Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Said It


__ADS_3

"kenapa cepat sekali pulangnya, Bro?" Jonny mengejar Alex yang sudah meninggalkan ruangan VIP di club itu.


Alex tidak berbalik dan mempercepat langkahnya. Ini bukan pertama kalinya Alex melihat kelakuan Ben. Biasanya dia akan melakukan hal yang sama, tetapi mengingat dia sudah menikah, juga memikirkan bagaimana nasib si Kembar jika kedua orangtuanya berpisah membuatnya naik pitam.


"Bro, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Jonny yang tidak menyerah mengejar Alex. Dia merasa seperti mengejar pasangannya yang sedang marah, "kamu tahu Ben bagaimana? Lagipula, dia selalu punya batasan. Tidak pernah benar-benar selingkuh dari Clara."


Tentu saja Alex tahu, Ben tidak akan berani menyimpan perempuan lain di belakang Clara. Namun, itu tidak berarti bahwa Ben bisa mencumbu perempuan bayaran.


Alex yang sudah keukeh pulang, langsung memanggil Taxi. Tidak ingin temannya sendiri, Jonny pun ikut pulang ke apartemen Alex. Dia dan Gio akan berbagi tugas untuk menenangkan kedua temannya.


"Kenapa kau terus mengikutiku?" hardik Alex pada Jonny saat mereka sudah memasuki lift untuk membawa mereka di unit milik Alex.


"Aku kesepian," jawab Jonny.


Alex mencibir, "kenapa tidak ikut bermain dengan Ben. Kudengar dia akan main di Marina."


"Aku ingin main denganmu, Sayang!" goda Jonny yang langsung membuat Alex bergidik ngeri, "aku sedang ingin minum wine, dan di sini gudangnya."


"Kau pikir aku membelinya untukmu," rutuk Alex.


"Kau pelit sekali sejak sudah menikah," adu Jonny, "biasanya kau langsung menawarkan padaku."


"Ambil yang kau mau dan jangan menggangguku!"


Alex beranjak menuju kamarnya. Dia berniat untuk langsung tidur karena mengantuk habis minum alkohol. Namun, rencana hanya sekedar rencana. HP-nya berdering saat hendak berbaring. Kalau saja itu panggilan bukan dari Ayu, akan diabaikannya -- mengabaikan panggilan dari Ayu berarti menggali kubur sendiri.


"Halo, Sayangku!" sapa Alex begitu mengangkat telepon dari Ayu.


"Kamu belum tidur?" tanya Ayu melalui sambungan telepon.


"Aku sedang tidur, Sayang," canda Alex.


"Kenapa bisa angkat teleponku kalo gitu?"


"Alam bawa sadar yang menuntunku, Sayang, saking sayangnya," tutur Alex dengan lembut.


"Dasar gombal!" Suara cekikikan Ayu terdengar.


"Kenapa belum tidur?" tanya Alex, "apa Karin tidak datang?"


"Dia datang," jawab Ayu, "sudah tidur dari tadi."


Alex hanya ber-oh pelan. Dia terdiam beberapa saat. "Sayang!"


Ayu membalas dengan deheman kecil.


"Sebenarnya, aku baru pulang dari club sama Jonny dan yang lain," aku Alex. Dia merasa perlu untuk terbuka dalam keadaan apapun dengan isterinya. Menurutnya, dalam rumah tangga diperlukan komunikasi yang baik.


"Sayang!" panggil Alex setelah menunggu lama balasan dari Ayu.

__ADS_1


Helaan napas kasar terdengar melalui sambungan telepon. "Pantas saja dari tadi perutku sakit."


"Apa? Perutmu sakit?" Alex yang tadi duduk langsung berdiri karena kaget mendengar pengakuan Ayu.


"Iya, anakku pasti tau ayahnya nakal," ucap Ayu.


"Aku hanya minum sedikit, Sayang. Apa kamu sudah baikan sekarang?"


"Sudah baikan, kamu sudah di rumah."


Suara barang terjatuh dari luar serta Jonny yang bersenandung terdengar. Alex sontak mengumpat.


"Kamu sama siapa?" Ada nada curiga di suara Ayu.


"Itu Jonny, Sayang."


"Yakin itu Jonny?"


Alex mengangguk dan tidak langsung menjawab.


"Bohong!"


"Tidak, Sayang!" Alex mengusap HP untuk beralih pada panggilan video, "aku akan keluar memeriksa orang bodoh itu!"


Alex bangkit dan keluar menuju sumber suara barang terjatuh tadi. Belum keluar, dia mulai mendengar suara tuts piano yang ditekan asal. Dia mengeraskan rahang kesal karena piano kesayangan disentuh oleh Jonny.


"Suara apa itu?"


"Jangan ungkit itu lagi!" bentak Ayu.


Alex menurut dan beralih pada topik lain, "kamu tidak memasak untuk Karin, 'kan?"


"Aku buat spagety tadi, dia bilang lapar," jawab Ayu.


"Dasar Karin! Aku sudah bilang agar dia tidak merepotkanmu," rutuk Alex.


Alex terbelalak melihat keadaan ruang tamunya yang berantakan. Pakaian Jonny berserakan, juga gelas dan botol wiski kosong. Wiski itu termasuk tinggi kadar alkoholnya, hadiah salah seorang teman saat ulang tahunnya.


"Tunggu sebentar, Sayang!" ucap Alex, lantas meletakkan HP di meja. Dia melangkah mendekat pada Jonny yang sibuk bersenandung dan menekan tuts piano. Dia menarik lengan Joint dengan kasar.


"Dasar pemabuk menyusahkan?" rutuk Alex. Entah kenapa dia selalu menjadi penolong orang mabuk. Tidak Ayu, tidak temannya, sama saja.


"Sayang, tunggu! Aku akan mengurus pemabuk ini dulu," ucap Alex saat berada di samping meja tempat HP-nya.


Tidak menunggu jawaban, Alex langsung membawa Jonny ke kamar. Dia melempar lelaki itu dengan kasar, lantas melepas kaos kakinya. Tidak hanya itu, Alex juga menerim selimut agar tubuh temannya itu tetap hangat.


"Aku datang!" Wajah Alex muncul di layar HP.


"Kenapa Jonny mabuk seperti itu?"

__ADS_1


"Dia sedang kesepian," jawab Alex, "mungkin dia harus cepat menikah."


Ayu tertawa kecil. "Kasihan perempuan yang jadi isterinya."


"Kenapa?"


"Dia pemabuk," jawab Ayu, "aku bakal marah kalo kamu berani mabuk kayak orang gila begitu."


Alex tertawa. "Aku tidak selemah Jonny."


"Pokoknya, tidak boleh minum!"


"Iya, kamu juga. Kamu itu bahaya kalo mabuk."


"Dulu itu cuma kebetulan. Aku nggak suka minum alkohol. Asal kamu tau itu kali pertamaku minum Vodka."


Alex teringat dengan pembahasan mereka tadi. "Ah, masalah spagety tadi. Kenapa kamu memasak untuk Karin, sementara tidak untukku."


"Karena Karin suka masakanku," jawab Ayu singkat.


"Jadi, aku juga suka masakanmu. Pokoknya, masak apapun kalo kamu yang masak pasti enak, Sayang."


"Ya, udah. Kalo kamu pulang nanti aku masakin."


"Benar?"


"Iya."


"Ya sudah, aku pulang cepat besok."


Ayu tertawa lagi. "Kamu istirahat dulu kalo gitu. Biar besok kerjanya cepat kelar dan bisa pulang lebih awal "


"Selamat malam, Sayangku!" ucap Alex disertai suara ciuman di belakang.


Alex bersandar di sofa setelah meletakkan HP-nya. Malam ini dia akan tidur di sofa. Dia tidak ingin terganggu dengan Jonny yang kadang memeluk saat tidur. Dia jadi menyesal mengeluarkan ranjang di kamar sebelah. Dulu dia mengosongkan kamar itu karena tidak ingin Ayu memiliki alasan untuk pisah ranjang dengannya. Siapa sangka bahwa perempuan itu menolak untuk tinggal bersamanya.


***


Ayu mengakhiri panggilan dengan Alex. Dia merasa sangat senang. Dia mungkin  bisa tidur nyenyak karena sudah mendengar suara Alex. Tadi Karin memberitahu Ayu bahwa saat di bandara Alex mengaku sangat mencintainya. Dia tahu bahwa Alex mengatakan itu karena ingin meyakinkan bahwa mereka menikah karena cinta, tetapi entah kenapa dia sangat bahagia.


Ayu berbaring di samping Karin yang sudah pulas. Besok Alex akan datang dan dia bisa tidur dengan Alex. Dia menghirup bantal yang dia gunakan, ini aroma Alex. Sebelum tidur, Karin memaksa agar seprei dan selimut itu diganti karena tidak ingin tidur di seprei bekas Alex. Namun, dengan manja Ayu mengaku bahwa tidak bisa tidur tanpa aroma Alex.


"Dasar suami-isteri alay. Sok romantis!" Begitu respon Karin tadi.


Namun, lihatlah perempuan berdarah hispanik itu. Tidurnya sangat pulas.


***


*Baru selesai kerja 💜

__ADS_1


Untung bisa UP, meskipun pendek dan nggak tau feel-nya dapat atau tidak karena buru-buru*.


__ADS_2