Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Extra Chapter: Ayu's Birthday


__ADS_3

Note: Ini filler scene, ya. Jadi, cerita di part ini adalah saat Ayu masih hamil Aleeya dan bukan sambungan part sebelumnya.


*.*.*.


Alex sudah memasang pengingat di ponselnya. Ia tidak mau hari istimewa Ayu terlewat. Terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan mengurus ibu hamil manja membuat ia sering lupa, bahkan hal kecil. Inilah kenapa seseorang tidak boleh multitasking, otak bisa cepat rusak.


Tanggal 27 Januari adalah ulang tahun Ayu, beda sebulan dengan ulang tahun Alex, 23 Februari. Mengingat perut Ayu yang sudah membuncit di usia tujuh bulan, Alex tidak mungkin membawa Ayu berlibur.


Untuk merayakan ulang tahun Ayu lima hari lagi, Alex sudah memesan tempat di Ce La Vi dua bulan yang lalu. Ia mau tempat itu kosong. Begitupun dengan Sky Deck Observation, tempat itu akan disulap menjadi tempat istimewa. Tidak mudah melobi manajemen gedung yang sangat terkenal itu, untung saja ia berteman dengan Jonny, crazy rich Asian yang sesungguhnya.


Ulang tahun Ayu harus ia rayakan dengan manis, romantis, dan mewah. Oleh karena itu, saat puncak perayaan, Alex menyiapkan kembang api sebagai ucapan ulang tahun di udara. Selain itu, akan ada laser show air mancur. Di teluk Marina akan muncul ucapan cinta pada Ayu.


Semua sudah direncanakan dengan sangat matang oleh tim yang dipilih khusus oleh Alex. Ulang tahun pertama Ayu sebagai istrinya harus berkesan, hingga tidak akan terlupakan oleh istrinya itu.


Hanya satu yang Alex bingung. Ia tidak tahu kado apa yang harus ia berikan. Kejutan yang telah ia rencanakan hanya perayaan. Highlight ulang tahun adalah kado, tetapi ia tidak tahu harus memberikan apa. Ia sudah mencoba memikirkan hal yang mungkin disukai oleh Ayu, dan belum dapat hasil apa-apa.


"Sayang!" panggil Alex dengan mata berbinar. Namun, yang dipanggil justru memasang wajah cemberut. Dari kemarin, wajah Ayu memang selalu ditekuk. Bukan hal baru lagi bagi Alex. Istrinya itu memang lebih sering jutek daripada manis, tetapi mau diapakan juga, Ayu tetap cantik.


"Mau makan apa?" tanya Alex sudah siap untuk memasak. Pulang lebih awal adalah hal yang sudah Alex lakoni sejak menikah. Kandungan Ayu yang sudah tua, membuat Alex semakin ingin cepat pulang.


Ayu tidak menjawab. Perempuan itu bersedekap dengan bibir dimonyongkan. Matanya sesekali memicing menatap Alex, membuat lelaki itu bertanya-tanya. Alex sudah memutar balik otaknya untuk mencari hal yang memungkinkan Ayu marah. Namun, sekeras apa pun berpikir, ia tidak menemukan satu alasan pun. Mungkin saja karena hormon ibu hamil yang memang tidak stabil.


Untuk makan malam, Alex memasak Garlic Butter Baked Salmon. Tidak lupa nasi merah, mengingat Ayu tidak bisa makan tanpa nasi. Untuk dirinya sendiri, ia buat mashed potato cheese. Bagaimana pun mencoba, Alex tidak suka nasi. Mungkin karena sejak kecil ia tidak dibiasakan oleh ibunya.


Ayu mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Sudah lima menit, tetapi ia belum menyuap sekali pun. Alex yang bermaksud menyendok makanan, meletakkan sendok ke piring.


"Kok, tidak dimakan. Tidak enak, ya?"


Ayu mencebik. Ia hanya melirik sekilas pada Alex, lalu membuang muka dengan sebal.


"Kata Bu Ina, kamu cuma makan sedikit tadi."


Ayu masih diam. Pagi tadi, senyum Ayu masih mengembang, bahkan terus mengekor pada Alex saat lelaki itu hendak ke kantor. Alex masih ingat, ia sempat memeluk dan mengecup kening Ayu. Saat di kantor pun, ia menelepon Ayu. Suasana hati ibu hamil memang sangat membingungkan.


"Sini, aku suap." Alex menggeser kursinya lebih dekat pada Ayu. Ia mengambil alih sendok dari tangan istrinya itu. Saat mulai menyodorkan makanan, bibir Ayu mengatup keras.


Senyum terpaksa dipasang oleh Alex. Sudah berkali-kali ia berkata pada diri sendiri untuk sabar. Semoga stok sabarnya masih ada, hingga ia bisa mengatasi tingkah kekanakan Ayu. Ya, ia harus ingat bahwa perempuan itu sedang hamil, wajar jika tingkahnya aneh.


"Sedikit aja, Sayang. Kasihan baby-nya kalo kelaparan," bujuk Alex.


Mendengar bayinya disebut oleh Alex, Ayu menurunkan egonya. Ia mengambil sendok di tangan Alex kasar, hingga makanan di sendok itu berhamburan, ada yang jatuh di piring, ada juga sedikit di meja.

__ADS_1


"Ada apa?" Alex mengelus rambut Ayu, tetapi perempuan itu langsung menjauhkan kepalanya.


Setelah makan malam yang dingin itu, Ayu bersantai di sofa tepat depan teve. Tempat favoritnya. Tidak seperti biasa, ia hanya terus menekan-nekan tombol remot. Sepertinya tidak ada satu siaran pun yang menarik baginya.


Alex ada di ruang kerjanya, ia berniat untuk bersantai di sana. Lebih baik membiarkan Ayu tenang sendiri. Ia tidak mau justru membuat mood perempuan itu semakin hancur. Ia sudah berusaha memberikan perhatian yang lebih, tetapi sepertinya Ayu ingin sendiri dulu.


Nama di ponselnya yang berdering membuat Alex mengerutkan kening. Setelah sekian lama, itu kali pertamanya menerima panggilan dari Tamara lagi.


"Ayu ada?" tanya Tamara.


"Iya, dia lagi nonton."


"Kado yang aku kirim sudah sampai, kan? Aku nggak sempat ke sana, lagi sibuk."


Alex menyandarkan kepala di kursi. Satu alisnya terangkat. "Kado apa?"


"Tentu saja kado ulang tahun." Jawaban Tamara membuat mata Alex membesar.


"Ah, kado u-ulang tahun." Alex pura-pura mengerti.


"Iya, aku udah hubungi, tapi tidak aktif."


Alex memukul-mukulkan kepala di meja. Pantas saja dari tadi Ayu memasang wajah cemberut. Ia mengangkat kepala, mulai menyusuri story media sosial keluarga dan teman dekat Ayu. Mereka semua memasang foto beserta ucapan ulang tahun untuk perempuan itu.


Sudah malam, ulang tahun Ayu tersisa beberapa jam lagi. Alex tidak tahu hadiah apa yang mungkin akan berkesan untuk perempuan itu. Ia masuk ke dalam kamar, mondar-mandir sambil berpikir. Saat ia masuk ke dalam walk in-closet, matanya langsung tertuju pada kotak cokelat dengan pita di atasnya.


Alex meraih kotak itu, membuka pitanya. Setelah berganti pakaian dengan tuksedo putih, ia mengikat pita dari leher hingga puncak kepalanya. Sudah Alex putuskan, hadiah terbaik untuk Ayu adalah dirinya sendiri.


Pelan, Alex melangkah menuju ruang tengah, tempat Ayu sedang menonton. Lelaki itu berdiri tepat di depan teve.


"Surprise!" teriak Alex heboh, tangannya membuka lebar.


Tanpa menatap Alex, Ayu menggoyangkan tangan di udara sebagai tanda agar lelaki itu menyingkir. Perempuan itu sudah tidak mau peduli lagi. Ia lebih memilih menonton aksi Tom Cruise di  salah satu film waralabanya.


"Sayang, happy birthday!" ucap Alex, lelaki itu meletakkan kedua tangannya di pipi. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri, berusaha bertingkah imut.


Ayu yang mendongak menatap Alex, mengatupkan bibirnya.


"I give you a best present ever. A handsome, rich, lovely and cutest man ... Me." Alex menjabarkan dirinya dengan tangan yang masih setia di pipi. Matanya berkedip-kedip.


Senyum mulai muncul di wajah Ayu. Menurutnya, postur tubuh dan perawakan Alex tidak cocok bertingkah imut seperti itu.

__ADS_1


"Open the present, Sayang!" pinta Alex, ia berlutut di depan sofa tempat Ayu duduk. Perempuan itu susah bergerak karena perutnya yang sudah membesar.


Ayu menarik pita dari kepala Alex.  Pita itu terlepas, menciptakan senyum di wajah kedua orang itu.


Alex duduk pada kursi di depan pianonya. Ia memainkan lagu selamat ulang tahun dengan kepala yang bergoyang-goyang. Alex juga memainkan salah satu karya Paul De Seneville, Ballade pour Adeline.


"Bagus sekali," puji Ayu di sela-sela permainan Alex. Kepala dan tangannya bergoyang hanyut dalam simfoni yang dimainkan. "Melodinya seperti menggambarkan harapan dan doa untuk seseorang. Ada kebahagiaan dan kasih yang manis." Ia menilai.


Jemari Alex berhenti. Tatapannya tertuju pada Ayu. "Ini diciptakan Paul De Seneville untuk anak perempuannya yang baru lahir."


"Wah, interpretasi perasaannya tertuang sempurna," puji Ayu. Ia berdecak kagum, pada pencipta, juga pada Alex yang lihai menekan tuts.


"Kamu terdengar seperti kritikus musik, Sayang," puji Alex. "Mau request?"


Ayu berpikir sejenak. Ia tidak tahu satu judul musik klasik pun. Meminta Alex memainkan lagu populer, bukan ide yang bagus menurutnya.


"Lagu ini, nananana nanana, nana nana nana," senandung Ayu, terlihat lucu hingga Alex tertawa.


"Yang ini?" Alex memainkan piano, dan dijawab anggukan oleh Ayu. "Kamu sangat suka Beethoven, ya? Dulu Moonlight Sonata, sekarang Fur Elise."


Ayu menggeleng-geleng, mengaku bahwa ia bahkan tidak tahu bahwa lagu itu milik Beethoven. Seperti Moonlight Sonata, lagi itu juga ia dengar di soundtrack film horor.


"Dengar sampai habis, biar kamu tau kalau lagu ini tidak ada horornya sedikit pun." Alex mulai memainkan lagu itu. Jemarinya menari, diikuti oleh kepalanya yang bergoyang menikmati setiap alunan melodi.


"Oh, di bagian kedua memang beda. Di awal memang terdengar tragis, tetapi aku merasa seperti di taman bunga mendengar lagu ini," ungkap Ayu saat itu, "seperti seseorang yang senang menatap wajah orang yang dicintainya." Ia terus mengungkapkan bahwa ia seakan terpana oleh cinta yang dalam milik Beethoven.


"Kamu tau, Beethoven ini tuli. Tapi, semua gubahannya keren dan punya rasa yang dalam," jelas Alex.


Ayu tidak tertarik dengan kisah Beethoven sebenarnya. Ia hanya terlalu senang melihat Alex yang begitu semangat menjelaskan dan bermain.


Alex berdiri, lalu berjalan menuju Ayu. Ia duduk dan memeluk perempuan itu, mengucapkan selamat ulang tahun untuk ke sekian kalinya.


"Tapi Sayang, kenapa ulang tahunmu di KTP beda?" Hal itu ingin ditanyakan Alex dari tadi. Ia hanya menunggu saat yang tepat, agar Ayu tidak marah.


"Ah, itu salah petugas TU di sekolah sebenarnya. Karena ijazah dan raport tanggal 27, udah pake itu saja. Kata ibu, mau tanggal berapa sama aja."


Alex tertawa, antara menertawai cerita Ayu, atau dirinya sendiri. Padahal, kejutan indah itu sudah ia persiapkan. Sepertinya, ulang tahun Ayu harus dirayakan dua kali tahun ini.


*.*.*.


Saya sebenarnya menambahkan sedikit komedi di part ini, tapi gak tau lucu atau garing 🤦

__ADS_1


Season 1 harusnya berakhir di chapter ini. Saya sebelumnya pernah berhenti menulis lanjutan cerita Triple A di sini. Sebab merasa agak rugi, tapi mengecewakan pembaca tentu bukan hal yang baik. itu kenapa saya melanjutkan penulisan cerita ini. tapi, memang, season 2 tidak akan saya posting di sini, karena tidak mau terikat kontrak yang bagi saya sangat merugikan. jadi, part selanjutnya adalah part terakhir yang saya buat khusus untuk pembaca di sini. Terima kasih sudah mengikuti cerita biasa yang penulisnya bukan apa-apa.


see ya on the las chapter, lopyu


__ADS_2