Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Anger


__ADS_3

Jonny menenteng paperbag berisi pakaian lucu untuk Aleeya. Sudah tiga minggu dia tidak berkunjung di rumah Alex. Dia tak pernah suka anak bayi, meski lucu tetapi mereka sangat bising saat menangis. Kemarin, Ben mengirim gambar bayi itu padanya.


Dia baru saja pulang dari Inggris, kampung ayahnya. Dia mendapat banyak ceramah dari ibunya karena masih sendiri. Entah kenapa dia ditakdirkan lahir ibu yang menjunjung tinggi adat timur. Padahal, ayahnya tidak begitu pusing dengan kehidupan pribadinya.


Sambil bersiul di melewati meja resepsionis, sudah bersiap untuk meminta dibukakan akses menuju unit Alex. Tiba-tiba seorang security menghalaunya.


"Maaf, Anda ingin berkunjung ke unit Pak Alexander Jones?"


Jonny mengangguk. Siapa yang tak mengenalnya. Satu-satunya unit yang dia datangi di menara itu adalah milk Alex. Atau, dia mungkin saja pernah berkunjung di salah satu unit milik mantan pacarnya, entahlah? Dia juga sudah lupa.


"Maaf, Pak. Tapi, Anda sudah tidak diperbolehkan untuk berkunjung."


"Anda pasti salah orang," tutur Jonny.


Sang security menggeleng-geleng. "Pak Jonathan Weber, bukan?"


Jonny mengangguk lagi, karena itu memang namanya. "Aku akan menghubungi Alex dulu."


Dia menjauh dari security itu, berjalan menuju meja resepsionis. Satu matanya mengedip untuk menggoda perempuan cantik di balik meja. Dia menempelkan gawainya di telinga kiri, sembari menunggu suara jawaban. Namun, dia terus dialihkan oleh operator.


Tidak mau membuang waktu lebih lama, Jonny pun keluar. Dia mengemudikan mobilnya menjauh dari gedung itu.


***


Alex sudah berada di meja kerjanya, setelah pertemuan rutin dengan direksi untuk membahas mengenai pelebaran sayap perusahaan. Dia menelepon Ayu, tetapi tidak diangkat oleh perempuan itu. Sudah tiga minggu Ayu mendiaminya.


Biasanya, Alex selalu menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja. Namun, sejak ketahuan bohong, Ayu mulai melakukan segala pekerjaan rumah sendiri tanpa meminta bantuannya lagi. Di satu sisi, dia bisa lebih fokus bekerja. Di sisi lain yang porsinya lebih besar, dia merasa tidak berguna, tidak dibutuhkan. Ego-nya terluka melihat Ayu yang semakin mandiri, seakan perempuan itu menegaskan bahwa tanpanya pun tidak apa-apa.


Alex benci perasaan tak berguna. Dia senang melakukan banyak hal untuk Ayu. Dia tidak peduli jika harus capek, menurutnya itulah yang harus dilakukan seorang suami.


Dia rindu pada Ayu, bukan hanya memeluk, juga mengobrol dan menjahilinya. Seperti kemarin.


Malam itu, Alex baru saja pulang. Dia sudah membelikan bunga untuk Ayu juga siap memasak makanan yang diinginkan oleh isterinya itu. Dia masuk dengan senyum. Ayu sedang menggendong Aleeya. Mereka tampak sedang mengobrol, tepatnya Ayu sedang berbincang sendiri, bertanya dan menjawab sendiri.


"Sayang!" panggil Alex menyodorkan bunga mawar segar pada Ayu. Ayu melirik singkat, lalu membuang wajah tak peduli. Dia lanjut bermain dengan Aleeya yang terus tersenyum. Sejak merajuk, Ayu juga tidak membiarkan Aleeya bermain dengan Alex.


"Aku tidak mau Aleeya ikut menjadi pembohong seperti kamu." Begitu ucap Ayu saat Alex berusaha mengambil Aleeya.


Alex bersungut mendengar Ayu berkata seperti itu. Dia sangka hanya sehari atau dua hari. Sudah berminggu-minggu, dan perempuan itu belum juga luluh. Dia bingung dengan cara apa agar bisa meluluhkan hati Ayu. Selama berminggu-minggu, dia berusaha, tetapi nihil.


"Pokoknya, temanmu itu tidak boleh datang ke sini!" omel Ayu yang langsung dituruti oleh Alex. Dia sudah melaporkan pada security untuk menahan Jonny jika ingin bertandang. Gio, tidak masuk hitungan, karena saat beralasan, Alex tidak menyebutkan nama temannya itu.

__ADS_1


Amarah Ayu sepertinya semakin memuncak seusai Clara datang seminggu yang lalu. Mereka berbincang lama, entah apa yang dikatakan oleh Clara. Namun, Alex yakin perempuan itu ikut merecoki pikiran Ayu.


Lamunan Alex teralihkan setelah pintu ruangannya terbuka tiba-tiba. Jonny muncul di luar sana dengan tentengan. Wajahnya terlihat gusar.


"Apa maksudmu dengan melarangku untuk berkunjung?" sembur Jonny begitu sampai di depan meja Alex.


"Itu mau Ayu. Sudah, tidak usah banyak protes."


"Parah, kalian lupa ya, kalau bukan aku kalian tidak akan menikah. Dasar!"


"Tidak akan lama, Ayu cuma ngambek sebentar."


"Apa hubungannya denganku? Jangan bilang dia cemburu karena aku dekat denganmu?"


Alex mengangguk, tidak ingin memperpanjang pembahasan itu. Dia merasa tidak perlu menjelaskan dia sudah berbohong pada Ayu bahwa penyebab Alex berbohong adalah Jonny. Dia mengaku pada isterinya itu bahwa Jonny yang mematikan HP-nya, Jonny juga yang mengirim pesan--semua salah Jonny pokoknya.


"Isterimu cemburuan sekali!" rutuk Jonny. "Ini!" Dia menyodorkan paperbag tadi. "Baju untuk Aleeya, jangan kamu jual!"


Jonny tahu kebiasaan Alex dalam menjual barang. Temannya itu selalu tahu cara mencetak uang. Entah bagaimana, tapi setiap kali membeli sesuatu, Alex bisa menjual kembali dengan harga tinggi.


"Baju murah seperti ini, kamu pikir bisa dijual berapa!" rutuk Alex setelah melihat merek baju yang dibeli oleh Jonny. Baju itu memang mahal, tetapi pakaian Aleeya yang dia beli jauh lebih mahal lagi. Dia rela mengeluarkan banyak uang untuk anaknya.


"Kamu hancur sekali, Bro!" desis Jonny melihat wajah kusut Alex. Dia hanya dibalas dengan senyum tipis. "Sepertinya, menikah itu menyebalkan."


"Jadi, kapan aku boleh berkunjung lagi?"


Alex menggeleng-geleng. "Sampai Ayu bisa luluh."


"Kenapa hidupmu rumit sekali, sih. Kupikir kadang Ayu lebih sangar dari Clara," seloroh Jonny. Dia biasa mendengar Clara mengomel dan berteriak pada Ben. Namun, Tidka sekali pun perempuan itu mengusirnya atau teman Ben yang lain. Saat Jonny datang bertamu, dia tetap disambut dengan baik.


"Jangan bicarakan isteriku seperti itu!" rutuk Alex tak terima.


Jonny menggaruk kepalanya. Banyak pikiran yang bekelibat di benaknya. Apa rencana untum menikah dibatalkan saja.


***


Ayu menggendong Aleeya. Sejak melahirkan, dia tidak pernah keluar rumah. Dia terus berada di rumah untuk bermain dengan bayinya. Setiap hari, anaknya itu makin aktif. Tangan dan kakinya selalu menari-nari di udara. Bahkan, bayi itu sering mengeluarkan suara, seakan sedang berbicara.


"Dedek lapar juga, ya?" tanya Ayu saat di mulai menyuap makanan yang dibuatnya. Ya, sudah beberapa minggu ini dia mulai mandiri. Misalnya, memasak sendiri. Dia sangat ingin makan tempe, jadi dia meminta Bu Ina untuk membeli beberapa bahan untuk membuat tempe bacem.


Dia sudah menelepon ibunya untuk bertanya resep, karena tempe bacem buatan ibu tidak ada duanya. Meski sudah mengikuti resep, rasanya masih tidak sama. Masakan ibu memang selalu paling enak. Sayurnya sederhana, tumis pare yang dicampur dengan tempe oseng.

__ADS_1


Sepertinya dia sangat merindukan keluarganya, hingga ingin memakan masakan yang sering dimasak ibunya. Dia kesepian, berada di tempat asing dan tak memiliki teman. Alex sibuk bekerja, dia juga sedang merajuk sehingga tidak begitu bercakap-cakap dengan suaminya itu.


Dia marah bukan hanya karena Alex ketahuan berbohong saat pergi ke klub malam. Namun, saat Clara mengatakan bahwa dia sempat melihat Alex duduk berdua di cafe beberapa hari sebelum berkunjung. Clara tentu saja tidak tahu bahwa Ayu sedang cemburu, dia hanya tahu bahwa Alex dan Tamara memang sahabat.


Ayu semakin marah karena saat dia bertanya, Alex ke mana, lelaki itu hanya berkata dari kantor. Lelaki itu tidak membahas perihal kedatangan Tamara. Dia sebenarnya kasihan melihat Alex yang berusaha membujuk, tetapi dia selalu saja sebal setiap kali melihat suaminya itu.


Pintu yang terbuka membuat Ayu berpaling. Alex pulang lebih awal seperti hari-hari sebelumnya. Sejak ketahuan bohong, lelaki itu tidak pernah lambat pulang, bahkan lebih awal dari jam kerjanya.


Tidak ada sambutan dari Ayu, dia memangku Aleeya, dan menyendok makanan yang ada di meja. Dia mengunyah makanannya, sambil mengedip-ngedipkan mata untuk menghibur Aleeya. Bayi itu girang, kakinya menendang-nendang.


Alex melepas jas dan menyampaikannya di pundak sofa. Dia langsung duduk di samping Ayu, memeluk tanpa kata. Dia menghidu aroma Ayu yang menguar di cekungan leher. Matanya terpejam. Dia tidak pernah selelah ini. Di menyelesaikan pekerjaan dengan cepat agar bisa pulang cepat pula.


"Sayang, I Miss You so much," rintih Alex lalu mencium pipi Ayu lama.


Ayu bergeming. Dia bahkan tidak tersenyum sedikit pun. Entah kenapa, dia merasa ada sekat antara dirinya dan Alex.


"Sayang, just tell me something. I love you," ungkap Alex.


Ayu menggigit bibir bawahnya. Kalau saja ucapan Alex sungguh berasal dari hati, dia pasti akan senang. Namun, dia tahu bahwa kedudukan Tamara tidak akan terganti. Seperti kata Alex dulu, bahwa sekali jatuh cinta maka cinta itu seharusnya tak pernah hilang.


Aleeya menggumam khas bayi di pangkuan Ayu. Bayi itu mengulurkan tangan menuju rambut Ayu yang terurai. Setelah bisa ia raih, ditariknya riang.


Alex yang mendengar Ayu meringis. Mulai menyentuh tangan mungil itu, melepaskannya pelan. " Mommy jangan disiksa, Sayang." Alex berbicara pada Aleeya.


Alex melepas pelukannya. Dia meraih rambut Ayu dan menggulungnya. "Rambutmu semakin panjang," ucap Alex. Kini, dia meriah piring Ayu dan menyuapnya. Meski awalnya menolak, Ayu membuka mulut dan mulai makan lagi.


"Aku sudah kenyang," ucap Ayu. Dia bangkit setelah Aleeya merengek. Bayi itu sedang lapar.


Sementara, Ayu menyusui bayinya. Alex masuk ke dapur dan mendapat makanan yang ada di sana. Dia suka meminum jus pare, namun tak pernah sama sekali memakan sayurnya. Dia juga tak begitu suka nasi putih. Dia menyendok satu tempe dan memakannya. Baiklah, setidaknya dia menyukai tempe. Namun, dia pecinta daging, meski kadang ada pikiran untuk menjadi vegetarian.


Alex masuk ke kamar. Di sana Ayu sedang duduk di samping box bayi. Aleeya sudah tertidur. Dia melingkarkan kedua tangan di bahu Ayu, mengecup singkat lagi sebelum kurun di lantai. Dia menyandarkan kepala di paha Ayu, menatap ke arah wajah perempuan yang juga kebetulan menatapnya.


"Sayang!" lirih Alex.


"Kamu tidak mau mandi?" tanya Ayu.


"Aku mau mandi. Tapi, kamu harus janji memelukku setelah itu."


Ayu mengernyitkan kening.


Alex bangkit dan berlari menuju kamar mandi. "Tidak menjawab berarti, ya." Dia berteriak sebelum menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


***


__ADS_2