
"Mana lagi tuh si Dina, lama banget, mana udah lapar lagi" gumam Ranti sambil terus melihat ke arah lif.
"Ya sudah aku tunggu di ruang kerja ku saja lah, walaupun ngantri juga ngga mungkin hampir satu jam" Ratih terus bergumam sambil berjalan menuju meja kerja nya.
"Pak Anggar, kamu dimana? Ko udah dua hari dia ngga masuk ya? Apa dia sakit? Ah andai saja aku tahu rumah nya sudah ku datangin tuh rumah pak Anggar, ada no ponsel nya tapi setiap aku hubungi ngga pernah di angkat nya, apa guna nya coba ponsel nya pak Anggar itu" gumam Ranti sambil menyanggah dagu nya dengan kedua tangan nya.
"Hayo ibu pasti lagi ngelamunin pak Anggar? Tanya Dina yang baru datang sambil membawa Bulgogi pesanan Ranti.
"Kamu ini ngagetin orang saja, kenapa kamu lama sekali hah, ngga tahu apa kalau aku sudah kelaparan" cerocos Ranti sambil membuka Bulgogi lalu menyantap nya.
"Sabar dong bu, selain antri saya bawa kabar penting buat ibu, saya yakin ibu pasti kaget dengan kabar yang saya bawa ini" kata Dina.
"Memang nya kamu bawa kabar apa buat saya? Tanya Ranti sambil menikmati Bulgogi nya.
"Tahu ngga bu kenapa pak Anggar dan Ara ngga masuk dari kemarin? Sengaja Dina ngga langsung memperlihatkan poto mereka, Dina ingin main-main dulu sama Ranti.
"Ya mana saya tahu, saya kan bukan ibu mereka" jawab Ranti yang pura-pura ngga perduli, padahal di hati nya dia sangat penasaran dengan mereka berdua.
"Ya sudah kalau begitu saya balik kerja ya bu, sekalian makan di pantry, kan saya juga belum makan siang" kata Dina sambil berdiri dari duduk nya.
"Makan di sini saja, nanti saya yang bilang sama bu Hani kalau kamu saya kasih kerjaan" Ranti pun menahan Dina karena masih penasaran dengan Anggar.
"Ngga apa-apa nih saya makan di sini? Tanya Dina sambil membuka Bulgogi milik nya.
"Iya ngga apa-apa, asal kamu cerita kenapa pak Anggar dan Ara ngga masuk dari kemari" kata Ranti.
"Penasaran kan bu? Kata Dina dengan senyuman di bibir nya sambil membuka makanan nya.
__ADS_1
"Selagi saya menunggu Bulgogi ini, masuk lah tiga orang itu dan duduk di depan saya, nah pas dia bicara, saya kok merasa kenal dengan suara nya, lalu saya melihat ke arah mereka, ternyata dia pak Anggar" kata Dina lalu menyantap Bulgogi nya.
"Jangan asal bicara kamu? Mungkin saja mereka itu lagi membahas pekerjaan, secara kan pak Anggar orang nya sibuk dan dingin sama wanita" jawab Ranti.
"Saya melihat dengan mata saya sendiri bu, dia datang bersama seorang anak kecil dan seorang perempuan dewasa yang sangat saya kenal" jawab Dina yang membuat Ranti penasaran setengah mati.
"Siapa wanita itu? Pasti klien nya kan? Tanya Ranti.
"Bukan bu, dia adalah Ara, seorang office boy yang pernah saya bilang ke ibu waktu itu" jawab Dina sambil menikmati makan nya.
"Ara? Seorang office boy jalan bareng sama presdir? Ngga, ini ngga mungkin" gumam bathin Ranti sambil menggeleng kan kepala nya.
"Enak juga makanan ini ya bu? Ah makasih bu udah traktir makanan enak ini buat saya" ucap Dina yang tidak perduli dengan rasa penasaran Ranti.
"Saya ngga asal nuduh bu, saya punya bukti nya kok" kata Dina.
"Mana bukti nya? Ranti pun meminta bukti kepada Dina.
"Aku manfaatin dulu ah? Kan lumayan mengurangi pengeluaran" gumam bathin Dina.
"Ibu mau tahu bukti nya? Kata Dina dan Ranti pun mengangguk sambil menatap ke arah Dina.
"Kalau ibu mau melihat bukti nya, ibu harus traktir saya makan siang selama satu minggu, gimana? Dina pun bernegosiasi dengan Ranti.
"Kamu memeras saya? Tanya Ranti.
__ADS_1
"Saya bukan memeras ibu, tapi saya hanya minta jatah makan siang doang, biar saya semangat nanti nya kalau melihat mereka berduaan, nanti setiap saya melihat mereka berdua, saya akan langsung melapor kan nya kepada ibu, gimana? Dina pun terus menghasut Ranti agar mau memberikan jatah makan siang nya selama satu minggu.
Ranti pun berpikir sebentar, lalu menjawab " baiklah tapi awas kalau kamu menipu saya, tahu akibat nya nanti" ancam Ranti.
"Tenang bu, mana berani saya menipu ibu yang posisi di kantor ini tuh lebih tinggi ibu dari pada saya, saya cuma office girl sedangkan ibu sekertaris pak Anggar" jawab Dina.
"Ya sudah, mana bukti yang akan kamu perlihatkan ke saya? Tanya Ranti.
"Sebentar bu saya cari dulu" ucap Dina sambil mengambil dan mengotak ngatik ponsel nya.
Ranti pun sudah ngga sabar lagi dengan bukti yang akan di berikan oleh Dina.
"Nah ini dia bu, lihat sendiri, kalau yang saya ucap kan tadi itu benar ada nya" ucap Dina sambil membereskan tempat makanan yang sudah tidak ada isi nya lagi.
Betapa kaget nya Ranti melihat poto mereka berdua yang sedang duduk berhadapan dan saling menyungging kan senyuman.
"Percaya kan bu, apa yang saya bilang itu benar, kalau Ara suka menggoda pak Anggar" Dina mulai menghasut Ranti.
"Brengsek emang tuh anak, ngga mungkin kan kalau pak Anggar yang menjadi presdir di kantor mau sama seorang office girl? Ibu pikir saja ya? Pak Anggar itu seorang presdir mana mau sama seorang office girl kalau Ara tidak menggoda nya, pak Anggar itu serasi nya sama ibu sama seorang sekertaris" Dina semakin menghasut Ranti.
"Awas kamu Ara, kamu pikir kamu siapa? Aku pastikan kamu di pecat dari perusahaan ini" gumam Ranti yang masih bisa di dengar oleh Dina.
"Pecat saja bu, dia telah mencoreng nama baik perusahaan ini, tapi ibu jangan langsung memecat nya, lihat dulu gerak gerik dia di kantor selama dia bekerja, nanti kalau sudah banyak bukti nya baru ibu pecat tuh si Ara yang ngga tahu diri itu" ucap Dina.
"Betul kata kamu, saya akan terus memperhatikan pak Anggar, dan kamu harus memperhatikan Ara dan laporkan kepada saya apa yang selalu dia lakukan kepada pak Anggar" kata Ranti.
__ADS_1
"Siap bu, saya akan terus memantau dia di kantor ini, ya sudah saya kembali bekerja bu, nanti bu Hani marahin saya lagi karena terlalu lama izin nya" ucap Dina lalu berlalu dari hadapan Ranti.