Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
First Wave


__ADS_3

Ayu mengakhiri panggilan videonya bersama Alex. Sebelum kembali ke Singapura, lelaki itu telah mengatakan bahwa tidak bisa kembali ke Jakarta Minggu ini.


Dia memang berharap Alex tidak pulang Minggu ini, karena dia memiliki banyak pekerjaan. Kalau sampai Alex datang, lelaki itu pasti akan marah-marah jika tahu Ayu bekerja hingga larut malam. Untuk menghindari ketahuan, dia tidak akan mengangkat video call dari Alex.


[Aku lagi malas liat mukamu]


Ayu mengirim pesan itu pada Alex setelah mendapat sepuluh panggilan video yang tidak terjawab dari lelaki itu.


[Bagaimana dengan suaraku]


Ayu tidak membalas pesan itu. Dia memasang airpod dan langsung menghubungi Alex. Sembari mengetik laporan pertanggungjawaban, dia berbincang singkat dengan Alex.


"Kamu udah makan, Sayang?"


"Sudah tadi. Aku juga sudah minum susu."


"Bagus," ucap Alex. "I Miss you."


"Nggak usah lebay!"


"Kok lebay? Aku serius Sayang."


Ayu mengumpat kecil saat melihat di layar laptopnya tertulis 'I Miss You'. Dengan gusar, dia segera menghapus kata itu.


"Ada apa, Sayang?"


"Nggak ada apa-apa. Memangnya kenapa?" Ayu berusaha terdengar sangat normal agar Alex tidak curiga.


"Kamu di rumah, 'kan?"


Ayu melirik Hp-nya yang bergetar. Alex meminta beralih pada panggilan video. Dua langsung menolak lagi.


"Aku udah bilang lagi malas liat mukamu."


"Tapi, aku kangen, gimana dong?"


"Aku matiin, nih."


"Coba aja, dalam dua jam aku udah sampai di sana."

__ADS_1


"Ya udah, bagus kalau begitu," balas Ayu dengan ucapan yang  tulus. Tentu saja, dia ingin Alex ada di sampingnya. Selain bisa bermanja-manja, dia juga merasa aman setiap kali bersama -- seakan tidak akan ada yang bisa melukainya.


"Tuh 'kan kangen."


"Si-apa bi-lang? Aku itu cuma mau dimasakin dan disopirin, tau!" sanggah Ayu.


"Bilang aja mau dikelonin juga," goda Alex tak menyerah.


"Sana kelonin buaya!" ketus Ayu, meski dalam hatinya dia memang merindukan Alex yang selalu memberinya kehangatan.


"Jangan gitu dong, Sayang! Aku ini serius," ungkap Alex.


"Udah, aku ngantuk." Ayu berbohong lagi, karena pekerjaannya tidak akan selesai kalau terus berbicara dengan Alex. Sudah berkali-kali dia salah ketik.


"Ini baru jam 8."


"Tapi, aku ngantuk."


"Ya sudah, kamu istirahat kalau begitu."


Ayu hanya berdeham sebagai balasan.


"Sayang, Sayang!" panggil Alex.


"I love you," ucap Alex denah suara seperti berbisik.


"Iya, iya, bye!" balas Ayu langsung memutus sambungan.


Ayu memegang dada kirinya dan merasa detakan kencang dari dalam sana. Dia tahu kata cinta dari Alex tadi hanya salah satu dari gombalan lelaki itu untuk mendapatkan perhatian Ayu. Dia tidak akan membiarkan dirinya terbawa perasaan. Bagaimanapun, dia tahu bahwa di hati Alex hanya ada Tamara, meskipun dia yakin bahwa sedikit pun Tamara tidak memiliki perasaan pada Alex.


***


[Ayy, Opa Surya meninggal]


Pesan dari Karin membuat mata Ayu terbelalak. Dia masih ingat saat menghadiri makan malam di rumah Tamara, Opa Surya masih terlihat sehat. Lelaki dengan rambut perak itu bahkan sempat bercanda dengannya dan Alex, meski singkat karena dia datang saat Ayu sudah mau pulang.


'Pendiri Dirgantara Group, Surya Dirgantara, berpulang di usia 74 tahun.'


Ayu membaca salah satu berita di sosial medianya. Dia langsung membuka Instagram Tamara dan mendapati foto Opa Surya yang sedang tersenyum dengan caption 'Opa, We love You.'

__ADS_1


Hari ini hari Sabtu, Ayu sebenarnya libur kerja. Namun, karena masih banyak pekerjaan dia tetap datang ke kantor. Setelah mengetahui bahwa Opa Surya meninggal, dia segera berangkat setelah mendapat pesan dari Karin bahwa kakek Tamara itu masih di rumah duka.


Menurut berita yang Ayu baca, rumah duka itu tidak menerima pelayat. Mereka ingin pemakaman berlangsung khidmat dan hanya dihadiri oleh keluarga. Dia tidak merasa seperti orang lain di keluarga Tamara. Benar, saat memasuki pagar rumah kakek Tamara itu, dia langsung dipersilahkan masuk oleh security yang menjaga.


Di dalam sudah banyak orang, sebagian besar dari mereka sudah Ayu kenal. Ada beberapa yang tak pernah dia lihat, mungkin keluarga jauh Tamara. Matanya berhenti pada perempuan yang sedang duduk dan bersandar pada seorang lelaki. Itu Tamara dan Richard.


Ayu mendekat pada kedua orang itu. Richard yang melihat kedatangannya, langsung menyapa. Dia duduk di samping Tamara.


"Ayu," erang Tamara dan berbalik memeluk Ayu. Ayu pun membalas pelukan itu dan menepuk-nepuk pundak perempuan dalam pelukannya itu.


"Kemarin, Opa minta aku datang. Tapi, aku ada kerjaan," ungkap Tamara disertai isakan kecil. "Kalau aja aku tau ...." Kalimatnya terpotong, air mata pun kembali mengalir.


Ayu yang tidak tahu harus berkata apa hanya mengelus pundak Tamara. Dia tahu bagaimana sahabatnya itu sangat dekat dengan kakeknya. Tamara adalah cucu pertama di keluarga Dirgantara, meski dididik kerasa oleh ibunya, kakek dan neneknya selalu membela dan memberinya kasih sayang. Tamara bahkan pernah tinggal lama dengan sang kakek saat orang tuanya mengurus bisnis di Jerman.


"Opa," rintih Tamara yang sedang dipapah oleh Ayu di depan peti Opa Surya. Karin yang baru datang juga ikut mendampingi Tamara untuk melihat wajah kakeknya.


Ayu hanya berharap mulut Karin bisa dikontrol di saat seperti ini.


"Udah ya, Tam. Opa pasti sedih kalo liat kamu nangis kayak gini." Begitu ucap Karin tadi. Setidaknya, Karin bisa menghibur  karena Ayu sekarang tidak bisa berkata apa-apa. Dia membayangkan bagaimana jika sedang berada di posisi Tamara, misalnya ayahnya meninggal. Tidak hanya menangis terisak-isak, dia pasti akan meraung dan histeris macam orang gila.


Ayu pergi sebentar ke toilet. Saat kembali dari toilet, dia langsung berhenti. Di pintu masuk ada Alex yang baru saja datang dengan wajah pias. Lelaki itu berjalan dengan cepat. Ayu menyunggingkan senyum padanya, tetapi sama sekali tidak ditanggapi.


Alex sama sekali tidak menyadari keberadaan Ayu yang dilewatinya begitu saja. Dia berjalan lurus menuju perempuan yang sedang berdiri di samping peti.


Mata Ayu mengekor pada Alex. Hatinya seperti dihantam benda keras saat melihat pelukan erat suaminya itu pada Tamara. Tanpa dia sadari air mata mulai menetes di pipinya. Dadanya seakan mengecil dan terhimpit -- sesak sekali. Dia akhirnya semakin menyadari bahwa hati Alex akan selalu milik Tamara. Dia hanyalah sebatas tanggung jawab yang dipikul oleh lelaki itu.


"Ayu," ucap Alex dengan suara serak khas orang habis menangis. Ayu hanya mengulas senyum tipis, itu pun dia paksakan. Matanya sempat melirik pada tangan Alex yang masih betah di pundak Tamara.


"Tam, aku pamit yah, ada kerjaan. Kamu yang sabar," ucap Ayu sembari menempelkan pipinya di pipi Tamara.


"Hati-hati di jalan!" ucap Karin.


"Kamu yang sabar, ya!" bisik Ayu sembari mengelus perutnya saat keluar dari rumah besar itu. Dia sudah menahan air matanya, tetapi cairan itu terus saja menetes. Untung saja dia sedang melayat, bukan menghadiri acara pernikahan.


Ayu tadi berbohong kalau ada kerjaan, dia tidak mungkin sanggup melihat kedekatan Alex dan Tamara. Bagaimanapun, Alex adalah suaminya, wajar jika dia cemburu melihat lelaki itu memeluk perempuan lain. Apalagi, dia tahu bahwa perempuan itu adalah pemilik hatinya.


Sesampainya di rumah, Ayu langsung masuk kamar dan menangis sepuasnya. Dia masih ingat jelas bagaimana Alex melewatinya begitu saja; bagaimana lelaki itu memeluk Tamara.


Alex bilang dia tidak akan sempat pulang karena sibuk, buktinya dia bisa hadir melayat. Biasanya, lelaki itu tidak akan membiarkan Ayu menyetir sendiri bahkan ke kantor, tadi dia tidak peduli bahkan tidak berkata apa-apa saat Ayu ingin pulang. Padahal, kediaman kakek Tamara cukup jauh, butuh berkendara selama satu jam. Selain itu, Alex juga tidak peduli pada kenyataan bahwa Ayu masih bekerja di hari Sabtu.

__ADS_1


Ayu kembali terisak sambil mengelus perutnya. "Kita bukan apa-apa bagi papamu."


***


__ADS_2