siapa nama nya nak? Tanya pak Hardian.



"Nathan Anggara Saputra" jawab Zila sambil tersenyum.



"Bagus juga, tapi kenapa ada nama saputra nya? kenapa ngga Nathan Anggara Hardian" tanya pak Hardian.



"Kan Nathan nya putra papah Anggara bukan putra nya opah Hardian" jawab Zila santai.



Mereka pun tertawa mendengar jawaban dari Zila.



"Ya sudah berarti nama adik bayi nya Nathan ya? Gimana Yang? Tanya Anggar.



"Aku ngikut saja mas, yang penting dia punya nama" jawab Ara sambil tersenyum.



"Kamu ini Yang," jawab Anggar sambil mencolek hidung Ara.



"Bagus sekali kalian melupakan aku" teriak seseorang yang baru sampai di ruangan.



"Ibu, Malika, Uti," semua pun serempak bergumam sambil menatap ke arah pintu.



"Kita tidak melupakan kamu, buktinya aku hubungi kamu semalam" ucap bu Carlota.



"Selamat ya nak, kamu sekarang sudah menyandang status ibu." ucap bu Malika sambil mencium kening Ara.




"Uti, kakek mana? Tanya Zila sambil mencium telapak tangan bu Malika.



"Tadi kakek uti tinggal di parkiran, habis sudah ngga sabar pengen cepat sampai kesini" jawab bu Malika sambil mengelus puncak kepala Zila.



"Mana cucu Uti yang tampan" ucap bu Malika sambil meraih bayi Nathan dari gendongan bu Carlota.



"Uh baru juga sebentar gendong Nathan sudah diambil" gumam bu Carlota yang masih bisa di dengar.



Anggar dan Ara hanya bisa pasrah dengan kelakuan ibu dan mertua nya, mereka sibuk memperebut kan Nathan.



"Mas, kan aku yang melahir kan, kenapa mereka yang berebut? Tanya Ara pelan.



"Maka dari itu Yang, kita harus produksi lagi" jawab Anggar sambil tersenyum.



"Produksi, produksi, kamu enak mas cuma buat nya doang, la aku? Harus membawa dia kemana-mana selama sembilan bulan" jawab Ara sambil mengerucut kan bibir nya.



"Kan aku selalu mendampingi kamu Yang" dan aku juga ikut merasakan sakit nya pas kamu lahiran, lihat ini kan hasil dari kamu lahiran tadi" ucap Anggar sambil menunjuk luka-luka yang ia dapat kan dari Ara istri nya.



"Oh, jadi nama cucu Uti ini Nathan ya? Ah tampan nya kamu nak" ucap bu Malika sambil mencium gemas pipi Nathan.

__ADS_1



"Ampun bu, kenapa aku di tinggal" teriak dokter Rendra.



"Lagian mas lama" jawab bu Malika.



"Selamat ya nak, sekarang sudah hadir jagoan di keluarga kalian" ucap dokter Rendra.



Mereka pun berbahagia karena kehadiran Nathan di tengah-tengah mereka.


*


*


Setelah Ara dan Nathan terlihat sehat dan ngga ada keluhan apapun, dokter pun mengizin kan mereka pulang.


Dan di sini lah sekarang mereka, di kamar nya Nathan, yang sudah di siapkan jauh-jauh hari oleh Anggar dan pak Hardian.



"Adik Nathan memang nya berani tidur di sini sendirian? Tanya Zila sambil terus menatap adik nya, Zila ngga mau jauh-jauh dari adik nya itu.



"Adik Nathan tidur nya sama mamah dulu, soal nya kan masih bayi, jadi ngga boleh di tinggal" jawab Ara.



"Kalau begitu Zila juga tidur bareng adik Nathan dan mamah ah, Zila juga mau menemani adik Nathan.



"Boleh sayang kita tidur di sini bertiga ya? Tapi di halangin sama guling dulu ya? Soal nya takut badan kakak Zila menindih tubuh adik Nathan" jawab Ara dengan hati-hati karena takut Zila salah mengartikan nya.



Ara ngga mau Zila berpikir dia sudah ngga sayang sama Zila lagi.



"Terus papah tidur nya sama siapa? Tanya Anggar.



"Papah, papah itu udah tua, jadi tidur nya sendiri aja" jawab Zila.



"tuh dengerin apa kata anak mu" ucap pak Hardian sambil tertawa.



"Bahagia banget sih pah" ucap Anggar sambil cemberut.



"Udah ngalah saja, sama anak sendiri ngga mau ngalah." ucap bu Carlota.



Karena mereka berisik, Nathan pun terbangun dari tidur nya.



"Oek, oek, oek" suara Nathan pun sangat nyaring terdengar di telinga mereka.



"Sudah kita keluar saja kita istirahat, biar kan Nathan tidur dengan nyenyak" ucap bu Malika sambil menarik tangan dokter Rendra.



Para orang tua pun pergi dari kamar Nathan dan masuk ke kamar masing-masing, meninggalkan Anggar bersama anak dan istri nya.



"Yang, mending kita tidur di kamar kita, kamar kita kan luas tempat tidur nya, biar nanti kalau Nathan terbangun aku bisa gantiin kamu" ucap Anggar.



"Iya juga ya mas, ya sudah ayo kita pindah ke kamar kita, ayo sayang kita tidur di kamar mamah aja" ajak Ara sambil menggendong Nathan.

__ADS_1



Mereka pun pindah ke kamar Anggar yang luas.


__ADS_2