
Mereka pun kini di sibuk kan dengan ada nya syukuran empat bulanan yang mengundang anak yatim dan para tetangga serta kerabat-kerabat dari jauh.
Di kediaman pak Hardian pun kini sudah ramai untuk mengikuti pengajian syukuran empat bulan nya kehamilan Ara termasuk dari keluarga almarhumah Anya.
Mereka tampak ikut bahagia melihat Anggar apalagi ZIla yang sangat kelihatan bahagia banget dengan kehamilan ibu sambung nya ini.
Pengajian pun di ikuti dengan khusuk di sertai sholawat-sholawat nabi.
Semua acara telah selesai di laksanakan dan para tamu yang ikut pengajian beserta dari anak yatim pun sudah kembali ke rumah masing-masing dan kini hanya ada keluarga inti saja.
"Assalamualaikum," teriaK seorang laki-laki paruh baya dengan peci di kepala dan di tangan nya menenteng sebuah tas.
"wa\*alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" mereka semua pun menjawab serempak sambil melihat ke arah pintu tepat nya melihat ke arah orang yang baru datang.
"Silahkan masuk pak, kami sudah menunggu" ucap pak Hardian yang langsung menyambut kedatangan tamu terebut.
Semua orang bertanya-tanya, siapa orang yang baru datang itu, tapi penampilan nya mengingat kan mereka pada seseorang.
"Silahkan duduk pak" pak Hardian pun mengajak nya duduk.
"Siapa yang mau saya nikah kan" ucap pak penghulu itu setelah dirinya duduk.
Ya, orang yang baru datang itu adalah seorang penghulu yang akan menikahkan bu Malika bersama dokter Rendra, seminggu ini mereka mengurus berkas-berkas untuk melangsungkan pernikahan nya.
Dan tidak lupa, bu Malika pun membawa dokter Rendra ke tempat pemakaman suami nya untuk memberikan do\*a dan meminta restu, ya walaupun dokter Rendra tahu kalau suami nya bu Malika sudah tertanam tanah merah dan ngga bisa bicara lagi dengan mereka, tapi sengga nya almarhum tahu kalau ada orang yang mau menjaga istri nya itu.
"Sebentar pak, saya panggilkan dulu, soal nya mempelai wanita nya masih di dalam kamar" jawab bu Carlota lalu pergi ke kamar tamu yang di tempati oleh bu Malika.
"Kalau mempelai pria nya yang mana? Jangan bilang pak Hardian mempelai nya ya? Atau nak Anggar yang mau nambah lagi? pak penghulu pun bercanda.
"Kalau saya yang menikah sekarang yang ada saya langsung di talak tiga sama istri saya" jawab pak Hardian membuat orang di sekitar nya semua tertawa.
__ADS_1
"Kalau saya yang duduk di hadapan bapak sekarang dua bidadari saya akan membuang saya ke jalanan" ucap Anggar.
Keluarga almarhumah Anya yang masih berada di rumah pak Hardian pun ikut tersenyum dengan penuturan pak Hardian dan Anggar.
*
*
"Makasih ya nak, kamu telah mengizinkan ibu untuk menikah dengan dokter Rendra" ucap bu Malika yang masih berada di kamar yang ia tempati bersama Ara.
"Ibu juga berhak bahagia, aku bahagia kalau ibu bahagia, dan kelihatan nya om Rendra itu sangat menyayangi dan mencintai ibu" jawab Ara.
"Iya nak, dia dari dulu memang menunggu ibu, sampai dia ngga mau menikah karena berharap suatu saat bisa bersanding dengan ibu, dan akhir nya hari ini kita mau bersanding walaupun usia kita sudah tidak muda lagi." ucap bu Malika sambil tersenyum.
"Selamat ya bu, aku senang lihat ibu selalu tersenyum seperti ini" ucap Ara sambil memeluk erat bu Malika.
"Pelukan nya di sambung dulu, pak penghulu nya sudah menunggu" teriak bu Carlota dari arah pintu.
"Ayo bu, kita keluar" ajak Ara sambil melepas kan pelukan nya.
"Mah lihat Zila ngga? Kok Ara ngga melihat nya dari tadi" tanya Ara sambil menggandeng ibu nya.
Bu Carlota dan Ara pun menggandeng bu Malika yang sudah cantik dengan kebaya putih dan make up tipis nya, bu Malika hanya make up sendiri di bantu Ara, karena dia ngga mau di rias.
Sudah duduk dokter Rendra di depan penghulu yang akan menikah kan mereka.
Bu Malika pun duduk di samping dokter Rendra sambil menunduk, Ara duduk di samping suaminya, sedang kan bu Carlota di samping pak Hardian.
"Pak tukeran tempat yuk sama saya" pak penghulu kembali bercanda.
"Wah pak penghulu tahu juga barang bagus" jawab pak Hardian.
Mereka pun kembali tersenyum dengan candaan dari penghulu termasuk bu Malika.
Akhir nya mereka pun melakukan ijab kabul dengan khusuk dan di saksikan keluarga inti, dokter Rendra memberikan mas kawin yang fantastis, yaitu emas putih seratus gram, dan sebuah mobil lambhorgini dan rumah mewah yang ada di Singapoera.
__ADS_1
Memang dari dulu dia ingin memberikan itu semua buat orang yang selalu dia cintai dan dia sayangi.
Semua orang merasa kaget dengan mas kawin tersebut, termasuk Ara sendiri, Ara mersa sangat bahagia melihat ibu nya selalu menampilkan senyuman manis nya.
Ijab kabul pun sudah selesai dilaksanakan dan kini bu Malika sudah sah menjadi istri dokter Rendra.
Semua yang menjadi saksi pun memberikan ucapan selamat kepada dokter Rendra dan bu Malika.
Semua nya kini sedang menikmati hidangan yang telah di hidangkan oleh keluarga pak Hardian, termasuk pak penghulu.
*
*
Rumah pak Hardian kini mulai sepi kembali untuk malam ini, tapi untuk hari esok kembali akan ramai dengan para tamu yang akan menghadiri pesta pernikahan Anggar dan Ara.
Bu Malika tahu kalau bu Carlota sahabat nya pasti akan terus menggoda nya, maka setelah dia menikmati hidangan dia langsung masuk ke kamar nya.
"Ren, malam ini kamu ngga usah balik lagi ke hotel, tuh kamar kamu yang itu, soalnya penunggu kamar nya sudah menunggu" ucap bu Carlota sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang di tempati bu Malika.
Dokter Rendra pun hanya tersenyum, sebenar nya dari tadi juga dia ingin segera masuk ke dalam kamar nya bu Malika, tapi dia merasa ngga enak dengan yang punya rumah.
"Yang, kita istirahat yuk" ajak Anggar sambil menarik tangan Ara.
Ara pun mengangguk lalu bangun dari duduk nya, "Nak ayo kita tidur besok kan kamu mau mendampingi mamah di pesta" ucap Ara.
"Oke mah, opah, omah, kakek, Zila pergi tidur duluan ya? Zila pun pamit pada semua nya.
"Iya nak" semua menjawab secara bersamaan.
Kini tinggal pak Hardian, bu Carlota dan dokter Rendra.
"Udah sana Ren, kamu istirahat dan jangan terlalu sering nanti pinggang mu sakit lagi" ucap bu Carlota sambil tersenyum
"Tenang saja Ta, paling tiga ronde saja" jawab dokter Rendra, lalu pergi ke kamar yang di tempati bu Malika.
__ADS_1