Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Night Of Us


__ADS_3

Alex terus membantu Ayu berjalan masuk ke dalam kamar. Dari tadi perempuan itu terus diam, dan itu berarti perempuan itu sedang marah. Anehnya, Alex tak merasa berbuat salah sedikit pun.


Tanpa diminta, dia membantu Ayu untuk membuat resleting gaunnya. Perempuan itu sempat kesusahan, tetapi tidak meminta bantuannya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Alex. Namun, tidak ada jawaban. Ayu justru keluar dari walk-in closet itu. Hal itu membuat Alex semakin yakin bahwa perempuan itu sedang merajuk.


Saat keluar dengan piyamanya, Alex mendapati kekosongan di ranjang. Suara gemericik air membuatnya merasa tenang. Dia pun memutuskan untuk membuat segelas susu hangat untuk Ayu.


"Minum susunya dulu, Yang!"


"Aku udah gosok gigi." Ayu menarik selimut.


"Biasanya 'kan minum susu dulu."


"Aku ngantuk. Kamu aja yang minum."


Alex meletakkan gelas itu di nakas. Dia menunduk dan menempelkan kedua tangannya di pipi Ayu. Matanya melekat pada wajah yang berpaling menjauh, menolak untuk emmbalas tatapanya.


"Ada apa, coba bilang!" pinta Alex. "Aku tidak mungkin tau kalau kamu diam begini."


Ayu terdiam dan bibirnya mengerucut. Tidak mau menatap Alex yang terus mengelus pipinya.


"Sayang, aku tidak bisa baca pikiran."


"Aku capek, ngantuk, itu aja," kilah Ayu.


"Okay, liat aku dan bilang kalau memang tidak ada apa-apa!" paksa Alex.


Ayu langsung memukul pelan tangan Alex yang ada di pipinya. Lantas, mulai berbaring dan membalik badan menghindari tatapan Alex. Saat Alex memutari ranjang dan berbaris di sampingnya, dia berbalik ke arah sebelumnya. Dua terus menghindar.


Alex yang ikut berbaring melingkarkan tangan di pinggang Ayu. Dia mulai mengecup pipi Ayu. "Kalau ada masalah, lebih baik kita bicarakan. Aku tidak mau ada yang mengganggu pikiranmu, Sayang. Apalagi kamu sedang hamil."


Lama tidak ada jawaban, Alex tidak menyerah. Hingga akhirnya hanya isakan yang dia dengar.


"Kenapa menangis?" Alex berusaha membuat tubuh Ayu berbalik padanya.


Ayu menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan terus menangis. Sementara, Alex memilih diam dan berhenti mendesak. Dia akan menunggu perempuan itu tenang terlebih dahulu.


Mereka kini sudah duduk sembari bersandar di kepala ranjang. Tatapan Alex terus tertuju pada Ayu yang sedang menunduk sembari memeluk satu bantal. Masih ada sisa isakan yang lolos dari mulutnya.


"Sudah mau cerita?"


Ayu mengangguk kecil dan terisak sekali. "Aku--aku tidak suka kamu cium perempuan lain."


Kening Alex berkerut. Dia tidak merasa mencium siapa pun. Seingatnya, selama menikah, dia hanya pernah mencium Ayu seorang.


"Aku tidak mencium siapa pun," sangkal Alex.


"Lalu, Jessie, Steffi, dan siapa lagi tadi itu ... apa?"


Alex baru teringat di pesta tadi. Dia sebenarnya ingin tertawan, tetapi jika dia lakukan maka Ayu pasti akan semakin merajuk. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa perempuan itu mengategorikan tempelan pipi itu sebagai aktifitas mencium. Sikap itu sekadar kebiasaan yang merupakan tanda ramah-tamah, tidak lebih. Kalau saja tidak ingat emosi ibu hamil itu labil, dia pasti akan menggoda Ayu.


"Itu sekadar sapaan, Sayang."


"Tapi, aku tidak suka," timpal Ayu. "Kalau aku cium lelaki sana-sini, kamu mau?"


Alex terdiam. Dia mencoba membayangkan Ayu menempelkan pipinya di pipi lelaki lain. Dia langsung menggeleng tidak menyukai pikiran itu. Tangan isterinya bahkan Tidka boleh digenggam oleh siapapun.


"Maaf, aku tidak menyangka kamu cemburu," ucap Alex yang sudah menggenggam tangan Ayu.


Ayu menarik tangannya. "Siapa bilang aku cemburu!"

__ADS_1


"Cemburu juga tidak apa-apa, aku malah senang."


"Enak aja. Aku--aku tidak cemburu!" sangkal Ayu lagi. "A-aku cuma tidak merasa dihargai sebagai isterimu."


Alex mengalah. "Iya, iya, kami tidak cemburu."


Ayu memukul Alex dengan bantal yang dia peluk. "Aku memang tidak cemburu, kok."


Alex tersenyum senang. "Iya, percaya, percaya, Sayang."


Alex mengusap puncak kepala Ayu. Ayu memajukan bibirnya, membuat Alex langsung mengecupnya singkat.


"Aku tidak cemburu!" tegas Ayu lagi membuat Alex menciumnya lebih lama.


Sejak perutnya mulai membesar, Ayu lebih sering tidur telentang. Sambil berbaring dia melirik sekilas pada Alex yang berbalik ke arahnya. Tangan lelaki itu sedang berada di perutnya. Entah mengapa, tetapi setiap bayi di dalam perutnya banyak gerak dan mendapat usapan dari Alex, bayinya akan menjadi tenang.


"Sayang!" panggil Ayu yang disahuti dengan deheman oleh Alex.


"Kamu harus jawab jujur!" pinta Ayu.


"Memangnya apa?"


"Janji dulu, jawab jujur!"


"Iya, mana bisa aku bohong sama kamu." Tangan Alex kini naik di garis rahang Ayu.


"Kamu pasti suka dengan perempuan-perempuan tadi, 'kan?"


"Maksudnya?"


Alex mengerti dengan pertanyaan Ayu yang masih meruju pada perempuan yang di pesta tadi. Mereka itu teman lama, ada juga klien dan, kenalan biasa. Tidak dia sangka, isterinya akan secemburu itu.


"Aku tidak merasakan apa pun, sumpah!"


"Bohong!"


Alex mengangkat kepala dan mengecup kening Ayu lama. "Aku lebih suka kamu."


"Bohong, pasti! Lihat, aku bengkak begini."


Alex ingin langsung membela diri terapi urung setelah mengingat bahwa perempuan hamil memang sering merasa rendah diri karena kondisi fisiknya yang berubah drastis. Ayu tidak sekadar cemburu pada hal yang dia maksud sebagai 'cium', perempuan itu merasa iri pada tubuh-tubuh bagai model tadi.


"Kamu 'kan lagi hamil."


"Kalau badanku gendut terus, gimana? Kamu pasti bakal pergi dengan teman-teman seksi-mu tadi, 'kan?"


"Tidaklah," sangkal Alex. "Memangnya aku lelaki apa?" ucap Alex dengan nada dibuat menyerupai perempuan.


Ayu bersungut tak percaya. Dia memutar bola mata. "Memangnya aku tidak tau kamu lelaki seperti apa."


"Lelaki yang baik--" Alex mencium kening Ayu, "romantis--" berpindah ke pipi kiri, "penyayang," berpindah ke dagu. Dia meringis pelan, setelah dadanya disikut oleh Ayu.


"Tukang gombal!" rutuk Ayu lagi. Dia berusaha membalikkan badan, meski susah karena perutnya.


Alex menopang kepalanya, berbalik ke arah Ayu sambil tertawa kecil. "Kamu ini gemesin banget." Dia mulai mencubit pipi Ayu lagi yang langsung membuat perempuan itu mengeluh.


"Udah, have a nice dream kalo gitu." Alex memberi kecupan sebelum memperbaiki posisi tidurnya. Tiba-tiba tangannya di tarik oleh Ayu. "Peluk!" seru Ayu yang sudah melingkarkan tangan Alex di pinggang.


Di balik rambut Ayu, Alex cekikikan melihat tingkah perempuan itu. Apa susahnya bilang dia cemburu, padahal Alex akan lebih senang dengan jika memang begitu.


***

__ADS_1


Ayu bersenandung riang usai menerima panggilan video dari Alex. Dia duduk di kursi malas yang berada di ruangan bayinya kelak. Kemarin, dia dan Alex baru saja datang memberi beberapa pakaian untuk bayi mereka.


"Gimana kalau Dedeknya cowok?" protes Ayu saat Alex terus mengambil barang dengan warna didominasi warna pink lembut.


"Memangnya lelaki tidak boleh pakai pink. Semua warna sama, Sayang," bela Alex dan terus memasukkan sepatu dengan pita di keranjang.


"Ya udah, sebentar sekalian kita singgah beli heels buat kamu. 'kan tidak ada larangan buat lelaki pakai heels," umpat Ayu.


Ya, Ayu tidak bisa melawan keinginan Alex kalau masalah anak mereka. Lelaki yang biasanya selalu menurut, menjadi kerasa kepala jika menyangkut kebutuhan anak. Mungkin karena dia sangat antusias.


Tatapan Ayu mengedar pada ruangan dengan pink pastel yang dipadu dengan motif polkadot putih. Di setiap sisi juga ditambah beberapa gambar animasi Disney Princess. Entah, Alex mungkin berpikir semua anak perempuan menyukai Princess. Padahal, Ayu dulu tidak begitu menyukai Disney Princess. Meski manja seperti seorang putri, dia justru lebih sering menonton anime Jepang karena kedua kakaknya.


"Kalau nanti Dedeknya cowok, tinggal disumbangkan barangnya." Begitu simpulan terakhir buang ditarik oleh Alex kemarin.


Ya, selama masih menggunakan uang Alex, Ayu tidak mau ambil pusing. Toh, menurutnya, uang Alex tidak akan terkuras hanya karena membeli barang yang harganya tidak setara dengan satu jam tangannya.


Namun, melihat betapa kalapnya Alex saat berbelanja di toko perlengkapan ibu dan anak itu, Ayu langsung merengek pulang. Alex kemarin bahkan sudah berencana membeli gaun bayi usia dua tahu, hanya dengan alasan anak mereka akan terlihat cantik dengan gaun itu.


Entahlah, tetapi Ayu merasa Alex sudah sangat terobsesi dengan anak mereka. Seperti tadi pagi, sebelum berangkat bekerja, lelaki itu terus menciumi perut Ayu dan mengajak bayi di dalam sana berbincang seakan mereka bisa saling mendengar.


Ketukan di pintu membuat Ayu berbalik. Pintu itu tidak tertutup sehingga dia bisa melihat perempuan berdiri di sana. Itu Bu Ina membantu Ayu di apartemen itu sejak seminggu yang lalu.


Alex yang memintanya secara pribadi dengan alasan khawatir karena dia mulai sibuk dan Ayu tinggal sendiri. Apalagi, perut Ayu sudah semakin membesar, berjalan pun mulai susah. Jam kerja Bu Ina termasuk singkat, hanya sampai Alex pulang kerja. Selebihnya, dia bisa kembali ke salah satu apartemen yang Alex sewa untuknya, bahkan dua hari yang lalu anak perempuan Bu Ina datang dan dibiayai oleh Alex.


"Pak Alex bilang ini waktunya Neng Ayu makan camilan." Di tangan Bu Ina ada mangkuk putih yang dia sodorkan pada Ayu.


"Makasih, Bu," ucap Ayu yang sudah memegang mangkuk putih tadi. Itu adalah kesemek kering. Alex yang membeli kesemek itu. Katanya, sangat bermanfaat asal dikonsumsi tidak berlebih. Dia juga menjelaskan panjang lebar semua manfaat buah itu berdasarkan artikel yang dia baca.


Ayu hanya menurut, sejak hamil dia sama sekali tidak pernah membaca satu artikel pun. Dia sempat membaca buku, itu pun buku Alex yang dia baca sepintas.


Belum habis camilan yang dipegang oleh Ayu. Gawai di pangkuannya berdering. Panggilan itu dari Marissa, Ayu langsung menerimanya.


"Mami ada di lobby," ucap Marissa. "Tidak dibolehin naik, nomor unit Alex memangnya berapa?"


Mata Ayu membesar. Marissa adalah ibunya Alex, masak tidak dibolehkan dan juga tidak tahu letak apartemen anak sendiri. Dia mengetuk kepalanya sekali, dia lupa kalau hubungan ibu dan anak itu tidak dekat.


"Ya, udah, biar Ayu telepon resepsionisnya, Mi," ucap Ayu.


"Kamu yang jemput di bawah, gimana?"


Mau tidak mau, Ayu menyanggupi. Dia mulai berdiri dan melangkah mengambil sweater di kamar.


"Neng Ayu mau kemana?" tanya Bu Ina saat melihat Ayu hendak membuka pintu.


"Maminya Alex ada di bawah, mau dijemput," jawab Ayu.


"Ih, jangan, biar saya saja. Itu sudah susah jalannya," larang Bu Ina. "Kalau Pak Alex tau, mati saya. Lagian, masak iya menantu hamil besar disuruh turun buat jemput," omelnya.


"Tidak apa-apa, mintanya aku yang jemput. Tidak sopan namanya kalau Bu Ina yang jemput," balas Ayu lalu keluar.


Susah payah, Ayu mukai melangkah. Biasanya saat berjalan dia berpegangan pada Alex. Sekarang dia harus berjalan sendiri dengan mengandalkan dinding koridor dan lift.


Marissa berdiri di depan resepsionis. Ayu berhenti sejenak untuk mengangumi keindahan tubuh dan wajah ibu mertuanya itu. Meski sudah memasuki usia emas, perempuan itu masih tampak sangat cantik dan segar.


"Mami," sapa Ayu yang langsung mengembangkan senyum pada mertuanya itu.


Mulut Marissa terbuka sedikit dengan mata yang membesar. "Kamu hamil, Nak?"


Ayu mengangguk kecil. Dia lupa kalau belum pernah memberitakan bpasal kehamilannya pada keluarga Alex, termasuk Marissa.


***

__ADS_1


__ADS_2