Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Hide It


__ADS_3

Hari ini hari jumat, seperti biasa kantor Ayu melaksanakan senam bersama. Senam diadakan dari jam 8 pagi sampai dengan jam 10.30, dan 30 menit waktu untuk bebersih sebelum memulai rutinitas mereka di ruangan masing-masing.


Dari senam aerobik sampai dengan zumba. Ayu termasuk salah satu karyawan yang sangat antusias jika mengenai senam. Dia memang sangat suka olahraga itu, mengingat dia dulu berusaha keras menurunkan bobot badannya.


Saat SMP Ayu termasuk anak remaja yang bobotnya di atas rata-rata. Sehingga, saat dia menginjak bangku SMA, dia mulai berusaha membentuk badan idealnya.


Ayu menyiapkan pakaian olahraganya, dia harus rutin olahraga agar tubuhnya tetap terjaga. Rekan-rekan sekantornya telah berkumpul, musik telah menggema. Instruktur senam ambil posisi di bagian depan.


"Mau ikut senam?" tanya alan seorang staf marketing pada Ayu.


"Iya, minggu lalu harus visit ke cabang. Nggak sempat ikut," jawab Ayu.


"Wajah Ibu pucat, yakin?"


"Yakin." Ayu menjawab singkat, lalu mulai mengikuti gerakan pemanasan dari instruktur.


Sebelum berangkat bekerja, Ayu memang pusing dan mual. Roti yang habis dia telan, dimuntahkan lagi. Susu hamil yang dia beli juga sudah habis dan belum sempat ke supermarket.


Musik semakin menghentak-bentak. Gerakan yang tadi sangat pelan dan teratur, menjadi lebih variatif. Kepala Ayu sebenarnya pusing, aroma keringat dan parfum orang-orang disekitarnya membuat dia ingin muntah. Dia menahan semuanya karena tidak ingin satu orang lun2 curiga.


Senam aerobik tidak begitu susah baginya. Berbeda saat Zumba, pilihan lagu mereka adalah reggae latin. Gerakan-gerakan itu menuntut Ayu untuk menggoyangkan perut, tak jarang ada yang mengharuskan melompat. Ayu khatam gerakan-gerakan itu, dia berusaha senormal sebisanya.


Di beberapa lagu terakhir, banyak yang sudah menyerah dna memilih untuk berhenti. Sementara Ayu memilih untuk tetap mengikuti senam itu sampai akhir. Sesekali dia memegang perut, sembari berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan janinnya di dalam sana.


Dua hari yang lalu dia menemui dokter kandungannya lagi. Janinnya sehat, namun Ayu dituntut untuk lebih memperhatikan kondisi dan tidak boleh terlalu kecapekan. Janinnya masih sangat muda, sehingga resiko keguguran sangat tinggi.


Setelah stretching sedikit, Ayu meninggalkan ruangan yang mirip aula itu untuk membersihkan diri dna berganti pakaian.


"Bu Ayu minum susu apa kemarin-kemarin?" tanya salah seorang wanita yang Ayu kenal merupakan sekretaris Regional Manager untuk wilayah Jakarta, Bu Martha namanya.


"Susu yang mana?" Ayu bertanya seakan tidak mengerti.


"Itu loh, susu diet yang sering Ibu buat di pantry.


"Bukan susu diet, Bu. Itu susu kalsium biasa, biar nggak kena osteoporosis." Ayu berbohong.


"Kukira diet, soalnya Ibu keliatan kurusan."


"Ah, aku cuma kurangi porsi makan sama olahraga setiap hari."


"Wih, harus aku coba juga, nih. Siapa tau bisa kembali langsing."


Dulu tubuh Bu Martha cantik, ideal menurut Ayu. Namun, sejak sudah melahirkan tubuh ibu dua anak itu melar. Ayu hanya bisa berdoa agar tubuhnya tetap seperti sediakala sehabis melahirkan nanti.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti pakaian, Ayu kembali ke ruangannya. Dia mulai mengecek e-mail-nya satu persatu. Memantau sales setiap cabang yang dia pegang. Tangannya dengan lincah menari di atas keyboard, mengetik satu persatu laporan penjualan setiap cabang untuk diberikan pada atasannya.


Baru setengah pekerjaannya yang selesai, pandangan Ayu pada komputer mengabur. Keringat dingin perlahan muncul di keningnya. Rasa mual memaksa Ayu untuk menuju ke toilet.


Sebelum menuntaskan keinginannya, Ayu melirik ke kanan dan kiri. Dia memastikan tidak ada orang di toilet. Saat muntah, dia memastikan suaranya kecil sehingga orang yang kebetulan lewat atau berada di dekat sana tidak mendengar. Mengingat dirinya hamil  tanpa terikat pernikahan, maka dia harus hati-hati agar tak ketahuan.


"Lim, buat in teh hangat, ya!" minta Ayu pada Salim, OB yang sudah bekerja di kantor itu bertahun-tahun, setelah keluar dari toilet.


Salim meletakkan sapunya. "Siap, Bu!"


Ayu kembali ke ruangannya, dia harus mengerjakan datanya cepat-cepat agar dia bisa meminta cuti hari senin nanti.


"Ini, Bu!" Salim meletakkan segelas teh di meja Ayu.


"Makasih, Lim," ucap Ayu memeberi seulas senyum.


"Bu Ayu sakit, mau saya belikan obat?" tawar Salim.


Ayu menggeleng. "Nggak usah, ini cuma kecapean biasa."


"Ya sudah, Bu Ayu belum makan siang, kan. Mau saya keluar belikan?" Salim riska menyerah. Dia memang dikenal sangat peduli.


"Kamu tau penjual rujak di depan lampu merah?"


Salim mengangguk.


Mungkin pengaruh hamil sehingga Ayu ingin makan rujak dan tahu, pasalnya itu adalah dua makanan yang tidak terlalu dia suka. Daripada tahu, Ayu lebih menyukai tempe yang bertekstur kasar dan lebih berasa.


***


Seusai bekerja, Ayu singgah ke salah satu supermarket. Banyak perlengkapan hariannya yang habis. Seusai memakan makanan yang dibeli oleh Salim dan minum multivitamin yang diresepkan oleh dokter, keadaan Ayu agak mendingan.


Sebenarnya masih sedikit lemas, tetapi dia tidak boleh cengeng. Dia sendiri dan sedang mengandung, dia harus lebih kuat.


Selama ini dia adalah anak manja. Meski sudah bekerja, tidak jarang dia minta ini dan ditumpas orang tua dan kakak-kakaknya. Dia dimanja dan disayangi oleh keluarganya, inilah balasan yang dia berikan pada mereka, sebuah aib.


Janinnya bukan aib, perbuatannya-lah yang merupakan aib. Karena itu, dia harus menjaga agar orang lain tidak mengetahui perihal kehamilannya agar keluarganya tidak ikut menanggung malu atas desas-desus tetangga mereka.


Pelan-pelan Ayu mendorong trolley, tangannya meraih beberap barang yang dia butuhkan. Sabun mandinya sangat harum, semenjak hamil dia tidak bisa mencium variannya. Sehingga, dia memutuskan untuk mengganti sabun mandinya dengan sabun yang beraroma lebih lembut di hidung.


Di supermarket itu ada sebuah foodcourt, kebetulan di sana ada durian. Ayu menelan ludahnya, entah kenapa dia sangat ingin memakan buah itu. Padahal, dulu baunya saja dia tidak suka.


Ayu mendekat di tempat itu. Tampak sepasang lelaki dan perempuan tampak berdebat singkat pasal memakan durian.

__ADS_1


"Aku pengen durian, Yang."Si Perempuan merengek.


"Kamu lagi hamil muda, nggak boleh!" larang si Lelaki yang Ayu tebak sebagai suami si Perempuan tadi.


"Nanti habis lahiran, beliin yang gede tapi." Si Isteri memberi syarat.


"Iya, beli segerobak sekalian."


Ayu memutar trolley menjauh dari penjual durian itu. Dia mengelus pelan perutnya, hampir saja dia membunuh anaknya. Untung saja suami-isteri itu berdebat saat Ayu ada.


Ayu berbalik menata suami-isteri yang berpegangan menuju ke tempat lain. Andai saja dia juga punya suami seperti perempuan tadi, dia tidak mungkin satelit sekarang. Ingin sesuatu, dia bisa meminta pada suaminya. Dia juga tidak perlu kucing-kucingan untuk muntah.


Sampai di rak susu, Ayu meraih beberap box susu kehamilan. Sebelum mengambilnya, dia harus melirik kanan dan kiri memastikan tak ada yang mengenalnya. Dia menutupi susu itu dengan belanjaannya yang lain, takut tidak sengaja bertemu dengan kenalannya.


Di kasir pun, Ayu menyusun agar box susu itu tidak terlalu mencolok. Saat si Kasir tersenyum dan menyebutkan jumlah serta merek susu yang dia beli, ada rasa was-was jika si Kasir tahu kalau dia belum menikah. Ya, dia menjadi sering sensitif, seakan di jidatnya tertulis 'hamil di luar nikah'.


***


Susah payah, Ayu menenteng plastik belanjaan setelah memasukkan mobilnya di garasi. Kening Ayu berkerut saat melihat lampu teras dan ruang tamunya telah menyala.


Ayu meletakkan belanjaan di kursi yang berada di teras. Mengintip ke dalam rumah untuk mencari tahu siapa gerangan yang menyalakan lampu. Bu Ina yang sering datang beberes dan mencuci hanya datang saat Ayu ada di rumah.


Tidak tampak seorang pun di dalam. Tangannya memutih saat membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Dia masuk dengan langkah sangat pelan setelah melepas sepatunya agar tak terdengar.


Tidak ada siapa-siapa di sana. Anehnya, ada sekotak makanan di meja makan. Mungkin saja memang Bu Ina yang datang membawa makanan tadi. Dia memang tahu di mana letak kunci rumah Ayu.


Selesai dengan rasa penasaran dan takut, Ayu mengambil belanjaannya lagi. Dia membuka setiap rak tempat penyimpanan barang-barang yang dia beli.


"Ayu, kamu udah pulang?"


Hampir saja Ayu melompat melihat kakak iparnya berdiri sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"Kenapa di sini, Mbak?" tanya Ayu dengan suara bergetar.


"Mau aku bantu?" Mbak Dita menawarkan diri.


"Ah, tidak-tidak, aku bisa sendiri," tolak Ayu. Dia berdiri tepat di depan kotak susu hamilnya, dia tidak.mungkin membiarkan iparnya itu melihatnya.


"Di kamarku ada hair dryer, pake itu saja." Ayu berusaha agar Mbak Dira pergi dari dapur sehingga dia bisa leluasa kenyang susu itu ke stoples.


"Ah, ya, aku memang butuh itu."


Seusai menuang susu bubuk, Ayu ***-remas kotaknya sebelum membuangnya ke tempat sampah. Sekarang dia merasa seperti terdakwa yang berusaha menghilangkan barang bukti.

__ADS_1


***


Tbc 😍


__ADS_2