Terjerat Duda Keren

Terjerat Duda Keren
Cemburu


__ADS_3

Kini mereka pun sedang berada di meja makan untuk melakukan makan malam seperti biasanya.



Semenjak Ara menerima telepon dari Jo, wajah Anggar kusut dan tidak bersahabat.



Semua yang berada di meja makan melihat semua itu hanya bisa saling menatap saja.



Ara seperti biasa menyiapkan makan buat suami nya dulu, terus Zila dan terakhir diri nya.



"Zila mau makan sendiri aja mah, Zila kan udah mau masuk SD, jadi Zila harus belajar mandiri, iya kan Uti? Tanya Zila sama bu Malika.



"Iya sayang, Zila kan nanti akan jadi seorang kakak, jadi Zila harus belajar mandiri dari sekarang" jawab bu Malika.



"Iya nih sudah ngga sabar omah juga ingin punya cucu lagi" ucap bu Carlota.



"Papah ingin cucu yang sekarang itu laki-laki ,karena kalau perempuan sudah ada Zila" Pak Hardian pun ikut mengomentari.



"No, opah, Zila mau nya adik Zila itu perempuan, biar bisa diajak main boneka" teriak Zila.



"Zila sayang, mau laki-laki atau pun perempuan, kita terima dan kita harus tetap menyayangi nya, yang penting mamah dan adik Zila sehat dan selamat" jawab bu Malika penuh kelembutan sambil tersenyum.



Sedang kan Ara dan Anggar yang sedang di per bincang kan pun hanya bisa saling menatap, Ara dengan tatapan yang sedikit malu nya, sedang kan Anggar dengan tatapan cemburu nya.



Akhir nya makan malam pun selesai dan kini mereka berkumpul di ruang keluarga, sedang kan Anggar masuk ke ruang kerja nya.



"Nak, papah dan mamah akan membawa ibu berobat ke luar negeri, apa kamu mengizinkan nya? Tanya pak Hardian.



"Apa, pah? Tapi,, kita ngga ada biaya untuk berobat di sana" jawab Ara dengan wajah sendu ya.



"Kamu ngga usah memikirkan biaya nak, biar papah dan mamah yang menanggung, lagian ibu mu ini adalah sahabat mamah dari semenjak sekolah" jawab bu Carlota.



Ara pun menatap kearah ibu nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.



"Ibu mau ya? Berobat di luar negeri bersama papah dan mamah, Ara ingin sekali ibu sembuh dan sehat lagi" kata Ara dengan air mata yang sudah menetes di pipi nya.


__ADS_1


Bu Malika menatap ke arah bu Carlota dan pak Hardian, mereka berdua pun mengangguk sambil tersenyum.



"Baiklah nak, ibu akan ikut dengan mereka, tapi ibu ngga bisa menemani kamu di sini? bu Malika pun masih khawatir dengan anak nya karena Anggar suami nya belum membuka hati nya buat Ara.



"Ibu ngga usah khawatir dengan Ara, Ara akan baik-baik saja di sini" jawab Ara sambil menghapus air mata nya.



"Uti tenang saja, mamah biar Zila yang menjaga nya" jawaban dari Zila membuat semua nya tertawa.



"Nak untuk pesta pernikahan kalian, mungkin papah dan mamah akan melangsungkan nya kalau kita sudah kembali dan ibu mu sudah kembali sehat, gimana? Tanya pak Hardian.



"Iya pah, ngga apa-apa, Ara tidak mengharapkan pesta pernikahan itu, yang Ara harapkan hanya kesehatan kita semua" jawab Ara dengan tulus.



Adem rasa nya mendengar jawaban dari Ara menantu nya, karena kebanyakan para wanita menuntut dengan sebuah pesta, bahkan ngga tanggung-tanggung mereka selalu menuntut pesta pernikahan yang megah, tapi Ara dia malah mengharapkan semua keluarga nya sehat selalu.



"Begitu tulus nya hati kamu nak? ucap pak Hardian sambil menatap ke arah Ara.



"Terus kalian berangkat nya kapan? Tanya Ara sambil melihat ke arah ketiga nya.



"Minggu depan saja setelah kelulusan Zila di sekolah nya, soal nya kita juga ingin ikut menghadiri acara sekolah nya Zila" jawab bu Carlota.




Mereka semua pun tertawa bahagia, betapa beruntung nya mereka dengan kehadiran Ara dan ibu nya.



"Ya sudah sekarang Zila bobo ya? Takut besok kesiangan sekolah nya, mamah juga kan besok udah mulai kerja sayang" kata Ara.



"Mah, Pah, Ibu Ara dan Zila tidur duluan ya? Ara pun pamit lalu berdiri dan memegang tangan Zila.



"Iya nak, ibu juga mau istirahat kok" jawab bu Malika.



AKhir nya mereka pun masuk ke kamar masing-masing.



"Ya sudah ayo bobo sayang, mamah temenin Zila sampai tertidur" kata Ara sambil naik ke tempat tidur nya Zila.



"Makasih ya mah, sellau ada buat Zila" kata Zila sambil memeluk erat tubuh Ara.

__ADS_1



"Iya sayang, jangan lupa baca do\*a dulu" ucap Ara sambil mengelus lembut punggung Zila.



Dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar Ara mengelus punggung lembut Zila hingga Zila tertidur pulas.



Ara pun melihat ke arah Zila untuk memastikan kalau dia sudah terlelap, Ara melepaskan pelukan Zila dengan pelan dan menggantikan nya dengan sebuah guling, Ara mencium kening Zila penuh dengan kasih sayang lalu menutupi tubuh nya dengan sebuah selimut.



Ara pun meninggalkan kamar Zila dengan langkah perlahan, sebelum menutup pintu kamar Zila kembali, Ara mematikan lampu nya, lalu pergi ke kamar nya.



Kini Ara sudah berada di dalam kamar Anggar dan diri nya, dia melihat Anggar sudah berbaring sambil bermain ponsel di tangan nya.



"Belum tidur mas? Tanya Ara sambil masuk kedalam walk in closet untuk mengganti baju nya dengan piyama.



"Kamu kemana saja masuk kamar saja lama" teriak Anggar.



"Tadi nidurin Zila dulu mas" jawab Ara sambil memakai bajunya.



"Jadi benar kamu besok mau kerja lagi? Tanya Anggar setelah Ara duduk di samping nya yang sedang rebahan.



"Iya mas, kan kontrak nya belum habis, jadi ya mau ngga mau tetap harus kerja" jawab Ara.



"Aku kan atasan kamu, jadi bisa saja ku hapus isi kontrak nya" kata Anggar.



"Ngga bisa mas, pernikahan kita kan belum ada yang tahu, jadi aku harus tetap kerja" jawab Ara sambil ikut merebah kan tubuh nya di samping Anggar.



"Terus kamu masih nyanyi di cafe? Tanya Anggar dengan nada kurang suka nya.



"Kan di cafe juga masih belum bisa langsung keluar mas, di sana aku juga tanda tangani kontrak setiap tiga bulan sekali, jadi aku masih harus nyanyi di sana selama tiga bulan lagi, soal nya sebelum kita menikah kemarin aku sudah menanda tangani kontrak untuk tiga bulan ke depan" jawab Ara.



"Terus si Jo yang sering menghubungi kamu itu siapa kamu? Tanya Anggar yang sudah ngga tahan lagi ingin menanyakan nya.



"Kenapa? Mas cemburu? Ara malah balik bertanya sambil tersenyum.



"Siapa juga yang cemburu" jawab Anggar sambil menatap kearah langit-langit kamar.

__ADS_1



"Kalau cemburu bilang saja ngga usah gengsi" gumam Ara sambil tersenyum.


__ADS_2