Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Marry You


__ADS_3

Drrt ... drrt ....


Getaran HP membuat Alex melenguh. Antar sadar dan tidak sadar, dia mengumpat pada benda bergetar yang mengganggu tidurnya. Sejenak di menggeliat, meraba-raba ke samping tempat getaran terasa.


Alex meraih HP tanpa membuka mata, lantas meletakkannya langsung di telinga tanpa menerima telepon terlebih dahulu. Seketika dia mengumpat kasar dan kerasa saat telinganya ikut bergetar akibat getaran HP.


"Halo," ucap Alex menerima telepon.


"KAMU DI MANA?" teriak seorang perempuan dari HP. Alex menjauhkan sejenak HP itu lalu melihat siapa yang berani-berani meneleponnya sambil teriak pagi-pagi begini.


Akhir-akhir ini dia selalu dibentak.


Pantas saja, Alex mengangkat telepon Ben. Dan, yang menelpon adalah Clara, isteri Ben yang sangat galak macam macan.


"Suamimu masih tidur," jawab Alex malas-malasan.


"Kamu siapa?" Suara sewot clara terdengar.


"Alex, Clara. Kamu cemburu sama aku juga."


"Kenapa Ben bersamamu?"


Alex memutar bola matanya, merasa jengah dengan nada curiga yang tersisip di setiap kata yang keluar dari mulut Clara.


"Aku mengajaknya berpesta," jawab Alex mulai jahil.


"APA!! Demi Tuhan Alex, dia punya Isteri dan anak. Dia bukan lelaki bebas sepertimu!"


Alex mulai tertawa sambil menatap Ben yang masih pulas. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa temannya itu hidup dengan perempuan seperti Clara.


"Suruh dia pulang sekarang!"


"Ya, ya, kalo dia sudah bangun."


"Sekarang!"


Sambungan telepon diputus oleh Clara.


Setelah meletakkan gawai milik Ben kembali ke nakas, Alex bangkit dari kamar tidur dan memulai aktivitas pagi harinya seperti biasa. Untunglah semalam dia tidak minum banyak seperti teman-temannya yang lain.


Saat di perjalanan menuju dapur, Alex mendapati Gio yang sedang tertidur di sofa dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Beberapa botol kosong dan puntung rokok bertebaran di meja.


Kondisi ruang tamunya sangat berantakan. Di lantai ada kaos kaki, sepatu dan jas yang berserakan. Dan, Alex benci berantakan. Kalau bukan karena Jonny yang memaksa agar mereka memindahkan pesta di apartemennya, dia tidak akan pernah membiarkan kamar dan ruang tamunya seberantakan itu


Di dapur, Alex mendapati Jonny yang sedang minum segelas susu. Di samping lelaki itu ada roti isi yang tinggal sepotong.


"Kelaparan?" tanya Alex setelah meneguk air putihnya.


Jonny menyodorkan segelas susu pada Alex, namun ditolak karena Alex tidak merasa perlu meminum susu sebagai penghilang pengar.


"Aku harus segera ke kantor. Aku ada pekerjaan dan meeting dadakan siang nanti," kata Alex sambil memasukkan apel di juicer.


Jonny mendengarkan sambil menikmati roti isinya.


"Aku mungkin tidak sempat menjemput Ayu, kamu bisa bantu jemput dia di bandara, kan?" Alex melanjutkan.


"Ya, aku lowong nanti siang. Nanti kirim nomornya aja, biar mudah dihubungi." Jonny menyetujui.


Jonny memang sangat dekat dengan Alex, sehingga lelaki itulah yang Alex pilih sebagai saksi pernikahannya nanti sore. Saksi kedua adalah sekretaris Alex sendiri, Rini.


"Yakin kamu mau menikah?" Jonny bertanya dengan kedua alis yang aling bertaut.


"Kamu tau situasiku, Jon."


"Ya, aku tau. Tapi, masa tanpa sepengetahuan Mami dan Daddy-mu." Jonny tampak tidak setuju. "Apa kalian akan menikah kontrak?"


Alex meletakkan gelas kosong yang tadi berisi jus apel. Sebelum meninggalkan Jonny, Alex berkata,


"sifat ini yang kemungkinan akan membuat kamu masuk ke dalam koper."


***


Alex meregangkan badannya, kemudian duduk kembali sambil bersandar. Dia baru saja selesai mempresentasikan beberapa langkah kerja sama yang akan dia adakan dengan rekan bisnis barunya, Miss Amanda.


Wanita yang merupakan direktur operational salah satu perusahan pemegang lisensi sebuah restoran cepat saji asalnya Amerika untuk area Asia-- memang sangat perfeksionis. Jika biasanya Alex mengutus salah satu bagian PR dan Marketing untuk masalah sepeti itu, Miss Amanda menolak, dia hanya ingin melanjutkan kerja sama jika Alex yang mempresentasikan proposal kerja sama itu.


Perusahaan Alex bergerak di bidang industri kimia. Dia menggandeng salah satu perusahan chemical asal Jepang, dan menjadikan perusahaannya sebagai produsen utama di Asia Tenggara. Pabriknya sendiri berada di dua negara yaitu, Singapura dan Indonesia.


Keberhasilan Alex membuat Miss Amanda menyetujui kontrak kerja sama mereka, membuat sayap usaha Alex melebar ke seluruh penjuru Asia. Pasalnya, perusahaan Miss Amanda menaungi puluhan hingga ratusan toko di setiap negara yang tersebar di semua negara di benua Asia.


"Pak, Anda tidak makan siang terlebih dahulu?" tanya Cleo, Sekretaris Alex, pasalnya bos-nya itu belum makan siang karena sibuk. Selain itu, dia sendiri juga lapar.


"Kita makan di dekat sana." Alex menjawab tanpa menatap Cleo. Tangannya lihai menekan-makan layar gawai sambil senyum-senyum.


Cleo menunduk, lalu kembali merapikan barang-barang Alex. Tatapan Cleo teralihkan saat mendengar telepon genggam bosnya berdering dan tidak dipedulikan oleh lelaki itu. Dia mengerutkan kening, heran melihat Alex yang hanya senyum tidak menggubris.


"Tidak diangkat, Pak?"


Alex tertawa kecil. "Tidak usah. Paling juga lagi kangen."


Cleo mengangguk sekilas dan tersenyum. "Ah, itu calon isteri, Bapak?"


"Iya, sebentar juga ketemu."


"Saya simpan barang ini dulu, Pak." Cleo meminta izin untuk kembali ke ruangan Alex untuk menyimpan laptop dan beberapa berkas sebelum mereka berangkat.


Tatapan Alex tertuju pada gambar yang dikirim oleh Ayu. Perempuan di gambar itu sedang berdiri mengenakan kemeja bergaris putih biru dengan V-neck, dimasukkan ke dalam celana bahan hitam model senapan. Tangannya berada di depan perut, sambil menenteng handbag berwarna biru yang senada dengan bajunya.


Alex tertawa saat mengamati wajah itu. Tidak ada senyum sama sekali, serius dan kaku, persis foto KTP.  Bisa dia bayangkan betapa terpaksanya Atu mengirim gambar itu.


***


Sebelum berangkat ke bandara, Ayu menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa toko untuk memeberi beberapa arahan, sekaligus memeriksa masalah-masalah yang mungkin terjadi.


Ada rasa tidak enak pada atasannya karena dia sudah beberapa kali meminta izin untuk cuti. Meskipun hari ini dia hanya minta izin kerja setengah hari, mengingat banyak hal yang harus difokus olehnya membuat Ayu berat hati. Mau diapa, dia harus tetap pergi.


Alex sudah mengatakan bahwa dia tidak sempat menjemput, sehingga lelaki itu mengutus temannya untuk menjemput Ayu. Tadi Ayu sudah menolak, namun lelaki itu bersikeras dengan alasan takut terlambat. Terlambat sedikit saja pendaftaran pernikahan mereka akan di-skip. Dan dia tidak mau kalau harus menunggu 21 hari lagi, bisa-bisa kehamilannya bisa jelas.


Jika disuruh memilih antara menjadi Ibu tunggal atau menikah dengan Alex, maka Ayu memilih menjadi Ibu tunggal. Dia bisa membesarkan anaknya sendiri; menyayangi dan memenuhi kebutuhannya. Hanya saja, dia tidak mau keluarganya menjadi gunjingan dan ikut menanggung aib dari kesalahannya.


Setelah pesawat yang Ayu tumpangi landing di Bandara Internasional Changi, dia pun lanjut mengurus di imigrasi. Usai mengurus, sebuah pesan membuat dia mengerutkan kening.


[Kirim foto full body, mau kirim ke Jonny]


Pesan itu dari Alex, dan tentu saja Ayu tidak akan mengirim fotonya.


[Untuk??]


[Biar mudah nanti ketemunya, Jonny agak oon. Nanti salah jemput]


Ingin rasanya Ayu berteriak kencang untuk protes pada Alex. Lagipula, kalau memang sudah tahu temannya bodoh kenapa dia pula yang harus menjemputnya. Ah, Ayu tidak heran Alex punya teman seperti itu, toh dia sama saja.


Sekilas Ayu menyentuh perutnya, dalam hati dia berdoa agar gen menyebalkan milik Alex tidak menurun ke anaknya kelak.


Mau tidak mau Ayu menurut pada permintaan Alex. Pada salah satu petugas bandara, dia meminta tolong untuk difoto.


"Terimakasih," ucap Ayu pada si Petugas imigrasi bandara yang membantunya.


Setelah mengirim gambar itu, dia menuju ke ruang tunggu. Di sana telepon genggamnya berdering. Nomor itu nomor yang tidak dikenal, dari kode wilayahnya itu nomor Singapura.


"Halo," ucap Ayu.

__ADS_1


"Hai, aku jonny, teman calon suamimu," kata lelaki melalui telepon.


Calon suami? Mendengar kata itu saja membuat Ayu merasa kesal.


"Ah, aku ada di ruang tunggu." Ayu tidak merasa perlu untuk menjelaskan lagi karena tadi dia sudah mengirim gambar pada Alex, dan lelaki itu pasti sudah mengirim gambar itu juga pada si Jonny.


"Ya, tapi ada banyak perempuan di sini," kata Jonny terdengar tak sabar.


Ayu mendengus kesal, dia pun mulai berasumsi bahwa Alex benar, Jonny bloon. Lihat, bahkan setelah dikirimkan gambar, dia masih tidak tahu."Sesuai gambar yang dikirim Alex."


"Gambar apa?"


Rahang Ayu mengeras. Awalnya dia memang tidak percaya dengan permintaan Alex, benar saja dia dijahili lagi oleh lelaki itu.


"Aku pake baju biru putih, celana hitam. Aku baru keluar dari imigrasi."


"Ah, yang bawa tas hitam. Aku di information center, lagi melambai."


Ayu mengarahkan pandangan pada meja merah tempat pusat informasi. Seorang lelaki dengan jas hitam sedang melambai ke arahnya. Dia tersenyum dan mempercepat langkah menuju lelaki yang menampilkan senyum lega.


"Ayu?" Lelaki itu bertanya untuk memastikan.


"Ya."


Jonny menatap dari bawah ke atas seakan menilai.  Dengan senyum yang lebar Jonny berkata, "bibit unggul."


"Apa?"


"Tidak,  bukan apa-apa."


Ayu mengikuti Jonny yang tampak terburu-buru menuju mobil. Dia duduk di kursi samping pengemudi, tepat di dekat Jonny. Diperjalanan dia sudah menghubungi Alex beberapa kali, dia berniat untuk menumpahkan kekesalannya, mungkin sedikit memaki lelaki jahil itu.


"Ah, gambar apa yang dikirim Alex?" tanya Jonny setelah mobil yang dikendarainya melaju.


"Bukan apa-apa," jawab Ayu kikuk.


"Alex mengerajaimu, kan?" tanya Jonny lagi, kali ini dia tertawa. "Dia memang seperti itu, tapi aslinya baik, loyal."


Ayu hanya menyimak dan sesekali mengangguk dengan senyum di bibirnya, meskipun hatinya panas. Dia tidak peduli bagaimanapun Jonny memuji Alex, bagi Ayu, Alex tetaplah lelaki brengsek yang menghancurkan hidupnya.


"Memang terkadang dia menyebalkan, itu hanya karena dia sedang ingin diperhatikan. Mirip sama anak kecil." Jonny terus menjelaskan.


"Kalian sangat dekat?"


Jonny mengangguk mengiyakan.


"Kamu pasti tau kenapa kami mau menikah, kalo begitu?"


Senyum dan semangat Jonny yang menggebu-gebu perlahan hilang. Ayu yang menangkap perubahan ekspresi lelaki itu tersenyum tipis. Dia tahu bahwa Jonny mengetahui secara lengkap mengapa dia dan Alex menikah secara mendadak, bahkan mungkin sampai di hal yang sangat memalukan bagi Ayu.


"Pernikahan kami tidak berarti apa-apa, selain secarik kertas," tegas Ayu.


Seringai kecil muncul di bibir Jonny. "Kamu tidak mengenal Alex."


Ayu memilih membuang muka, beralih pandang pada jalanan. Dia tidak perlu mengenal lelaki bernama Alex itu, yang dia butuhkan hanya status untuk anaknya kelak.


Jonny dan Ayu jalan berdampingan menuju gedung kantor register of marriage (catatan sipil) Singapura.


"Buat lelaki itu cemburu," kata Jonny sembari menarik tangan Ayu agar mendekat dengannya.


Ayu tertawa pelan menatap Jonny. Bukan karena setuju dengan ide lelaki itu, justru karena merasa geli mendengar ide mustahil itu.


***


Lelaki itu berdiri di puncak anak tangga, sesekali dia menatap jam tangannya. Dengan rasa tak sabar dia mondar-mandir tak tentu.


"Bapak gugup, ya?" tanya Cleo pada Alex yang terlihat gelisah.


Alex menggigit bibir dan menggeleng.


Alex berhenti, dia diam di tempat sembari mengedar pandang, berharap Jonny dan Ayu muncul di penglihatannya.


"Ah, itu Pak Jonny!" teriak Cleo girang sambil menunjuk ke depan, ke arah dua orang yanga sedang berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan.


Tatapan Alex beralih ke arah yang ditunjuk oleh Cleo. Di sana ada Jonny dan Ayu yang berpegangan tangan sambil tertawa. Dia tidak sedikit pun mengalihkan pandangan dari dua orang itu.


Saat melihat sepatu yang dikenakan oleh Ayu, Alex langsung menuruni anak tangga. Bagaimana bisa wanita yang sedang hamil muda mengenakan sepatu dengan heels yang tinggi?


Dengan sigap, Alex menuruni anak tangga. Di berhenti tepat di depan Ayu, matanya menatap tajam ke arah wanita yang terdiam dengan tatapan keheranan.


"Dasar tukang cemburu!" sindir Jonny.


Alex beralih pada Jonny.  Dia mengerling ke kiri, sebagai tanda agar Jonny segera menyingkir. Mau tak mau, Jonny menaiki anak tangga terlebih dahulu setelah berbisik sekilas.


"Nice choice, Bro!"


Jonny mengikik setelah melewati beberapa anak tangga.


"Ada apa?" tanya Ayu kikuk karena terus dipandang oleh Alex


"Kamu lagi hamil, Yu. Kenapa pake sepatu runcing seperti itu?"


Ayu mendengus kesal dan mendorong Alex agar tidak menghalangi jalannya.


"Jangan lebay!"


Lantaran takut melihat Ayu yang melangkah kasar sambil menghentak-hentakan kaki, Alex menyusul dan langsung merangkul lengan wanita itu.


"Aku tau kamu sudah tidak sabar mau menjadi isteriku, tapi jalannya pelan-pelan saja," goda Alex saat mereka sudah berada di anak tangga terakhir.


Rahang Ayu mengeras, matanya memicing pada Alex. "Cukup, masuk saja sendiri."


"Tuh, kan, ngambek lagi. Jangan bilang kamu mau minta digendong." Alex tidak berhenti menggoda.


Wajah Ayu mulai merah padam. Ingin rasanya dia mendorong Alex, agar lelaki itu jatuh dan terguling-guling di anak tangga. Meskipun anak tangga itu tidak curam, setidaknya mampu membuat tubuh lelaki itu remuk -- sehingga bisa membuat mulut menyebalkannya diam.


Setelah menarik napas dan menghembuskannya pelan, Ayu melanjutkan langkah sambil berlipat tangan di depan dada. Segala macam sumpah serapah diucapkannya di dalam hati untuk Alex.


"Yu, Ayu!" Alex terus memanggil, namun tak dihiraukan oleh Ayu. Jika terus mendengarkan lelaki itu, dia bisa mati muda.


Alex memang membiarkan Ayu jalan terlebih dahulu karena berpikir perempuan itu tidak mungkin salah arah karena ada papan petunjuk arah. 


Entah karena apa, bukannya berbelok, Ayu justru terus berjalan lurus. Alex sudah memanggilnya berkali-kali, namun tidak didengar, tepatnya pura-pura tidak mendengar.


"Sayang, salah arah." Alex memutar badan Ayu menghadap ke arahnya.


"Nggak usah pegang-pegang!" bentak Ayu, kemudian mengambil arah ke kiri setelah membaca papan petunjuk.


***


Semua dokumen telah selesai diisi oleh Alex dan Ayu, begitupun dengan Jonny dan Cleo selaku saksi pernikahan mereka. Hakim yang menjadi perwalian pernikahan itu telah pergi beberap menit yang lalu.


Cleo yang mengira bosnya menikah karena sangat mencintai Ayu sempat kegirangan dan memeluk Ayu meski tidak saling mengenal satu sama lain. Sementara Jonny langsung menerima telepon yang dari tadi dia abaikan.


"Ah, aku harus pergi sekarang," pamit Jonny sehabis menerima telepon. Dia menepuk pelan pundak Alex.


"Ya, jangan lupa nanti malam. Panggil Ben dan isterinya itu." Alex mengingatkan Jonny tentang rencananya.


"Cleo, mau ikut?" Jonny menawarkan tumpangan pada Cleo yang langsung menyambut dengan senang hati.


"Saya permisi Pak Bos, Bu Bos!" pamit Cleo.

__ADS_1


"Okay." Alex mengangguk pelan, "kosongkan jadwalku sampai jumat nanti," pinta Alex dan langsung disanggupi oleh Cleo.


Setelah Jonny dan Cleo pergi, Ayu menghembuskan napas lega. Akhirnya berakhir sudah, yang akan dia lakukan sekarang adalah meninggalkan gedung itu dan menuju ke bandara untuk mengambil penerbangan tercepat. Dan dia akan terlepas dari lelaki menyebalkan itu.


Ayu sudah mantap akan menjadikan hati itu sebagai hari terakhir dia berurusan dengan Alex. Dia akan membesarkan anaknya sendiri, dan tidak membutuhkan bantuan Alex sedikit pun.


Tanpa pamit seperti orang-orang sebelumnya, Ayu memilih langsung berlalu di depan Alex begitu saja.


"Ayu, tunggu!" Alex menyusul Ayu. Dia hanya berjalan di samping perempuan yang memilih diam di sepanjang jalan.


"Mobilku di sebelah sana," Alex menunjuk ke arah tempat parkir.


"Aku naik taksi saja," ketus Ayu.


"Kan ada aku, kenapa naik taksi. Lagipula kami tidak mungkin tau di mana  flat-ku."


"Siapa yang mau ikut, aku mau pulang."


"Pulang ke mana?" tanya Alex, "ini rumahmu," lanjutnya sambil menunjuk dirinya.


Ayu memutar bola matanya. Dia tidak peduli lagi, lantas melanjutkan langkah untuk keluar ke gerbang. Dia akan memesan uber agar lebih cepat.


"Ada banyak yang harus kita bicarakan." Alex menarik pelan lengan Ayu.


"Apa lagi?"


"Mengenai anak, orang tua dan semuanya."


Mata Ayu membulat. Dia tidak pernah memikirkan hal itu. Benar, bagaimana dengan orang tuanya, kakak-kakaknya? Dia hanya meringis pelan dan menurut.


Alex tersenyum puas sambil mengedipkan satu mata pada Ayu. Sementara Ayu mencibir ke arah Alex.


"Kamu cantik kalo lagi gaya bebek layak gitu." Alex memuji sambil mencubit dagu Ayu gemas.


Spontan Ayu memukul tangan Alex dan berteriak, "jangan pegang-pegang!"


Tawa Alex menggema sambil berlari menuju mobilnya. Sementara Ayu memilih tinggal berdiri menunggu, dadanya mulai sesak karena sebal, antara ingin menangis dan ingin meneriaki Alex dengan kencang.


Mobil hitam asal eropa itu berhenti tepat di depan Ayu. Ayu mencoba membuka pintu mobil di kelas dua. Sayang, meskipun sudah mencoba beberapa kali dan mengerahkan tenaga, pintu itu tidak terbuka. Dia mengetuk-ngetuk pintu. Kaca mobil terbuka.


"Pintu belakang rusak, coba yang di depan siapa tau kebuka," kata Alex  dari kursi kemudi.


Ayu tahu itu hanya akal-akalan Alex saja. Dia tidak peduli lagi dan hanya menurut. Benar, pintu itu terbuka. Dia pun masuk dan disambut cengiran Alex.


Setelah memasang seat belt, Ayu melipat tangan, kemudian memalingkan pandangan dari Alex. Matanya terus menatap keluar dari kaca jendela mobil.


Suasana mobil itu hening, hanya suara deru mesin mobil. Alex banting setir dan menghentikan mobil di salah satu tempat parkir gedung pertokoan.


"Aku kebelet. Tunggu di sini, ya."


Tidak ada jawaban dari Ayu, dia bahkan tidak berbalik. Selama Alex pergi, tatapan Ayu masih menempel pada mobil yang terparkir tepat di samping mobil Alex.  Dia menyerah setelah lama menunggu dan pemilik mobil itu tak kunjung datang. Dia pun memilih menyandarkan kepala. Dalam hati dia bersyukur tinggal sendiri, bodoh amat dengan Alex yang tidak datang. Tinggal selamanya di toilet pun tidak apa-apa.


Sekitar lebih lima belas menit menunggu, Alex datang dan membuka pintu. Ayu segera membalikkan wajah ke kaca jendela mobil lagi.


"Aku lama, ya?"


Ayu terdiam.


"Ini!" Alex menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru.


Ayu masih tidak berbalik ke arah Alex.


"Ayu, balik dulu!"


"Apa lagi?" Ayu memekik, hilang kesabaran mengahadapi sikap Alex. Hanya beberapa detik, dia langsung terdiam melihat kotak yang dibuka oleh Alex.


Di kotak itu ada dua cincin yang berbeda ukuran. Tatapan Ayu tertuju pada cincin dengan ukuran yang lebih kecil dan tipis. Dia memang tidak menyukai Alex, namun dia sangat menyukai cincin dengan ukiran ukiran unik yang berkilau di sepanjang benda melingkar itu.


"Untuk apa?"


"Welcome present, dan aku suka filosofinya, katanya hubungan pernikahan itu seperti cincin yang tidak punya akhir."


Mendengar Alex menjelaskan dengan serius dan suara lembut membuat Ayu menyemburkan tawanya. Sepertinya dia lebih memilih sikap.menyebalkan lelaki itu, daripada suara yang terdengar sangat serius.


"Aku bercanda kamu marah-marah, giliran serius malah ketawa. Aneh," ujar Alex dengan gelengan singkat.


"Liat, apa cincin itu punya awalan? Tidak, kan?" Ayu tidak setuju dengan filosofi yang dipercayai oleh Alex.


Alex mengambil cincin yang ada di kotak itu. "Sini tangan kamu!"


Ayu memberi tangannya. Dia mencoba menaksir harga cincin itu, sayangnya dia tidak ahli dalam hal perhiasan.


"Ini awalnya!" kata Alex sambil memasang cincin itu di jari manis Ayu.


Mata Ayu saling menatap. Entah kenapa, Ayu tidak mau melepas tatapannya dari senyum lelaki itu.


Udara seakan menipis di samping Ayu, sehingga dadanya mulai sesak. Sadar akan hal aneh yang terjadi di dalam dirinya, Ayu segera membuang wajah dan menarik tangannya dari pegangan Alex.


"Ini, pasang untukku!" Alex menyodorkan cincin pada Ayu.


"Pasang saja sendiri!" tolak Ayu.


"Itu namanya tidak adil. Ini kan tukar cincin."


Tidak mau berdebat, Ayu meraih cincin itu dan juga tangan Alex. Dia memasang cincin di jari manis Alex dengan cepat, lantas melempar tangan Alex begitu saja.


"Padahal kamu ini manis kalo bisa lembut sedikit, Yu."


"Bodoh amat, ayo jalan."


"Nggak sabar banget, belum malam, Sayang."


"Jangan mulai, Alex!"


Alex tertawa pelan. "Pinjam tangan kamu dulu."


Alex meraih tangan Ayu. Dia menggenggam tangan Ayu -- mengatur agar cincin yang berada di tangan Ayu dan tangannya tampak melalui kamera HP.


Kening Ayu berkerut. "Untuk apa?"


Tidak ada jawaban dari Alex. Lelaki itu sibuk dengan gawainya.


"Mau aku tag?" tanya Alex memperlihatkan layar HP-nya yang siap mengupload gambar tangan Alex dan Ayu yang dihiasi cincin pernikahan.


"Jangan coba-coba!" larang Ayu.


Alex berbalik dan lanjut mengupload gambar itu.


"Liha ini!" Alex memperlihatkan hasil upload-an Alex di instagram-nya.


Bukan hanya tangan itu yang menarik, capricorn singkat yang ditulis oleh Alex pun cukup menjelaskan arti cincin itu.


'Mr. And Mrs. Jones'.


***


😍😍


Congrats for Mr. And Mrs. Jones.


And thank you for reading this story.

__ADS_1


Jangan bosan-bosan, Yah.


Love from Author. 😊


__ADS_2