
Alex membawa keluar gelas kosong dan mencucinya. Tadi dia bangun pagi-pagi sekali memperhatikan tempat tinggal Ayu lebih jelas, karena semalam dia langsung ikut Ayu masuk kamar.
Rumah Ayu sangat sederhana, perabotannya pun masih jenis yang sudah tua. Memang belum usang, tetapi menurut Alex sudah harus diganti.
Alex membuka kulkas -- mencari-cari bahan yang bisa dia gunakan untuk memasak. Tidak banyak bahan makanan di kulkas dengan satu pintu Chiller dan satu pintu untuk Freezer. Hanya ada telur dan beberapa sayuran, itu pun hanya brokoli dan wortel. Dia pun mengambil bahan seadanya.
Dia mulai menyiapkan telur untuk dia buat omelet. Dengan lincah dia melipat telur yang ada di atas teflon. Sambil menunggu telur matang dia mencuci sayuran dan memotongnya. Karena takut Ayu tidak menyukai sayuran mentah, Alex mengukus sayuran itu setelah dua porsi omelet nya selesai.
Karena tidak ada pemanggang roti, sementara dia tidak suka memakan roti tawar secara langsung. Dia mengolesi beberapa lembar roti dengan butter dan memanggangnya di atas teflon.
Setelah selesai, Alex menyajikan makanan yang dia buat di atas meja. Dengan senyum puas dia mulai membereskan dapur dan perabot yang dia gunakan. Dia tidak suka berantakan. Terbiasa tinggal sendiri sejak usia 18 tahun, membuat dia pandai beberes dan memasak beberapa jenis masakan.
Dia berbalik dan berniat untuk memanggil Ayu untuk sarapan. Namun urung, dia berdiri menatap seorang perempuan paruh baya berkulit sawo marang dengan rambut hitam dan di puncaknya diwarnai pewarna marun. Lipstik warna merah terang di bibir perempuan itu senada dengan kaos yang dia kenakan.
Kening Alex berkerut. Setahunya Ayu tinggal sendiri, dan perempuan yang berdiri di depannya itu pun sudah pasti bukan ibunya Ayu karena dia pernah melihat fotonya di Instagram.
Perempuan itu berdiri sama bingungnya dengan Alex.
"Selamat pagi, Bu!" sapa Alex tetap ramah meskipun perempuan di depannya masih teka-teki di kepalanya.
Perempuan yang disapa oleh Alex itu hanya terdiam.
"Eh, Bu Ina!" Ayu yang baru datang menyapa perempuan yang Ayu panggil Bu Ina.
"Neng Ayu sewa orang baru?" tanya Bu Ina murung
Ayu dan Alex saling bertatapan dengan dahi mengerut.
"Saya akan berusaha untuk lebih rajin dan cekatan lagi. Tapi, saya jangan dipecat, ya. Naura mau masuk SMP, butuh uang banyak." Bu Ina memelas.
"Siapa yang mau pecat Ibu?" tanya Ayu keheranan.
Mata Bu Ina menyenter Alex dengan tajam. "Itu pengganti saya, kan, Neng?"
Ayu menatap Alex dan Bu Ina bergantian. Dia bertanya-tanya sendiri di mana Bu Ina mengambil kesimpulan bahwa Alex akan merebut pekerjaan yang. Padahal, melihat kuku kaki Alex yang kinclong sangat mustahil lelaki itu bekerja sebagai asisten rumah tangga.
"Kenalkan, aku suaminya Ayu, Alex!" ucap Alex mengenalkan diri dengan bangga.
Mulut Bu Ina terbuka dan matanya membesar.
"Ne-Neng A-yu su-dah me-ni-kah?"
Ayu mengangguk sekilas dengan senyum. Entah sejak kapan dia merasa sangat bahagia mengingat Alex adalah suaminya, padahal baru kemarin dia sangat jengkel pada lelaki itu.
"Saya tidak diundang. Jadi tukang cuci piring juga lumayan."
"Nikahannya di Singapura, Bu." Alex menjawab.
"Ih, Saya makin senang kalo gitu mah, bisa naik pesawat ke Singapura, gratis!" ungkap Bu Ina mengeluarkan aksen sundanya. " Lain kali saya diajak atuh, biar bisa liat patung ikan singa. Tetangga saya di kampung, si Mia, dulu TKW di sana, fotonya dekat patung ikan singa banyak."
Alex terbahak mendengar ucapan Bu Ina.
"Patung Merlion, Bu Ina!" Ayu membetulkan.
"Apalah-apalah namanya Neng Ayu, pokoknya ikannya kepala singa," ucap Bu Ina keukeuh. "Saya kerja dulu. Nggak mau lama-lama ganggu pengantin baru." Bu Ina melanjutkan sebelum berlalu sambil cekikikan.
Alex dan Ayu menuju meja makan. Ayu menatap makanan yang disajikan oleh Alex dengan kening berkerut, ragu akan rasa masakan itu.
__ADS_1
Dia mulai memakan telurnya, dan rasanya jauh melampaui ekspektasi. Teksturnya lembut dengan rasa yang pas, benar-benar omelet yang biasa Ayu santap di hotel berbintang. Jika biasanya roti panggang bertekstur kasar, tidak dengan buatan Alex, lembut dan beraroma butter.
"Suka?" tanya Alex saat melihat Ayu dengan lahap memakan makanannya.
Ayu mengangguk dengan mulut penuh. Dia tidak pernah makan selahap ini setelah hamil, selain morning sick, nafsu makan yang menurun juga sangat menyiksa.
"Mau kubuatkan lagi?" Alex menawarkan.
Ayu mengangguk lagi. "Omelet-nya saja, tapi."
Alex bangkit setelah menghabiskan isi piringnya. Dia melanjutkan kegiatan masak-memasak di dapur. Kemudian menyajikan sepiring omelet yang berbeda dengan sebelumnya.
"One way better!" puji Ayu menatap sepiring telur dadar berisi sayuran.
"Kok dua piring?" tanya Ayu saat melihat Alex menyodorkan sepiring lagi.
"Sekalian buat Bu Ina," kata Alex.
Alex menuruni tiga anak tangga dan tiba di ruang belakang yang berbeda dengan ruangan lain. Di sana ada satu ruangan kecil yang dijadikan gudang, juga ada ruangan tanpa pintu yang merupakan tempat mesin cuci. Ada satu pintu keluar untuk ke taman kecil yang ditempati beberapa pot bunga dan di sampingnya ada tiang untuk menjemur.
Bu Ina ada di sana, sedang memegang selang sambil menyiram bunga.
"Bu Ina! Bu Ina!" Alex memanggil. Sudah beberapa kali Alex memanggil Bu Ina, namun perempuan itu tidak mendengar.
Alex pun memutuskan untuk mendekat pada perempuan patuh baya itu.
***
"Sambala, sambala, sambalado, terasa pedas, terasa panas." Bu Ina menyanyikan lagu kesukaannya, namun berhenti setelah merasa punggungnya ditepuk dari belakang.
"Basah, eh, basah!" ucap Bu Ina latah sambil melempar selang jauh ke depan, sehingga Alex yang tadi menghindar terciprat lagi.
"Aduh, Pak Ganteng maap ya, kaget tadi!" minta Bu Ina setelah kembali dari mematikan keran air.
"Aku emang belum mandi, Bu. Sekalian diguyur tadi juga tidak apa-apa." Alex tertawa pelan, kemudian melanjutkan, "di atas ada sarapan, mending Ibu sarapan dulu."
Bu Ina kegirangan. "Boleh, boleh!"
Bu Ina mengikuti langkah Alex menuju meja makan. Dia menatap Ayu yang baru saja selesai. Wajah bos-nya itu terlihat sangat bahagia.
'Jelas saja bahagia, kan pengantin baru,' pikir Bu Ina.
Bu Ina yang memang dulu pernah bekerja di rumah orang tua Ayu saat dia masih tinggal di daerah sana, sangat tahu watak Ayu. Masih Bu Ina ingat bagaimana Ayu saat baru menetap di rumah ini, saat bos-nya itu baru saja gagal menikah. Pernah beberapa kali dia mendapati Ayu murung dengan mata sembab.
Melihat Ayu dan Alex dengan wajah bahagia, membuat Bu Ina sangat senang. Ayu sangat baik di mata Bu Ina, selain sering memberi uang lebih, dia juga sering memberi makanan dan barang untuk anak-anak Bu Ina.
Mata Bu Ina menatap ke meja makan, tepatnya sepiring telur dadar yang tersaji untuknya. Dia menatap sepiring telur itu bergantian dengan pasangan pengantin baru.
"Ah, aku mandi dulu. Tadi Bu Ina mandiinnya setengah-setengah." Alex pamit dan berjalan meninggalkan Ayu dan Bu Ina.
"Kok bisa Alex basah gitu, Bu!"
"Itu, tadi teh si Pak Ganteng-nya bikin kaget jadi kesiram."
Ayu menggeleng-geleng kecil. "Ibu dijahilin, ya?" tanya Ayu, namun tidak menunggu balasan dan melanjutkan, "Maaf ya, Bu. Dia memang kadang-kadang jahil."
Tangan Bu Ina bergoyang-goyang di udara sebagai tanda tidak membenarkan asumsi Ayu.
__ADS_1
"Ya udah, makan dulu, Bu!" suruh Ayu sopan.
Bu Ina duduk dna melirik ke sana-sini. Kemudian tersenyum pada Ayu.
"Saya nggak bisa makan kalo nggak ada nasi," ungkap Bu Ina.
"Aduh, nggak ada nasi, Neng!"
"Saya bungkus aja, ya!"
"Iya, di laci situ ada kotak."
Bu Ina mengambil kotak bekal dan membungkus telurnya setelah Ayu kembali menuju kamarnya. Dia heran sendiri bagaimana bisa sarapan hanya dengan telur dan selembar roti. Padahal, Ayu itu tidak kekurangan uang untuk beli beras, masa makan tanpa nasi.
***
Ayu masuk ke kamarnya dan duduk di depan meja rias. Dia mengaplikasikan bedak tabur di wajahnya, mengolesi lipstik berwarna pink almond, dan sedikit maskara di buku mata lentiknya. Selesai berdandan, dia meraih tas dan memasukkan beberapa dokumen penting.
"Yang, Sayang!" panggil Alex yang berada di kamar mandi.
Ayu hanya ber-hem pelan. Dia biasanya marah saat dipanggil Sayang, namun sekarang terdengar biasa saja. Mungkin dia sedang malas ribut dna merusak mood-nya yang sedang sangat baik.
"Minta handuk!" Teriak Alex lagi.
Ayu mengambil handuk yang tadi dia pake yang masih berada kursi depan meja kerjanya. Dia mengetuk pintu dan pintu kamar mandi terbuka sedikit. Tangan Alex keluar untuk meraih handuk.
Alex keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana pendek dan handuk yang tersampir di pundaknya. Dia menciun aroma handuk yang baru saja dia pakai juga tubuhnya.
"Harum sekali, kayak baumu!" kata Alex.
"Iya lah, mandinya pake sabunku."
Alex meraih HP-nya yang berada di nakas setelah mengenakan kaos oblong yang dia ambil dari tas. Dia membuka pesan-pesan yang masuk, ada dua pesan yang menjadi sorotannya. Dua pesan itu dari dua perempuan yang berbeda -- dua perempuan yang penting baginya.
"Lex, Alex!" panggil Ayu dengan keras karena dari tadi dipanggil dan tidak menyahut.
"Ayo jalan! Udah telat, nih."
Alex mengangguk dan memaksakan sebuah sunggingan di bibir. Dia meraih sat tangan Ayu dan melangkah keluar.
"Tanganmu kok dingin?" tanya Ayu sambil menatap Alex.
Alex tersenyum dan berusaha untuk bersikap seperti biasa. "Kurang kehangatan semalam."
Ayu memutar bola matanya. "Ehm, mulai deh!"
Alex cekikian, dia menatap Ayu dan menarik napas panjang. Dia harus mulai sadar sekarang, Ayu adalah lingkaran hidupnya seperi cincin di jari manisnya.
***
😘 Masih pendek ya.
Lagi galau, Proposal belum di ACC.
Doain, Ya. Biar bisa lancar biar part selanjutnya bisa cepat kelar dan extra looong!!
Makasih juga buat yang setia mendukung dan menunggu. Luv youu fuulll ❤❤
__ADS_1