
"Pokoknya, malam ini aku yang bayar," ungkap Jonny yang berada di panggung bersama seorang DJ cantik. Semua orang di tempat itu semakin menggila. Suara teriakan riuh terdengar. Dia meletakkan lengannya di pundak DJ dengan pakaian mini itu sambil menggoyangkan kepala.
Alex sudah menolak untuk hadir di pesta yang diadakan oleh Jonny. Namun, di sini dia berada. Dia sedang menikmati minuman di meja bar. Jonny datang dan menariknya untuk turun di lantai dansa.
Musik DJ berdengung membuat banyak orang menggila menari. Alex menolak, tetapi dua tangannya kini ditarik oleh Gio dan Jonny.
"Ayolah, Bro. Kita seru-seruan, kapan lagi kamu bisa keluar," ucap Jonny. Dia merasa kasihan pada Alex yang tampak murung. Biasanya, saat murung seperti itu, maka Alex membutuhkan hiburan.
Alkohol dan musik, setidaknya hal itu bisa meredam rasa suntuk dan lelahnya. Dia mulai mengikuti irama musik. Di sampingnya Gio dan Jonny sudah menari bersama perempuan yang entah dari mana.
Getaran di sakunya membuat Alex meraih gawainya. Matanya membesar melihat nama Ayu muncul di layar. Padahal, dia tadi sudah bilang akan lembur sampai malam. Mana perempuan itu menghubungi demagn telepon video pula. Dia jadi bingung mau diangkat atau tidak. Kalau ketahuan bohong, matilah dia.
Alex memilih mematikan ponselnya. Dia lantas menjauh dari hingar-bingar orang menari itu. Kembali duduk bersama botol minuman. Seorang perempuan duduk di sampingnya, memberi senyum ramah yang sedikit menggoda. Untunglah, dia sama sekali tidak tergoda. Dia datang hanya untuk menghibur diri. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada dua perempuan yang sangat dia cintai, anak dan isterinya.
"Hai, aku Ellen." Perempuan itu memperkenalkan diri. Alex membalas sekadar untuk menjaga kesopanan. Merasa perempuan itu terus mendekati, barulah dia mengangkat tangan kiri untuk menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Bro, ayo!" Jonny datang lagi. Alex menatap jam tangannya. Sudah larut, dia memejamkan mata sejenak. Dia pasti sudah gila karena datang ke tempat ini, sementara Ayu kesusahan mengurus Aleeya.
"Aku harus pulang sekarang," ucap Alex langsung berdiri. Dia menepuk pelan bahu Jonny, dan berlalu keluar dari tempat hiburan itu.
***
Ayu sedang bermain dengan Aleeya. Bayinya sempat rewel, tetapi untung masih bisa dia tenangkan. Alex lembur hari ini, sehingga dia sendiri sejak magrib lalu. Dia sudah meminta Bu Ina untuk istirahat. Tidak tega menahan perempuan paruh baya itu lama.
Tadi siang dia cukup sibuk karena Box baru pesanan Alex datang. Box itu akan diletakkan di kamar mereka. Dari pada harus berjaga di ruang sebelah, Alex memutuskan untuk membawa Aleeya di kamarnya.
Box itu tidak sebesar box di kamar Aleeya. Benda itu diletakkan dekat dengan ranjang, agar begitu bayinya merengek, maka Ayu bisa mendengarnya dengan cepat.
Saat malam mulai gelap, Cleo datang berkunjung untuk menengok Aleeya. Di situlah, Ayu naik pitam. Berdasarkan penuturan Cleo, Alex sudah pulang sejak dari tadi. Dari sekretaris Alex itu pula, dia tahu bahwa suaminya tidak ada meeting sama sekali hari ini.
Aleeya membiarkan Cleo dan Aleeya bermain. Tumben sekali bayinya mudah akrab dengan mudah. Dia meraih gawai untuk menelepon Alex. Sialnya, lelaki itu tidak menjawab. Saat dia coba lagi, nomornya sudah tak bisa dihubungi lagi. Lihat apa yang dia lakukan sebentar.
"Dia lucu sekali," ucap Cleo menowel pipi Aleeya. "Mirip sama Pak Bos."
Ayu hanya tersenyum. Benaknya dipenuhi tanya tentang keberadaan Alex.
"Pak Bos memangnya ke mana?"
"Ah, ada keperluan tadi."
"Aku harus pulang sekarang. Padahal, aku masih mau main sama Aleeya," keluh Cleo.
"Kamu suka bayi?"
Cleo mengangguk membenarkan. "Aku juga mau punya bayi lucu. Tapi, gimana pacar saja tidak punya."
"Masa cantik kayak kamu tidak punya pacar."
"Sibuk, Pak Bos kalo ada mau harus dituruti. Belum lagi Pak Jonny yang suka mengganggu," curhat Cleo.
Ayu hanya tertawa kecil melihat Cleo mencebik.
"Aku pamit ya, Aleeya cantik. Nanti Aunty datang lagi," ucap Cleo. Dia mencium gemas Aleeya. Sontak, bayi itu menggeliat dan merengek. Cleo melambai pada Ayu.
"Terimakasih," ucap Ayu. Dia berterima kasih karena sudah membuatnya tahu bahwa Alex sedang kelayapan.
Cleo meninggalkan unit Alex. Saat keluar dari lift, dia bertemu dengan Alex. Rambut bos-nya itu sedikit berantakan. Jas-nya juga sudah tersampir di pundak, lebih kacau dari pagi tadi.
"Malam, Bos!" sapa Cleo yang mengagetkan Alex. "Aku baru datang menjenguk Aleeya. Dia lucu sekali."
Mata Alex membulat. "Kenapa tidak bilang sama aku dulu."
Cleo mengernyitkan kening. Dia tidak tahu kalau harus ada izin dulu. Kemarin Jonny bilang bahwa dia datang menjenguk. Seingatnya, tidak ada izin sebelumnya.
"Ayu tidak tanya aku di mana?"
"Tadi cuma tanya gimana meeting-nya. Ya, sudah aku jawab tidak ada meeting hari ini."
Alex meringis. Dia segera melangkah untuk menekan tombol lift. Bayangan Ayu mengamuk sudah menghantuinya. Ah, harusnya dia tidak termakan ajakan Jonny, atau dia bisa saja jujur pada Ayu. Dia yakin perempuan itu tidak akan melarang.
Saat di depan pintu, dia berdiri lama untuk menyusun kata pembelaan. Dia harus mengarang cerita lagi agar Ayu bisa percaya. Pandangannya mengedar begitu masuk, tetapi semua sunyi. Ayu tidak ada di mana-mana. Dia masuk ke kamar Aleeya dan bayi itu juga tidak ada di sana.
Jantung Alex mulai berdegup kencang. Tidak mungkin Ayu bisa pergi secepat itu, Cleo pulang baru saja. Dia pun mencari di satu-satunya tempat yang memungkinkan Ayu berada.
__ADS_1
Di kamar, Alex mendapati Aleeya yang sudah berada di box. Dia lupa kalau sudah memesan box baru. Suara air di kamar mandi membuat Alex bernapas lega. Namun, ada keinginan agar Ayu lebih lama di dalam sehingga dia bisa menyusun kata lagi.
Pintu berderit menandakan Ayu sudah keluar. Alex langsung berbalik dengan napas memburu. Tanpa menyapa, dia langsung masuk ke kamar mandi. Menghindar selama mungkin, itu yang akan dia lakukan.
Ayu duduk di bibir ranjang. Dia menatap pintu kamar mandi beberapa kali. Sudah lebih setengah jam, dan Alex belum keluar juga. Dasar aneh. Saat keluar pun, lelaki itu langsung masuk di walk in closet untuk berganti pakaian.
Lagi, lelaki itu tidak keluar dari sana untuk waktu yang lama. Bosan menunggu, Ayu memutuskan untuk masuk ke ruangan berisi banyak pakaian dan aksesoris itu. Dia naik tangga menuju ruang pribadi Alex.
Satu alis Ayu terangkat melihat Alex yang sedang duduk dengan kepala yang dibaringkan di meja. Dia mendekat. Kedua tangannya menempel di pundak Alex, sembari memijat pelan di sana. Lihat, apa yang dia lakukan untuk memberi pelajaran pada lelaki itu.
Alex sengaja masuk di ruang bacanya, agar bisa menghindar. Namun, dia tersentak begitu merasakan pijatan di pundaknya. Saat berbalik, senyum Ayu menyambut.
"Kamu pasti capek sekali," ucap Ayu. "Kerja dari pagi buta sampai larut malam."
Alex menelan saliva berat. Dia mengangguk. Di wajahnya ada senyum kaku.
"Pokoknya, malam ini kamu harus istirahat. Biar Aleeya aku yang urus."
Alex menatap Ayu lamat-lamat. Dia mencari wajah marah di raut isterinya, tetapi tak dia temui. Berarti, Ayu tidak tahu kalau sudah dibohongi.
"Aku tidak capek, kok," sanggah Alex.
Ayu melingkarkan lengan di pundak Alex. Kepalanya diletakkan di samping cekungan leher lelaki itu.
"Kamu sudah makan?"
Alex menggeleng-geleng, dan menjawab dengan gugup. "Mak-sudku su-dah."
Suara Ayu sangat lembut, dan itu menyeramkan bagi Alex. Akan jauh lebih baik jika dia dimarahi dan diteriaki, daripada dengan suara lembut mendayu seperti sekarang. Dia merasa ini adalah tenang sebelum badai.
"Makan di mana?"
"Sa-ma klien tadi," jawab Alex. "Kita meeting di luar. Urusan kerja sama."
Ayu menjauh, itu dimanfaatkan oleh Alex untuk segera keluar. "Aku mau liat Aleeya dulu."
Ayu mengikut. Dia sebenarnya tak sabar ingin meneriaki Alex. Namun, dia punya cara sendiri untuk menyiksa lelaki yang berani berbohong.
"Kamu harus bisa seperti Daddy," tambah Ayu yang kini berbicara pada Aleeya yang masih tertidur. "Daddy itu lelaki jujur dan terbuka." Dia mengelus kepala Aleeya lembut.
Tenggorokan Alex seakan ditimpa benda berat. Dia berbalik begitu merasa lengannya digelayuti oleh Ayu.
"Mumpung Aleeya masih tidur, kelonin!" pinta Ayu manja.
Alex tentu tidak akan menolak permintaan Ayu. Terlepas dia masih merasa aneh dengan perubahan sikap Ayu, kapan lagi perempuan itu minta dimanja seperti itu.
Ayu memeluk Alex erat. Kepalanya bersandar di dada Alex. Dia bisa merasakan detak kencang jantung lelaki itu.
"Besok masih lembur?"
"Ti-tidak," jawab Alex. Lembur pun, dia akan berusaha cepat pulang.
"Kamu pasti capek sekali, seharian kerja. Mau dipijat tidak?" Satu tangan Ayu mengelus pipi Alex.
Alex tercekat lagi.
"Kamu tau, Ibu selalu bilang, dosa pertama dan utama yang harus dihindari adalah bohong," tambah Satu yang semakin membuat Alex keringat dingin.
"O-oh, ya?" Alex gagap.
"Satu kebohongan kecil bisa menimbulkan kebohongan-kebohongan lain, itu kata Ibu." Ayu menambahkan.
Alex menangkap jemari Ayu yang sedang mengusap dadanya. Dia menunduk menatap Ayu yang sedang mendongak.
"Ma-af!" lirih Alex. Dia yakin bahwa Ayu hanya sedang memancingnya.
"Maaf untuk apa?"
"Aku bohong kalau aku lembur," jawab Alex. "Aku pergi clubbing sama Jonny dan Gio."
Ayu membelalak dan langsung menarik diri dari peluk Alex. "Kamu bohong?" Dia masih pura-pura tak tahu.
Kedua alis Alex terangkat. "Kami tidak tahu. Apa Cleo tidak bilang?"
__ADS_1
Ayu menggeleng. Tangannya berlipat dengan sorot marah di matanya. "Dia tidak bilang. Tapi, kamu sendiri yang bilang sekarang!"
Alex memijat tengkuknya. "Kamu tahu atau tidak?" Suaranya mulai ditekan.
"Kenapa kamu yang emosi? Kamu yang bohong."
"Maaf," pinta Alex. "Tadi Jonny yang ajak. Tidak enak kalau ditolak."
"Apa itu jadi alasan kamu bohong?"
"Aku takut kamu marah kalau aku pergi."
Ayu meraih bantal dan memukulkannya di lengan Alex. "Kalau kamu bohong aku tidak marah?"
"Mana aku tau kalau kamu bisa tau," ungkap Alex.
"Ihh!" Kali inj bantal itu mendarat di wajah Alex.
"Maaf, aku janji tidak bohong lagi!" mohon Alex.
"Tidak ada kebohongan lagi, cuma itu?"
Alex mengangguk.
"Yakin?"
"Iya, Sayangku. Cuma itu, sumpah."
Ayu tidak lagi memukul Alex dengan bantal, melainy dengan kedua tangan. Dia terus memukul-mukul lengan kekar itu. Lantas, mendorong lelaki itu untuk turun dari ranjang.
"Turun! Jangan harap naik ke sini sebelum mengakui semua kebohonganmu hari ini!" bentak Ayu, meski suaranya diusahakan agak kecil agar tidak menggangu Aleeya.
"Aku tidak bohong, Sayang!" lirih Alex mencoba memeluk Ayu, tetapi didorong lagi.
"Tuh kan, bohong lagi!" rutuk Ayu.
Alex turun dari ranjang setelah Ayu terus mendorong dengan tangan dan kaki. Dia bersandar di pinggir ranjang, berpikir tentang kebohongan yang Ayu maksud. Keningnya mengerut pelan.
"Jadi, kami sebenarnya tau kalau aku tadi bohong, 'kan?"
Tidak ada jawaban dari Ayu. Perempuan itu sedang duduk memeluk bantal. Wajahnya dipenuhi gurat marah.
"Sayang, aku udah jujur, loh."
Ayu mencebik. Dia melempar bantal yang dipeluk tepat di wajah Alex.
"Bohong aja terus!" sembur Ayu.
Alex memeluk bantal itu. Dai terus memutar kepala hingga akhirnya dia dapat. Dia langsung berdiri dan merangkak ke atas ranjang. "Maaf!"
"Sana turun!"
"Aku sudah ingat, Sayang!" Alex menutupi wajah dengan bantal setelah Ayu mengangkat tangan untuk memukul.
"Apa?"
"Aku tidak ada meeting, termasuk pagi tadi. Aku bohong, maaf!"
"Habis ke mana, pagi-pagi ke kantor?"
"Aku cuma tiduran, Sayang!"
Ayu mendorong wajah Alex yang mendekat. "Bohong!"
"Beneran, Sayang!" lirih Alex. "Semalaman aku begadang jagain Aleeya. Aku ngantuk, jadi sengaja ke kantor buat tiduran."
Ayu menggeleng. Dia tidak percaya, semalam dia tidak mendengar suara tangis Aleeya sama sekali. "Jangan bawa-bawa Aleeya sebagai alasan! Sekali bohong, pasti bohong terus!"
Mata Alex membulat. "Aku tidak bohong, Sayang! Coba Aleeya bisa ngomong."
"Turun!" teriak Ayu. Dia lupa mengontrol suara, hingga Aleeya terbangun. Suara rengekan dan disambung jeritan terdengar. Sigap, Alex bangkit dan menggendong bayinya.
***
__ADS_1