Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Like Nothing At All


__ADS_3

Setelah mendapat kabar tentang meninggalnya Opa Surya, Alex segera mengambil penerbangan tercepat menuju Indonesia. Dia meninggalkan rapat dengan dewan direksi. Tamara pasti sangat terpukul karena kematian kakeknya. Selain itu, Alex sendiri juga sangat dekat dengan Opa Surya.


Sejak kecil Alex sudah sangat akrab dan sering bermain bersama dengan Opa Surya di taman saat lelaki tua iti membawa Tamara. Kepribadian ramah dan penyayang sang opa membuat dia nyaman dan menganggapnya seperti kakek sendiri.


Saat Alex bertemu dengan Opa Surya di makan malam minggu lalu, dia sempat membuat janji akan menemaninya bermain golf. Dia terus terngiang semua cerita jenaka yang sering diberitakan oleh lelaki humoris itu.


'Lelaki itu harus kuat, tidak boleh cengeng! " Itu ucapan Opa Surya saat Alex menangis karena terjatuh, mungkin saat itu dia masih berusia lima tahun.


Alex juga masih ingat saat dia berkunjung sekitar sepuluh tahun lalu di kantor Opa Surya. Saat itu mereka berbincang singkat sembari menunggu kedatangan Tamara untuk makan siang bersama. Alex sempat bertanya mengenai pernikahan Opa Surya dan Oma Sally yang langgeng dan sangat harmonis meski sudah tua, juga membandingkan dengan pernikahan orang tuanya.


'3K; komitmen, komunikasi, dan kebersamaan. Cuma itu kuncinya!'


Opa Surya mengajarkan banyak hal pada Alex, termasuk mengenai paham monogami. Daripada berkaca pada rumah tangga orang tuanya, dia ingin memiliki pernikahan seperti kakek dan nenek Tamara itu.


Butuh waktu sekitar empat jam hingga dia bisa tiba di rumah duka. Di sana sudah banyak orang, meskipun yang hadir hanya keluarga. Saat memasuki rumah megah itu, dia langsung mencari sosok Tamara. Perempuan itu sedang berdiri di samping peti. Matanya hanya tertuju pada sosok itu, seakan tidak ada orang lain di sana.


Alex bisa melihat betapa rapuh Tamara. Dari dekat dia mendengar isakan perempuan itu. Hatinya meringis, dia tidak ingin Tamara menangis.


"Tammy," sapa Alex saat sudah berada di depan Tamara.


"Alex!" erang Tamara yang langsung menghambur di pelukan Alex.


Alex mengelus pelan rambut Tamara. Dia akan membiarkannya menangis hingga lebih tenang. Dia sering merangkul perempuan dalam pelukannya ini, tetapi tidak pernah benar-benar memeluk seperti sekarang.


Jika dulu menatap Tamara saja darahnya selalu berdesir dan detak jantung Alex tak beraturan. Kini, semua biasa saja. Perempuan itu masih penting, tetapi tidak ada rasa seperti dulu.


Setelah melepas pelukan dengan Tamara, Alex masih tetap merangkul untuk berjaga-jaga agar perempuan itu tidak terjatuh. Matanya seketika membesar saat melihat Ayu.


"Ayu," ucapnya pelan.


Melihat senyum di bibir Ayu, membuat Alex merasa sedikit elbih tenang. Ayu baik-baik saja, tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Kali bini dia terpaku pada wajah di dalam peti. Opa Surya terlihat sangat tenang. Dia masih ingat malam terakhir mereka bisa bertemu.


"Kamu sudah menikah, ya?" Opa Surya terkekeh pada Alex dan Ayu. "Kalian ini seperti orang lain saja. Menikah tidak mengundang kakek tua ini."


"Nantilah Opa, kita buat party yang lain khusus buat Opa," balas Alex.


"Ganti main golf saja kalau begitu," kekeh Opa Surya lagi.


"Gampang itu, Opa."

__ADS_1


Opa Surya tersenyum pada Alex. "Kamu sudah menikah sekarang. Harus tahu prioritas utama adalah keluarga."


Alex mengangguk dan tersenyum. Dia ingin belajar banyak dari Opa Surya.


Tidak Alex sangka, malam itu menjadi  kali terkahir dia menatap senyuman Opa Surya; mendengar kata-kata bijaknya. Dia berbalik, tetapi Ayu tak ada di sana.


"Ayu di mana?" tanya Alex.


"Dia udah pulang, 'kan tadi bilangnya mau kerja," jawab Karin dengan wajah heran.


"Kerja?" Alex masih ingat tadi pagi Ayu bilang dia akan tinggal di rumah saja seharian.


Sepanjang hari Alex terus berpikir tentang Ayu. Kalau bisa, dia ingin segera pulang dan memastikan Ayu tidak pergi bekerja di hari libur. Namun, dia tetap tinggal karena tidak enak jika harus pergi sebelum prosesi pemakaman selesai.


***


Sudah malam dan Alex belum juga datang. Dia duduk di ruang tamu, juga sesekali menatap ke luar. Dia sengaja membiarkan pintu terbuka agar bisa cepat tahu bahwa Alex sudah pulang atau belum.


Sudah berjam-jam dia duduk menunggu. Kadang keluar ke teras untuk melihat jalan. Akhirnya, dia lelah dan memilih untuk masuk ke kamar dan beristirahat. Mungkin Alex tidak pulang dan langsung kembali ke Singapura, mengingat dia sanagt sibuk. Ya, dia sangat sibuk dan tidak sempat untuk menyapa Ayu, tetapi sempat datang untuk memeluk Tamara.


Suara mobil terdengar berhenti. Ada sedikit harapan di hati Ayu bahwa yang datang itu Alex. Dia menggeleng-geleng dan memutuskan untuk berbaring.


Pintu kamar Ayu berderit. Langkah itu semakin dekat. Sontak, dia memejamkan mata. Sentuhan hangat Alex menyapu pipi Ayu, dia mengecup  kening isterinya lama.


"Have a nice dream, Sayang!" bisik Alex.


Ayu membuka mata setelah mendengar Alex memasuki kamar mandi. Lantas terpejam lagi saat lelaki itu keluar. Ranjang di sisi samping Ayu memberat dan tangan Alex mulai melingkar di pinggangnya. Dai menyukai kehangatan itu. Namun, mengingat bahwa tangan dan tubuh itu siang tadi memeluk perempuan lain membuat air matanya menetes lagi.


Sekuat tenaga, Ayu menahan napas agar isakannya tidak lolos. Bibir bawahnya digigit sembari memejamkan mata dengan keras. Tidak lama, dia bisa mendengar deru napas Alex yang teratur yang berarti lelaki itu sudah pulas. Dia pun mulai memaksa diri untuk tertidur, meski sulit.


***


Alex terbangun saat merasakan tubuhnya didorong. Matanya membuka pelan dan mendapati Ayu yang berusaha keluar dari pelukannya.


"Kamu sudah bangun?" tany Alex dengan suara serak, lalu mendaratkan kecupan di kening Ayu, meski perempuan biru sempat mundur untuk menghindar.


Alex mengelus pipi Ayu saat perempuan itu terus mendorong Laex menjauh. "Ada apa?"


"Mau ke toilet," kata Ayu tanoa menatap Alex.

__ADS_1


"Ya udah." Alex menjauhkan tangannya yang ada di pinggang Ayu.


Setelah Ayu masuk ke kamar mandi, Alex keluar kamar dan menuju dapur membuat jus untuknya dan Ayu. Akhir-akhir ini dia jadi jarang berolahraga karena sibuk. Hari ini dia juga sangat lelah.


Usai menyiapkan sarapan untuk Ayu, Alex berniat masuk ke kamar. Urung setelah melihat Ayu keluar terlebih dahulu. Keningnya mengerut melihat isterinya yang sudah berpakaian kerja lengkap.


"Kamu masuk kerja?"


Ayu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ini hari minggu."


"Memangnya ada larangan kerja di hari Minggu. Bukannya kamu harusnya nggak pulang karena ada kerjaan."


Alex terdiam. Dia memang berencana kembali ke Singapura setelah sarapan.


"Sarapan dulu kalo begitu." Alex merangkul Ayu dan berniat menuntunnya ke meja makan.


"Aku buru-buru." Ayu melepas tangan Alex di pundaknya.


"Ada apa? Kamu marah?"


"Marah untuk apa?"


"Ya, kamu aneh sekali pagi ini."


Ayu mengulas senyum. "Aku baik-baik saja."


"Ayo makan dulu," paksa Alex.


Ayu langsung melingkarkan tangan di pinggang Alex. Dia memeluk erat. Alex kembali padanya dan lelaki itu tidak boleh lagi pergi jauh darinya.


Alex yang tidak tahu apa-apa, hanya membalas pelukan Ayu dan mengelus rambutnya lembut.


"Aku kangen," aku Ayu dengan suara serak.


Alex tersenyum bahagia. "Aku juga kangen."


***

__ADS_1


__ADS_2