
"Maaf pak saya ngga sengaja" ucap Leni sambil pura-pura menunduk tidak melihat Anggar.
"Ngga apa-apa nona" jawab Anggar.
"Pak Anggar? Leni pun pura-pura kaget sambil menatap ke arah Anggar.
"Nona Leni? Gumam Anggar sambil melepas kan pegangan nya.
"Apa yang anda lakukan? Tanya Anggar sambil menatap tajam ke arah Leni.
"Saya ngga sengaja pak, maaf tadi waktu saya berjalan terdorong oleh orang lewat yang lagi buru-buru" Leni pun memberikan alasan.
"Lastri kemana lagi" gumam bathin Anggar sambil melihat ke sekeliling mall.
"Bapak mencari siapa? Tanya Leni sambil ikut melihat sekitar mall.
"Saya mencari sekertaris saya" jawab Anggar sambil terus mencari Lastri.
"Mungkin sekertaris bapak sudah pulang atau lagi ada yang mau dia beli" jawab Leni.
"Bagus lah kalau wanita itu ngga ada di samping nya pak Anggar, ini kesempatan aku" gumam bathin Leni dengan sedikit tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi" ucap Leni lalu melangkah kan kaki nya.
"Aw, aduh kaki ku sakit sekali" teriak Leni sambil menyentuh sebelah kaki nya.
Anggar pun melirik ke arah Leni, dia ngga tega melihat seorang wanita yang lagi meringis kesakitan,
"Kamu ngga apa-apa? Tanya Anggar sambil merangkul bahu nya Leni.
"Kaki saya kelihatan nya terkilir pak, sakit banget, saya jadi susah untuk berjalan" ucap Leni dengan sedikit tersenyum.
"Ya sudah, ayo saya bantu" ucap Anggar sambil memeluk Leni dari samping.
"Kena kamu pak Anggar" gumam bathin Leni sambil pura-pura berjalan pincang dan menikmati pelukan Anggar.
"Kita duduk di cafe saja pak, sekalian istirahat" ajak Leni.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita kesana" jawab Anggar sambil terus memapah Leni.
Leni sengaja duduk di samping Anggar supaya dia bisa terus berdekatan dengan Anggar.
Anggar pun memesan minuman dan sedikit makanan untuk Leni.
"Kamu sama siapa kesini? Sama ayah kamu? Tanya Anggar basa basi.
"Saya lagi jalan sendiri aja pak, lagi ada yang mau di beli, biasa kebutuhan wanita, tapi kalau kaki saya sakit seperti ini kayak nya saya pulang saja deh" jawab Leni masih dengan drama nya.
"Ya sudah nanti saya pesankan taxy online, biar kamu bisa pulang" ucap Anggar.
"Tapi saya takut pak kalau naik taxy online, soal nya saya pernah mengalami hal yang membuat saya trauma naik taxy online" ucap Leni berbohong.
Anggar pun terdiam, "Las, kamu dimana sih? Ngga mungkin juga kan aku harus nganterin dia ke rumah nya." gumam bathin Anggar.
"Yes, pak Anggar percaya, kalau aku sudah membawa pak Anggar ke rumah akan aku buat kamu tidak berdaya" gumam bathin Leni dengan senyuman licik nya.
"Ayo di minum dulu" ucap Anggar sambil meraih ponsel dan mencari kontak Lastri.
Anggar yang kaget pun langsung meyimpan ponsel nya kembali ke atas meja.
"Ya ampun pak, maaf saya tidak sengaja, biar saya bersihkan" ucap Leni yang langsung mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap celana Bagian paha Anggar yang basah karena terkena minuman.
"Sudah ngga apa-apa, biar saya yang kering kan" ucap Anggar menghindar.
"Kenapa di lap, basah ya? Kalau gitu nih ganti aja ngga usah di lap, apa mau di elus-elus terus itu paha? Tanya seseorang dari arah belakang mereka sambil memegang paper bag di tangan nya.
Sepontan Anggar dan Leni pun berbalik ke arah suara itu dan tampak lah Ara istri Anggar yang sedang berdiri sambil memegang paper bag di tangan nya dengan perut yang buncit.
"Sayang? Gumam Anggar yang masih bisa di dengar oleh Ara dan Leni, lalu berdiri dari duduk nya.
"Hai siapa kamu? Tanya Leni dengan tatapan tidak suka nya.
"Kenapa anda bertanya seperti itu nona? Anda pasti bisa menebak nya dengan keadaan saya seperti ini bukan? bukan nya menjawab Ara malah balik bertanya.
__ADS_1
Leni pun melihat Ara dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak suka nya.
"Kenalkan dia istri saya" ucap Anggar tegas dengan sebelah tangan memeluk Ara dari samping.
"Saya ngga perduli dia siapa? Asal kamu tahu ya, saya juga sedang hamil dan ini anak nya pak Anggar suami kamu" ucap Leni.
"Kamu," kalimat Anggar terhenti karena Ara menempelkan jari telunjuk nya di bibir Anggar tanda Anggar harus diam.
Oh kamu hamil anak suami saya ya? Tanya Ara dengan nada santai.
"Iya" jawab Leni sambil mengangguk dengan wajah yang menantang Ara.
"Asal kamu tahu ya? Saya ini istri ke tujuh nya pak Anggar." ucap Ara dengan mimik wajah yang serius.
"Apa! Kamu istri ke tujuh pak Anggar? Ucap Leni kaget dengan tatapan tidak percaya nya.
" Ya, dan kamu wanita ke dua puluh lima yang suami saya buat bunting, dan kamu tahu apa yang di lakukan ke enam istri nya pak Anggar kepada wanita yang sudah dia buat hamil tanpa di nikahi nya? Tanya Ara masih dengan wajah serius nya.
Anggar yang ada di samping nya diam sambil menahan tawa nya melihat kelakuan istri cantik nya itu.
"Apa memang nya? Tanya Leni penasaran.
"Mereka akan menculik kamu terus mencincang tubuh kamu dan mereka memakan nya, terserah kamu percaya atau tidak, saya mengatakan ini karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, dan saya adalah wanita yang paling beruntung karena saya di nikahi oleh pak Anggar, ya walaupun saya istri ke tujuh nya" ucap Ara.
Leni terdiam sambil membayangkan dirinya yang akan di mutilasi tubuh nya dan jadi santapan mereka ber enam.
"Saya hanya bercanda kok, saya sebenar nya tidak hamil, tadi saya hanya bercanda saja" ucap Leni sambil mengambil tas yang ia simpan di atas meja tadi.
"Ngga apa-apa nona, biar saya yang minta izin ke enam istri nya pak Anggar, mari ikut saya" ucap Ara dengan serius.
"Tidak, terima kasih, maaf pak Anggar mulai saat ini saya tidak akan muncul lagi di hadapan anda" ucap Leni lau berlari menuju pintu utama mall tersebut.
Pecah lah suara tawa Ara dan Anggar begitu pun ketiga orang yang dari tadi duduk diam tidak jauh dari tempat Anggar dan Leni.
"Lo, bukan nya tadi dia bilang kaki nya sakit" ucap Anggar sambil menatap ke arah Ara.
__ADS_1
Ara pun menatap wajah Anggar dengan tatapan tajam nya membuat Anggar hanya bisa terdiam.