Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
My Man


__ADS_3

Marissa setengah berlari menyambut cucunya. Dia sebenarnya ingin berkunjung ke rumah orang tua Ayu, tetapi dia sedang ada di luar kota dan baru pulang semalam. Wajahnya berbinar melihat Aleeya yang digendong oleh Ayu.


"Aleeya sayang," ucap Marissa mengambil alih bayi itu. Aleeya yang sedang pulas sempat merengek, tetapi tidur lagi saat mulai ditimang oleh neneknya.


"Ayo masuk! Papa Yusuf masih ada di dalam," ajak Marissa yang langsung melangkah lebih dahulu. Sepanjang jalan dia terus menciumi Aleeya, merasa takjub pada bayi mungil itu. Meski, sedikit berkecil hati karena tak satu pun wajahnya di sana.


Marissa masih mengingat bagaimana rasanya saat dia melahirkan Alex dulu. Semua masih seperti kemarin, saat Alex pertama kali menangis. Dia juga sempat protes karena wajah Alex yang didominasi oleh ayahnya.


"Kalau diperhatikan Aleeya mirip sama Carol," ucap Marissa yang diangguki oleh Alex.


Reyna menuruni tangga dengan cepat. Dia mengambil tempat di samping ibunya.


"Wah, cantiknya," puji Reyna mengelus pipi gembul Aleeya. "Ma, aku juga mau gendong."


"Ih, nanti dulu," ujar Marissa. Dia memukul pelan tangan Reyna yang mencubit gemas pipi Aleeya. "Dedeknya lagi tidur!" Suara Marissa ditekan.


"Kamu tidak ajak Ayu liat kamarmu di atas?" tanya Marissa pada Alex. Dia beralih pada Ayu dan berkata, "Di atas ada kamar Alex waktu kecil. Belum ada yg diubah."


Alex bangkit dan mengajak Ayu untum naik ke kamarnya. Entah kapan terakhir kali Alex menginjak kamar itu. Mungkin saat usianya 17 tahun, saat Carol--neneknya--baru meninggal. Kepergian Carol menyebabkan luka tersendiri di hati Alex.


Meski rumah besar itu sudah direnovasi, tetapi memang benar, tidak ada satu pun yang berubah dari kamarnya. Dia menatap seluruh penjuru kamar. Letak mainan lamanya pun masih sama. Dia kira semua mainan dan buku-buku itu sudah tidak ada, setidaknya berpindah milik pada Reyhan. Dia berjalan menuju meja belajar yang di setiap rak berisi komik Conan kesukaannya. Semua koleksi komiknya sudah dia bawa ke Australia, entah kenapa semua serinya ada di sini.


Alex mengingat lagi ucapan ibunya saat dia mulai kuliah. Saat itu dia sudah tidak pernah berkunjung ke rumah Marissa. Perempuan itu pernah menemuinya di rumah Tamara, meminta Alex untuk datang ke rumah karena di sudah membeli semua komik dan mainan untuknya.


"Ini kamu?" tanya Ayu membuyarkan lamunan Alex. Di tangan Ayu ada gambar anak lelaki ompong yang memakai kostum Superman.


Alex mengangguk, lantas tersenyum tipis. Saat kecil dia suka ****** ***** merah, menurutnya di mirip Superman.


"Kamu tinggal di sini waktu kecil," gumam Ayu. Dia terdengar bertanya, tetapi sebenarnya tidak.


"Tidak lama, Sayang. Hanya dua tahun mungkin." Alex mencoba mengingat kehidupannya saat berada di rumah itu. Awalnya dia baik-baik saja, bahkan merasa senang karena ibunya lebih sering di rumah daripada bekerja. Meski kadang, Marissa dan suami barunya berlibur tanpa membawa Alex. Alex tinggal di rumah karena menurut Marissa tidak boleh ketinggalan pelajaran. Semua menjadi buruk saat Reyhan lahir, ibunya tampak tidka perhatian lagi padanya, seakan dunia perempuan itu hanya diisi oleh bayi barunya.


"Ini foto kamu waktu bayi, lucu sekali. Agak mirip Aleeya," ucap Ayu mengankat bingkai lain yang ada di nakas.


Alex mendekat dan melihat bingkai yang disentuh oleh Ayu. Itu adalah foto yang sangat disukai oleh Alex, berisi dia saat bayi digendong oleh ayahnya, sedangkan ibunya memeluk ayahnya di belakang senyum menghiasi wajah orang tuanya. Mulut Alex di gambar itu terbuka dan matanya tepat menatap ke arah kamera, seakan dia sudah sadar kamera sejak bayi.

__ADS_1


"Ranjang kamu wkatu kecil seperti ini?" Ayu menatap ranjang besar yang ukurannya mungkin sama dengan yang ada di apartemen Alex.


"Sepertinya. Sudah sangat tua, ya."


"Aku waktu kecil, tidur di ranjang kecil saja tidak berani. Apalagi gede seperti ini, aku pasti meraung pasa tengah malam." Ayu masih ingat saat dia menangis meminta tidur bersama ibunya karena takut ada kuntilanak di kamarnya.


"Suamimu ini pemberani dari kecil, Sayang." Alex melingkarkan lengan di pinggang Ayu, mengecup pelan puncak kepala perempuan itu. Lantas, dia berbisik pelan, "I love you."


Ayu berbalik setelah melepas pelukan Alex. Tangannya bertengger di pundak Alex, bergerak pelan di tengkuk lelaki itu. Kakinya berjinjit dengan kepala yang mendongak menuju wajah regas di depannya. Dia menempelkan bibirnya tepat di bibir Alex. Lelaki itu sempat terkesiap karena tak menyangka akan mendapatkan ciuman dari Ayu. Ayu jenis perempuan pasif yang hanya bisa menerima, mengambil inisiatif terlebiih dahulu terasa mustahil dilakukan olehnya. Ayu agresif saat emosi, jika berhubungan dengan urusan intim, perempuan itu sangat pemalu, meski sering hilang kendali saat terlau menikmati.


Tangan Alex yang tadi berada di pinggang Ayu meraba naik ke pungggung, tengkuk, hingga menempel lembut di kedua pipi perempuan itu. Sementara, tangan Ayu sudah menyusup di rambut Alex, kadang menarik pelan rambut itu tanpa sadar. Mereka mabuk dalam gelora masing-masing. Menyesap manis yang tiada henti.


Hanya suara napas mereka yang beradu, saling menerpa di wajah masing-masing. Ayu menunduk pelan. Secinta inikah dirinya pada Alex? Dia tidak mau berpisah dari Alex, apa pun yang terjadi. Dia mengangkat kepala lagi, mengecup bibir Alex secepat kilat, lalu tertawa.


"I love you, too," ucap Ayu akhirnya membuat Alex menarik Ayu dalam pelukan lama yang hangat.  Mencium lagi, seakan tak pernah puas.


***


Alex menggeliat di balik selimut. Suara lenguhannya memenuhi udara. Dia membuka mata pelan, dan tertutup lagi karena tak terbiasa dengan sinar terang. Tanganya mulai meraba ke samping. Hanya kekosongan di sana. Dia langsung terbangun, bersandar sebentar di kepala ranjang sambil memijat pelipis. Kapalanya sangat berat. Berkat begadang, dia jarang olahraga akhr-akhir ini. Dia menoleh pada Aleeya yang pulas di atas box. Dia tersenyum kecil mengingat bagaimana bayinya sering menjadi pengganggu setiap kaliingin berduaan dengan Ayu.


"Kenapa kamun kayak maling gitu?" tanya Ayu tanpa mengalihkan pandangan dari pancake yang sedang dipanggang.


Alex mengeluh keran ketahuan. Dia melangkah malas menuju tempat Ayu, tetap emmeluk meski telah ketahuan. Dia menatap pancake Ayu. "Dibalik Sayang, nanti hangus, tidak enak."


Ayu meletakkan spatula. "Ya udah, masak sendiri."


Alex terkekeh. Dia mengecup singkat pipi Ayu. "Iya, maaf. lanjutkan memasaknya Sayang. Aku mau olahraga sebentar."


"Itu jusnya diminum dulu." Mata Ayu mengarah pada gelas berisi jus merah di meja bar.


Alex memicingkan mata menatap jus kental berwarna merah pekat itu. "Jus apaan?"


"Ih, yang pasti jus sehat. Selama ini kamu cuma minum jus apel terus, tidak ada variasi," ketus Ayu yang sudah mengangkat pancake. "Kamu mau topping apa?"


Alex meneguk jusnya pelan. Keningnya mengerut, berusaha menghabisi jus yan asing di kerongkongannya. "Sirup mapel." Alex menjawab setelah segelas jus raib. 

__ADS_1


"Ini campurannya apa?" Alex mengangkat gelas kosong itu dan mengamatinya.


"Wortel, Apel, lemon, ehm ... sama stroberi."


Alex mencebik sebelum meminum air putih dan melenggang menuju ruang fitness. Dia hanya olahraga ringan di mesin treadmill selama lima belas menit, juga peregangan singkat sebagai pemanasan. Usai olahraga, dia pun membersihkan diri. Pakaiannya sudah siap di atas ranjang saat keluar dari kamar mandi. Aleeya yang tadi pulas di box, sudah tidak ada di dalam kamar. 


Ayu sedang menggendong Aleeya di depan meja makan. Bu Ina baru saja selesai membersihkan, dia pun sudah pamit untuk kembali ke unitnya. Dia bermain dan berbincang dengan bayinya. Dia tinggal menunggu Alex selesai mengganti pakaian dan dia akan sarapan. Alex keluar kamar dengan pakaian lengkap untuk berangkat bekerja. 


"Sarapannya udah dingin, kamu lama banget."


Alex mengecup pipi Aleeya, lalu beralih pada pipi Ayu. "Maaf."


Mereka melangkah menuju meja maka yang di atasnya sudah ada sepiring besar pancake yang dilumur sirup mapel. Karena Aleeya yang berada digendongan Ayu, perempuan itu tida bisa menyuap sendiri. Alex pun menyuap diri sendiri bergantian dengan menyuap Ayu.


"Besok aku sudah janjian sama Cleo buat diantar spa. Kamu janji jaga Aleeya, 'kan?"


Alex yang sedang mengunyah mengangguk menyanggupi.


***


Alex memasuki lift khusus untuk petinggi perusahaan. Di belakangnya ada Cleo yang memgikuti. Mereka tidak sengaja berpapasan di lobby gedung. Sesekali Cleo mengernyit menatap tingkah aneh atasannya yang sering senyum tidak jelas. Dia masah ingat wajah lusuh lelaki itu minggu lalu. Apalagi saat mereka sedang di Kuala Lumpur, Alex sudha mirip mayat hidup, makan pun terlihat susah.


"Pak Bos ini makin aneh saja," rutuk Cleo.


"Kamu tidak senang aku kalo aku bahagia," balas Alex tidak bisa menghilangkan senyum di wajahnya.


"Bukan begitu Pak Bos. Aku senang kalau Pak Bos bahagia seperti ini, kerjaanku bisa lancar jaya. Tapi, kelihatan aneh, senyam-senyum tidak jelas."


Alex hanya angkat bahu tak peduli, lantas menyusuri koridor untuk menuju ke ruangannya. Sepanjang jalan dia menebar senyum pada setiap karyawan yang dia lewati. Beberapa dari mereka memberi kode pada Cleo sebagai tanya tentang keanehan bos mereka. Alex memang bukan atasan yang dingin dan kejam, tetapi dia juga tidak bisa dikatakan sangat ramah hingga menyapa hangat dan santai pada seluruh karyawan yang dia lewati. Lelaki itu biasanya hanya senyum tipis atau mengangguk pelan.


"Besok kamu dan Ayu mau ke mana?" tanya Alex pada Cleo sebelum dia masuk ke dalam ruangannya.


"Bu Boss mau pergi spa. Sudah itu kami mau pergi ke Orchard, sepertinya mau belanja. Siapa tau Bu Boss lagi baik dan beli satu tas buat aku. Iya 'kan Pak Boss?"


Alex berbalik setelah tersenyum kecut pada Cleo. Tentu saja, jika Cleo meminta pada Ayu, perempuan itu pasti dengan senang hati menggesek kartunya untuk membayar belanjaan sekretaris-nya itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya dia butuh pemasukan ekstra mulai saat ini. Mungkin juga harus mulai menahan diri untuk menambah koleksi barang mewahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2