Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Home Sweet Home


__ADS_3

Ayu mengemas pakaiannya dan Aleeya. Dia tidak tahan lagi. Pokoknya, hari ini juga dia akan kembali ke Jakarta. Air matanya terus menetes. Dia sudah berusaha untuk memaafkan Alex, tetapi susah sekali. Setiap kali melihat lelaki itu, hanya wajah Tamara yang terbayang. Entah kenapa, akhir-akhir ini pun dia merasa ada yang aneh dengan sikap Tamara. Perempuan itu biasanya selalu memberi kabar, tetapi dia bahkan datang ke Singapura tanpa menghubunginya.


"Sayang, jangan begini!" mohon Alex. "Aku akan antar kami sama Aleeya ke rumah Ayah, kalo kami memang rindu."


Ayu bergeming, dia terus mengemas pakaiannya ke dalam koper. Tidak peduli pada Alex yang terus memohon, bahkan merengek seperti anak kecil.


"Sayang!" Alex menarik lengan Ayu dan memeluknya. "Kita ke Jakarta bareng, ya. Siapa yang bantu kamu buat jaga Aleeya."


Ayu mendorong Alex. "Ada Bu Ina, lagian kamu tidak usah sok peduli. Bukannya kamu lebih suka keluyuran daripada bantu ngurus Aleeya!"


Alex menggeleng-geleng. "Tidak, Sayang. Kamu dan Aleeya yang paling penting di hidupku."


Bu Ina sudah ada di depan menunggu. Dia juga sudah sangat merindukan rumah dan anaknya. Dia mendengar perdebatan Ayu dan Alex. Dia dulu mengira orang kaya tidak memiliki masalah, ternyata kehidupan mereka sangat rumit. Contohnya, pasangan yang dia layani ini. Sekilas terlihat sempurna, siapa sangka mereka juga bisa berdebat seperti itu.


Semalam saja, sebelum Bu Ina turun di apartemennya, dia mendengar Ayu meneriaki Alex. Dia sebenarnya kaget, karena bertahun-tahun mengenal Ayu sejak masih bekerja di rumah orangtuanya, dia sama sekali tidak pernah mendengar amarah perempuan muda itu. Dia jadi heran, bagaimana bisa Ayu mengamuk seperti itu.


Kalau tiba-tiba Ayu pulang ke rumah orangtuanya, maka mungkinkah pasangan itu sedang merenggang. Ah, Bu Ina heran, masalah apa gerangan yang membelit pasangan yang terlihat serasi dan mesra itu.


"Bu, pegang yang ini, ya. Aku mau gendong Aleeya," pinta Ayu menyodorkan koper besar pada Bu Ina.


Bu Ina mengangguk dan meraih koper itu. Tidak lama Ayu muncul dengan bayi Aleeya di gendongannya. Sementara, Alex masih setia menggelayut di pundak perempuan itu, memohon agar isterinya tidak pulang.


Bu Ina melempar senyum pada Alex. "Neng Ayu perginya cuma sebentar, Pak."


Alex menatap Bu Ina sendu,lantas beralih lagi pada Ayu yang sudah mengajak Bu Ina pergi. Perempuan itu menggendong bayinya yang masih tidur. Mau tidak mau, Bu Ina menurut dan ikut melangkah. Dia sebenarnya kasihan pada Alex, tetapi dia tidak mungkin ikut campur pada masalah keluarga orang lain.


"Nanti Pak Alex menyusul saja," bisik Bu Ina pada Alex sebelum keluar.


Alex tidak punya pilihan lain. Dia mengikuti Ayu dari belakang, lantas melihat perempuan itu pergi dengan taksi. Dia ingin mengantar dan ditolak oleh perempuan itu.


Perasaan hampa menghampiri Alex. Sudah dua hari dia pulang malam dari kantor. Dia benci apartemennya, benci pada suasana sepi. Dulu, di dalam sana ada Ayu yang sering tertawa atau marah, juga tangis Aleeya saat lapar atau popoknya basah. Dia senang mendengar Ayu merengek, terdengar manis seperti rengekan Aleeya.


Kini, Alex sendiri lagi di sana. Rasanya lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Sepi itu semakin terasa. Apalagi, selama dua hari ini Ayu sama sekali tidak mengangkat teleponnya.


Dia masuk ke kamar dan menjatuhkan diri di ranjang tanpa mengganti pakaian kerja. Dia merasa semakin tak berguna.


***


Ayu datang tanpa memberi kabar sebelumnya. Dia menggedor pagar cukup lama, sampai akhirnya di menelepon ibunya. Dari telepon itu dia tahu bahwa rumah sedang kosong. Ayah dan ibunya sedang ke luar. Mereka pergi ke supermarket untuk belanja keperluan harian.


Jadilah Ayu menunggu di depan pagar seperti orang bodoh. Aleeya pun sudah mulai merengek. Tadi, di pesawat bayi itu terus menangis, sebenarnya cukup mengganggu.


Ayu terus meminta maaf pada orang-orang yang ada di pesawat. Beberapa orang memaklumi, bahkan memberi semangat pada Ayu. Namun, ada pula yang tampak judes menunjukkan wajah tak suka. Dia sebelum memiliki bayi juga seperti itu, sering mengomel dalam hati karena terganggu dengan tangisan si bayi. Kini, dunia seakan berbalik.


Bu Ina sudah membantu, tetapi nihil. Aleeya saat rewel sangat mudah tenang jika sudah mendengar suara atau mencium aroma ayahnya. Rasa menyesal karena pergi tanpa Alex mulai menyerangnya. Namun, dia pulang ke Jakarta memang untuk menghindari Alex.


Seorang tetangga yang melihat Ayu, mengajaknya masuk ke rumah. Bu Burhan, begitu orang memanggilnya. Dia juga penghuni lama dalam perumahan itu. Ayu bahkan sekelas dengan anak lelakinya saat SMP dulu. Lelaki yang dulu sempat mengejar cintanya.

__ADS_1


"Ibu sama ayahmu ke mana?" tanya Bu Burhan duduk di samping Ayu


"Ke supermarket, Tante." Ayu menjawab menatap Bu Burhan sekilas karena sedang membantu Aleeya menyusu di botol.


"Kok bayinya diberi sufor? Harusnya bayi itu diberi ASI. Ah, anak muda zaman sekarang, takut tubuhnya kendor. Pasti Caesar, kan?" celoteh Bu Burhan.


Ayu hanya tersenyum. Dia merasa tak perlu menjelaskan. Baginya, pikiran orang tak bisa dipaksakan. Biarkan mereka menerka-nerka hingga lelah. Jujur saja, ini alasan Ayu selalu benci lingkungan orangtuanya. Di sini memang rasa kekeluargaan antar tetangga sangat kuat, tetapi hampir semua saling menghujat di belakang, saling mengurus privasi keluarga yang harusnya tak perlu dicampuri, macam Bu Burhan ini, selalu mengkritik hidup orang lain. Ah, syukurlah Ayu tak jatuh cinta pada putranya. Bisa dia bayangkan jika memiliki mertua macam Bu Burhan, diracun juga lama-lama.


"Usianya berapa?"


"Sudah mau tiga bulan," balas Ayu spontan.


"Wahh, cepat ya lahirnya. Ibumu bilang prematur, ya."


Ayu tersenyum lagi. Aleeya memang lahir lwbih cepat dari perkiraan dokter, tetapi tidak prematur.


"Cantik, pasti mirip ayahnya. Bule," puji Bu Burhan. "Pantas kamu langsung nikah. Lelaki tampan dan kaya sekarang jarang."


Ayu mengeraskan rahang sejenak. Namun, tetap berusaha mengiyakan dan bersikap ramah.


"Untung juga dulu kamu ditinggal pergi sama siapa itu ... Eh ... Arya ... dapat yang lebih sekarang. Untung banyak kamu, kan?"


Ayu mengangguk pelan. Kalau saja Bu Burhan itu tahu bahwa kalau bisa memilih, Ayu akan tetap bersama Arya daripada Alex. Setidaknya, jika bersama Arya, dia tidak perlu sakit hati karena suaminya lebih mencintai perempuan lain.


"Suami kamu mana? Kok bisa-bisanya biarin kamu pulang sendiri sama bayi seperti ini?"


"Lah, sibuk sekali. Padahal, Singapura ke Jakarta tidak jauh. Kalo gini, gimana? Orang tuamu juga, kok anaknya datang malah pergi belanja. Kasian cucunya seperti ini."


"Aku pulang tidak beri kabar, Tan."


"Aduh, kamu ini gimana! Lihatz kasian anakmu. Udah ngantuk begitu."


Ayu tersenyum.


"Isterinya Hafiz juga baru lahiran. Mereka baru saja pulang kemarin," cerita Bu Burhan.


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Ayu dan Bu Burhan.


Dwiki berdiri dengan senyum terbaik di depan pintu, menatap anak dan cucunya yang sedang duduk di sofa. Dia sudah merindukan anak kesayangannya, juga cucu cantiknya.


"Ayah sama Ibu sudah pulang, aku permisi Tante," pamit Ayu mengulas senyum.


"Bu Burha, terimakasih, kasihan cucu saya kalo tidak diajak sama Bu Burhan," ucap Dwiki.


"Namanya juga tetangga, saling bantu. Nanti, biar saya bilang sama ibu-ibu kalau Ayu sudah pulang. Biar ikut menjenguk," kata Bu Burhan.


Ayu langsung menatap ayahnya. Dia akan menjadi topik hangat ibu-ibu di komplek ini.

__ADS_1


Aleeya telah berpindah tangan. Dwiki terus mencium cucunya yang sedang tidur. Arini sudah menegur suaminya berkali-kali, tetapi lelaki itu tidak mau mendengar. Dia sudah menunggu lama untu bersua cucu bontotnya.


"Ah, kapan dia bangun?" tanya Dwiki tak sabar.


"Ayah ini, seperti tidak pernah jaga bayi saja," ketus Arini yang mengatur barang yang baru dibeli.


Ayu membiarkan Aleeya bersama orang tuanya, sedangkan dia naik ke kamar untuk mengatur baju, juga membersihkan diri. Ponselnya berdering dari tadi, panggilan dari Alex sudah belasan kali, tetapi tak digubris.


"Matanya biru, Yu," ujar Dwiki saat mereka sudah makan siang dan Aleeya juga sudah bangun.


"Ibu kan sudah bilang, Yah. Fotonya juga ada," sebut Arini.


"Alex 'kan matanya cokelat. Bisa, ya?"


Ayu mencibir, "dia anak tetangga."


"Mulutmu loh, Yu! Didengar tetangga, nanti dikira beneran."


"Ikut sama kakeknya," ralat Ayu.


"Aku kakeknya." Dwiki menunjuk dirinya.


"Kakeknya yang di Australia," ucap Ayu menggoyangkan jemari Aleeya.


Ayu hanya memperhatikan keluarganya yang tidak bosan bermain dengan Aleeya. Untungnya, bayi itu tidak serewel biasanya. Mungkin dia bisa merasakan bahwa orang-orang itu sangat mencintainya.


Saat Bima dan Dita datang, Ayu memilih untuk bermain dengan Zahra. Tampak Bima begitu menyukai Aleeya, begitupun dengan Pandu. Ayu hanya tersenyum saat Aleeya menangis di gendongan Bima.


"Nah, bayi saja tau kalo kamu itu nyebelin, Mas," sindir Ayu.


"Iya, dari tadi kita main, dia tidak nangis. Sama Lara saja tidak menangis loh," ungkap Ira.


Dita mengambil alih Aleeya. Dia mengajak bayi itu bicara dan menenangkan dengan menimang. Bayi itu langsung diam dan tenang. Tawa di ruang tengah itu meledak, mengejek Bima.


"Kamu pasti sudah memberi sugesti pada keponakanku biar tidak suka sama aku, kan?" todong Bima.


Ayu hanya mencibir.


"Bayi ini itu mirip sama ibunya, mata duitan. Coba beri duit, langsung luluh," saran Pandu.


Bima mengeluarkan lembar seratus dan memberi pada Aleeya. Anak itu menolak.


"Dihh, masa seratus. Coba beri kartu debit yang isinya banyak, pin-nya bisikin sama ibunya, pasti langsung ketawa," ucap Ayu.


Bima menggeleng-geleng dan menowel pipi Aleeya."Kalo besar nanti, jangan kayak ibumu ya, Nak."


Ayu tertawa. Dia suka di sini, bersam keluarganya, tempat di mana dia bisa selalu tertawa dan disayangi. Cinta tanpa khianat. Dia tersenyum, lantas mencium pipi Zahra yang gembul.

__ADS_1


***


__ADS_2