
Seharian ini Ara hanya tiduran saja, dia sangat malas buat mengerjakan apa pun, tiba-tiba Ara membayangkan makan bakso yang rasa nya pedas.
Ara pun mengambil ponsel lalu menghubungi Anggar.
"Kenapa sayang? Ada yang kamu inginkan? Tanya Anggar.
"Mas, aku ingin makan bakso sekarang juga" kata Ara.
"Ya sudah nanti mas belikan, tunggu mas pulang ya? Jawab Anggar.
"Aku mau nya sekarang mas, kalau nunggu mas pulang kelamaan" jawab Ara.
"Mah mamah pesan apa sama papah? Tanya Zila yang baru masuk ke kamar Ara.
"Mamah pesan bakso sayang, kayak nya enak deh kalau makan bakso sekarang" jawab Ara.
"Pah, Zila juga mau ya? Teriak Zila.
"Iya sayang nanti papah belikan" jawab Anggar.
"Sekarang mas? Aku ngga mau nanti" jawab Ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Pah, mamah kok nangis lagi, diapain sih pah, jangan di marahin dong mamah nya" teriak Zila sambil merebut ponsel dari Ara.
"Mamah menangis lagi? Tanya Anggar sambil mengerutkan kening nya.
Kenapa sekarang kamu jadi cengeng sih sayang, apa benar yang ku pikirkan tadi pagi, kalau begitu aku harus membeli tespack, kalau sudah jelas baru aku bawa ke dokter" gumam bathin ANggar.
"Pah, kenapa diam? papah marah ya karena mamah ingin makan bakso" teriak Zila.
"Ngga sayang, baiklah papah sekarang pulang dan belikan kalian bakso" jawab Anggar lalu memutus kan panggilan nya.
*
*
Anggar pun kini sedang di perjalanan pulang dan tidak lupa membelikan Ara dan Zila bakso, dan ngga lupa juga Anggar mampir ke apotek untuk membeli tespack.
Setelah pesanan dan tespack sudah di beli nya pun Anggar langsung menuju pulang dengan bibir tersungging, membayangkan hasil dari tespack yang dia beli.
Mobil Anggar pun memasuki halaman rumah nya, dengan perasaan bahagia dia turun dari mobil dan membawa pesanan anak dan istri nya.
Sebelum menemui anak dan istri nya, Anggar pun menuju dapur dan mengambil mangkuk buat bakso nya.
__ADS_1
"Cari apa den? Tanya bi Nani yang melihat Anggar ada di ruang dapur.
"Eh bi, ini cari mangkuk buat bakso, dan ini ada buat bibi dan yang lain nya juga" jawab Anggar sambil memberikan beberapa bungkus bakso ke bi Nani.
"makasih den" jawab bi Nani sambil menyiapkan mangkuk.
Anggar pun membawa bakso yang sudah di tempatkan di mangkuk di bantu sama bi Nani.
"Sayang-sayang nya papah, papah pulang dan ini pesanan kalian berdua" teriak Anggar sambil membuka pintu kamar.
Anggar pun masuk dan di ikuti oleh bi Nani dengan membawa mangkuk di nampan.
"Taro di meja saja bi" ucap Anggar sambil menyimpan tas dan membuka jas nya.
Bi Nani pun menyajikan bakso nya di atas meja, lalu undur diri.
"Kalau begitu saya permisi den, non" kata bi Nani lalu pergi menuju ke bawah lagi.
"Ayo sayang, katanya tadi ingin makan bakso" ajak Anggar.
Ara pun yang sudah mencium harum nya bakso dari awal Anggar masuk langsung bangun dari rebahan nya.
Ara dan Zila pun makan bakso dengan lahap, Anggar hanya tersenyum melihat wajah bahagia kedua nya.
"Enak ya Yang? Tanya Anggar sambil ikut duduk di samping Ara.
"Enak mas, coba nih" kata Ara sambil menyuapi Anggar.
Anggar pun yang menerima suapan dari istri nya membuka mulut lalu mengunyah bakso nya.
"Minum, Yang minum buruan, pedes" teriak Anggar sambil mangap-mangap kepedesan.
Ara langsung memberikan minum yang sudah tersedia di meja, dan Anggar pun meminum air putih sampai habis.
"Papah muka nya merah lucu" teriak Zila sambil tertawa melihat Anggar yang lagi kepedasan.
"Ara pun ikut tersenyum melihat suami nya yang lagi kepedasan, muka dan bibir Anggar merah dengan mata yang sudah berkaca-kaca saking pedas nya.
"Yang, jangan di makan ini terlalu pedas, nanti kamu sakit perut" kata Anggar sambil mau merebut mangkuk bakso dari tangan Ara.
__ADS_1
"Ngga kok, aku ngga pedas, ini malah enak" jawab Ara sambil merebut kembali mangkuk bakso nya.
"Yang" bentak Anggar, membuat Ara diam dan menyimpan mangkuk bakso ke meja dengan mata yang sudah berkaca-kaca dengan bibir yang cemberut.
"Papah, kebiasaan deh selalu buat mamah nangis, kalau papah ngga ikhlas kenapa papah belikan? Ya sudah kalau mamah ngga makan bakso nya lagi. Zila pun ngga akan memakan nya" teriak Zila sambil memeluk mamah nya.
"Mak, maksud papah, ya sudah lah ayo makan lagi Yang, ngga kok aku ngga marah" jawab Anggar lalu mengambil mangkuk bakso yang Ara simpan di meja.
Anggar pun lalu menyuapi Ara dengan senyuman yang mengembang di bibir nya.
"Ayo sayang sini aku suapin, habis kan bakso nya ya? Nanti kalau mau lagi, papah akan belikan lagi" Anggar pun merayu Ara agar mengabiskan bakso nya.
Ara pun hanya diam dengan air mata yang sudah meleleh di pipi mulus nya.
"Sudah dong Yang, maafin aku ya? Udah bentak kamu tadi" ucap Anggar sambil memeluk Ara dari samping.
"Papah jauh-jauh dari mamah, papah selalu buat mamah nangis, papah jahat" teriak Zila.
"Maafin papah sayang, tadi papah bentak mamah karena papah sayang sama mamah, papah takut nanti mamah sakit perut" jawab Anggar.
"Maafin aku ya Yang, aku janji ngga gitu lagi deh, dan aku janji apa pun permintaan kamu, aku akan mengabulkan nya" ucap Anggar sambil terus mencium pipi Ara.
Ara pun tersenyum, terbesit di pikiran nya akan mengerjai suami nya yang sudah membentak diri nya.
"Oke, aku akan maafin kamu asalkan kamu mau menghabis kan bakso aku" ucap Ara dengan senyuman jahil nya.
"Tapi Yang? Anggar pun menyesal dengan semua ucapan nya.
"Baru juga mengucapkan janji, sekarang malah mau mengingkari nya" ucap Ara.
"Ayo pah, Zila temani makan bakso nya" ajak Zila sambil mengambil mangkuk bakso dirinya.
Anggar pun hanya diam sambil menatap bakso nya, dia sungguh ngga sanggup untuk memakan bakso yang rasa nya bagai kan rasa cabai itu.
"Ya udah kalau mas ngga mau" ucap Ara sambil berdiri dan mau meninggalkan Anggar dan ZIla.
"Mau Yang, iya aku akan menghabis kan nya" kata Anggar sambil menarik tangan Ara agar duduk kembali.
Ara pun akhir nya duduk kembali sambil melirik ke arah Zila, Zila hanya tersenyum karena tahu kalau mamah nya hanya mau mengerjai papah nya.
__ADS_1
Anggar pun mulai menyantap bakso nya, baru dua suapan saja muka Anggar sudah merah dan air mata nya sudah keluar, Ara yang merasa kasihan pun lalu mengambil mangkuk dari tangan Anggar sambil berbisik.