
"Loh, ngapain balik ke sini!" protes Ayu saat mobil Alex berbelok memasuki hotel tempatnya menginap semalam.
"Ada barang yang ketinggalan," jawab Alex.
Tangan Ayu terlipat di depan dada sambil menatap sebal ke arah Alex. "Aku kan tadi bilang bawa aku pulang dulu, dan kamu bisa kembali nginap di sini."
"Untuk apa aku nginap di sini kalo kamu tidak ada," ucap Alex, kemudian memarkirkan mobilnya di slot paling ujung.
"Apa hubungannya denganku, yang bayar kamu, kan!" omel Ayu.
Alex melepas seat belt-nya. Dia mendekatkan wajahnya pada Ayu, membuat perempuan itu memundurkan kepala untuk menjauh dari Alex. Sayang, kepalanya terbentur sandaran jok mobil dan tidak bisa mundur lagi. Wajah Alex semakin mendekat ke arahnya, sehingga dia memutuskan untuk menutup mata.
"Aku kan suamimu," bisik Alex tepat di samping telinga Ayu, "dimana pun kamu berada harus ada aku."
Ayu tertipu lagi, Alex pasti telah melihat wajahnya yang merah, memalukan sekali. Lantaran malu, Ayu baru berani membuka mata setelah mendengar pintu mobil tertutup yang menandakan Alex telah keluar dari mobil. Pintu mobil di sampingnya terbuka, sehingga dia segera memalingkan wajah agar tidak menatap Alex yang membuka pintu untuknya.
"Ayo, Sayang!" ajak Alex agar Ayu segera keluar dari mobil.
Tanpa melihat Alex sedikit pun, Ayu keluar dari mobil. Lantas berjalan dengan cepat sambil berlipat tangan.
"Pelan-pelan!" pinta Alex, "jangan karena dokter bilang janinnya sehat kamu jadi sembrono jalannya."
Ayu berhenti dan melirik Alex tajam. Tangannya yang terlipat diturunkan, kemudian melanjutkan langkah kecil yang sangat pelan.
"Jadi jalannya harus kayak gini?"
Alex menggeram, "ya tidak begitu juga, sih, Yang."
"Ya udah, jangan banyak protes!"
"Bukan protes, tapi perhatian, Sayangku."
Pertikaian kecil mereka terus berlanjut, bahkan sampai mereka memasuki kamar hotel. Keduanya terus bertahan dalam argumen masing-masing
"Kamu banyak alasan, Alex!"
"Kok gitu, aku tadi jelas ngasih perhatian buat kamu, Yang."
"Kata yang kamu pake nggak nunjukin perhatian Alex. Intonasi yang kamu pake juga nggak terdengar ada perhatian sedikit pun. You totally just ask me to do something, which is it means you literally don't care a little bit!" tegas Ayu.
Alex terdiam dan hanya menatap Ayu yang yang terus mengomel.
"Kamu tau nggak pemilihan kata dan intonasi itu bisa membuat orang salah paham?" Tambah Ayu.
Alex terdiam lama sebelum akhirnya mengalah. "Iya, aku salah, maaf ya Sayang!"
Kemudian Alex mendekat pada Ayu. Dia memegang pundak isterinya.
"Sayang, jalannya pelan-pelan, ya, kan lagi hamil!" ralat Alex atas ucapan tadi yang dianggap protes oleh Ayu.
Ayu menghempas tangan Alex yang ada di pundaknya. Lelaki itu sudah sangat sering menjahili Ayu, kejadian di mobil tadi hanya salah satu dari sekian banyaknya kejahilan yang pernah Alex lakukan. Sudah saatnya untuk Ayu membalas sedikit kejahilan lelaki itu.
Ayu membalikkan badan. Dia mengangkat tangan dan mengusap lembut pipi Alex.
"Nah, gitu dong Sayang," ucap Ayu lembut, "kalo ngomongnya gitu, aku kan jadi nurut."
Tangan Ayu terus mengelus rahang Alex, membuat lelaki itu menegang tak bergerak. Sementara Ayu terus tersenyum dan mendekatkan wajahnya di wajah Alex.
Sungguh, apa yang dilakukan oleh Ayu membuat nafas Alex tercekat. Alex bisa merasakan nafas mereka saling berhembus, mata mereka saling menatap, juga bibir mereka yang berjarak sangat dekat.
Lama menatap mata Alex, Ayu semakin mendekatkan wajahnya.
"Kamu cukup menarik saat lagi diam seperti ini," bisik Ayu.
Tidak ingin jatuh jauh dalam permainannya, Ayu segera berbalik dan melangkah menjauh dari Alex yang masih berdiri seperti manekin. Tangan Ayu saling menggenggam di depan dada. Dia masih mengingat bagaimana tadi tubuhnya bereaksi aneh saat mengelus lembut pipi Alex. Rambut wajah yang mulai tumbuh di sepanjang rahang dan wajah lelaki itu membuat dia merasa betisnya meleleh seperti es krim. Harusnya tadi dia yang mengerjai Alex, bukan sebaliknya.
Ayu masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjang sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Tidak, Alex tidak boleh tahu bahwa dia terjatuh ke dalam jebakannya sendiri. Lagipula, kapan lagi dia bisa melihat Alex kalah telak seperti tadi, dan dia puas melihat wajah tak berdaya lelaki itu.
***
Alex masih berdiri dalam diam untuk mengembalikan kesadarannya lagi. Perbuatan Ayu tadi sangat mempengaruhinya. Perempuan itu sudah sangat pasti sengaja mempermainkannya. Sungguh, dia memang sangat suka bermain-main.
Pintu kamar dibuka oleh Alex. Di sana dia mendapati Ayu yang sedang menunduk, sehingga Alex memutuskan untuk berdehem pelan yang membuat perempuan itu segera mendongak.
Tatapan Alex teruss tertuju pada Ayu yang kini sedang tersenyum.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ayu dengan lembut, "sudah kangen,ya?" goda Ayu melanjutkan.
Tentu saja Alex tahu bahwa Ayu sedang mempermainkannya. Namun, Alex suka tatapan itu; suka suara lembut nan manja itu; dan juga panggilan sayang itu. Kalau memang mau bermain, ayo lihat sejauh mana perempuan itu akan melangkah.
Alex melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan Ayu yang sedang duduk. Bisa dia lihat raut gugup di wajah cantik itu.
"Iya, aku kangen," ungkap Alex dengan mata tak terlepas dari mata Ayu. "Apalagi setelah mendapat pesan dari Grace, aku semakin kangen."
Mata Ayu melebar mendengar perkataan Alex. Dokter Gracia benar+benar mengirim jawaban pertanyaan Alex di klinik tadi.
Alex menunduk dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ayu. Spontan Ayu menarik diri dan terus mundur, sampai akhirnya punggungnya menyentuh ranjang. Dia terpojok dan tak bisa apa-apa karena Alex yang memblokir pergerakannya.
Ayu mendorong pundak Alex agar menjauh darinya, "Alex, apaan sih!"
"Ini salah satu cara melepas rindu," ungkap Alex mendekatkan wajahnya.
Dengan cepat Ayu membuang wajah, sehingga yang tampak hanya sebagian wajah dan lehernya. Alex tersenyum geli melihat ekspresi Ayu.
Samar nada dering HP Ayu terdengar. Mata perempuan yang tadi tertutup, terbuka dan menampilkan senyum lega. Akhirnya dia memiliki alasan untuk terbebas dari kungkungan Alex.
"Ada yang nelpon, telepon kantor," ucap Ayu.
"Bisa nanti. Mereka juga pasti mengerti, kan kita pengantin baru."
Ayu mulai membentak, "Alex, minggir!"
Lelaki itu tak bergeming, dia masih menikmati pemandangan di depannya.
"Alex, panggilannya pasti penting, mereka tidak mungkin mengganggu kalo memang tidak penting."
Alex menyerah. Dia bergeser ke samping dan menjatuhkan tubuhnya telentang di ranjang. Sementara, Ayu segera bangkit dan berlari untuk menerima telepon.
Telepon itu dari salah satu manajer toko, Pak Bayu.
"Halo, selamat siang, Pak!" sapa Ayu ramah.
Dari kamar terdengar teriakan Alex. "Cepat selesaikan teleponnya, Sayang! Urusan kita belum selesai!"
Ayu menjauhkan HP dan menggeram pelan karena jengkel dengan teriakan Alex. Lelaki itu sangat menyebalkan, Pak Bayu pasti mendengar teriakannya. Dia mengambil langkah besar menuju kamar dan melotot pada Alex sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir sebagi tanda agar lelaki itu diam.
Raut wajah Ayu langsung berubah serius setelah mendengar permasalahan yang dilaporkan oleh Pak Bayu.
"Bapak tenang saja, urus audit store dulu, biar saya yang urus masalah di rumah sakit,"
Usai mengakhiri panggilan, Ayu menatap ke arah Alex yang sedang mengedipkan satu mata padanya. Mungkin ini juga salah satu cara untuk menghindari lelaki itu.
"Aku harus pergi ke rumah sakit," ungkap Ayu.
"Untuk apa ke rumah sakit?" tanya Alex, "apa perut kamu sakit?"
Ayu menggeleng. "Salah satu crew kecelakaan di perjalanan menuju kerja, aku harus menjenguknya sekarang."
"Kan, ada manajernya, kenapa harus kamu, kan lagi cuti."
__ADS_1
"Toko lagi audit eksternal, Lex. Tidak ada pilihan lain selain aku," kata Ayu, "kalo tidak mau antar, aku bisa pergi sendiri."
Ogah-ogahan, Alex mengangkat tubuhnya meninggalkan ranjang yang empuk.
"Aku antar, Sayang. Aku ini kan supir, bukan suamimu."
Ayu tersenyum. "Nah, akhirnya kamu tahu profesimu yang sebenarnya."
***
Ayu dan Alex menyusuri koridor menuju ruang operasi. Di sana mereka menemui seorang wanita mudah yang sedang berbadan dua ditemani wanita paruh baya. Kedua wanita itu tampak khawatir, bahkan mata wanita berbadan dua tadi sembab.
Ayu mengenal mereka, yang berbadan dua itu adalah Adila, isteri Nanda, lelaki yang sedang berjuang di ruang operasi. Sementara yang satunya lagi adalah ibu Nanda, dia sudah lupa namanya siapa
Ayu memang cukup mengenal Nanda karena dia termasuk orang ramah. Selain itu, dia pernah menjadi anggota tim-nya saat masih menjadi manajer dua tahun yang lalu. Kebetulan, dia juga hadir saat bawahannya itu menikah sehingga bisa berkenalan dengan keluarganya.
"Selamat siang," sapa Ayu.
"Siang." Balas Adila.
Air mata Adila yang tadi telah kering, menetes lagi setelah bertatap muka dengan Ayu. Dia mulai tersedu, membuat Ayu juga tak kuasa menahan tangisnya.
"Tenang saja, Nanda pasti akan baik-baik saja." Ayu terus menenangkan Adila.
Adila sedikit lebih tenang setelah Ayu mulai merangkul dan menepuk-nepuk pundaknya. Sementara, Alex duduk di kursi tunggu menyaksikan dua perempuan itu.
Ayu menuntun Adila untuk duduk, dia duduk tepat di samping Alex.
"Sudah berapa bulan?" tanya Alex ramah setelah melihat Adila sudah siap untuk berbicara.
"Delapan bulan," jawab Adila.
"Papanya pasti akan berjuang untuk melihatnya lahir," hibur Alex sambil menatap perut buncit Adila.
Adila tersenyum dan mulai bersemangat.
"Ibu mau kemana?" Adila bertanya pada mertuanya yang sedang bersiap untuk pergi.
"Mau urus dokumen, tadi susternya datang," jawab Ibu itu.
Adila bangkit meskipun sedikit kesusahan. Alex yang melihatnya langsung membantu perempuan berbadan dua itu.
"Terimakasih," ucap Adila, lantas dia beralih pada mertuanya, "biar aku saja, Bu."
"Tidak apa-apa, Bu. Aku yang temani Adila." Ayu ikut membantu setelah melihat wajah lelah dan khawatir ibu Nanda.
Ayu dan Adila melangkah menuju ruang administrasi. Di sana mereka mengurus beberapa dokumen, termasuk dokumen operasi dan berkas perawatan pasien BPJS.
"Ruang perawatannya ditingkatkan ke kelas satu ya, Dila. Biar nanti tambahan biayanya aku yang bayar, boleh kan?" Ayu menawarkan yang langsung dibalas senyuman dan ucapan terimakasih oleh Adila.
"Sudah USG?" tanya Ayu sambil mengelus perut Adila.
Perut Ayu akan membesar seperti itu juga. Dia juga bisa merasakan tendangan kaki mungil bayinya seperti yang dituturkan oleh Adila tadi.
"Sudah," jawab Adila, "hasil USG-nya cowok, tapi nggak tau nanti kalo lahir."
"Jangan terlalu banyak pikiran, ya. Kamu harus yakin Nanda akan baik-baik saja."
Adila mengangguk dan tersenyum lagi.
Saat mereka tiba di depan ruang operasi, hanya ada ibu Nanda yang sedang duduk. Ayu menatap ke sana-sini dan tidak mendapati Alex. Ke mana lagi perginya lelaki itu.
Karena tidak menemukan Alex, Ayu ikut duduk lagi bersama Adila. Mereka berbincang cukup lama, mengenai masa kehamilan Adila. Ayu merasa harus lebih banyak belajar lagi apa yang harus dan yang tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil.
***
Alex sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan Bu Nur sendirian lebih lama. Namun, setelah selesai dengan urusannya di bilik toilet, Alex bertemu dengan Arya. Awalnya, dia tidak memperhatikan Arya, setelah disapa oleh lelaki itu Alex tertahan.
"Kamu suaminya Ayu, kan?" tanya Arya.
Alex mengangguk. "Oh, kamu Arya, teman Ayu tempo hari."
Kali ini Arya yang mengangguk.
"Siapa yang di rumah sakit?"
Alex bisa melihat wajah khawatir Arya. Setelah meninggalkan Ayu di hati pernikahan mereka, lelaki itu ternyata masih bisa khawatir.
"Kenalan Ayu, kami hanya sedang menjenguk."
"Oh, jadi Ayu juga datang?"
"Ya, tentu saja. Kami pengantin baru, kemana-mana pasti selalu bareng." Dengan sengaja Alex mempertegas kata pengantin baru untuk memanas-manasi Arya. Karena sejauh yang dilihat oleh Alex, lelaki di hadapannya itu masih menyisakan rasa pada Ayu.
"Kamu sendiri, apa menjenguk teman juga?"
Arya menggeleng. "Tidak, bukan teman. Ibuku."
"Semoga beliau cepat pulih," ucap Alex tulus
Arya mengangguk dan berterimakasih.
"Sebenarnya semalam kami mengadakan resepsi. Sayang sekali aku tidak meminta nomor teleponmu malam itu, jadi tidak bisa mengundang." Alex menambahkan untuk semakin membuat kesal Arya. Sedikit pembalasan dendam karena dia telah membuat Ayu menangis dulu.
"Aku tidak mungkin bisa hadir di pesta yang dikhususkan untuk keluarga, kami tidak sedekat itu," ucap Arya dengan senyum tipis.
Alex tersenyum di depan Arya, namun dalam hati dia mencibir lelaki yang sangat tak piawai ber-akting itu
"Oh, ya?" tanya Alex sedikit heran, "padahal malam itu Ayu bilang dia cukup dekat dengan kamu. Katanya kamu lelaki yang baik dan peduli, beberapa pujian yang hampir membuatku cemburu kalau tidak mengingat kalian dulu hanya teman."
Ah, mengerjai Ayu sebenarnya lebih menyenangkan daripada mengerjai Arya. Hanya saja, dia masih belum bisa terima kenyataan bahwa lelaki itu pernah melukai hati Ayu yang tulus. Terlepas Arya baik atau tidak, tetap saja dia pengecut yang Tidka bertanggung jawab.
Arya mulai gelagapan. "O-oh iya, sepertinya kami teman yang cukup baik dulu. Sudah cukup lama, aku agak lupa."
"Bukannya baru dua tahun lalu kalian hilang kontak?" tanya Alex dengan wajah pura-pura polos.
Curiga sedang dipermainkan, Arya menatap tajam ke arah Alex. "Apa Ayu bilang seperti itu, atau kamu mengarangnya."
Pura-pura bodoh memang keahlian Alex, dia lihai dalam hal itu. "Maksudnya apa?"
Arya mendengus kesal. "Aku mantan pacar Ayu."
Alex tersenyum, rasanya dia ingin tertawa keras di depan Arya. Dia sudah menunggu lelaki itu mengaku dengan sendirinya.
"Aku harus berterimakasih kalo begitu," ucap Alex dengan wajah tenangnya.
Bisa Alex lihat kerutan di kening lelaki di hadapannya.
"Terimakasih karena meninggalkan Ayu, sehingga aku bisa menikahinya."
Arya hanya terdiam dan menatap Alex dengan sorot permusuhan.
"Permisi!" pamit Alex meski tidak direspon oleh Arya sama sekali.
Alex kembali ke depan ruang operasi, dia menatap jam tangan dan Ayu bergantian. Dia sudah menyiapkan makan malam romantis untuk Ayu, tetapi, Ayu tampak asyik berbincang dengan Adila.
Ayu sesekali mengusap perut Adila. Dari sorot mata perempuan itu, sangat jelas dia tidak sabar perutnya membuncit seperti itu.
"Kami dari mana?" ucap Ayu tanpa suara pada Alex.
__ADS_1
"Maaf, tadi ketemu kenalan di depan toilet, jadi ngobrol dulu."
Alex menatap jam tangannya lagi. Sudah jam 6, kalau pulang sekarang tentu dia tidak akan terlambat untuk makan malam yang telah dia rencanakan. Dia menaikkan satu alis pada Ayu berharap perempuan itu mengerti bahwa dia ingin pulang sekarang.
Ayu yang tidak mengerti hanya mengerutkan kening. Kali ini Alex memukul-mukul pelan jam tangannya sambil menatap Ayu.
Setelah mengerti dengan kode yang diberikan oleh Alex, Ayu segera berdiri dan mendekat ke arah lelaki itu.
"Dompet kamu!" minta Ayu sambil mengangkat telapak tangannya pada Alex.
"Ini!" Alex menyodorkan dompetnya, meski tidak tahu akan diapakan oleh Ayu.
Kening Ayu mengerut melihat jumlah uang di dompet Alex.
"Hanya ini!" keluh Ayu, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan rupiah.
Ayu membalik dompet Alex dan menemukan beberapa lembar uang seratus dolar Singapura. Sebenarnya selembar uang ini sudah cukup, tapi apa itu sopan.
"Kenapa yang rupiahnya sedikit sekali, Lex!" Ayu tidak berhenti mengeluh.
"Aku lebih senang bayar pake kartu," jawab Alex dengan tangan ingin meraih dompetnya, namun tidak dibiarkan oleh Ayu.
"Okay, aku ambil yang ini satu lembar juga." Ayu meraih yang berwarna jingga dan semua uang rupiah Alex. Tidak hanya itu, dia meraih dompetnya dan memasukkan uang Singapura tadi dan menggantinya dengan beberapa lembar uang dari dompetnya sendiri.
"Nah, kan, udah cukup."
Selesai dengan urusan uangnya, Ayu kembali mendekat pada Adila.
"Aku pamit, yah!" ucap Ayu.
"Iya, Bu." Balas Adila berusaha berdiri namun ditahan oleh Ayu, karena dia tampak kesusahan dengan perut buncitnya.
"Ini, buat kamu. Jangan liat jumlahnya, ya." Ayu menyodorkan uang tadi pada Adila.
"Ya, ampun, tidak usah, Bu," tolak Adila lantaran merasa tak enak.
"Eh, ini rezeki calon anak kamu," kata Ayu memaksa.
Meski dengan wajah sungkan Adila mengambil uang itu. Ayu tahu dia pasti sangat butuh uang untuk persalinannya nanti.
"Pak Bayu sebentar datang setelah audit di toko selesai," kata Ayu lagi, "untuk tambahan pembayaran biar nanti saya infokan sama Pak Bayu, ya."
Adila mengangguk. "Iya, Bu. Terimakasih."
"Semangat, yang kuat buat anak kamu!" Ayu memberi semangat pada Adila.
Setelah memberi pelukan hangat pada ibu hamil itu, Ayu kembali pada Alex yang masih menatap Ayu dengan senyum.
"Jadi, kami berbuat baik atas namamu dengan uangku?" sindir Alex setelah menerima dompetnya kembali.
"Uang suami itu uang isteri jua, Alex!"
"Wah, kalo masalah uang kamu memgakuiku sebagai suami, Sayang."
Mata Ayu melotot pada Alex, tangannya langsung melayang ke bahu Alex. "Pelit!"
Alex meringis, meskipun pukulan Ayu sama sekali sakit. "Ini KDRT, Sayang."
Bukannya berhenti, Ayu malah memukul bahu Alex lagi. "Siapa suruh pelit."
"Pelit?" tanya Alex tak terima, "aku sudah beli mobil baru buat kamu, semalam saja aku habis banyak untuk resepsi kita."
Mereka terus berdebat sepanjang menyusuri koridor rumah sakit. Tentu saja mereka tidak bersungguh-sungguh. Alex sama sekali tidak memusingkan soal uangnya, dia hanya senang berdebat kecil dengan Ayu, seperti sekarang.
"Kan salah kamu juga," ketus Ayu, "siapa suruh menikah sama aku."
Alex tertawa kecil melihat bibir manyun Ayu. Dia mencubit pipi Ayu dengan gemas.
"Alex, malu dilihat orang!" protes Ayu dan dengan cepat melepas tangan Alex dari pipinya.
"Biarin," ujar Alex tak peduli.
Ayu hanya menggeleng dan memilih membiarkan Alex. Mereka keluar dari pintu rumah sakit dan berjalan menuju pelataran parkir.
"Kamu delta dengan Ibunya Arya, dulu?" tanya Alex saat mereka telah memasuki mobil.
Ayu mengangguk. "Sangat dekat, kayak ibu dan anak."
Alex memegang setir, namun tidak menyalakan mesin mobil. Dia tidak ingin melakukan ini, kejutan yang dia buat untuk Ayu Pati sudah siap. Namun, hati kecil Alex merasa harus menyampaikan mengenai keadaan ibunya Arya.
"Dia dirawat di sini," ungkap Alex.
Ayu mengerutkan kening. "Siapa?"
"Mantan calon ibu mertuamu," jawab Alex, "aku tadi sempat ketemu Arya di toilet."
"Kenapa baru hilang sekarang," ucap Ayu.
Ayu melepas seatbelt-nya dan keluar dari mobil. Sejenak Alex hanya bisa menatap isterinya yang semakin menjauh. Seharusnya dia tidak udah memberitahu Ayu sama sekali. Mau tidak mau, dia segera keluar dari mobil dan mengikuti langkah Ayu yang tadi sempat bertanya di resepsionis.
Tante Arum, begitu panggilan Ayu pada ibunya Arya. Dia sangat dekat dengannya, bahkan lebih dekat dari ibunya sendiri. Tante Arum sosok penyayang dan perhatian, sehingga dia senang bermanja-manja dengannya.
Mendengar Arum sakit, membuat Ayu merasa perlu untuk menjenguk. Apa pun yang terjadi dengannya dan Arya di masa lalu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Arum.
Kaki Ayu berhenti setelah melihat seorang lelaki dan perempuan berdiri di depan pintu kamar rawat. Itu Atau, dan perempuan di depannya, pasti isterinya.
Arya memeluk sebentar perempuan di depannya dan memberinya kecupan di pipi, sebelum perempuan itu pergi dan melambaikan tangan pada Arya. Perempuan itu melangkah mendekat ke arah Ayu, dia tersenyum dengan ramah pada Ayu.
Dengan rasa sesak di dadanya, Ayu membalas senyum perempuan yang berhasil menggantikan posisinya di jati Arya. Perempuan itu cantik, dan jelas sangat ramah karena dia selalu tersenyum hangat pada siapapun, termasuk pada Ayu yang tak dikenalnya sama sekali.
Perasaan apa yang Ayu rasakan sekarang? Dia cemburu, sakit hati yang dia sangka telah menghilang, muncul lagi melihat pemandangan tadi. Seharusnya dia yang ada di sana, bukan perempuan tadi.
Sakit itu masih setia menemani Ayu. Luka yang dia sangka telah mengering, basah kembali.
Ayu berbalik ke samping setelah merasakan elegan lembut di pundaknya. Melihat Alex di sampingnya sama sekali tidak menenangkan hatinya, justru dia ingin segera menghambur di peluk lelaki itu dan menangis. Dia terus menatap Alex dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"It's okay, aku di sini, Ayu!" Alex mengelus pundak Ayu lagi, berharap perempuan itu akan lebih kuat.
Mereka melangkah bersama menuju Arya yang sedang menatap mereka dari kejauhan.
"Aku mau jenguk Tante Arum, boleh?" tanya Ayu sedikit ragu.
Arya tersenyum dan mengangguk. "Ya, silahkan."
Arya membuka pintu kamar rawat dan mempersilahkan Ayu dan Alex masuk.
Saat masuk Ayu melihat Arum terbaring lemah di ranjang dengan selang cairan di tangannya.
"A-Ayu," ucap Arum lemah.
Arum, perempuan kedua yang sangat disayangi Ayu. Perempuan yang membuat dia kagum dengan ketangguhannya membesarkan Arya sendiri. Perempuan yang pernah dia dambakan sebagai ibu mertua.
***
UP pertama di bulan Ramadhan. Semoga kalian suka, ya 😊
Sebenarnya mau update lebih cepat, tapi lagi ikut event cerbung di penerbit LoveRinz, jadi fokus nulis di sana dulu.
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan. Terus semangat meskipun covid-19 masih jadi momok, gunakan waktu luang dengan memperbanyak ibadah dan ini kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga. Terimakasih 😊💜
__ADS_1