
Sepanjang hari Ayu berkeliling di Orchard Road, membeli beberapa barang yang disukainya. Kapan lagi dia bisa berbelanja sepuas itu tanpa harus bekerja. Hanya tinggal menggunakan kartu milik Alex saja. Menyesal menikahi Alex seketika menghilang.
"Yang ini cantik, ya?" Cleo menunjuk salah satu mini bag berwarna merah saat mereka berada di sebuah rumah mode asal Italia.
Ayu mengangguk setuju. Dia baru saja mengambil dua tas yang harganya cukup fantastis. Jika mengambil tas itu lagi, kemungkinan mata Alex akan melebar atau bisa saja keluar karena harganya tidak tanggung-tanggung. Belum lagi, dia juga membeli satu untuk Cleo tadi.
"Nanti Bos-mu marah kalau aku belanja terlalu banyak."
Cleo menggeleng. "Tidaklah, Pak Alex kalau masalah uang itu loyal. Apalagi sama istri sendiri. Minta semuanya pasti diberi, beneran."
"Ah, masa sih? Emang Alex suka beliin barang buat mantan-mantannya juga, ya?"
"Iya lah, kan itu yang paling menarik dari Pak Bos. Suka bagi-bagi duit," sebut Cleo.
Awalnya, Ayu berniat pulang cepat karena tidak tega Alex kerepotan mengurus Aleeya sendiri. Namun, mendengar pengakuan Cleo membuatnya tinggi darah. Alex pantas dihukum. Biar saja lelaki itu menghadapi kerewelan Aleeya, toh dia juga anaknya. Sekali-kali Alex hari tahu bahwa mengurus bayi itu tidak mudah.
Sepanjang hari Ayu berbelanja. Membeli baju, perhiasan, dan tas. Pokoknya, hari ini dia akan membuat Alex menangis melihat tagihan kartu kreditnya. Tidak apa, dia yakin Alex tidak akan jatuh miskin hanya karena belanjaan Ayu.
Mobil Cleo sesak barang. Ayu seperti kesetanan saat belanja. Kalau Alex berani marah, akan dijitak kepalanya. Dia akan mengomeli lelaki itu jika berani perhitungan. Masa sama mantan pacar sering diberi hadiah, istri sendiri tidak. Enak saja.
"Aku bantu bawa,"tawar Cleo saat melihat Ayu kesusahan. "Kira-kira ekspresi Pak Bos bagaimana lihat belanjaanmu?" kekeh Cleo. Dia harus masuk untuk memastikan wajah kaget bos-nya itu.
Pintu apartemen telah dibuka oleh Ayu. Begitu masuk, tampak Alex yang sedang menggendong Aleeya. Dia berlari dan menjulurkan bayi itu ke depan dengan posisi telentang, seakan anaknya itu pesawat-pesawatan..
Paper bag di tangan Ayu jatuh begitu saja. "Alex!" pekik Ayu.
Alex berhenti dan langsung menarik tubuh mungil Aleeya dalam dekapan. Bayi itu masih tertawa. Tangan dan kakinya bergoyang-goyang riang.
"Kamu ini apa-apaan!" Aleeya memukul pundak Alex. Dia mengambil paksa Aleeya dari gendongan lelaki itu. Menatap tajam penuh emosi. "Kamu tau kan organ bayi itu masih lemah."
Alex mengatupkan bibir. Dia hanya menatap Aleeya yang juga sedang menatap ke arahnya. Tangan bayi itu terus mengarah pada ayahnya sambil mengoceh tak jelas. Alex terus mengedip-ngedipkan mata pada Aleeya, berharap bayi cantik itu mengerti bahwa sekarang sudah saatnya untuk diam.
"Pak Bos, aku pamit pulang dulu," pamit Cleo yang dari tadi hanya menonton.
Alex mengangguk kecil dan beralih lagi pada Ayu yang terus mengomel.
"Awas ya, kalo Aleeya sampai nangis-nangis nanti malam. Apa lagi sampai kebiasaan diterbangi kayak tadi!" Ayu memukul lengan Alex lagi. "Belanjaanku dibawa masuk!" suruh Ayu garang.
__ADS_1
Mata Alex baru tertuju pada belanjaan yang entah berapa jumlahnya. Ludahnya susah turun begitu melihat brand barang-barang itu. Padahal, baru kemarin dia berniat untuk berhemat untuk masa depan Aleeya dan adik-adiknya di masa depan. Kalau begini, dia harus kerja rodi agar bisa memenuhi kebutuhan istri borosnya.
***
Alex berlari kecil menuju unitnya. Dia membuka pintu dengan bungkusan di tangannya. Tadi, dia singgah di supermarket atas permintaan Ayu. Daging di kulkas sudah kosong, jadi dia singgah membelinya.
Mereka memang tak pernah pergi belanja bersama sejak kelahiran Aleeya. Tepatnya, bayi itu belum pernah keluar rumah selain ke Jakarta dulu.
"Sayang!" panggil Alex begitu masuk ke dalam rumah. Lelaki itu tidak mendapati Ayu di luar, baik di rumah tengah ataupun di dapur. Berarti perempuan itu sedang di kamar.
Setelah menyimpan belanjaan, Alex berlari-lari menuju kamar. Dia bersenandung, "Ayu, istriku sayang."
Ayu mendesis saat Alex masuk kamar. Telunjuknya berada di bibir, memberi tanda agar suaminya tidak ribut. Dia baru saja menidurkan Aleeya, hingga tidak mau bayinya terbangun.
Alex memberi kecupan di pipi Ayu dan memeluk sebentar, sebelum masuk ke kamar mandi. Dia merasa gerah, sehingga memutuskan untuk mandi.
Ayu sibuk membersihkan daging dan menyiapkan beberapa alat untuk dia gunakan membuat rendang. Dia sudah dapat resep dari Arini sore tadi. Alex sangat suka steik dan tidak begitu suka makan nasi putih. Jadi, dia memutuskan untuk membuat steik dengan bumbu rendang khusus untuk Alex.
"Mau aku bantu?" tawar Alex yang rambutnya masih lembab sehabis mandi.
"Tinggal di-blender langsung aja."
Ayu hanya mengangguk. Dia mulai memotong daging lebar-lebar. Mereka mulai memasak bersama seperti biasa. Sesekali Alex mencuri cium pipi Ayu, lalu cekikikan dan lanjut mengaduk bumbu yang dia tumis.
Sementara, Alex sibuk dengan rendang yang katanya akan di masak oleh Ayu. Perempuan itu mulai merebus sayuran untuk mereka santap bersama rendang. Terdengar aneh, tetapi rendang berbentuk steik itu akan mereka santap dengan kentang rebus, wortel, dan buncis.
Pandangan Alex bergantian dari rendang ke Ayu. Dia memperhatikan perempuan yang terlihat serius. Siapa sangka si manja itu bisa seserius itu. Seminggu terakhir ini, Ayu seakan menjelma orang lain. Perempuan itu lebih ramah, lembut, juga perhatian. Dia merasa pernikahan mereka semakin indah.
Dua piring steik rendang di meja. Alex dan Ayu sudah siap untuk menyantap makanan itu. Namun, tiba-tiba suara tangis terdengar dari kamar. Ayu segera melangkah, sempat menahan Alex yang hendak mendahului.
Alex memilih duduk di kursi menunggu kedatangan Ayu. Dia langsung tersenyum pada anak dan istrinya yang baru datang.
"Anak Daddy udah bangun," ucap Alex yang sudah meraih Aleeya. Bayi itu sudah diam, dia terus berceloteh khas bayi yang menambah kelucuannya.
"Tau aja kalau ada makanan enak," canda Alex usai mengecup pipi gembul Aleeya.
"Biar aku suap, ya?" tawar Ayu mulai memotong daging.
__ADS_1
"Beneran? Biasanya kamu yang minta suap."
"Kan gantian." Ayu menyuapi Alex dengan potongan daging besar, lalu disusul kentang dan sayuran. Setelah, menyuap Alex, barulah dia menyuapi diri sendiri. Begitu terus hingga dua porsi makanan itu raib. Sementara, Aleeya mulai gelisah di pangkuan Alex.
"Dia lapar," ucap Alex. Tatapannya beralih pada Aleeya. "Tunggu ya, Nak. Mommy minum dulu."
Malam itu Alex dan Ayu berbincang lama. Sementara, Aleeya asyik sendiri di tengah-tengah mereka. Bayi itu ikut berbicara di sela-sela perbincangan orang tuanya.
"Anak kecil tidak boleh dengar," ucap Ayu menutup telinga Aleeya saat Alex mulai menggodanya.
"Kalau Aleeya udah tidur, boleh, 'kan, 'kan?"
"Aku capek. Besok aja," balas Ayu membuat Alex mencebik.
"Padahal, Aleeya pasti senang kalo punya adik, biar bisa main bareng."
Ayu memutar bola matanya. Aleeya bahkan baru beberapa bulan dan Alex sudah sering meminta agar Ayu hamil lagi. Kata lelaki itu sebenarnya dia ingin anak sebelas, tetapi mungkin terlalu banyak. Jumlah anak yang paling pas adalah lima.
Namun, niat Alex untuk memiliki lima anak urung saat melihat Ayu kesakitan waktu melahirkan. Keputusan akhirnya adalah memiliki tiga anak yang usianya hanya terpaut setahun setiap anak.
Menurut Alex memiliki anak dengan jarak usia berdekatan itu bagi, anak-anaknya bisa bermain bersama, tumbuh bersama, bahagia bersama.
"Enak aja. Kamu yang hamil, ngelahirin, menyusui, dan besarin sendiri. Satu aja aku udah hampir gila rasanya, makan saja susah."
"Kita bisa sewa baby sitter nanti, Sayang. Coba bayangkan di rumah kita nanti ada tiga balita lucu." Tatapan Alex mengawan-awan membayangkan tiga anaknya kelak yang berlarian dengan riang. Senyum di wajahnya sangat lebar, menampakkan gigi-giginya.
Ayu ikut memgawan, tetapi ekspresinya sangat berbeda dengan Alex. Dia bergidik ngeri membayangkan tiga anak yang sama besar berlarian, menghambur barang, menangis, berkelahi, dan banyak lagi kenakalan-kenakalan khas balita lainnya. Dia masih ingat bagaimana susahnya Ira saat Tara dan Lara masih kecil.
"Tidak!" pekik Ayu membuat Aleeya tersentak. Bayi itu mulai merengek, bibirnya maju ingin menangis. Untung Alex segera menepuk paha bayi itu dan mengajaknya mengobrol.
"Kamu kenapa?" tanya Alex saat Ayu melotot tajam padanya.
"Tidak ada jatah buat kamu sampai aku menemui dokter kandungan," rutuk Ayu berbalik badan.
***
l
__ADS_1