
Alex duduk termangu di sofa. Dia masih tak habis pikir pada tindakan Ayu. Apa dia salah ucap atau adakah tindakannya membuat isterinya itu marah? Dia hanya protes atas kedekatan Ayu dan Richard, lantas kenapa Ayu yang marah? Dialah yang seharusnya marah.
Kalau saja buku itu tepat mengenai wajah Alex, wajah tampannya pasti sudah lebam. Paling parah, rahangnya akan retak, ah, terlalu berlebihan. Buku itu memang tidak berhasil melukainya, tetapi ada sakit yang tak berdarah di dalam hatinya. Ayu adakah perempuan yang sangat berharga dan ingin dia jaga seumur hidupnya, tetapi perempuan itu justru berniat melukainya.
Sudah lima belas menit Alex hanya duduk diam dan merenung di sana. Padahal, dia sudah menyanggupi ajakan Tamara untuk datang makan malam dengan keluarganya.
Dengan ragu, Alex mulai melangkah menuju kamar. Matanya melebar saat melihat Ayu sudah tampil cantik dengan gaun merah selutut.
"Loh!" Alex melongo menatap Ayu yang berbalik dan memberinya senyum manis. Pasti ada yang salah dengan kepala Ayu, tadi dia marah macam kesetanan dan sekarang sudah menjelma bidadari cantik.
"Kita jadi ke rumah Tamara, 'kan?" ucap Ayu melengkungkan bibir.
Alex hanya mengangguk pelan.
"Lalu, kenapa belum siap-siap?"
"Aku pikir kita tidak jadi pergi," ungkap Alex hati-hati.
"Jadi dong," timpal Ayu melangkah mendekat pada Alex. "Perutku tidak buncit, 'kan?"
Tatapan Alex beralih pada perut Ayu. Tidak buncit sama sekali, terlihat sangat rata, padahal seingat Alex perut isterinya itu sudah mulai berisi.
"Kenapa bisa serata ini, Sayang?" Alex lmengelus perut Ayu.
"Aku pake korset, biar tetap kelihatan slim," jawab Ayu dengan santai. "Baju-bajuku udah mulai kekecilan. Kalo nggak pake korset udah mulai kelihatan."
Pakai korset? Alex melotot tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ayu sedang hamil, kasihan janin di perut Ayu. Penggunaan korset juga bisa saja mengakibatkan keguguran, dan Alex tidak mau sampai hal itu terjadi.
"Buka bajunya sekarang!"
"Ih, apaan!" protes Ayu saat Alex menariknya. "Udah sana kamu ganti baju!"
"Tidak! Ganti bajunya, jangan pake korset! Kamu itu lagi hamil," paksa Alex.
"Bajuku udah pada nggak muat, Lex!"
"Ganti sama baju biasa aja, kita beli baju sekarang!"
***
Ayu memandang pantulannya di cermin. Dia mengenakan dress selutut itam-putih yang asimetris -- rancangan salah satu rumah mode kenamaan. Rambut Ayu diurai dengan tas kecil berwarna hitam dengan tali emas. Sederhana dan elegan. Baju itu tidak nge-press di badan sehingga peru rata Ayu yang mulai membuncit tidak tampak.
"Cantik sekali," puji Alex yang sudah menyelesaikan pembayaran. "Ayo kita jalan sekarang. Sudah telat."
Ayu meraih tangan Alex yang tersisir padanya. Mereka keluar dari rumah mode yang berada di salah satu Mall yang tidak jauh dari kediaman orang tua Tamara. Alex sangat mengenal lingkungan itu, tepat di samping rumah itu adalah kediamannya saat kecil -- rumah dengan segudang kenangan.
"Cantikan mana, aku apa Tamara?" tanya Ayu saat mereka telah memasuki pagar perumahan.
"Pertanyaan apa itu?"
"Lah, tinggal dijawab, cepat!"
__ADS_1
"Kamu dan Tamara sama-sama cantik. Tidak bisa dibandingkan."
Ayu berlipat tangan dan mengalihkan pandangan di luar mobil. "Bilang aja kalo Tamara lebih cantik, iya 'kan?"
"Kamu ini bikin gemas terus!" Alex mencubit pipi Ayu yang membuat Ayu memukul tangan Alex itu.
"Kamu cantik, Sayangku. Puas!"
Ayu memutar bola matanya. Dia tahu kalau Alex mengatakan itu hanya untuk menyenangkannya semata. Lelaki itu tidak tulus, siapa pun juga tahu kalau Tamara lebih cantik. Dasar Alex pembohong.
Mobil Alex berhenti di depan rumah berwarna putih lantai dua yang cukup megah. Sudah banyak yang berubah dari rumah itu. Sudah lebih dari dua puluh tahun, tentu saja banyak yang berubah. Orang tua Tamara dulu tidak tinggal di perumahan itu. Baru lima tahun terakhir ini mereka kembali ke rumah lama itu dan melakukan renovasi.
"Itu rumahku waktu Mami sama Daddy belum cerai!" Alex menunjukkan rumah masa kecilnya pada Ayu.
"Besar sekali," ungkap Ayu.
"Dulu di depan sana ada taman, aku biasa main sama Tamara di sana. Sepertinya sudah dipindahkan ke luar tadi," ungkap Alex.
Ayu yang awalnya sangat antusias karena Alex menunjukkan sedikit tentang masa lalunya. Akan tetapi, merasa kehilangan antusias itu saat Alex mulai menceritakan tentang Tamara.
"Udah telat ini, Lex!"
Alex kembali melajukan mobilnya dan berbelok memasuki rumah dengan gerbang tinggi. Dulu rumah ini tidak memiliki gerbang sama seperti rumah-rumah yang lain.
"Kamu sering main ke sini?"
"Nggak juga, Tamara udah tinggal di apartemen sendiri waktu rumah ini direnov," jawab Ayu tak bersemangat.
"Wah, Kak Ayu, Kak Alex!" Seorang perempuan tinggi dan wajah cantik seperti Tamara menyambut mereka. Dia adalah Bella, adik bungsu Tamara yang memang masih tinggal di rumah itu.
"Hai Bell! Tamara mana?" Alex menggosok rambut Bella.
Mata Ayu terus mengekor pada Alex. Lelaki itu memang selalu ramah pada siapa pun. Dia terlalu percaya diri bahwa Alex hanya ramah dan baik padanya.
"Masuk aja, orang-orang ada di dalam," sebut Bella.
Alex masih setia menggandeng tangan Ayu untuk masuk ke ruang yang dimaksud oleh Bella. Ayu snagat mengenal Bella, anak itu sangat berbeda dengan Tamara. Tamara selalu menurut dan Bella yang selalu membangkang.
"Selamat malam," sapa Alex yang langsung disambut oleh orang-orang yang ada di ruangan yang sudah diisi dengan meja yang berisi banyak makanan. Ada kue dengan angka 30 di atasnya.
"Alex, Ayu, it's glad to see you," Tante Cintya berjalan ke arah mereka dengan tangan direntangkan untuk memberi mereka pelukan. "Tante nggak sempat datang di pernikahan kalian. Kalian juga menikahnya tiba-tiba, padahal Tante lagi di Belanda."
"Maaf ya, Tan. Ayu harus cepat dinikahi biar tidak lari," canda Alex.
"Ini namanya lelaki," puji Tante Cintya sembari menepuk pundak Alex. "Ayu ini teman Tamara yang paling Tante suka, supel."
Ayu da sebagain Alex ikut berbincang dengan keluarga Tamara. Bukannya membahas usia pernikahan Tante Cintya dan Om Johan, mereka justru membahas mengenai pernikahan Ayu dan Alex, juga rencana pernikahan Tamara dan Richard.
"Aku suka gaya pernikahan kalian. Unik sekali," puji Om Johan. "Tidak lama pacaran, langsung menikah."
"Sudah cukup umur, kenapa harus menunggu lama, ya 'kan?" timpal Tante Cintya.
__ADS_1
"Beda-beda sih, Tante. Tergantung nyaman saja," ucap Ayu cepat saat menangkap perubahan wajah Tamara. Sebenarnya, dia tidak mengerti dengan Tante Cintya -- dia sangat mengekang Tamara. Tamara harus anggun dan berkelas seperti puteri kerajaan. Kadang dia merasa kasihan melihat temannya itu yang tidak bisa memilih dalam hidupnya. Setidaknya, dia jatuh cinta dengan piano berkat ibunya.
"Babydoll, kamu terlihat cantik!" puji Richard pada Ayu.
"Thanks," balas Ayu dengan kening mengerut. Dari tadi Richard terus saja memujinya. Dia memang selalu seperti itu, terapi tidak sesering itu.
"Aku tidak suka dengan Richard," bisik Alex pada Ayu begitu Richard menggosok puncak kepala Ayu.
"Itu sudah biasa, Lex. Aku sudah bilang kita itu seperti kakak-adik," balas Ayu dengan bisikan.
"Kakakmu cuma dua, seingatku namanya bukan Richard," desis Alex.
"Cukup! Kita sedang di rumah orang." Ayu mendekat pada Tamara dan memilih berbincang berdua mengenai Karin yang sedang mengikuti salah satu peragaan busana besar di Milan.
"Begitu pulang dari rumahku, dia langsung siap-siap ke bandara," jelas Ayu.
"Dia sangat sibuk," timpal Tamara yang baru selesai menyesap wine di tangannya.
"Kamu juga pasti sibuk sekali. Aku jarang dapat pesanmu akhir-akhir ini," ungkap Ayu.
Tamara langsung jadi salah tingkah. "Ya, aku cukup sibuk di kantor. Kamu juga, 'kan?"
"Being adult is sucks, right?"
Tamara mengangguk mengiyakan ucapan Ayu. Ya, jika bisa dia ingin kembali ke masa kecilnya saat dia masih berlarian di taman bersama Alex. Itu masa terindah di hidupnya.
Sementara kedua perempuan itu berbincang. Alex dan Richard juga sedang duduk bersama dengan Om Johan. Mereka berbincang mengenai beberapa urusan pekerjaan, berpindah pada golf, juga beberapa olahraga kegemaran Om Johan yang lain -- berkuda.
"Kapan-kapan kalian harus ikut. Ingat waktu kamu pulang dari Melbourne dulu, kamu sering menemani Om berkuda," kata Om Johan. "Richard juga jago berkuda, bisa kita pergi bertiga, tidak usah bawa perempuan. Nyusahin."
Alex dan Richard hanya terkekeh.
"Papi, ada tamu di luar." Bella datang dengan wajah malas.
"Ah, Om tinggal dulu. Kalian ngobrol saja, nanti kita lanjut lagi." Om Johan keluar meninggalkan kedua lelaki yang saling menatap dengan senyum ramah itu.
"Kamu sangat dekat dengan isteriku," ucap Alex meraih gelasnya. Dia meneguk minuman berwarna merah itu dengan satu kali teguk. Dia tidak peduli dengan tata cara minum wine yang baik. Dia kesal melihat kedekatan Richard dengan Ayu.
"Aku mengenal Ayu sudah sangat lama. Aku dekat dengan semua teman Tamara, kecuali kamu tentunya."
"Ya, kuharap kita bisa lebih dekat sekarang." Alex menuang minuman lagi di gelasnya, juga di gelas Richard.
"Ya, kuharap." Ada tawa tertahan di bibir Richard.
"Sebagai tanda awal usaha pengakraban, aku tidak akan bertele-tele," kata Alex. "Aku tidak suka kamu memanggil isteriku dengan nama aneh seperti, Babydoll dan Cuties."
"Ada apa dengan panggilan itu? Aku tidak pernah protes saat kamu memanggil Tamara dengan panggilan sayang dengan berbagai bahasamu itu," balas Richard dengan santai sembari meraih gelas yang sudah diisi oleh Alex. Dia sangat senang bisa membalas Alex sekarang. Selama ini dia hanya terus menerima dengan lapang dada saat Alex terus mendekati Tamara. Dia cemburu bahkan sempat berpikir bahwa Alex tertarik dengan kekasihnya. Untunglah, dugaannya salah karena biasa dia lihat bagaimana Alex kini sangat perhatian dan menyayangi Ayu.
"Tamara sahabatku. Itu hanya panggilan biasa," kilah Alex.
"Sama berarti. Ayu seperti adik kecil bagiku." Senyum kemenangan mengembang di wajah Richard. Kapan lagi dia bisa membuat lelaki seperti Alex cemburu.
__ADS_1
***