Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Selfish


__ADS_3

Jemari indah Tamara menari dengan lihai di atas piano. Kadang matanya tertutup meresapi suara hasil ketukan-ketukan jarinya di setiap tuts. Setiap kali banyak pikiran, dia memang senang menghibur diri dengan memainkan piano. Meskipun bukan seorang pianis profesional, namun kemampuannya cukup hebat. Dia berlatih piano dan biola sejak kecil, kecintaannya pada instrumen klasik membuat Tamara lihai memainkan beberapa instrumen musik.


Tiba-tiba jemari Tamara terangkat, kemudian menjauh dari tuts piano. Bermain piano justru membuatnya semakin bingung dengan perasaannya sendiri.


Tepuk tangan terdengar, membuat Tamara mengangkat wajah. Di samping piano ada Richard yang berdiri dengan senyum yang biasanya membuat Tamara lupa segalanya. Dia masih ingat betapa memabukkannya bibir manis itu.


"My great pianist," puji Richard sambil mendekat dan duduk di samping Ayu.


Tamara mengangguk kecil dan memaksakan senyum.


"Ada masalah?" tanya Richard setelah menangkap hal aneh di wajah Tamara.


Kemana perginya gadis periang yang dikenal oleh Richard?


"Apa karena Alex menikah?" tanya Richard.


Tamara mengangguk membenarkan.


"Harusnya kamu senang dong, Babe."


Tamara berpikir sejenak. Richard benar, seharusnya dia bahagia karena akhirnya Alex menikah. Dia masih ingat bagaimana temannya itu pernah bilang bahwa dia tidak ingin menikah kalau bukan dengan Tamara. Ah, tidak! Alex mengatakan hal itu saat masih berumur 12 tahun. Alex pasti sudah lupa pernah mengatakan hal itu.


Tamara menggeleng-geleng keras berusaha menghilangkan bayangan masa lalunya. Tamara meyakinkan dirinya bahwa kecewa yang ada di hatinya bukan karena Alex lupa pada perkataannya, tetapi karena lelaki itu menyembunyikan pernikahannya.


"Babe, dia menikah dengan Ayu. Ayu, temanku juga." Tamara mengungkapkan isi hatinya dengan wajah yang mulai memerah.


Richard mencoba menenangkan Tamara. "Mereka mungkin punya alasan."


"Aku bukan orang lain, Richie. Kami teman baik. Kamu tau gimana dekatnya aku sama mereka." Suara Tamara bergetar. Dia ingin menjelaskan lebih panjang lagi sebenarnya, tetapi dia tahu bahwa tanpa dijelaskan pun Richard pasti sudah tahu bagaimana dekatnya Tamara dengan Ayu dan Alex.


"Aku bahkan tidak tau mereka saling bertemu di belakangku. Aku seperti dikhianati," ungkap Tamara sedih.


Richard menarik kepala Tamara dan memeluk perempuan itu. Dia berusaha menenangkan Tamara agar berhenti menangis


"Aku tau, tapi sebagai teman, kamu harusnya mendukung mereka. Bukan menangis kayak orang diselingkuhi kayak gini!" kata Alex sambil mengelus rambut Tamara.


"Tapi, mereka harusnya tidak menyembunyikan hal bahagia itu dari aku. Aku nggak mungkin menghalangi mereka, aku bahkan sudah sering ingin comblangin mereka. Aku udah liat pesta kecil mereka dan di sana ada teman Alex yang lain. Dia pasti nggak nganggap aku teman lagi."


Richard berdecak. "kamu ini, kalo mau tau lebih jelas ya dihubungin. Kasi mereka ucapan selamat."


Tamara menarik diri daridekaoan Richard. "Ayu belum menghubungiku sampai sekarang, dia lagi bahagia mungkin lupa sama aku. Alex juga belum balas pesan yang aku kirim, cuma di read."


Kali ini Richard mengerutkan kening. Dia tidak pernah mendengar Alex mengacuhkan pesan Tamara, bahkan biasanya lelaki itu selalu menghubungi Tamara untuk sekedar mengganggu momennya berduaan. Kalau saja Richard tidak mencoba berpikir bijaksana, maka dia akan berpikir bahwa Alex mencintai Tamara.


"Ayo berpikir dengan kepala dingin, Babe. Alex dan Ayu tidak mungkin lupa sama kamu, hubungi dulu dan bicara yang baik." Richard memberi saran.


Richard benar, Tamara harusnya bisa berpikir lebih bijak dan tidak egois. Bisa saja Ayu dan Alex memang memiliki alasan sehingga memilih untuk tidak mengumumkan pernikahan mereka. Tamara berpikir keras tentang alasan yang mungkin disembunyikan Alex dan Ayu, dan nihil.


"Alasan apa? Aku nggak nemuin apapun alsan sehingga mereka sembunyiin hal bahagia itu dari aku."


Richard menggenggam kedua tangan Tamara. "Mana bisa kamu tau kalo nggak bicara. Ketemu sama mereka, kasi ucapan selamat dan tanya alasan mereka apa. Komunikasi, supaya nggak salah paham."


Tamara menyandarkan kepalanya di pundak Richard. Ini yang dia sukai dari Richard, selalu bisa menghibur dan menyenangkannya. Sudah berapa lelaki yang keluar dan masuk dalam kehidupan Tamara, kebanyakan dari mereka hanya menyisakan luka. Richard berbeda, dia yang paling mengerti keinginan Tamara, setelah Alex tentunya.


Sejak kecil Tamara selalu didorong oleh orangtuanya untuk selalu menjadi yang terbaik dalam segala bidang. Karena dituntut untuk selalu sempurna, Tamara tidak pernah bisa menjadi dirinya sendiri. Dia selalu memasang topeng untuk menyembunyikan jati dirinya. Sering kali berkata baik-baik saja, meskipun dia terluka.


Dulu Alex selalu menjadi pelipur lara bagi Tanara saat merasa sedih karena ketidakpuasan orang tuanya atas pencapaiannya. Tamara masih ingat saat dia dihukum oleh ibunya tidak bisa keluar rumah karena tidak hanya meraih juara dua di salah satu olimpiade sains yang dia ikuti, Alex datang di rumahnya hampir setiap hari. Lelaki itu menemaninya bermain boneka, meski Alex tidak suka berbie.


Mengingat masa kecilnya dan Alex, membuat Tamara semakin tidak mengerti mengapa Alex merahasiakan pernikahannya. Tetapi, Richard benar, dia tidak boleh egois dan harus bertanya sendiri pada Alex dan Ayu.


***


Tamara duduk di balkon apartemen Karin, dia sedang menikmati langit malam. Meski tanpa bintang, hanya bukan sabit yang tampak malu-malu menampakkan cahaya, namun masih indah di mata Tamara.


Karin berdiri sambil berlipat tangan dengan satu pundak bersandar di bibir pintu geser berbahan kaca. Dia menatap Tamara yang asyik dengan langit yang sama sekali tidak menarik bagi Karin.


"Nggak masuk Tam? Ayu udah di lift, bentar lagi sampai."


Tamara berbalik dan tersenyum pada Karin. "Ah, bagus, aku nggak sabar ngucapin selamat secara langsung."


Sementara kedua temannya sedang antusias menunggu kedatangan Ayu, Ayu justru mondar-mandir di depan elevator. Dia bingung dengan alasan yang akan dia katakan pada Karin dan Tamara. Berakting di depan keluarganya lebih mudah daripada kedua temannya itu.


Meski ragu, Ayu menekan bel sambil menggigiti bibir. Sejenak memejamkan mata dan menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan. Saat Ayu membuka mata, pintu terbuka pelan dan menampakkan wajah cantik Tamara yang sedang tersenyum menyambutnya.


"Miss you," kata Tamara sambil memberi Ayu pelukan singkat.


Mereka masuk menuju ruang tengah di mana Karin sedang duduk sambil berlipat kaki. Mata Karin memicing, menatap ke arah Ayu.


"Im happy for you, Ay, really!" ungkap Tamara sambil memegang kedua tangan Ayu.

__ADS_1


Ayu tersenyum dan berterima kasih pada Tamara. Dia tidak menyangka bahwa Tamara akan sebahagia itu, padahal tadi dia sangat takut bahwa Tamara akan marah. Ditambah Laed yang tadi menunjukkan pesan Tamara yang menyiratkan bahwa perempuan itu marah


"Traitor!" hardik Karin setekah berdiri dan bertolak pinggang.


Ayu mendekat ke arah Karin yang dia tahu sedang emosi. "Tenanglah, Rin! Aku bisa jelasin!"


Tamara membela Ayu. "Ayu tuh cuma mau kita suprise gitu."


Ayu mengangguk mengiyakan.


Karin berdecak keras. "Suprise taikmu, yang ini namanya bikin jantungan."


Tamara dan Ayu melirik sekilas. Untung saja mereka sudah sangat mengenal Karin, sehingga tidak heran lagi jika wanita dengan wajah yang kadang tampak lugu itu menghardik dan mengeluarkan kata kasar.


"Sudah berapa bulan, huh?" Karin melanjutkan dengan tatapan sinis.


Bibir Ayu yang tadi terbuka sedikit, langsung mengatup mendengar kecurigaan Karin. Dia ingin membela diri, namun seperti ada cakram di tenggorokannya.


"Karin, jangan kelewatan, deh!" bela Tamara."kamu tau Ayu punya pemahaman kuno kalo masalah sex."


Karin memutar bola matanya. "Karena kuno itu, dia nggak ngerti sama 'safety', iya kan?"


Mendengar perkataan Karin, wajah Ayu mulai memerah. Keringat dingin pun mulai merambah keluar di pori-porinya. Bagaimana bisa Karin dengan mudah menebak Ayu? Ayu menggigiti bibir bawahnya lagi.


Tamara menggeleng-geleng tak setuju dengan pemikiran Karin. "Ayu bukan kamu, Karin. Come on, that's nonsense!"


"Maksudnya, Ayu good girl dan aku bad girl, gitu?" Karin menantang tak terima.


Tamara menatap Ayu dan Karin bergantian, kemudian mengangguk. "We know itu so well, right?"


Karin terkekeh. "Ah, benar juga. Aku lupa, Im the bad one!"


Karin terus terkekeh, sehingga Tamara dan Ayu saling menatap dengan kening mengerut.


Dengan senyum dan penuh semangat Karin melangkah cepat ke arah Ayu. Dia memeluk erat Ayu yang masih kebingungan.


"Congrats, Ayuku yang manis!" teriak Karin antusias setelah melepas pelukannya.


Ayu hanya menarik sedikit bibirnya yang kaku. Dia mengelus pelan dadanya, merasa lega karena Karin tidak bersungguh-sungguh dengan kecurigaannya tadi.


"Mukamu pucat, aku cuma bercanda, kali!" kata Karin.


Karin menatap Ayu. Dia tertawa sambil menggeleng. "Aish, kok pucat, jangan-jangan emang lagi berisi ya, Neng?"


"Apaan sih, Karin, nggak lucu!" keluh Ayu.


"Ia, ia, kamu good girl dan aku bad girl, clear, period."


Tamara menimpali. "Aku nggak serius tadi."


"Ah, tunggu dulu, hanya karena aku merokok, berkata kasar dan loss my virginity, is it means im a bad girl?"


Tamara menggeleng. "Nggak gitu, Rin."


"Kamu bukan bad girl, kok. Gimana ya ngomongnya?" kata Ayu. "Ah, kamu itu cuma sedikit amoral, sedikit ya."


"Kampret, nggak ada yang kerenan sedikit. A--moral? What's 'moral' means? Aku nggak tau kalo kata itu ada."


Tamara menggoyangkan tangan di udara. "Udah, jangan ngebahas ini, nggak bakal tamat!"


"Nggak, aku mau semuanya clear dulu." Tolak Karin. "Coba jelasin apa itu moral, sampe aku dicap amoral!"


Tamara mulai menjelaskan. "Moral itu semacam perilaku individu dalam bersosialisasi yang dinilai positif."


"Yang nilai siapa?" tanya Karin dengan kepala sedikit dimiringkan.


"Ya, ehm, kita, manusia," jawab Tamara ragu.


"That's the point, manusia, masyarakat sok bermoral! mereka bukan hakim yang bisa menghakimi perilaku orang lain bermoral ato tidak. Memangnya mereka Tuhan! just live your life people, jangan kepo!" omel Karin jengah.


Ayu ikut angkat bicara. "Aku pikir semua yang kamu sebutin tadi termasuk larangan Tuhan, dosa!"


"Ini juga, dosa? Who said that?  Apa Tuhan ngomong langsung ke kamu? Haduh!" Debat Karin.


Tamara angkat tangan."Im quit!"


"Aku juga." Ayu ikut angkat tangan.


Ayu sadar bahwa dirinya kepala batu, namun Karin berada di level tertinggi.  Sifat keras kepala Karin setingkat dengan logam vibranium yang konon katanya nyaris tak bisa dipatahkan versi komik Marvel.

__ADS_1


"Okay, tapi aku cuma pengen orang tau kalo this is me gitu, aku nggak mau ngelakuin sesuatu yang bukan aku. Mau dinilai apa, itu urusan mereka, bukan urusanku! That's it!" jelas Karin dan menutup pembahasan moral mereka malam itu.


Kini mereka duduk, mulai mewawancarai Ayu mengenai pertemuannya dengan Alex.


"Kalian ketemu pas ulang tahun aku, terus waktu dia temani kamu di hotel kalian makin dekat, gitu?" tanya Tamara sedikit bingung.


Ayu mengangguk mantap.


Tamara masih ingat saat dia meminta Alex menjaga Ayu di hotel, lelaki itu tampak tidak mengenal Ayu sama sekali. Tamara menggeleng pelan untuk menghilangkan asumsinya.


Karin tampak menghitung. "Kenal cuma dua bulan dan mutusin buat nikah!" pekik Karin usai menghitung awal pertemuan Alex dan Ayu. "Nggak, untuk mengurus perijinan dan *****-bengeknya butuh hampir sebulanan. Literally, kalian mutusin buat nikah cuma sebulan setelah kenalan. What a story!" ralat Karin.


Ayu berpikir sejenak. Dia menelan ludah dengan berat, jadi berapa jadi janinnya sekarang? Sudah masuk Minggu ke-tujuh, sebentar lagi mungkin perutnya akan membuncit. Ayu mengelus pelan perutnya.


"Richard melamarku butuh waktu dua tahun, Yu. Itu pun kami belum memutuskan kapan dan bagaimana kami akan menikah. Bagaimana bisa, Wow, aku speechless."


Ayu mendengarkan diri dan mulai memberi alasan. "Kami nggak pacaran. Dari awal aku bilang sama Alex kalo aku nggak cari pacar, tapi suami."


Karin ternganga mendengar pengakuan Ayu. "Sesimpel itu, aku heran kenapa si brengsek yang kamu pacari bertahun-tahun justru kabur."


Karin tersenyum getir.  Pernikahan Ayu dan Alex sebenarnya jauh lebih sederhana dari pemikiran Karin. Tidak butuh waktu sebulan, hanya semalam, beberapa jam yang terkutuk yang membuat Ayu terjebak dalam kebohongan demi kebohongan.


"Karena itu kenapa aku mutusin untuk menikah dengan Alex. Dia serius dan penuh tanggungjawab."


"Alex memang kadang nyebelin, tapi dia lelaki yang cuma bisa kamu jumpai sekali dalam sejuta kehidupan," ungkap Tamara dengan suara lembut dan tampak tulus.


Tatapan Ayu beralih pada Tamara. Dia bisa melihat bagaimana Alex sangat penting dan berarti untuk Tamara. Mata Tamara seakan mengatakan bahwa Tamara dan Alex bukan hanya sekedar teman.


Karin menyetujui pernyataan Tamara. "Paket komplit yang nggak bakal kamu dapat di mana-mana."


Ayu hanya terus tersenyum mendengar Karin dan Tamat memuji Alex. Mungkin memang benar, Alex adalah lelaki yang baik, tetapi Ayu akan tetap mengingat dan melihat Alex sebagai lelaki brengsek.


"Ah, aku masih penasaran, apa yang buat kamu tuh akhirnya mau nikah sama Alex?" tanya Karin. "Cinta pandangan pertama?"


Ayu berpikir sejenak. "Bukan cinta sih sebenarnya, kamu tau aku sedikit susah jatuh cinta."


Tamara dan Karin mengangguk sekilas.


"Susah move on juga." Tambah Karin.


"Aku menikah dengan Alex bukan karena cinta, tapi sesuatu yang lebih besar dan penting," jawab Ayu, "komitmen dan tanggung jawab."


Karin berdecak kagum. "Wah, ceroboh tapi hebat sih. Putusin untuk menikah dalam waktu singkat itu, sesuatu banget menurut aku."


"Aku senang akhirnya kamu bisa benar-benar move-on dari Arya. Sebagai teman Alex dari kecil, just believe me, Alex seratus kali lebih baik dari Arya." Tamara menambahkan.


"Meskipun dulu dia sedikit player," timpal Karin.


"Nggak, Jangan khawatir, Yu. Alex itu penganut monogami meskipun ateis dan berjiwa liberal." Bela Tamara. "Cita-cita utama Alex adalah memiliki pernikahan yang bahagia. Aku pikir menjadi isteri Alex adalah hal yang yang nggak bakal pernah kamu sesali dalam hidup. Meski terkesan tidak pernah serius, dia tidak akan pernah main-main dalam hal pernikahan."


Ayu kira saat Alex mengaku sebagai penganut monogami, lelaki itu hanya membual. Setelah mendengar Tamara juga mengatakan hal yang sama, Ayu mulai sedikit percaya bahwa Alex serius dengan perkataannya. Selain itu, mengingat bagaimana sikap Alex yang berubah drastis saat bertemu dengan Marissa tempo hari membuat Ayu yakin bahwa Alex hingga sekarang belum bisa mengatasi trauma masa kecilnya.


Alex adalah anak dari keluarga broken home, tidak heran kalau dia memiliki keinginan kuat untuk tidak memiliki rumah tangga seperti orang tuanya.


"Kamu pulang sendiri ato dijemput sama Richard?" tanya Ayu.


"Bukannya kita nginap, Yu?" Tamara balik bertanya.


"Sebenarnya Alex nunggu di cafe bawah."


Karin yang baru saja datang dari toilet mengambil tempat di samping Tamara.


"Ayu nggak nginap, katanya Alex udah nunggu di cafe bawah," kata Tamara pada Karin.


"Loh, kok gitu. Biasanya juga kita tidur bareng. Mentang-mentang udah nikah." Protes Karin.


"Makanya cepat nikah juga. Tamara sama Richard bentar lagi bakal nikah, tinggal kamu yang nasibnya nggak jelas!" canda Ayu.


"Dasar emak-emak kepo. Mau nikah ato nggak yang penting heppi." Balas Karin.


Ayu tertawa melihat wajah sebal Karin. Selain keras kepala, Karin juga sangat tempramental, dan entah kenapa itu yang membuat dia nyaman dengan Karin karena perempuan itu selalu apa adanya.


***


😊😊


Nggak terasa ternyata udah hampir seminggu nggak UP. Author masih nge-bucin, jadi maaf kalo suka telat.


Borahae 💜

__ADS_1


Jangan bosan-bosan ya, nunggunya 😘


__ADS_2