
Alex melangkah mendekat menuju pintu. Dia sempat melirik ke belakang sofa tempat tas Ayu dia letakkan. Sebenarnya dia tidak menyangka tas itu tidak ditemukan oleh Ayu. Memang benar, tempat yang paling aman adalah tempat berbahaya itu sendiri.
Alex membuka pintu, Cleo berdiri dengan kotak di tangannya.
"Ah, thanks Cleo," ucap Alex sambil meraih kotak di tangan Cleo.
"Aku tidak diajak masuk, Pak Bos?"
Sejenak Alex berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mempersilahkan Cleo masuk. Keberadaan sekretarisnya itu pasti akan membuat Ayu lebih jinak.
"Aku memilih gaun persis seperti yang bos mau, simple dan elegan. Bu Bos pasti sangat cantik sekali." Kedua tangan Cleo menempel di pipi, dia tampak sangat senang dan antusias.
Alex tersenyum puas. Cleo telah menjadi sekretarisnya selama tiga tahun, dan semua pekerjaannya sangat memuaskan. Dia dapat diandalkan di segala bidang, bahkan sering kali dia memilih pakaian yang akan digunakan oleh Alex.
"Ayu ada di kamar, sepertinya masih capek."
Tanpa kata, Cleo melenggang masuk ke kamar Alex. Dia membuka pintu dan mendapati Ayu yang berdiri sambil berlipat tangan, satu kakinya menendang-nendang ke udara.
"Hai!"
Mata Ayu membulat dengan kening yang mengerut.
"Pak Bos minta aku buat bantu Ibu untuk siap-siap." kata Cleo segan dengan Isteri bosnya yang tampak gusar.
"Nggak perlu, biar aku sendiri."
"Jangan, jangan, Bu! Nanti Pak Bos marah, bisa dipecat aku." Cleo beralasan asal.
Tidak mungkin Alex memecatnya hanya karena hal itu. Dia paham betul atasannya itu tidak mungkin mencampuradukkan hal personal dengan pekerjaan. Meskipun selama ini dia bukan hanya sekedar sekretaris di kantor, tapi juga mengatur bebarapa urusan pribadi Alex.
"Ya udah, mana bajunya?" Ayu mengalah, karena dia juga tadi melihat wajah Alex saat marah sangat menakutkan. Sebagai sesama pekerja, Ayu mengerti betapa susahnya memiliki atasan gila seperti Alex.
"Astaga, ada sama Pak Bos. Aku ambil dulu, Bu," kata Cleo hampir menjerit.
"Cle ...." Ayu mencoba memanggil Cleo yang berlari cepat, namun sia-sia karena Cleo sangat gesit dan sudah hilang di balik pintu.
Lelah berdiri Ayu memutuskan untuk duduk di ranjang empuk Alex. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Meregangkan otot-otot lehernya yang kaku menunggu Cleo datang membawa gaun yang akan dia kenakan.
Tidak lama Cleo masuk dengan membawa beberapa kotak.
"Ini dia!" kata Cleo sambil meletakkan kotak-kotak itu di tepi ranjang. " Aku memilih khusus untuk Bu Ayu."
Ayu melirik merek yang tertera di dua kotak itu. Di kotak yang besar tampak tulisan 'Maxmara', dan di kotak hitam yang lebih kecil tertulis 'chanel' di atasnya.
"Ini Bu, pake dulu." Cleo menyodorkan kotak besar pada Ayu.
"Jangan panggil Ibu, Ayu saja." Ayu merasa risih dipanggil Ibu, mengingat Cleo bukanlah rekan kerjanya.
"Siap, Ayu!" Cleo menurut begitu saja.
Ayu masuk ke dalam walk-in-closet milik Alex. Lantas mengganti pakaiannya dengan dress yang dibeli oleh Cleo. Gaun yang dikenakan oleh Ayu berwarna putih dengan V-neck tanpa lengan. Panjangnya sampai di bawah lutut, bunga berwarna biru di kedua pinggirnya memberi kesan ceria pada gaun itu.
Saat dia keluar, wajah takjub Cleo menyambutnya.
"Wah, pas sekali. Sepertinya aku memang jago memilih gaun."
Ayu memutar bola matanya. Dia tidak heran Cleo memiliki sifat narsis seperti itu, bertahun-tahun bekerja dengan bos super narsistik pasti membuat Cleo tertular.
"Ini sepatunya!"
Ayu meraih Ballerina shoe yang diberikan oleh Cleo. Sepatu itu berwarna putih, di atasnya ada hiasan pita kecil dan logo mereknya yang berupa dua huruf C yang saling bertaut membelakangi.
Cleo mendekat ke arah Ayu, dia memegang pundak perempuan. Itu dan menuntunnya menuju ke depan cermin.
"Ayo mulai berdandan!"
"Aku bisa sendiri."
"Nanti Pak bos marah, harus aku yang dandanin katanya."
Mau tidak mau, Ayu pasrah begitu saja. Dia duduk di sebuah kursi dan terus mematuhi Cleo yang memasangkan bedak dan beberapa make-up lainnya.
"Pak Bos beruntung sekali punya isteri kayak Ayu. Cantik dan penurut." Cleo memuji dengan ceria.
Ayu hanya diam karena Cleo sedang membubuhkan pewarna bibir di bibirnya.
"Akhirnya sekrang Pak Bos sudah menikah, jadi aku tidak perlu melayani kebutuhan harian Pak Bos." Cleo melanjutkan setelah selesai dengan sentuhan terakhir di wajah Ayu.
Mendengar pengakuan Cleo membuat Ayu tebatuk-batuk. Dia tidak menyangka Alex juga memanfaatkan sekretarisnya. Dan yang paling mengagetkan Cleo dengan santai mengungkapkannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Cleo panik,"tunggu, astaga!" Cleo tertawa keras melihat tatapan Ayu padanya.
"Ih, maksud aku itu aku tidak perlu menemani Pak Bos buat pilih pakaian, beli furniture, sewa pembersih dan lain-lain, kan udah punya isteri." Cleo menjelaskan lebih rinci.
Ayu ber-oh pelan. "Aku kira kebutuhan apa?"
"Tenang, yang dicintai sama Pak Bos itu cuma Bu Bos," kata Cleo, kemudian diralat, "maksud aku cuma kamu."
Ayu tersenyum manis pada Cleo. Dia tidak ingin menampakkan wajah muaknya pada perempuan yang terlihat tulus itu. Cinta? Lelaki itu mana tahu apa kata itu. Menurut Ayu Alex itu lelaki brengsek yang hanya bisa memanfaatkan perempuan mabuk. Mengingat hal itu saja membuat dia ingin berteriak mengutuk lelaki itu.
"Liat deh, kamu cantik banget. Pantas aja Pak Bos langsung jatuh cinta."
Ayu menatap panggilannya di cermin. Hasil make-up ala Cleo sangat flawless. Wajah Ayu lebih mulus dan bening, jenis riasan yang sangat disukainya karena tidak menor; sangat simpel dan cantik.
"Terima kasih sudah menaklukkan hati Pak Bos dan menikahinya!" Cleo membungkuk, memberi penghormatan yang tulus pada Ayu.
"Besok juga aku ceraikan Bos-mu itu," kata Ayu sambil tersenyum, membuat nadanya seakan bercanda, namun dalam hati dia bersungguh-sungguh.
"Eh, jangan!" pekik Cleo. "Aku sudah berencana untuk mulai berkencan lagi." Mata Cleo berbinar. Kedua tangannya menyatu dan diletakkan di pipi kiri sambil memiringkan kepala.
"Karena Aku suka hasil riasanmu, aku akan menunda menceraikan Alex untuk beberapa bulan."
Bibir Cleo maju. Dia menggoyang-goyangkan lengan Ayu seperti anak kecil yang merengek mainan baru.
"Jangan dong! Nanti aku lagi yang repot urus ini dan itu untuk perceraian kalian."
Cleo masih mengingat beberap minggu lalu, saat Alex tiba-tiba memintanya untuk mengurus segala keperluan untuk pendaftaran pernikahannya. Hari ini selain menjadi saksi pernikahan, dia bahkan harus memilih pakaian dan beberapa aksesoris untuk Ayu.
"Iya, aku pertimbangkan lagi. Tapi, kamu harus bilang dulu apa rahasia memalukan Alex dan kelemahan dia."
Cleo tampak mempertimbangkan sejenak. "Ah, Pak Bos itu badannya gede, tapi takut sama strawberry."
Kening Ayu berkerut. Dia tidak tahu dari segi mana sehingga Alex takut pada stawberi yang imut itu.
"Katanya waktu kecil, Pak Bos pernah keselek dan hampir kehabisan napas." Cleo menjelaskan.
Ayu menarik satu sudut bibirnya. Sebuah rencana untuk membalas kejahilan Alex mulai terbesit di benaknya.
"Terus, Pak Bos itu sepertinya buta warna. Masa dulu pake dasi warna hijau, bilangnya warna biru." Cleo terus melanjutkan dan Ayu dengan antusias mendengar.
***
Dari tadi Hp-nya terus bergetar-getar karena notifikasi di Instagram. Foto tangannya dan Ayu benar-benar berhasil membuat heboh. Komentar-komentar selamat dan keterkejutan memenuhi kolom foto itu. Ada juga yang sampai mengirimkan pesan pribadi untuk mengetahui kebenarannya.
Biarlah, Alex ingin membuat mereka semakin penasaran.
Lelah menunggu, Alex memutuskan untuk melangkah menuju kamarnya. Dia masuk tanpa mengetuk. Dua perempuan yang ditunggunya, tampak sedang tertawa.
"Karena kamu bekerja sama dengan baik, aku cancel menggugat cerai Alex besok," kata Ayu sambil tertawa kecil.
Cleo bersorak singkat."akhirnya aku bisa pergi berkencan lagi."
Mata Alex memicing menatap dua perempuan yang pasti sedang membicarakannya. Dasar perempuan, sekali bertemu langsung akrab karena gosip.
"Sejak kapan aku melarang kamu berkencan?" kata Alex tiba-tiba, membuat dua perempuan yang tadi ceria langsung terdiam dengan wajah kaget.
Alex terus menatap tajam ke arah Cleo yang menunduk tiba-tiba. Perempuan itu merutuki diri sendiri yang tidak sadar akan kedatangan Alex.
"Tidak pernah melarang sih Bos, tapi setiap kali ada rencana hang out sama teman saja tidak sempat. Bos minta ditemani ke sini lah, beli itu lah. Kerja sama Pak bos itu seperti 25 jam sehari!" desis Cleo, kemudian memukul pelan mulutnya yang kelepasan.
Ayu hanya bisa menatap iba pada Cleo. Dia menepuk-nepuk pundak perempuan yang telah merias wajahnya.
"Aku sering loh bawa kamu kencan, Jonny juga," kata Alex mengingatkan.
Bibir Cleo maju. Dia mencoba mengingat apa arti kencan yang dikatakan Alex. Selama ini Alex dan Jonny selalu memanfaatkan dia untuk diajak menghadiri pesta karena tidak mau pergi sendiri saat mereka tidak menemukan perempuan lain -- juga saat mereka sedang menghindari mantan-mantan gila mereka. Pernah sekali dia diamuk oleh salah satu mantan Jonny karena mengira dia selingkuhan lelaki itu. Ah, kencan apa itu!
"Sudah Cleo, nggak usah didengar! Makasih loh udah dirias!" kata Ayu mencoba mencairkan susana.
"Bu Bos, bilang sama Pak Bos 'Cleo jangan dipecat!', ya!" Cleo memohon pada Ayu, seakan Alex tidak ada di sana.
"Bos-mu di sini loh, Cleo." Alex mengingatkan dengan suara ditekan.
Ayu hanya tersenyum kecil, tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih, hak itu terjadi karena salahnya meminta Cleo bercerita tentang Alex.
"Udah deh, Lex. Yang Cleo bilang juga benar." Ayu mencoba membela Cleo.
"Tapi, kan aku kasi bonus gede sekali jalan. Jonny bahkan kasi sebulan gaji, masa sekarang baru protes."
Pundak Cleo turun, dia akan angkat bendera putih sekarang. Gajinya memang besar, tetapi dia kehilangan kehidupan pribadinya -- tidak ada waktu untuk diri sendiri.
__ADS_1
"Cleo, besok kamu tidak usah ke kantor!" lanjut Alex, membuat mata Cleo dan Ayu membelalak.
"Loh, Pak Bos, saya dipecat?"
Ayu yang merasa bersalah, dengan cepat mendekat pada Alex. Dia menggamit lengan Alex, dengan suara lembut dia berkata, "jangan berlebihan, Sayang! Cleo cuma menyampaikan isi hati."
Dalam hati Alex merasa puas. Ayu memang sangat mudah ditebak. Dia sama sekali tidak berencana untuk memecat Ayu, bahkan dia berencana memberi sekretarisnya itu cuti selama dia kembali ke Jakarta.
"Isteriku kalo lagi senyum manis banget!" puji Alex mencubit pelan dagu Ayu.
"Cleo jangan dipecat, ya!" pinta Ayu dengan senyum dan mata melebar.
Alex menaikkan satu alisnya tampak berpikir. Dia berlagak menimbang-nimbang keputusannya. Padahal dalam hati dia tertawa -- bersama Ayu sepertinya dia tidak akan mati muda.
Harap-harap cemas, Cleo dan Ayu menunggu keputusan lelaki itu.
"Kalo isteriku yang cantik ini sudah memohon, mana mungkin tidak aku kabulkan," kata Alex menempelkan pipinya di pipi Ayu.
"Jadi, saya tidak pecat Pak Bos?" tanya Cleo hati-hati.
"Karena aku suka riasan isteriku, kamu boleh cuti seminggu."
Kedua bibir Cleo tertarik ke samping dan matanya melebar seakan ada nyala di sana. "Pak Bos serius?"
Alex mengangguk mengiyakan.
"Aku pulang dulu kalo begitu, Pak Bos. Saya doakan rumah tangga Pak Bos dan Bu Bos langgeng sampai kakek nenek; bahagia selalu." Cleo mendoakan dengan wajah berbinar. Dia masih kegirangan karena mendapatkan cuti.
Ayu berlipat tangan menunggu Alex yang masih berada di ruang gantinya. Sesekali dia menggeram marah pada dirinya sendiri. Sekali lagi dia terjatuh dijebakan bodoh Alex. Seharusnya dia sudah tahu kalau lelaki itu tidak mungkin memecat Cleo hanya karena masalah sepele seperti itu.
"Ayo, Sayang!" ajak Alex setelah selesai mengganti pakaiannya.
Alex mengenakan kemeja putih dengan aksen biru dan celana jeans hitam. Terlihat sangat santai, namun tetap berkelas.
"Jangan panggil aku Sayang!" rutuk Ayu.
"Tadi kamu panggil Sayang, aku tidak marah loh, Sa-yang!" Alex membela diri sambil memperbaiki letak jam tangannya.
"Kamu tadi kerjain aku lagi, kan!" bentak Ayu.
Alex tertawa pelan. "Tidak lah, Sayang! Udah, ya, kita berangkat sekarang, udah telat."
Ayu yang sedang duduk di tepi ranjang tak bergeming. Wajahnya di menghadap ke samping, ke arah di mana dia tidak perlu melihat Alex.
"Jangan ngambek lagi! Nanti anakku juga ngambekan kayak kamu," kata Alex sambil mengambil posisi di samping Ayu.
Setelah merasakan beban berat menekan sisi ranjang di sampingnya. Ayu memilih berdiri membelakangi lelaki yang baru saja duduk.
"Katanya udah telat, ngapain duduk lagi!" sindir Ayu dengan sinis.
Alex bangkit dengan desahan kasar. "Kamu gemesin kalo lagi ngambek kayak gini."
"Bodoh amat!" teriak Ayu sambil berjalan keluar dari kamar.
Alex mengambil langkah besar mencoba untuk menggapai Ayu. "Kasihan juga 'si Amat', setiap saat kamu bilang dia bodoh terus."
"Ha-ha-ha, lucu banget!" kata Ayu sarkastik dengan tawa yang lebih tepat disebut ejekan.
"Wajah kamu bikin gemas!" kata Alex sambil mencubit pipi Ayu pelan.
Dengan sigap, Ayu menyingkirkan tangan Alex dari pipinya. Dia memegang tangan lelaki itu, lalu memukul-mukulnya keras. Tulisan di dalan jam tangan Alex, membuat tangannya terangkat di udara.
'Louis Monet' dan 'Moon Meteoris', Ayu pernah membaca sebuah artikel tentang jam tangan yang katanya memiliki batu yang berasal dari bulan. Dia menelan ludah dan menghempas tangan Alex yang tadi dia pukuli. Langkahnya cepat dengan tatapan terus tertuju ke depan tanpa berkedip.
Roh Ayu seakan meninggalkan raganya, setelah mengingat harga dari jam tangan yang mencapai pilihannya milyar itu. Untung saja Alex bukan suaminya, maksudnya bukan suami yang dia nikahi karena cinta -- kalau saja iya, maka dia akan mencekik leher lelaki yang bodoh itu. Untuk apa membeli jam tangan yang bisa membeli sebuah gedung.
"Kenapa berhenti? Aku suka loh kamu pukul begitu," goda Alex sambil mengedipkan satu mata pada Ayu.
Ayu menggeleng beberapa kali sebelum melanjutkan langkahnya. Dia masih tidak mengerti kenapa ada orang yang mau membeli barang semahal itu, sementara kasus kelaparan masih terjadi di mana-mana.
"Dasar hedonis!" desis Ayu menyindir.
"Apa?" Alex bertanya karena ucapan Ayu yang tidak begitu jelas.
"Bukan apa-apa," kata Ayu.
'Hedon brengsek!' Ayu melanjutkan kalimatnya di dalam hati.
***
__ADS_1
😍😘