Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Nightmare


__ADS_3

Matahari telah beranjak menuju belahan bumi yang lain. Langit gelap mulai tampak dari kaca jendela rumah Ayu. Dia segera beranjak untuk menutup tirai. Wajahnya mulai pucat, rasa dingin menyergapnya sejak beberapa menit yang lalu. Keringat kecil bermunculan di dahinya. Sesekali dia meringis karena perutnya yang mulas, seakan ada badai yang berputar di dalam sana.


Kedua tangan Ayu kini menyentuh perut. Ingin dia meremas perutnya itu, tetapi masih ingat bahwa ada kehidupan di dalam sana. Air mata mulai menetes dari pipinya. Rasa sakit itu tak kunjung sembuh. Dia ingin menghubungi keluarganya, tetapi takut jika mereka mengetahui kebenaran usia kandungannya. Dia juga merasa percuma jika menghubungi Alex, lelaki itu jauh dan tidak ingin membuat khawatir.


Selain itu, Alex pasti akan tahu jika Ayu tidak mengunjungi dokter kandungan. Dia terlalu sibuk dan tidak sempat melakukan pemeriksaan berkala. Akhir-akhir ini dia merasa tertekan dengan pekerjaan, juga mengenai pikiran tentang Alex dan Tamara. Kecelakaan tempo hari juga ikut menyumbang pada kondisi janinnya yang memburuk.


Dia membaringkan tubuh mencoba menenangkan pikiran dan berusaha untuk menahan rasa sakit di perutnya. Matanya terpejam dengan napas berat. Sesekali kening dan pangkal hidungnya mengerut keras.


Entah berapa lama lagi dia bisa bertahan dari rasa sakit yang menyiksanya. Dia menekuk lutut dan memeluknya berharap dengan posisi itu perutnya akan baikan. Nihil, posisi apa pun tidak mampu mengobati kram yang melanda di dalam sana. Dia hanya berharap janinnya tidak apa-apa. Tidak ada pilihan lain, satu-satunya orang yang bisa dia hubungi adalah Alex. Dia yakin, Alex akan datang secepat mungkin. Tiga jam, mungkin dia bisa bertahan hingga lelaki itu datang.


Dering di nakas mengalihkan pandangan. Dia menyeret tubuhnya yang terkulai untuk meraih gawai. Dering itu berakhir, tetapi tubuhnya belum bergerak terlalu jauh. Dia meraih benda persegi itu di deringan ke tiga.


Tangannya mulai bergetar. Dengan pelan dia mulai mengusap layar untuk menerima panggilan dari Alex.


"Lama banget, Sayang!" Suara manis Alex terdengar dari persegi itu. Ayu tak langsung menjawab, dia mencoba mengatur napas agar suaranya tak begitu lemas.


"Kamu bisa pulang sekarang?" pinta Ayu menahan sakit yang tak terkira.


"Kamu merindukanku, 'kan?" goda Alex dengan tawa di ujung kalimatnya.


Ayu menjauhkan layar dari telinga dan meringis pelan. Rahangnya mengeras menahan mulas.


"Sayang!" panggil Alex setelah Ayu terdiam karena berusaha agar terdengar baik-baik saja.


"Pulang, sekarang!" tangis Ayu yang tidak bisa berpura-pura lagi.


"Ada apa?" Suara Alex terdengar panik.


Isakan demi isakan lolos dari mulut Ayu.


"Sayang, ada apa? Kamu sakit?"


Ayu tidak membalas dan terus menangis sembari meringis kesakitan.


"Tunggu, aku pulang sekarang."


Ayu tidak tahu apa lagi yang diucapkan oleh Alex. Dia mendengar lelaki itu sedang mengobrol, entah pada siapa. Dia terfokus pada rasa sakit yang menyiksanya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Suara Alex terdengar panik. Sesekali lelaki itu berteriak entah karena apa dan pada siapa.


Entah berapa lama, Ayu mendengar suara ketukan di pintu. Sayang, dia tidak lagi memiliki tenaga untuk keluar membuka pintu itu. Dia ingin berteriak meminta tolong, tetapi suara kecil pun tidak bisa lolos dari tenggorokannya.


"Ayu!" panggilan itu sangat dikenal oleh Ayu. Dia pasti orang yang dimaksud Alex yang akan datang membantunya.


Seorang perempuan yang tinggi dan indah seperti seorang Dewi berdiri di samping ranjang. Bisa Ayu lihat raut khawatir di wajah itu.


"Ay, kamu baik-baik saja?" tanya Tamara yang sudah duduk di samping Ayu dengan tangan terjulur untuk membantu Ayu.


Ayu tidak baik-baik saja. Selain sakit di perut, ada sakit yang teramat di ulu hatinya melihat Tamara. Ada sedikit benci dalam dirinya melihat sahabatnya itu. Dia tahu Tamara tak salah jika Alex yang ternyata mencintainya. Namun, hati tak bisa berbohong bahwa perempuan yang kini datang membantunya adalah orang terakhir yang ingin dia lihat.

__ADS_1


"Ayo, sini kubantu!" Tamara membantu Ayu untuk bangkit. Meskipun sakit, Ayu berusaha untuk berjalan dengan dipapah oleh Tamara.


Dalam setiap hal, Alex selalu mengingat Tamara. Kenyataan itu semakin menimbulkan luka tak tampak di hati Ayu.


***


Alex sudah menghubungi Tamara untuk membantu Ayu. Menurutnya, letak kediaman Tamara adalah yang terdekat. Selain itu, dia tahu Karin sedang berada di luar kota melihat foto yang ada di Instagramnya. Menghubungi keluarga Ayu bukan hal baik, Ayu pasti akan marah jika keluarganya tahu kebenaran kehamilannya.


"Penerbangan tercepat masih dua jam lagi." Cleo menginformasikan yang langsung membuat Alex mendesah frustasi.


"Hubungi Jonny dan bilang aku mau pake jet-nya untuk ke Jakarta, sekarang!" perintah Alex setengah berteriak.


Rasa panik telah menguasainya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu pada Ayu dan janinnya. Dia menggosok-gosok wajahnya sembari melangkah besar menuju mobil. Dia akan berangkat ke bandara secepatnya.


Cleo terus mengikuti Alex dengan HP yang terus melengket di telinga. Dia menyodorkan HP itu pada Alex setelah terdengar jawaban. Namun, lelaki itu menggeleng dan melanjutkan langkah.


Dari hasil curi-dengar Cleo dari percakapan Alex di telepon tadi, Ayu sedang sakit. Mungkin itu alasan Bos-nya itu tak bisa berbicara. Padahal, Cleo sedang malas untuk bicara dengan Jonny.


"Pak Bos mau minta tolong," ucap Cleo berusaha terdengar sopan dan tidak menanggapi gombalan Jonny. "Pak Bos mau pinjam Jet untuk ke Jakarta." Cleo mulai kehilangan kendali.


"Kenapa lama sekali, Cleo!" bentak Alex tak sabar. Dia tidak pernah membentak Cleo sebelum ini, dia yakin perempuan itu pasti kaget. Alex langsung menarik HP di telinga Cleo. "Jonny, bisa tidak? Aku lagi buru-buru!"


Jonny berusaha menenangkan Alex, tetapu tidak diindahkan oleh lelaki itu. Dia harus segeralah berangkat untuk memastikan bahwa Ayu baik-baik saja.


"Iya, iya, tunggu, aku harus menelpon untuk menyiapkan penerbanganmu."


"Cleo, matikan saja!" pinta Alex saat melihat raut tak nyaman di wajah Cleo.


Kaki Alex terus bergoyang, menghentak-hentak ke lantai pesawat. tadi, dia sudah berbicara dengan Tamara dan bertanya perihal keadaan Ayu. Ayu sedang dirawat dalam IGD sebuah Rumah Sakit Bersalin yang letaknya tidak jauh dari rumah Ayu. Menurut dokter, kandungan Ayu sangat lemah, itu yang menyebabkan pendarahan dan kandungannya luruh.


Kaki Alex bergerak cepat, tak peduli pada orang-orang yang ditabraknya. dia tidak sempat untuk berbalik untuk sekedar menunduk dan meminta maaf. Dia buru-buru. Selama di taksi, dia terus mendesak sang sopir agar melaju cepat. Kalau bisa, dia ingin merebut alih kemudi dan menerobos semua mobil yang ada di depan. Hal tak jauh beda terjadi saat dia tiba di rumah sakit. jika biasanya dia bertanya pada resepsionis, kali ini dia berlari langsung menuju IGD.


Pandangan Alex mengedar mencari keberadaan Tamara di depan ruangan itu. Dia membuka pintu, tetapi seorang yang mengenakan seragam biru menahannya. Ruangan itu khusus untuk pasien dan tidak bisa dikunjungi sembarang orang.


"Saya mencari pasien atas nama Ayu," ucap Alex buru-buru dengan kepala mengedar untuk mencuri pandang pada pasien yang ada di bangsal dalam ruangan itu.


"Bu Ayu, Rahayu Dwi Kinanti?" baca perawat itu pada kertas yang ada di tangannya.


Alex mengangguk dengan cepat.


"Susah dipindahkan ke ruang perawatan baru saja, Pak. Bu Ayu ...." Perawat itu belum selesai menjelaskan di mana Ayu di rawat dan Alex sudah berbalik mencari ruang rawat isterinya itu. Saat mulai menyusuri koridor, barulah dia kebingungan harus ke mana. Apalagi, rumah sakit itu sangat luas. Dia mengacak-acak rambutnya merutuki kebodohannya karena terlalu tergesa-gesa dan tak berpikir panjang.


Alex menatap ke kanan-kiri, dia yakin Ayu tidak berada di ruang rawat bangsal, Tamara pasti membawa Ayu di ruang VIP. Masalahnya, ruang VIP tidak hanya satu. Dia naik tangga setelah membaca papan yang menunjuk menuju salah satu ruangan. Ada sekitar empat ruangan di sana yang kemungkinan tempat Ayu dirawat.


Dia bertolak pinggang, merasa frustrasi. harunya dia bertanya sebelum pergi tadi. Bukannya mempercepat, justru semakin lama. Namun, dia berbalik setelah mendengar namanya dipanggil. Tamara sedang berdiri, dia langsung tersenyum dan mengembuskan napas lega.


"Di mana Ayu?"


"Dia di lantai atas," kata Tamara. "Aku baru saja bicara dengan dokter yang merawat Ayu."

__ADS_1


"Ayu dan bayiku, baik-baik saja, 'kan?"


Tamara mengangguk. "Hanya saja, kondisi Ayu dan janinnya sangat lemah."


"Apa kata dokter?"


Mereka mulai berbincang selama perjalanan menuju ruang rawat.


"Dokter Grace kebetulan yang merawat Ayu. Katanya, Ayu sepertinya pernah mengalami benturan di perut. Katanya, dia juga tidak rutin bertemu dokter kandungan, sementara dia orang yang sangat sibuk dan rentang stress."


"Ayu tidak sempat menemui Grace, dia menemui dokter lain," ucap ALex yang kemudian berpikir kemungkinan Ayu berbohong padanya. Jika memang dia menemui dokter kandungan seharusnya kondisinya tidak separah sekarang, seharusnya dokter akan memberinya resep untuk menguatkan kandungannya.


"Dia baru saja tidur, dari tadi dia kesakitan. Untung saja pendarahannya tidak parah. Untuk lebih jelas kamu bisa menghubungi Dokter Grace sendiri, dia bisa menjelaskan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh Ayu."


Alex mengangguk dengan tatapan tertuju pada Ayu yang terbaring lemah.


"Tam, kamu tidak menghubungi keluarga Ayu, 'kan?"


"Tidak, seperti yang kamu minta." Dia mengulum senyum dan bertanya dengan ragu. "Usia kandungan Ayu ...," sambungnya yang langsung dipotong oleh Alex, "anggap saja kamu tidak tau, demi Ayu." Alex tidak mau Ayu berkecil hati dengan keadaannya jika tahu bahwa Tamar tahu alasan mereka menikah. Bagi Alex, tidak peduli alasan mereka terikat, kebahagiaan Ayu tetap prioritas.


"Tentu," gumam Tamara. "Aku pamit duluan kalau begitu."


"Terima kasih, Tam. aku tidka tau bagaimana kalau tidak ada kamu, aku ... tidka bisa membayangkannya." Alex menggeleng mengenyahkan pikrian buruk di kepalanya.


"Itu gunanya teman, 'kan." Tamara menepuk-nepuk pundak Alex. "Dia pasti kuat karena memiliki ayah yang hebat seperti kamu."


Alex tersenyum sembari mengantar Tamara keluar dari ruangan itu. Dia bukan ayah yang hebat. Baru beberapa bulan saja dia sudah hampir kehilangan bayinya karena tidak bisa menjaga Ayu dengan baik. Dia menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan Ayu yang tidak diinfus, dielusnya pelan dan sesekali diletakkan di pipi.


"Maaf, aku bukan suami dan ayah yang baik. Aku tidak bisa menjaga kalian dengan baik," lirih Alex.


***


Ayu terbangun karena desakan untuk ke kamar kecil. Dia menggeliat dan mulai membuka mata. Tatapannya terkunci pada lelaki yang tengah menggengam jemarinya. Pelan, dia menarik tangan menjauh. Namun, gerakan pelan itu ternyata membangunkan ALex yang sedang tidur di kursi tepat di sampignya.


"Kamu bangun?" tanya Alex usai mengucek mata.


"Aku mau ke toilet," gumam Ayu.


"Kamu belum bisa banyak bergerak," balas Alex yang langsung bangkit. Dia mengambil cairan yang tergantung di tiang, di bawanya pada pangkuan Ayu. Sementara, tubuh lemah Ayu dia angkat menuju ke kamar mandi. Seusai itu dia kembalikan lagi di ranjang.


"Apa masih sakit?" tanya Alex dengan tangan terus mengelus perut Ayu.


"Hanya sedikit, sudah baikan."


Alex mengulum senyum. Banyak hal yang ingin dia tanyakan, tetapi akan dia tahan hingga kondisi perempuan itu lebih baik. Dia telah memutuskan untuk membawa Ayu tinggal dengannya, kali ini tidak akan ada penolakan. Dia harus mulai bersikap tegas, demi kebaikan Ayu dan janinnya.


***


.

__ADS_1


__ADS_2