
Hari pun berlalu hingga tibalah dimana acara sekolahan Zila berlangsung, pagi ini Ara mengepang indah rambut Zila hingga membuat Zila terlihat sangat cantik dan imut.
"Wah anak mamah hari ini cantik banget" kata Ara sambil menatap Zila dan melihat hasil karya nya.
"Zila cantik itu karena mamah" jawab Zila sambil melihat dirinya di depan kaca.
"Lo, kok karena mamah, itu karena Zila memang udah cantik semenjak Zila di dalam kandungan bunda Zila" ucap Ara sambil tersenyum.
Anggar yang berada di depan pintu pun tersenyum melihat kasih sayang Ara kepada Zila, serta mendengar penuturan yang diucapkan Ara kepada anak nya.
"Papah sedang ngapain di situ? Ngintip ya? Teriak Zila yang melihat papah nya sedang berdiri di pintu kamar nya Zila.
"Papah kesini mau culik dua bidadari papah, karena kedua bidadari papah terlalu lama berada di dalam kamar nya" jawab Anggar sambil melangkah menuju mereka berdua.
Ara dan Zila hanya tersenyum mendengar penuturan dari Anggar.
"Sudah selesai belum? opah, omah dan juga uti sudah menunggu di bawah dari tadi, bahkan bedak omah sudah luntur lagi karena kelamaan nungguin bidadari papah turun" jawab Anggar.
"Sudah pah, ayo kita turun" ajak Zila sambil menarik tangan Anggar dan Ara.
Mereka pun berjalan turun kebawah sambil berpegangan tangan dengan Zila yang berada di tengah-tengah mereka.
"Wah cucu omah cantik sekali" teriak bu Carlota sambil melihat ke arah tangga.
"Cantik-cantik sekali kalian berdua ini" gumam bu Malika.
"Udah pada siap kan? Ayo kita berangkat" ajak pak Hardian.
Mereka pun langsung menuju ke sekolahan Zila.
*
*
Kini mereka sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah.
Sementara Ara semenjak turun langsung meminta izin untuk ke toilet.
"Mas aku ke toilet dulu ya? Zila sama mas aja dulu ya? bisik Ara.
__ADS_1
"Nak, mamah ke toilet dulu ya sayang? Zila sama papah dulu, nanti mamah nyusul, Toilet nya sebelah mana? Tanya Ara pada Zila.
"Iya mah, mamah jalan aja lurus nanti belok kiri, nah diujung itu toilet nya mah" jawab Zila
"Oke sayang, kalau begitu mamah ke toilet dulu ya? Ara pun pergi seorang diri menuju toilet sekolah.
Ngga berselang lama bu Ratih pun ke toilet, begitu masuk di sana udah ada Ara yang lagi mencuci tangan dan memperbaiki riasan nya.
"Anda jangan bermimpi ya, untuk jadi ibu nya Zila, wanita seperti anda itu tidak cocok bersanding dengan pak Anggar yang tampan dan kaya" kata bu Ratih dengan wajah sadis nya.
Ara yang mendengar omongan bu Ratih di tujukan kepada dirinya pun membalik kan badan nya dan menghadap ke arah bu Ratih.
"Terus yang cocok dengan pak Anggar siapa? Anda, maksud nya? Maaf bu sekedar mengingatkan saja, ini ada kaca besar, tolong ibu ngaca di sini dan lihat lah baik-baik, apa anda sudah cocok menjadi pendamping nya pak Anggar? Kalau anda sudah menemukan jawaban nya tolong kasih tahu saya ya? Kata Ara sambil berlalu pergi meninggalkan bu Ratih dengan wajah merah nya menahan amarah kepada Ara.
"Dasar cewek mu ra han, awas aja kamu" gumam bu Ratih sambil mengepalkan tangan nya.
Ara pun berjalan menuju ruangan diadakan nya acara, dia pun melihat ke sekeliling ruangan mencari anak dan suami nya.
"Wah ternyata perempuan itu benar pendamping nya pak Anggar" bisik orang tua lain nya.
"Tapi kok saya belum mendengar berita pernikahan mereka ya? Kata ibu yang satu nya lagi.
Mereka pun terus membicarakan Anggar dan Ara, ada yang penasaran, ada yang mengagumi kecantikan Ara dan ada juga yang menatap sinis.
Ara mendengar omongan mereka, tapi Ara mengabaikan nya, karena Ara ngga mau membuat keributan di sekitaran sekolah Zila.
Ara pun melihat Anggar yang lagi melambaikan tangan nya, lalu menghampiri dan duduk di samping nya.
"Dari mana kamu nak? Tanya bu Malika dan bu Carlota bersamaan.
"Tadi ke toilet dulu bu, mah" jawab Ara.
"Lo, Zila nya kemana? Tanya Ara dengan melihat ke sekeliling mencari Zila.
__ADS_1
"Zila di belakang panggung, lagi siap-siap menerima penghargaan" jawab Anggar.
Ara pun mengangguk mengerti sambil tersenyum, Ara melihat keatas panggung yang sudah ada bu Ratih dan kepala sekolah yang sedang memegang medali buat di serah kan kepada anak didik nya.
Ara yang melihat bu Ratih sedang menatap dirinya pun, sedikit punya ide untuk membuat nya kepanasan.
Ara meraih kelima jemari Anggar lalu menyatukan nya dengan jemari dirinya dengan kepala dia sandarkan di bahu Anggar.
Ara pun tersenyum penuh dengan kemenangan sambil menatap ke arah bu Ratih.
"Sialan awas kamu ya, dasar wanita mu ra han, ngga tahu malu, bermesraan tidak tahu tempat" gumam bu Ratih sambil terus menatap ke arah Ara dan Anggar.
"Tumben Yang, mau mesra di tempat umum" bisik Anggar pada Zila.
"Kamu perhatikan guru Zila yang di atas panggung mas, dia itu menyukai kamu dan bilang ke aku kalau aku ini ngga pantas untuk menjadi pendamping mas, jadi aku sengaja buat hati dia kebakaran" ara pun menjawab dengan berbisik di telinga Anggar.
"Memang nya kapan dia bilang seperti itu? Tanya Anggar.
"tadi pas aku lagi di toilet, dia juga lagi di toilet" jawab Ara.
Mereka berdua pun terus saling berbisik, Anggar sengaja mendekat kan bibir nya ke telinga Ara dengan sangat dekat, karena kalau di lihat dari panggung, Anggar seperti mencium pipi Ara.
Bu Ratih yang melihat itu sungguh-sungguh panas hati nya, orang yang dia dambakan setahun ini malah terlihat mesra dengan seorang perempuan yang usia nya hampir sama dengan dirinya, tapi di usia ke dua puluh lima ini bu Ratih sudah menyandang status janda.
"Sudah lah Yang, jangan di ladenin" bisik Anggar.
"Sebentar mas, aku mau main-main dulu sama dia, propesi guru anak-anak, tapi ngga bisa jaga sikap, aku ngga suka sama orang seperti itu" ucap Ara.
"Ya sudah terserah kamu saja Yang, asal jangan buat masalah aja, ngga enak ada papah, papah kan salah satu donasi di sekolah ini" kata Anggar.
"Aman mas, aku juga tahu diri kok" jawab Ara sambil terus dengan sikap romantis nya.
Sungguh hati bu Ratih sudah ngga kuat melihat kemesraan yang tampilkan oleh Ara dan Anggar.
"Ingin ku lempar saja tuh muka cewek mu ra han itu pakai medali-medali ini" gumam bathin bu Ratih.
__ADS_1