Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Hidden Truth


__ADS_3

Alex masuk ke dalam rumah Ayu. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan isterinya itu. Baru dua hari tidak bertemu dan dia sudah sangat merindukan Ayu, juga bayi dalam perut perempuan itu.


"kamu sudah pulang?" Ayu menyambut Alex dengan senyum di pipinya. Dia sudah sangat merindukan Alex, bukan masakan ataupun perhatian lelaki itu, melainkan merindukan Alex -- benar-benar Alex seutuhnya.


Alex memeluk Ayu erat -- mencium kening, pipi, dan apapun yang bisa dia cium.


"I Miss you like crazy," aku Alex. Dia menelungkup pipi Ayu dengan kedua tangan dan menempel bibirnya pada bibir perempuan itu.


"I Miss you too," balas Ayu setekah melepas ciuman Alex.


"Sudah makan?" tanya Ayu yang masih menempel di dada Alex.


"Belum, aku sengaja tidak makan karena kami sudah janji akan memasak untukku."


"Baiklah, kamu mau makan apa?"


"Apa yang dimakan Karin kemarin," jawab Alex, "kamu harus tau aku lelaki yang sangat pecemburu."


Ayu tertawa kecil. "Aku suka kalo kamu cemburu, tapi masa iya cemburu sama Karin."


"Entahlah, aku pikir aku sekarang mulai cemburu dengan anak kita." Alex mengelus perut Ayu, "ah, aku ayah yang buruk."


Ayu memukul lengan Alex. "Yang benar saja, cemburu sama anak sendiri itu tidak masuk akal."


"Aku tau," kata Alex, "mungkin karena aku terlalu menyayangimu, Sayang."


Ayu menarik kedua sudut bibirnya. Dia ingat Alex mengatakan bahwa dia mencintainya pada Karin. Melihat perhatian dan perlakuan Alex, dia merasa bahwa lelaki itu memang sangat mencintainya. Suaminya itu bahkan rela pulang balik Singapura-Jakarta demi dirinya saat lelaki itu memiliki urusan kerjaan.


"Baiklah, Sayang. Kamu bersihkan diri dulu dan aku akan buat spagety spesial untukmu," kata Ayu, lantas berjinjit untuk memberi satu kecupan di pipi lelaki itu.


Ah, hari ini Ayu sangat manis. Tadi siang, perempuan itu bahkan menelepon terlebih dahulu. kali ini, dia memanggil Alex dengan panggilan Sayang, padahal selama ini Ayu sering merasa jijik jika dipanggil sayang. Semoga saja Ayu tidak akan berubah menjadi singa yang buas. Dia suka Ayu yang manis dan penyayang seperti ini.


"Butuh bantuan?" tawar Alex.


Ayu menggeleng dan mendorong Alex menjauh. "Tidak, aku bisa sendiri."


"Aku tidak mau kamu kelelahan, Sayang." Alex mengelus rambut Ayu.


"Bukankah aku sudah janji akan memasak untukmu. Lagipula, selama ini kamu selalu memasak dan menjagaku dengan baik," ungkap Ayu, "sekarang, kamu duduk di luar dan menonton atau membaca. Biar aku bisa memasak dengan tenang."


Alex menurut dan keluar menuju ruang tengah. Dia memiliki buku baru mengenai cara menjadi suami siaga untuk mendampingi isteri dalam merawat bayi yang baru lahir. Meskipun, usia kandungan Ayu baru mau memasuki trisemester kedua, dia merasa perlu untuk mempelajari semuanya sekarang. Dia ingin semua yang terbaik untuk Ayu dan anaknya.

__ADS_1


"Ta-da!" Ayu datang dengan sepiring spagety bologna, "spagety spesial penuh cinta dari Ayu."


Alex meraih piring dari Ayu, lantas menyuap spageti itu. Sementara, Ayu sudah duduk di samping Alex untuk menunggu pendapat lelaki itu.


"Wah, rasanya enak sekali," puji Alex bersungguh-sungguh.


"Siapa dulu yang buat, Ayu." Ayu ikut memuji diri sendiri. "


"Isteriku memang sangat jago memasak. Tidak salah aku menaiki sama kamu, Sayang." Alex mencubit pipi Ayu.


.


"Masa iya kamu bisa masak, aku tidak, Sayangku!" Ayu menggamit lengan Alex dan bersandar di sana dengan nyaman.


"Pokoknya, masakan kamu yang terbaik." Alex terus memuji bahkan saat mereka sudha siap tidur.


"Alasan, kamu pasti cuma tidak mau memasak lagi, 'kan?"


Alex menggeleng sebagai sangkalan. "Aku serius, Sayang."


Ayu tertawa kecil dan masuk dalam pelukan Alex. Tangan Alex mengelus pipinya, dia mengangkat wajah dan tersenyum pada Alex.


"Dia baik-baik saja," kata Alex, "yang bermasalah hanya ruang tamuku yang dia hancurkan. juga punggungku yang terpaksa tidur di sofa."


"Loh, kenapa kamu tidur di sofa?"


"Aku tidak berminat meniduri Jonny," balas Alex.


Ayu memukul dada Alex. "Kalian 'kan bisa berbagi tempat tidur."


"Dan membiarkan dia memelukku? Tidak, membayangkannya saja bikin jijik." Wajah Alex terlihat jijik sesuai perkataannya, "dia mirip sepertimu saat mabuk, suka memeluk."


Ayu memegangi kepalanya dari dada Alex. Dia menatap tajam suaminya itu. Berani sekali Alex membahas masalah malam memalukan itu.


"Kenapa?" tanya Alex yang menangkap wajah marah di raut Ayu.


"Jangan membahasnya lagi!"


"Kenapa? Kamu harus tahu itu adalah kenangan indah yang tidak akan kulupakan. Tanpa malam itu, aku tidak akan memelukmu seperti ini." Alex menarik Ayu lebih dalam di pelukannya, juga mengecup puncak kepala isteri.


Ayu tersenyum di dalam pelukan Alex. "Kamu tidak menyesal, kalo saja malam itu kami tidak bertemu denganku, kamu tidak perlu serepot ini."

__ADS_1


"Aku senang, Sayang," ungkap Alex, "aku tidak pernah sebahagia ini sebelumya. kurasa aku merasa sempurna saat bersamamu."


Ayu sangat senang mendengar pengakuan Alex. Pengakuan itu membuat dia ingin memastikan satu hal, hal yang dinyatakan Alex pada Karin. Ini terdengar gila, tetapi Ayu hanya ingin tahu apa perhatian Alex hanya sekadar bentuk tanggungjawab oleh suami, atau lelaki itu memang mencintai Ayu.


"Sayang!" panggil Ayu.


"Ehm?"


"Kenapa kamu sangat baik dan perhatian padaku?"


"Tentu saja karena kamu isteriku, perempuan yang mengandung anakku, teman hidupku?"


Bukan jawaban itu yang Ayu mau, dia ingin tahu perasaan Alex padanya. Dia menertawai harapannya sendiri, lagipula Alex dulu mengatakan bahwa dia mencintai seseorang -- sahabat masa kecilnya. Mendadak Ayu merasa cemburu pada perempuan itu. Bagaimanapun, dia hanya bisa memiliki tubuh dan perhatian Alex, bukan hatinya.


"Kamu pasti punya banyak teman perempuan karena kehangatanmu," ungkap Ayu yang sebenarnya hanya sebuah pancingan.


"Tidak," sangkal Alex, "asal kamu tau, Sayang. Perempuan dan lelaki mustahil berteman secara murni tanpa ada perasaan terhadap salah satunya."


"Oh ya? Jadi, kamu tidak punya sahabat perempuan?"


"Hanya Tamara," jawab Alex singkat.


... Mereka putus karena Tamara tidak menyukai Stella. Pin kartu kredit Alex yang awalnya merupakan angka misteri terjawab sudah, itu ulang tahun Tamara, serta pengakuan Alex bahwa tidak ada perempuan dan lelaki yang bisa berteman secara murni. Tidak salah lagi, cinta pertama dan satu-satunya perempuan di hati Alex adalah Tamara.


Kenyataan itu menusuk hati Ayu. Dai bisa menwry perempuan mana pun, tetay tidak jika perempuan itu adalah sahabat merek sendiri. Entah bagaimana dia bisa melihat Tamara lagi saat ini?


"Ada apa, Sayang?" tanya Alex melihat perubahan di wajah Ayu.


"Tamara, dia Tamara, 'kan?"


"Maksdunya?"


"Perempuan yang kamu cintai." Ayu merasa sangat sakit menanyakan hal itu, tetapi dia tidak mau menyimpannya sendiri.


Alex terdiam. Dia tidak menyangka Ayu bisa menebaknya. Ini juga salahi karena keceplosan mengakui Tamara sebagai satu-satunya sahabatnya. Lama tidak mendapatkan jawaban dan menatap raut Alex yang berubah dingin, Ayu bisa tahu bahwa tebakannya benar.


"Itu dulu, Sayang. Tidak usah dipikirkan!" kata Alex kembali memeluk Ayu.


"Tidak apa-apa, semua orang punya masa lalu, 'kan?" kata Ayu seakan kuat menerima kenyataan, tetapi dalam hati dia tidak terima. Dia tidak tahu harus menghadapi Tamara seperti apa sekarang. Dia ingin Alex seutuhnya, atau tidak usah sama sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2