Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Home Alone


__ADS_3

Sudah dua malam tidur Alex tak nyenyak. Dia sebenarnya ingin menghubungi mertuanya, menanyakan perihal kabar dua perempuan yang sangat dia cintai. Namun, dia tidak ingin membuat keluarga isterinya itu tahu bahwa dia dan Ayu sedang ada masalah. Menjaga wibawa sebagai seorang suami itu perlu.


"Pak, besok pagi ada jadwal untuk ke Malaysia." Cleo menjelaskan. Perempuan itu juga melanjutkan bahwa mereka memiliki dua opsi waktu untuk berangkat, berangkat di awal malam agar bisa istirahat di hotel atau berangkat subuh agar bisa mempersiapkan diri.


Alex hanya termenung. Dia mendengar penjelasan Cleo, tetapi sebagian pikiran tertuju pada anak dan istrinya. Dia menimbang-nimbang untuk membuat keputusan. Dia tidak istirahat sejak kepergian Ayu, kalau harus menginap sendiri di rumah, maka dia pasti akan semakin kesepian.


"Kita berangkat selepas kerja. Pesan tiket sekarang. Sekalian, ikut aku ke rumah untum bereskan pakaian."


Cleo menurut. Mereka pun kembali ke apartemen Alex. Demi apa, Cleo melongo melihat penampakan apartemen yang selalu bersih dan teratur itu. Ada beberapa botol wine di atas meja, juga gelas.


"Pak Bos tidak memanggil pembersih, ya?"


Alex berbalik. Sejak ada Bu Ina, dia tidak menyewa pembersih lagi. Dia menatap ke sekeliling, ternyata rumahnya sangat berantakan. Bantalan kursi miring ke sana-kemari, berkatnya yang setiap pulang bkerja langsung menjatuhkan badan di sana. Remot teve yang selalu berada di tempatnya usai menonton, kini ada di lantai. Sepertinya semalam dia yang menjatuhkannya.


"Ah, berantakan sekali, ya. Bisa kamu bereskan sedikit, biar aku yang bereskan pakaian."


Cleo mengomel dalam hati. Dia bisa menebak bahwa bosnya itu mengajak dia ke sini untuk membersihkan. Dia memicingkan mata, mencoba menebak apa yang terjadi pada Alex. Dia menggeleng-geleng tak percaya saat melihat bekas bungkusan makan cepat saji di tempat sampah. Dia tahu sekali bahwa Alex benci junkfood, menurutnya itu tidak sehat. Melihat perubahan Alex, dia yakin ada sesuatu pada bosnya itu. Selai itu juga, Ayu dan Aleeya tidak ada di rumah. Kalau memang mereka tidak memiliki masalah, mustahil Alex membiarkan mereka pergi tanpa dia dampingi.


Bertahun-tahun bekerja bersama Alex, Cleo sudah hafal sifatnya, overprotektif. Ini menjawab pertanyaan Cleo tentang wajah lusuh lelaki itu.


"Sudah?" tanya Alex yang keluar dengan koper.


Cleo mengernyitkan kening. "Bawaannya banyak sekali, Bos."


"Mau pindah ke Malaysia," jawab Alex tanpa senyum. Dia pun menarik koper dan berjalan keluar diikuti oleh Cleo.


***


"Kamu rencana berapa hari di sini, Yu?" tanya Dwiki.


Ayu sedang duduk di teras belakang, melihat taman kecil milik ibunya. Aleeya baru saja tidur setelah dua hari ini sangat rewel.


"Tidak tau juga, Yah. Memangnya Ayah tidak suka Ayu di sini?"


"Ayah senang, Nak. Tapi, kamu kan punya suami."


Ayu mengerutkan keningnya. Selama tiga hari di rumah orang tuanya, dia tidak pernah menerima panggilan dari Alex. Kadang dia sangat ingin mengangkat panggilan itu, apalagi saat Aleeya mulai menjerit. Untunglah Ayu membawa baju bekas Alex untuk disimpan di sampingnya saat tertidur.

__ADS_1


Baju itu sudah melebur dengan bau minyak telon dan Aleeya sendiri. Dia sadar betul, bahwa Aleeya pasti merindukan ayahnya. Ego Ayu terlalu tinggi untuk menghubungi Alex.


Dia sempat membuka Instagram dan melihat postingan Alex. Gambar itu berisi gedung kembar Petronas. Lelaki itu sedang di Malaysia. Entah untuk apa, dia tidak mau peduli.


"Alex tidak pernah menelepon? Atau, kalian ada masalah?" Dwiki terus memberondong Ayu dengan pertanyaan.


"Alex sering menelpon kok, Yah," jawab Ayu. Dia tidak berbohong, Alex memang sering menelepon, hanya dia yang tak mengangkat teleponnya.


"Kalo ada masalah, baiknya dibicarakan. Jangan disimpan sampe berlarut-larut," kata Dwiki memberi wejangan.


Ayu menggeleng lagi. Dia terus menyangkal, dan berkata bahwa dia baik-baik saja.


"Ya sudah, Ayah masuk dulu. Jangan kelamaan melamun!" Ayah bangkit dan masuk ke rumah, sedangkan Ayu masih tetap di tempat itu, duduk dengan tatapan ke depan.


Dia terus bertanya-tanya untuk apa Alex ke Malaysia. Dia khawatir bahwa lelaki itu mungkin pergi bersama dengan Tamara. Setahu Ayu, Tamara memang sedang mengembangkan usaha di negara itu.


Dia masuk setelah ibunya teriak dari dalam. Aleeya sedang lapar. Suara rengekan bayi perempuan itu terdengar. Dia meraih bayinya dari gendongan Arini.


"Dia lapar," ucap Arini mengelus kepala Aleeya.


Tidak ingin anaknya kelaparan, Ayu naik ke kamarnya. Dia mulai menyusui bayinya. Usai mengisi perut, Aleeya dibaringkan di ranjang. Bayi itu bergoyang-goyanh dan bergumam tak jelas.


Aleeya tertawa, tawanya seperti simfoni surga di telinga Ayu.


Dia ikut tertawa riang bersama bayinya.


"Anak mommy sayang," ucap Ayu lantas mengecup pipi Aleeya gemas.


Bayi itu tertawa lagi. Ayu tidak menyangka Aleeya bisa seriang ini lagi. Dia berbaring di samping bayinya, menempelkan pipinya di pipi bayi itu, juga mengelus perut buncitnya.


Ketukan pintu mengalihkan pandangan Ayu. Dia menepuk-nepuk paha Aleeya, meminta bayi itu untuk menunggu sejenak. Dia mendekat pada pintu, menggenggam kenop untum membuka.


"Iya, Bu, ada ap ...." Ucapan Ayu terpotong begitu melihat sosok yang kini di depannya. Dia terperanjat lama, membiarkan kedua mata mereka beradu, melepas kerinduan setelah berhari-hari tak bersua.


"A-Alex?"


Tidak tunggu lama lagi, Alex langsung menarik Ayu dalam pelukannya. Dia menghidu aroma tubuh yang sangat dia rindukan. Aroma manis dan juga bau khas bayi Aleeya melekat di tubuh Ayu.

__ADS_1


Ayu mundur sedikit diikuti oleh Alex. Pintu di belakang mereka pun menutup. Tangan Alex menelungkup kedua pipi Ayu. Dia mencium kening perempuan itu lama, kemudian turun di bibir lebih lama lagi.


"I Miss you like crazy, Sayang," ungkap Alex menempelkan dahinya di dahi Ayu. Tiga hari, tidak, bukan hanya tiga hari, sudah tiga minggu sejak terakhir kali dia bisa memeluk Ayu seperti ini.


Suara gumaman riang Aleeya membuat Alex berpaling. Di sana, malaikat kecilnya. Dia juga sangat merindukan anaknya itu. Manusia kecil yang selalu membuatnya tersenyum tiap kali melihat wajahnya.


Alex mencium pipi Ayu sekali, sebelum melangkah menuju manusia kecil yang terus bergumam. Dia mengangkat Aleeya dan menghujaninya dengan ciuman di kedua pipi. Memainkan hidung bangirnya di hidung mungil Aleeya.


Kebahagiaan itu sederhana bagi Alex, memiliki seseorang yang bisa kau sebut sebagai miliknya. Milik yang tidak akan pernah meninggalkannya, seperti istri dan anaknya. Sebuah keluarga utuh yang saling menyayangi, tempat untuk berbagi suka dan duka.


Ayu menitikkan air mata melihat pemandangan itu. Bisa dia lihat kebahagiaan terpancar dari dua orang yang berarti baginya. Dia mendekat dan melingkarkan tangan di pinggang Alex. Dai mengecup pundak lelaki itu bergantian dengan pipi Aleeya yang digendong oleh Alex.


Bayi Aleeya mengangkat jemarinya menuju hidung Alex. Dia membuat gerakan mencakar di sana. Suara tawanya terdengar, membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia.


"Sayang," ucap Alex lirih pada Ayu yang kini sedang di pelukannya. "Kamu dan Aleeya itu adalah yang terpenting bagiku. Jangan pernah bilang kalau aku tidak peduli pada kalian. Kamu tau kalau aku snagat mencintaimu dan Aleeya," ungkap Alex menambahkan. Lantas, dikecup lagi puncak kepala Ayu.


Ayu terdiam, dia hanya menepuk-nepuk paha Aleeya yang baru saja tertidur di sampingnya.


"Aku memang salah, karena aku bohong hari itu. Maaf," tambah Alex. Dia memasukkan wajahnya di cekungan leher Ayu. Mengecup lama di sana dan tangannya naik mengelus pipi istrinya.


Ayu pun menyentuh tangan Alex, membawanya turun ke bibirnya. Dia lantas berbalik dan diam lama menatap mata Alex. Dia bingung, harus bertanya atau tidak.


"Ehm ... kamu ngapain di Malaysia?"


"Aku ada kerjaan, Sayang."


"Benar hanya bekerja?"


.


Alex mengangguk keras. Sepertinya, Ayu belum percaya sepenuhnya padanya.


"Kamu bisa tanya Cleo. Kami pergi bersama di sana. Aku bahkan bisa menjelaskan semua kegiatan yang aku lakukan di sana."


Ayu mendekat dan mempererat pelukannya. Kepalanya disanday di dada Alex, membiarkan detakan jantung lelaki itu memenuhi indra pendengarannya. Alex tersenyum. Dia pun mengusap punggung Ayu beberapa kali, menenangkan istrinya yang mulai terisak.


"Aku kangen," ungkap Ayu di tengah isakannya.

__ADS_1


"Aku juga, Sayang, aku juga," balas Alex.


***


__ADS_2