Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Our Daughter


__ADS_3

Alex mendaratkan kecupan singkat di kening Ayu, lantas bangun terlebih dahulu untuk menuntaskan hajat di kamar mandi. Ayu yang ditinggal sendiri di ranjang menggeliat gelisah, dia masih ingin berbaring dan dipeluk. Dia terus bergumam tak jelas, mungkin memanggil Alex.


"Ada apa?" tanya Alex yang harus saja keluar dari kamar mandi.


Ayu bangkit dan duduk dengan rambut yang masih berantakan. Tangannya direntangkan sembari mengerucutkan bibir.


"Minta peluk!" ucap Ayu dengan manja.


Alex meregangkan lehernya, sebelum naik ke atas ranjang dan memberikan pelukan pada Ayu. Dia tersenyum pada Ayu, lalu mencium kening perempuan itu lagi.


"Kamu semakin manja." Satu tangan Alex mengelus pipi Ayu.


"Aku 'kan udah bilang, aku suka bau badanmu."


"Pengaruh hamil?"


Ayu mengangguk mengiyakan.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Alex yang masih memeluk Ayu.


"Ibu pasti sudah menggoreng nasi," kata Ayu.


"Kamu tidak boleh terlalu makan nasi putih," larang Alex, "roti gandum ada tidak?"


"Ada, ibu suka makan roti gandum sebagai camilan," balas Ayu.


Alex mengecup pipi Ayu, lantas turun dari ranjang dan beranjak untuk menyiapkan sarapan untuk isterinya.


"Kalo ibu tanya, bilang aku lagi nggak enak badan ya, Sayang," pinta Ayu mengedipkan mata pada Alex.


Alex tersenyum sembari mengangkat satu jempol pada Ayu. Dia keluar dan turun menuju dapur. Di sana ada Arini yang sudah menyiapkan sarapan dibantu Ira dan Dita yang terlihat hanya menggendong Zahra.


"Pagi Bu, Mbak!" sapa Alex yang dibalas oleh ketiga perempuan itu dengan ramah.


"Isterimu belum bangun?" tanya Arini.


"Dia lagi tidak enak badan, Bu."


"Anak itu!" desis Arini memijit pelipisnya, "untung bukan mantuku. Dasar pemalas!" omelnya.


Arini tidak mengerti kenapa dia bisa memiliki anak perempuan semalas Ayu. Lihatlah Ira dan Dita, dulu mereka tidak bisa apa-apa, tetapi Arini mengajar mereka dengan baik.


"Dia lagi sakit, Bu!" bela Alex.


"Huh, kamu terlalu memanjakan Ayu. Dia itu memang selalu alasan tidak enak badan, tidak berubah!"


Alex hanya tersenyum kecil, begitupun dengan Ira dan Dita. Dia lanjut membuat roti isi untuk Ayu. Roti itu diberi selai dan dipotong kan buah di dalamnya.


"Itu buat siapa?" tanya Ira melihat roti buatan Alex.


"Buat Ayu," jawab Alex, "Mbak mau juga?"


"Tidak," balas Ira, "aku baru tau Ayu suka sarapan roti."


"Lah, dia makan apa aja, yang aneh kalo roti kayak gitu cukup," omel Arini lagi.


"Ih, Alex nggak suka kali kalo Ayu gendut, makanya dia siapin menu diet sehat," timpal Dita.

__ADS_1


"Wah, bagus itu!" puji Arini, "dia memang harus jaga makan, biar bisa sehat. Masa setiap pagi tidak enak badan terus!"


"Aku ke atas dulu, Bu, Mbak. Ayu sudah lapar," pamit Alex buang selesai membuat segelas susu dan sarapan untuk Ayu.


Arini hanya bisa menggeleng melihat kelakuan anak perempuannya. Dia menatap kedua menantunya bergantian.


"Ra, tanya adikmu itu, nggak baik terlalu manja. Dia 'kan mendengar kalo sama kamu, Sama ibu mana dengar."


"Ya, nggak apa-apa lah, Bu, Alex juga keliatan suka manjain Ayu. Kayak Ayah," cetus Dita, "iya 'kan, Zahra sayang?" Dita mengobrol dengan bayinya. Zahra langsung tertawa sebagai balasan.


"Ih, Zahra kayaknya setuju," timpal Ira.


Arini hanya menggeleng-geleng. Kedua menantunya juga sama saja, mereka selalu membela Ayu. Dia bukannya tidak senang jika Ayu disayangi, tetapi sebagai ibu dia ingin Ayu mandiri karena ada saat di mana Ayu harus bisa mengandalkan diri sendiri.


***


"Ayu pamit duluan ya, Bu, ada kerjaan." Ayu menyalami tangan ibunya.


Alex juga ikut menyalami tangan Arini, lantas beralih pada Dwiki. Dia melambaikan tangan sekilas pada Zahra yang sedang tertawa.


Usai berpamitan, mereka naik mobil dan kembali menuju salah satu toko Ayu. Dia harus segera datang untuk memantau jalannya audit, dia tidak akan masuk. Hanya memantau dari luar, karena dia ingin memastikan sendiri.


Saat Ayu bekerja, Alex memilih nongkrong di salah satu cafe yang berada di samping restoran tempat Ayu. Di sana dia menikmati kopi sambil bermain salah satu piano online. Dia menunggu cukup lama, dan sudah mulai bosan. Untungnya, Ayu datang tepat saat dia hendak menyusul.


"Maaf, aku lama, ya?" ucap Ayu yang sudah mengambil tempat di depan Alex.


"Kamu mau minum?"


Ayu menggeleng.


"Hasilnya gimana?


"Bagus, kalau begitu Tidka perlu ada laporan pertanggungjawaban lagi, 'kan?"


"Masih, tapi sedikit," balas Ayu, "ayo pulang?"


"Kita harus belanja, aku lihat stok kamu sudah berkurang," usul Alex.


Ayu tidak mau pergi berbelanja, lagipula bahan makanan berkurang di kulkas karena dua memberikannya pada Bu Ina. Hanya bebrap kali dia memasak dalam seminggu ini, itu pun hanya telur dadar, lebih mudah.


"Aku capek, harus istirahat," tolak Ayu.


Alex pun menurut dan kembali ke rumah Ayu sesuai permintaan perempuan itu. Sudah waktu jam makan siang, sehingga Alex kembali sibuk di dapur. Ayu tadi mendekat dan berniat untuk membantu, tetapi dia mual mencium aroma makanan Alex. Jadilah, Ayu duduk manis sambil menunggu makanan.


Ayu tadi sudah memakan salad yang dibuat oleh Alex. Kata lelaki itu, dia butuh makan sedikitnya lima kali karena butuh asupan gizi yang banyak. Sebelum memasak Alex mengingatkan pada Ayu bahwa ibu hamil harus mengonsumsi makanan denganĀ  kandungan gizi dua kali lipat dari biasanya.


"Sayang, ayo makan!" teriak Alex dari dalam.


Ayu meletakkan HP di meja, lantas berjalan menuju meja makan. Di sana sudah tersaji beragam makanan. Dia jadi heran sendiri, bagaimana bisa Alex memasak semua makanan itu. Kalau saja di tidak melihat lelaki itu mempersiapkan bahan makanan, dia akan menyangkal bahwa makanan itu dipesan.


Awalnya, Ayu ingin mengambil makanan sendiri, tetapi ditahan oleh Alex. Menurut Alex, porsi makan Ayu harus seimbang.


"Ini!" Alex meletakkan sepiring makanan berisi nasi merah sekepal, dengan porsi sayur sup dengan isi; brokoli, buncis, wortel, dan kembang kol lebih banyak. Di piring itu juga ada ayam dan tahu putih.


"Kamu tidak boleh makan banyak gorengan! Makanan yang direbus atau dikukus itu lebih sehat," ujar Alex.


"Aku nggak suka nasi merah, Lex!" Ayu bersungut melihat isi piringnya.

__ADS_1


"Sayang, ini juga demi kamu Dan anak kita. Lagian, aku yakin kamu hanya makan nasi merah sepanjang aku di sini," timpal Alex.


Ayu mengaduk-aduk makanannya dengan bibir dikerucutkan. Dia Tidka suka tekstur nasi merah yang kasar. Kalau nasi, baginya nasi putih memang yang terbaik.


"Kamu mau disuap?" tany Alex yang melihat Ayu hanya mengaduk makanan.


Ayu menggeleng tanpa menatap Alex.


"Hidup sehat itu harus, Sayang!"


Alex yang tidak tahan melihat Ayu merajuk mendekatkan kursinya pada perempuan itu. Dia mengambil alih piring dan sendok milik Ayu.


"A!" Alex menyodorkan suapan pada Ayu. Mau tidak mau Ayu menurut.


"Aku sengaja tidak memberi banyak bumbu, kamu tidak suka aroma rempah, 'kan?" ungkap Alex.


Ayu hanya mengangguk. Dia mirip anak kecil yang susah makan sehingga harus dipaksa untuk membuka mulut. Menurut buku yang dibaca oleh Alex, itu sudah tugas suami untuk memastikan asupan isteri yang hamil terpenuhi.


Makan siang sudah usai, Alex pun sudah selesai membereskan meja makan. Ayu berniat membantu, tetapi Alex yang melarangnya. Dia tidak ingin Ayu kecapaian.


"Sayang, butuh sesuatu?" tanya Alex yang duduk di samping Ayu di ruang tengah.


Ayu menggeleng. Dia langsung bersandar di lengan Alex begitu ellaki itu duduk. Dia sebenarnya tidak enak dengan semua perlakuan Alex padanya. Lelaki itu terlalu memanjakannya, dia suka, tetapi bagaimanapun Alex adalah orang luar baginya.


"Aku ngerepotin, ya?" tanya Ayu.


"Tidak, Sayangku!" Alex menggenggam tangan Ayu, "aku senang melakukan banyak hal untuk kamu. Aku merasa sangat berguna dan dibutuhkan."


Ayu tertawa kecil, lantas membalas, "kamu memang serbaguna kalo begitu."


Alex ikut tertawa. Dia tidak peduli bagaiman Ayu menyebutnya, mungkin itu ego lelaki sehingga membenci jika pasangannya bergantung pada orang lain.


"Oh ya, aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita," kata Ayu penuh semangat.


"Oh, ya?"


"Aleeya, cantik, 'kan?"


Kening Ayu berkerut. "Itu nama anak perempuan."


Alex mengangguk.


"Kalau lelaki, bagaimana?" tanya Ayu bingung. Dia tentu tidkaninhin memberi nama anaknya yang berjenis kelamin dengan nama Aleeya.


"Aku punya firasat kalau anak kita perempuan," aku Alex, "kita akan punya puteri kecil yang cantik kayak kamu." Alex mengelus perut Ayu.


"Firasat?" pekik Ayu, "kamu mau menggantungkan nama anaknkita dari firasat."


Alex yang menangkap amarah di setiap kata Ayu langsung menenangkan, "baiklah, kalau anak kita lelaki, kamu yang memberi nama."


Ayu mengangguk setuju. Dia mencoba berpikir nama yang baik untuk anak lelaki. Dia ingin memberi nama dengan huruf 'A' di awal, sama sepertiku dan Alex.


"Aku tidak tau nama apa yang bagus," aku Ayu yang sudah berpikir keras, tetapi belum menemukan satu nama pun yang cocok.


"Bagus, kalau begitu anggap saja anak kita nanti perempuan," seru Alex girang, "putriku yang cantik!" Dia mengelus, lantas mencium perut Ayu.


Ayu mengalah, dia tidak peduli lelaki tau perempuan, asalkan anaknya lahir dengan sehat. Melihat Alex antusias dan bahagia sepeti sekarang sudah sangat menyenangkan.

__ADS_1


***


__ADS_2