
Ayu melenguh di atas ranjang setelah tidurnya yang pulas terganggu oleh deringan HP. Matanya terbuka sebentar, lalu menutup kembali karena belum terbiasa dengan cahaya yang silau dari arah jendela. Dia merabah-rabah ke arah sumber deringan juga getaran. Itu telepon dari Alex.
"Halo," ucap Ayu pelan dengan suara serak khas baru bangun.
"Sudah bangun?" tanya Alex.
Ayu bangun dan menyandarkan diri di kepala ranjang. Dia menjauhkan HP dan menatap layar dengan sebal.
"Apa orang tidur bisa menjawab panggilan telepon?"
"Siapa tau kamu ngigau, 'kan."
"Ngapain telepon?" Ayu tidak ingin berbasa-basi.
"Aku cuma mau ingatin, jangan lupa minum susu sama vitamin biar tidak mual! Terus, makanannya harus tetap empat waktu, juga bergizi, jangan asal makan! Kalo kamu ada apa-apa langsung hubungi aku."
Ayu memutuskan untuk berdiri dan memasang earphone. Dia mengikat rambut dan berjalan menuju westafle sambil mendengar petuah Alex. Menurutnya Alex terlalu cerewet, lelaki itu seakan tidak mempercayai Ayu.
"Ah, satu lagi, aku juga simpan kartu di meja riasmu, PINnya juga ada di sana!"
Ayu yang sedang membasuh wajah tak langsung membalas. Dia jadi penasaran kartu apa yang disimpan oleh Alex.
"Banyak makan buah sama sayuran, biar kami sama anak kita sehat," tambah Alex lagi.
"Iya, iya. Cerewet!"
"Bukan cerewet, tapi peduli!"
Ayu hanya berdehem pelan, lantas keluar untuk melihat kartu di meja riasnya. Itu kartu kredit berwarna silver asal Amerika, meski bukan black card, tapi dia tahu kartu itu juga tidak memiliki batas limit. Kartu kredit, dia kira kartu berisi banyak tabungan, yang ada justru kartu penguras tabungan. Namun, ada baiknya, dia bisa belanja sepuasnya.
Ah, tidak, ini milik Alex! Ayu bergumam dalam hati.
"Aku mau mandi dulu," ungkap Alex, "atau kamu mau melihatku mandi?" godanya.
Tidak ingin mendengar ocehan tidak bermutu dari Alex, Ayu segera memutus sambungan telepon mereka. Dia juga harus bersiap-siap untuk berangkat bekerja, setelah beberapa hari tidak masuk pasti banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan. Meskipun, dia telah menunjuk Bu Dania untuk menjadi PIC menggantikannya, tetap saja dia harus meninjau ulang laporan yang dibuat oleh Bu Dania.
Dia sudah tinggal sendiri di rumah itu selama dua tahun, dan belum pernah dia merasa sesepi ini. Padahal, baru seminggu tinggal bersama Alex dan tiba-tiba suasana rumahnya menjadi sangat berbeda. Biasanya dia tidak perlu sibuk di pagi hari, setiap bangun susu dan sarapannya telah siap. Sekarang dia harus memanaskan air dan membuat susu sendiri seperti sebelumnya.
Di kulkas ada banyak sekali bahan makanan untuk diolah, tetapi dia terlalu malas untuk menyentuh dapur. Sejak kecil, dia memang jarang menyentuh dapur. Semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh ibunya dan asisten rumah tangga. Saat memutuskan tinggal sendiri, barulah dia mulai belajar memasak, itu pun masakan yang dibuatnya pastilah masakan instan, entah kalengan atau bungkusan.
Sekarang zaman sudah berubah, mau makan apa pun tinggal pesan karena hampir semua rumah makan memiliki layanan delivery. Selain lebih mudah, juga lebih cepat. Lagipula, sejak mendapat promosi Ayu sangat sibuk hingga kadang hanya pulang ke rumah saat ingin tidur saja.
Ayu membuka kulkas, dia tidak berniat memasak, hanya ingin memeriksa beberapa bahan yang mungkin tidak tahan lama. Mata ya tertuju pada kotak dengan kertas post-it berwarna merah muda. Ayu mengambil kotak itu dan membaca tulisannya.
'Grab me for your brekky'.
Seketika Ayu tersenyum, dia menunduk dan meraih yogurt yang berada di rak bawah. Kemudian beranjak ke meja makan. Dia membuka kotak yang berisi pisang, apel, dan alpukat, lantas menyiramnya dengan plain yogurt. Sambil tersenyum, dia menikmati suapan demi suapan. Dia tidak menyangka Alex sempat menyiapkan buah itu sebelum berangkat ke bandara. Dia jadi merasa bersalah sudah menjahili Alex semalam.
Usai makan, dia berolahraga ringan, bisa dibilang hanya sekedar peregangan badan. Dia bangun awal berkat telepon Adri Alex, sehingga dia punya banyak waktu untuk berleha-leha sebelum berangkat bekerja. Tadi, dia sudah mengeluarkan beberapa sayuran, daging dan udang untuk diberi pada Bu Ina
__ADS_1
***
Awalnya Ayu mengira hidupnya akan kembali seperti sedia kala sekembalinya Alex ke Singapura. Dia salah. Hak pertama yang berubah adalah, mendadak orang-orang di kantornya menjadi lebih ramah padanya, bahkan Pak Ilham yang sempat berseteru karena masalah internal saat dia masih menjadi seorang store manager tiba-tiba menyapanya. Yang paling parah dari semua perubahan itu adalah, telepon pintarnya tidak berhenti berdering. Hampir setiap tiga puluh menit sekali, Alex menghubunginya.
Ayu merasa akan gila karena terganggu oleh panggilan Alex yang notabenenya hanya membahas hal tidak penting; menanyakan kabar, keadaan, makanan, perasaan, dan banyak lagi hal tidak penting lainnya. Baru dua hari dan kepala Ayu hampir pecah. Dia tidak melarang Alex menghubunginya, sebenarnya dia senang karena saat berbicara dengan lelaki itu -- dia merasa diperhatikan dan disayangi. Hanya saja, lelaki itu terlalu berlebihan, terkesan overprotektif dan membuat Ayu tidak nyaman.
Pada hari ketiga, Ayu sudah tidak tahan dan memutuskan untuk tidak menonaktifkan deringan HP-nya. Dia tidak ingin terganggu saat bekerja. Di situlah awal mula kekacauan yang lebih besar terjadi. Ada sekitar dua puluh panggilan tidak terjawab dari Alex. Ayu tersenyum puas menatap catatan panggilan itu.
"Permisi!" Seorang wanita masuk ke dalam ruangan Ayu.
"Lia," ucap Ayu dengan mata membesar, pasalnya dia tidak merasa ada urusan dengan sekretaris Pak Herdi, direktur administrasi, "silahkan duduk!"
Lia tersenyum sopan pada Ayu. "Ah, tidak usah. Aku ke sini hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, dan sepertinya kamu baik-baik saja."
Ayu mengerutkan kening tak mengerti. "Udah, duduk sini dulu!"
Dia memang selalu berbicara dengan santai dengan Lia saat hanya berdua, sekalipun itu di kantor. Bukan hanya dengan Lia, beberapa karyawan dengan jabatan setingkat dan usianya tak terpaut jauh pun seperti itu. Mereka hanya berbicara formal saat itu diperlukan.
"Itu Pak Herdi dapat telepon langsung dari Pak Yusuf buat memeriksa keadaan kamu. Katanya dari tadi ditelepon, kamu tidak angkat," jelas Lia yang seketika membuat Ayu murka.
Alex!! Pekik Ayu dalam hati. Dia tidak akan menahan amarahnya lagi, Alex sudah sangat keterlaluan.
"Ah, lagi mode silent," ungkap Ayu, "jangan bilang-bilang, ya!"
Lia tersenyum kecil. "Aduh, aku tadi sedikit panik dan sempat berbincang dengan beberapa orang di lift."
Matilah Ayu, berita ini pasti sudah menyebar ke mana-mana.
"Maaf ya, merepotkan!" Ayu merasa sungkan.
Ini semua gara-gara Alex. Jarak ruang kepala direksi dan petinggi perusahaan lain memang cukup jauh dari tempat Ayu, meskipun masih satu gedung. Dia jadi tidak enak pada Lia yang harus berjalan jauh untuk hal yang sangat tidak penting.
Belum lama Lia meninggalkan ruangan Ayu, terdengar lagi ketukan di depan pintu. Dari pintu muncul Salim dengan kantongan di tangannya.
"Itu apa, Lim?" Ayu menatap kantongan yang sepertinya berisi kotak makanan.
"Kiriman makanan buat Ibu," jawab Salim sembari meletakkan kantongan di meja Ayu.
"Aku nggak pesan," aku Ayu kebingungan.
"Katanya dari suami Bu Ayu," balas Salim senyam-senyum.
Ayu berdiri dan mulai membuka kantongan itu untuk memeriksa. "Suamiku tidak di Jakarta, masa ini dari dia," gumam Ayu.
"Zaman sudah modern, Bu. Tinggal telepon, antar deh," celoteh Salim.
Ayu pun mulai membongkar bekal yang berisi; capcay, nasi, tahu putih, suwir ayam, juga jeruk. Aromanya enak, tidak terlalu berbumbu. Sejak hamil dia memang tidak suka aroma berbagai rempah.
"Sudah makan, Lim?"
__ADS_1
"Tadi sebenarnya sudah mau makan, Bu. Eh, ada titipan," jawab Salim.
"Bawa bekal?"
Salim mengangguk mengiyakan.
"Ya udah, ini lauknya ambil sebagian, ya. Kebanyakan kalo aku habisin sendiri," kata Ayu mulai menyisihkan sebagian dari setiap makanannya, "mau jeruk juga, Lim?"
"Kalo dikasih ya aku makan, Bu."
Ayu hanya tersenyum.
"Suami Bu Ayu pasti tidak mau kalo Ibu gendut," cetus Salim.
Ayu berbalik menatap Salim dengan dahi berkerut. "Kok gitu?"
"Ini makanannya, makanan diet semua," balas Salim menyenter semua kotak makan siang itu.
"Ah, lebih sehat ini," balas Ayu, "ini, jangan dibuang!"
Salim cengengesan, lalu membalas, "makanan enak ini, masa dibuang."
"Makasih ya," ucap Ayu.
"Terimakasih juga, Bu. Permisi!"
Salim keluar dengan menenteng kantongan. Sementara, Ayu langsung duduk untuk menikmati makanannya. Belum sempat menyuap, HP Ayu berdering. Dia memutar bola matanya setelah melihat nama 'Lelaki Brengsek' tertera di layar.
"Makanannya sudah sampai, Sayang?"
"Sudah." Ayu menjawab ogah-ogahan.
"Enak?"
"Mana bisa makan kalo kamu nelpon terus," ketus Ayu.
"Ya udah, selamat makan! Aku juga mau makan siang," kata Alex, "nanti aku telepon lagi."
"Aku lagi kerja Alex, nggak bisa jawab telepon terus."
"Loh, aku nelpon cuma sebentar," bantah Alex.
"Udah, aku mau makan." Ayu langsung memutus sambungan telepon.
Kalau sampai Alex menelepon lagi, Ayu tidak akan menerima teleponnya. Dia sudah lapar dan akan memakan makanan yang dikirim oleh Alex. Rasanya enak, ini pas dengan selera ibu hamilnya. Mungkin Alex memang sudah pesan secara khusus, entah.
Dipikir-pikir lagi, bukankah Alex sangat perhatian, bahkan lelaki itu sempat memesan makanan untuknya. Ayu menarik kedua sudut bibirnya sembari menyendok satu suapan nasi dan capcay.
Ayu memang sebal karena Alex terus menggangunya, tetapi dia sangat bahagia karena merasa sangat diperhatikan. Dia selalu dimanja dan diperhatikan sejak kecil, dan perhatian yang diberikan oleh Alex berbeda. Alex seperti perpaduan ayah dan kedua kakaknya; sosok peduli yang penuh kasih sayang seperti ayahnya, penuh tanggungjawab dan tegas seperti Pandu, jahil tetapi rela berkorban seperti Bima.
__ADS_1
Memang paket komplit. Pikir Ayu.
***