
Menurut dokter, agar mudah melahirkan secara normal, Ayu harus banyak bergerak. Dia pun memutuskan untuk berjalan di taman lingkungan gedung apartemen setiap pagi ditemani oleh Alex sebelum lelaki itu berangkat bekerja.
Hari pertama, hanya satu putaran. Kini, di Minggu kedua, dia sudah berjalan tiga putaran. Itu pun harus dipaksa oleh Alex. Itu batasan tertinggi yang dipasang oleh Alex, karena takut justru akan membuat Ayu kelelahan dan kandungannya terganggu.
Alex berlari kecil mendahului Ayu. Dia terus menyemangati perempuan yang perutnya membuncit.
"Ayo sayang, tinggal beberapa meter lagi!"
Ayu berhenti berjalan dan bertolak pinggang. Napasnya tersengal-sengal, pengaruh hamil juga lelah berjalan jauh.
"Capek," keluh Ayu yang sudah berkeringat. Alex berlari kembali menuju Ayu. Dia merangkul pundak Ayu dan tersenyum. "Mau digendong?"
Ayu memajukan bibirnya, lantas menyandarkan kepala di pundak Alex. Dia tidak peduli ada beberapa orang di lintasan itu yang mungkin memperhatikan mereka. Lagipula, dia yakin tidak akan ada yang peduli.
"Pokoknya, besok aku tidak mau pergi lagi!" protes Ayu. "Kamu enak, bayangin aja gimana susahnya jalan dengan perut gede kayak gini," omel Ayu saat mereka mulai masuk ke dalam gedung apartemen.
"Ini itu untuk kamu juga, katanya mau lahiran normal, takut di SC," sebut Alex yang masih setia menggandeng tangan Ayu memasuki lift.
"Tidak setiap hari juga, Sayang," rengek Ayu. "Coba kamu yang rasa, beratnya bawa bayi di dalam perut gimana!"
Alex memberi senyum sambil menunduk sekilas pada seorang lelaki paruh baya di dalam lift. Dia mengusap punggung tangan Ayu yang berada di genggamannya. "Iya, besok istirahat. Lanjut lusa lagi."
Setelah sampai di unit mereka, Ayu membiarkan keringatnya mengering. Dia masuk ke dalam kamar mandi, sementara Alex memotong buah untuknya.
Siulan pelan lolos dari mulut Alex yang sedang menuang plain yogurt pada salad buahnya. Dia juga memarut keju karena Ayu sangat menyukai keju, dia juga suka ... suka Ayu.
"Aku udah siapin salad di meja, kamu makan dulu," pinta Alex saat dia sudah akan masuk ke kamar mandi menggantikan tempat Ayu.
Ayu mengangguk dan langsung memeluk Alex yang hanya mengenakan celana dan handuk yang tergantung di leher.
"Aku masih keringatan loh, Sayang." Alex mengusap rambut Ayu.
"Aku suka, harum dan segar."
Alex terkekeh. "Aku tidak usah mandi kalau begitu."
Ayu mengangguk. "Ia, kamu bau kalo sudah mandi."
"Nanti aku gatal, bentolan, kamu mau tidur sama aku?"
"Emoh, kamu mandi aja kalau begitu," tukas Ayu yang langsung berjinjit mencium pipi Alex.
Saat Ayu mencuci piring tempat salad yang sudah ia habiskan, Alex muncul dengan hanya mengenakan celana pendek biru bergaris putih dengan merek dua huruf 'G' yang saling bertautan. Di pundak lelaki itu ada baju kaos putih.
"Kenapa dicuci, biar aku aja, Sayang," pungkas Alex yang sudah berdiri di belakang Ayu.
"Kamu mau langsung sarapan?" tanya Alex.
"Mau pancake," pinta Ayu.
"Siap, Nona Manis." Alex mencubit ujung dagu Ayu sebelum mulai meraih kotak premix pancake di kabinet di atas oven.
Tangan Alex sibuk mengaduk adonan, lantas mulai memanaskan pemanggang di atas kompor listriknya. Dia sesekali mengedip pada Ayu yang sedang duduk menunggu diberi makan.
"Mau pake sirup mapel atau madu?" tanya Alex yang sudah membuat empat pancake di dua piring berbeda.
"Mau pake ice cream," rengek Ayu.
Alex melangkah menuju kulkas dan meriah sekotak es krim rasa vanila dan mengambik satu scoop untuk pancake Ayu. Di atas es krim itu dia tambahkan topping cokelat.
"Pancake spesial buat isteriku sayang." Alex keluar dari area dapur menuju tempat duduk Ayu dan menyajikan pancake langsung di depan Ayu.
"Suap!" rengek Ayu lagi dengan manja.
__ADS_1
Menolak? Tentu saja tidak. Kalau hanya untuk menyuap, Alex bisa melakukannya setiap kali Ayu meminta. Dia tersenyum dengan tangan berkutat pada alat makan yang kemudian dia sodorkan pada mulut Ayu. Sesekali di juga melahap potongan pancake itu.
Seusai menghabiskan sarapan, mereka duduk dengan kegiatan masing-masing. Alex dengan bukunya dan Ayu yang asyik menonton.
"Sayang, mau dengar satu lagu?" tawar Alex yang sudah melepas kacamata dan bukunya di meja.
"Boleh."
"Duduk saja di sini!" Alex berjalan menuju pianonya. Dia duduk di sana dan membuka tutup yang menutupi setiap tuts.
Melodi indah yang manis mulai terdengar saat tangan Alex mandi di atas piano. Lelaki itu sesekali menatap pada Ayu yang duduk di sofa. Suara lembutnya pun mulai mengalun menyanyikan lagu Jhon Legend yang berjudul Ordinary People.
Girl, I'm in love with you
This ain't the honeymoon
Passed the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
Seems like we argue everyday
Lagu ini dinyanyikan Alex untuk Ayu, bahwa mungkin mereka akan memiliki pertentangan dalam pernikahan mereka. Saat usia pernikahan mereka semakin menua, mungkin akan ada titik jenuh dan rasa bosan.
I know I misbehaved and you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
Mata Alex terus tertuju pada Ayu yang juga menatapnya, meski tangannya masih menekan tuts demi tuts. Dia ingin Ayu menatap matanya-- melihat kesungguhan dalam setiap lirik yang ia nyanyikan. Dia ingin Ayu tahu bahwa terkadang akan ada kesalahan, tetapi dia ingin meyakinkan bahwa pernikahan bukanlah kisah dongeng--melainkan sebuah tempat untuk saling berkembang dan tumbuh bersama.
Meski nanti mereka akan saling menyakiti, bagi Alex Ayu tetap yang utama. Dia akan selalu berusaha untuk memperbaiki segalanya.
We're just ordinary people
We don't know which way to go
'Cause we're ordinary people
Maybe we should take it slow
Take it slow, ohh
This time we'll take it slow
Take it slow, ohh
Ayu tersenyum mendengar dan melihat bagaimana tatapan Alex tertuju padanya. Dia begitu menikmati setiap kata yang dinyanyikan oleh lelaki yang mainkan piano itu. Benar, mereka memang hanya manusia biasa yang masih kadang kebingungan harus menuju arah yang mana. Mereka manusia biasa, maka dari itu tak harus terburu-buru. Cukup melangkah pelan mengarungi bahtera rumah tangga.
***
"Sayang, memangnya aku harus pergi?" Ayu sudah selesai berganti pakaian dengan sebuah gaun berwarna dusty pink.
"Iya, harus. Ini acara kantor, sekalian buat mengenalkan kamu," jawab Alex yang sedang memperbaiki letak dasi kupu-kupunya.
Ayu mengusap perutnya. Dia sebenarnya suka menghadiri pesta, tetapi dengan perutnya seperti sekarang, dia malu. Selain itu, dia juga sudah mulai kesusahan saat berjalan, maksudnya malas berjalan.
"Kita tidak akan lama. Tidak enak kalau aku tidak datang," sebut Alex lantas mendaratkan kecupan di kening Ayu.
__ADS_1
Ayu terpaksa mengalah. Dia tidak ingin mengeluh akan kandungannya. Dia tidak mau Alex salah sangka dan menganggapnya tidak menyayangi calon anak mereka. Dia meraih mini clutch yang baru dia beli yang berwarna senada dengan gaunnya.
Alex tidak pernah melepas tangan Ayu saat mereka sudah turun dari mobil. Pesta itu diadakan di sebuah ballroom hotel yang dihadiri oleh petinggi perusahaan dan klien-klien besarnya. Pesta ulang tahun perusahaan, di sana dia akan memberi kata sambutan singkat.
Mereka mulai memasuki hall venue yang diadakan. Alex disambut beberapa rekan kerjanya. Dia ikut bergabung dengan beberapa orang yang mengenakan tuksedo hitam, di tangan mereka ada gelas yang berisi minuman.
Ayu hanya sesekali mengulas senyum ramah pada lelaki-lelaki yang beberapa di antara mereka mungkin seusia ayahnya. Dia merasa sangat bosan, tidak ada yang dia kenal di tempat ramai itu. Bukan hanya itu, dia bisa melihat bagaimana Alex terus menyapa beberapa orang. Tentu saja hanya untuk berbasa-basi, bahkan tadi lelaki itu sudah membisik Ayu bahwa dia juga merasa bosan.
"Oh, hai Alex," sapa seorang perempuan dengan tubuh seperti seorang model. Perempuan itu mengenakan gaun merah yang tanpa lengan.
Pegangan Ayu di lengan Alex mengerat saat perempuan bergaun merah itu menempelkan pipi di kedua pipi Alex dan dibalas dengan santai oleh lelaki itu. Ayu memaksakan senyum saat Alex memperkenalkan mereka.
"Jessie," ucap perempuan itu ramah dengan tangan menggantung di udara. Ayu meraih tangan itu dengan jabatan dan berkata pelan, "Ayu."
"Aslinya lebih cantik," puji Jessie pada Ayu, tetapi pandangannya justru tertuju pada Alex.
Ayu sama sekali tak senang mendengar pujian Jessie. Justru dia merasa seperti diejek. Rahangnya mengeras dan memilih mengalihkan pandangan, berusaha untuk tampak tak mendengar percakapan Alex dan perempuan menyebalkan itu.
Dari percakapan itu, Ayu bisa tahu bahwa Jessie adalah kenalan Alex saat masih di Amerika. Dia mengomel dalam hati, seharusnya ini acara kantor bukan reunian. Sejenak dia berpikir tentang kemungkinan bahwa dulu Alex dan Jessie pernah terlibat hubungan.
"Sayang, aku mau ke toilet," bisik Ayu.
"Ah, Jess, aku mau ke toilet dulu," pamit Alex pada Jessie yang langsung dibalas anggukan oleh perempuan itu.
Alex dan Ayu mulai berbalik dan berniat untuk keluar menuju toilet. Namun, Ayu tiba-tiba berhenti dan menhan langkah Alex.
"Tidak jadi," ucap Ayu. "Sepertinya tadi itu Dede yang nendang," bohong Ayu. Dia mengelus pelan perutnya, meminta maaf pada bayi di dalam sana karena memasukkannya dalam kebohongan.
Alex tersenyum dan mengelus perut Ayu dua kali. "Dedek mungkin mau ikut berpesta, ya?"
Ayu tersenyum. Mereka pun kembali ke tengah-tengah pesta. Sialnya, bukan hanya Jessie perempuan bertubuh top model di sana. Ada dua perempuan lagi yang menyapa mereka. Masih seperti Jessie tadi, dengan santai mereka saling menempelkan pipi kanan dan kiri, membuat Ayu dongkol sendiri.
Pujian dari dua perempuan itu lagi-lagi membuat Ayu merendah. Tubuhnya membengkak karena hamil, tentu saja tidak bisa disandingkan dengan perempuan bertubuh indah di depannya itu.
"Aku capek, mau pulang!" rengek Ayu saat dua perempuan itu pergi.
"Aku harus naik panggung dulu, Sayang." Tangan Alex yang tidak digelayuti oleh Ayu mengusap perut Ayu pelan.
"Pulang, sekarang!" tegas Ayu.
Alex tidak tahu harus berkata apa lagi. Saat Ayu sudah mulai merengek seperti itu, maka tidak akan berhenti sampai keinginannya dikabulkan. Namun, dia juga tidak mungkin meninggalkan pesta itu sebelum mengucap sambutan singkat di podium.
"Sebentar lagi, Sayang," bujuk Alex.
Ayu menggeleng tak mau mengerti. "Pulang sekarang, atau aku pulang sendiri."
Entah apa yang terjadi pada Ayu, Alex merasa mereka baik-baik saja. Tiba-tiba perempuan itu merengek, pasti ada hak yang mengganggunya.
"Memangnya kenapa?"
"Aku capek," jawab Ayu. "Dedek juga udah gerak-gerak gelisah. Mau istirahat." Ayu memasukkan anaknya dalam kebohongan kecil yang ia buat.
"Dedek yang sabar, ya," bisik Alex menatap perut Ayu.
Ayu menggoyangkan lengan Alex. "Sayang, pulang!"
Alex mendengkus. Kadang dia kesal dengan rengekan Ayu itu. Namun, dia sudah mulai terbiasa.
"Ya udah, tunggu di sini dulu." Alex mengelus pundak Ayu sebelum melepas pegangan perempuan itu dan melangkah menuju seorang lelaki. Dia tampak membisik lelaki itu dan dibalas anggukan pelan oleh yang dibisiki itu.
"Ayo kita pulang!" ajak Alex yang kemudian menyunggingkan senyum.
Ayu meraih lengan Alex dan tersenyum manis. Dia senang akhirnya bisa berdua saja dengan Alex tanpa perempuan-perempuan genit yang terlihat sangat akrab dengan suaminya itu.
__ADS_1
***