
...“I don’t wanna feel the way that I do. I just wanna be right here with you. I don’t wanna see, see us apart. I just wanna say it straight from my heart”...
...Westlife ~ Miss You...
...*.*.*....
Mungkin benar, bahwa kadang kita baru menyadari arti kehadiran seseorang, begitu orang itu pergi. Bukan hanya sekali, hampir setiap saat Ayu bangun mencari keberadaan Alex. Kadang ia lupa bahwa lelaki itu tidak ada lagi dalam hidupnya. Bahwa lelaki itu kini memiliki kehidupan yang baru.
Bukan setahun, sudah dua tahun tidak ada kabar dari Alex. Pesan berisi gambar hari itu adalah komunikasi terakhirnya bersama Alex. Ayu terlalu sakit hati dan kecewa, hingga tidak menghubungi Alex lagi. Seperti pagi tadi, saat Ayu bangun, ia mengecup pelan kening Aleeya yang masih pulas. Perempuan itu keluar dari kamar, menatap dapur sangat lama. Seakan ada Alex di sana, sibuk menyiapkan sarapan.
Kebiasaan adalah hal yang sangat menakutkan. Ia bisa datang tanpa disadari. Hidup jauh di dalam alam bawah sadar. Ada sesak yang meraja hati Ayu. Entah sejak kapan, rasa itu menjadi besar dan memenuhi setiap ruang hampa di hatinya. Bukankah ini yang ia inginkan hidup terpisah? Ya, terpisah dan bercerai.
Selama ini Ayu ingin Alex meraih bahagia yang seharusnya, bukan terjebak hidup dengannya. Lantas, mengapa ruang yang harusnya hampa itu ditumbuhi sakit yang tak tertahan. Hal kecil seperti buah stroberi selalu mengingatkannya pada wajah Alex saat pertama kali mencoba buah itu setelah sekian lama. Begitu juga dengan gelas yang biasa digunakan lelaki itu.
Ia kini berdiri menggemgam gelas putih yang memang merupakan milik Alex. Seingatnya, gelas itu dibeli oleh Alex saat lelaki itu menemaninya dan Aleeya belanja.
Dua tahun, kalau hanya dipikirkan, terasa sangat cepat berlalu. Namun, dengan semua kerinduan yang bersarang di hati Ayu, dua tahun itu menjadi waktu yang sangat lama. Saat rindu mendera kerasa, sehari saja seperti berbulan-bulan yang tak ingin berlalu.
“Mommy!” Rambut Aleeya acak-acakan. Di pegangannya ada kelinci putih yang sama saat ia masih bayi. Bulunya tidak semulus dua tahun yang lalu, tetapi masih bersih. Ayu mencucinya Minggu lalu, itu pun harus melalui drama karena Aleeya tidak ingin boneka itu dicuci.
“Selamat pagi,” sapa Ayu dengan senyum getir. Ia menatap boneka di pegangan Aleeya, boneka pemberian Alex yang selalu dijaga oleh anak perempuannya itu.
“Good morning,” balas Aleeya, menggosok matanya dengan satu tangan. Anak yang usianya hampir genap tiga tahun itu mulai fasih pelafalannya. Meski agak terlambat mulai berbicara, tetapi untungnya ia tidak cadel sama sekali. Setiap kata bisa ia lafalkan dengan jelas.
“Sudah cuci muka?”
Anak itu menggeleng-geleng. Ia pun berlari masuk ke kamar mandi. Naik di bangku yang memang disiapkan khusus untuk tubuh mungilnya. Pertama-tama, ia mencuci tangan dengan sabun yang tersedia di dispenser otomatis. Kemudian menyirami wajahnya dengan air, menggosok dengan tangannya yang kecil. Tentu tidak menyeluruh seperti cara ibunya. Setidaknya cukup bersih. Tidak lupa juga, ia menyikat gigi. Lagi, tidak sebersih ibunya, tetapi Ayu memang lebih senang jika Aleeya belajar untuk mandiri.
“Sudah, Mommy!” teriak Aleeya girang dengan bahasa Inggris, meraih boneka yang ia beri nama Bubu, yang tadi ia letakkan di lantai.
“Ayo makan dulu!” panggil Ayu, menyajikan roti isi selai kacang dan segelas jus wortel. Berbeda dengan anak-anak yang biasanya membenci sayuran, Aleeya justru tergila-gila pada sayuran.
Alih-alih jus buah yang manis, balita itu justru lebih menyukai tomat, wortel, hingga brokoli.
*.*.*.
__ADS_1
“Anakmu itu tidak kamu ajar bahasa Indonesia, Yu. Tiap ngomong bahasa Inggris terus,” protes Arini.
Ayu mengembuskan napas kasar. Ia mengaku tidak pernah memberi Aleeya bahasa Inggris di rumah sedikit pun. Anak itu sejak bayi memang lebih sering mendengar bahasa Inggris dari Alex, mungkin itu sebabnya bahasa itu yang pertama bisa diucapkan boleh Aleeya.
“Tapi, dia mengerti kok, Bu. Buktinya dia bisa menjawab dan merespon dengan baik kalo diberi bahasa Indonesia. Aku gak mau paksa dia pake dua bahasa langsung, kasihan.”
Ayu dan Arini duduk di kursi teras belakang. Mengawasi Aleeya dan Zahra yang sedang berlari di taman bunga Arini.
“Bunganya jangan dicabut!” teriak Arini, ia bangkit dan segera berari menuju dua balita cantik yang menarik-narik bunga anggrek.
Arini menatap kelopak ungu yang ada di tangan Aleeya. Itu bunga anggrek kesayangannya. Selain kelopaknya indah dan lebar, tanaman itu hanya berbunga di waktu-waktu tertentu. Itu sebabnya tanaman anggrek tanam itu sangat mahal. Setelah menunggu lama, bunganya justru dihancurkan oleh kedua cucunya.
“Nenek, I love you,” ucap Aleeya dengan senyum dan mata berbinar. Ia menyodorkan kelopak itu pada Arini.
“Ayu, lihat apa yang anak kamu perbuat!” pekik Arini.
Ayu yang masih duduk langsung mendekati ibunya. Mulutnya langsung mengatup begitu melihat apa yang sedang digenggam Aleeya. Ia tahu betul bagaimana ibunya mengamuk kerena bunganya diganggu.
“Sayang, kok bunganya Nenek dicabut?” Ayu berjongkok di samping Aleeya, mengelus kepala anak bermata biru itu.
Arini menggeleng-geleng. Tentu saja ia marah, tetapi bagaimana bisa ia memarahi cucunya yang lucu itu. Belum lagi Zahra yang dari tadi tersenyum sambil memegang tangannya.
“Sayang, bunganya cantik, kamu sayang bunganya?” Ayu bertanya pada Aleeya, dan langsung dijawab anggukan. “Kalau kamu sayang, harusnya dirawat. Jangan dicabut! Kasihan, bunganya nangis, kan.”
Ayu tidak pernah menyangka akan mengatakan hal yang pernah Alex ucapkan padanya. Ya, mungkin Alex tidak ada di samping Aleeya, tetapi Ayu belajar banyak hal dari ayah anaknya itu. Aleeya bisa tetap belajar menjadi orang hebat seperti Alex, meski tidak secara langsung.
“Maaf ya, Bunga. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” ucap Aleeya. Matanya berkaca-kaca, menyesal atas apa yang ia lakukan. Ia pun mencoba memasang bunga itu lagi pada batangnya. Tidak mau terpasang, ia pun menatap Ayu untuk meminta jawaban.
“Bunganya sudah mati,” seru Zahra.
Aleeya menatap bunga itu lama. Tidak peduli pada Ayu yang sudah berusaha untuk menghiburnya. Tiba-tiba, anak itu berlari menuju kolam ikan. Ia melempar bunga itu ke dalam kolam.
“Loh, kok dibuang di sana?” Ayu sudah berada di samping Aleeya.
Aleeya berbalik pada Ayu, tersenyum manis. “Kalau diberi air, bunganya pasti hidup.”
__ADS_1
Ayu hanya mengelus puncak kepala Aleeya. Ia mengangguk pelan, berkata bahwa bunganya pasti akan hidup. Bukan bermaksud membohongi anaknya, tetapi ia tidak ingin membunuh imajinasi Aleeya. Akan ada saatnya anak itu akan mengerti. Kini, biarkan imajinasi membawanya terbang. Tugas Ayu hanya terus menjaga, agar saat realita datang anaknya itu sudah siap melepas dunia imajinasinya.
Seperti kenyataan bahwa mungkin lelaki yang selalu ia nanti tidak akan pernah ada dalam hidupnya. Saat Aleeya bertanya tentang keberadaan Alex, Ayu selalu berkata bahwa lelaki itu sedang berada di tempat jauh, tidak ada ponsel dan internet. Bahwa Alex kini berada di negeri peri, untuk menjaga Aleeya dari mimpi buruk.
Untungnya, meski Alex tidak pernah berkunjung. Saat Aleeya ulang tahun, ada hadiah yang ia kirim. Bukan hanya itu, melalui pengacaranya, Alex memberi rekening khusus untuk Aleeya. Katanya, bentuk tanggung jawab pada putrinya itu. Namun, Ayu tidak pernah menarik satu rupiah pun dari rekening itu. Entah berapa jumlahnya, ia pun tidak tahu.
Kebutuhan Aleeya masih bisa Ayu penuhi. Kasih sayang dan perhatian juga masih bisa ia berikan. Namun, tidak peduli berapa banyak cinta yang Ayu curahkan pada Aleeya, anaknya itu tetaplah membutuhkan figur seorang Ayah. Sosok pelindung yang dikagumi. Bentuk cinta pertama bagi anak perempuan.
Tiap kali menatap Aleeya, selalu ada penyesalan dalam diri Ayu. Kalau saja ia tidak egois. Tidak. Kalau saja dulu ia bisa bersikap egois. Bersikap tidak peduli. Menjadi kepala batu. Mungkin, Aleeya tidak harus menjadi korban.
“Ayo kita masuk!” Ayu menyodorkan tangannya pada Aleeya. Anak itu menyambutnya dengan riang. Ayu berharap senyum di wajah cantik itu tidak luntur.
Tidak banyak yang berubah dari keluarga Ayu selama dua tahun terakhir. Kecuali uban di kepala Dwiki yang sepertinya beranak pinak. Mungkin juga Ayu yang tidak lagi manja sejak menjadi ibu.
Dwiki sedang bermain dengan Zahra dan Aleeya. Zahra ada di gendongannya, sedangkan Aleeya menarik-narik bajunya meminta untuk digendong pula. Tidak ada pilihan lain, lelaki yang ubannya sudah hampir menguasai kepala, mencoba untuk mengangkat Aleeya pula di gendongannya.
“Ya ampun, Yah. Ingat umur!” omel Arini. “Nanti malam Ayah pasti ngeluh encok.”
“Ya sudah, ayo kita main catur.”
Dua anak yang sudah diturunkan berteriak girang. Mereka selalu senang saat diajak main catur, meski sebenarnya mereka hanya mengatur, lalu menghamburkan bidak catur itu. Tidak jarang menjadikannya seperti boneka yang berbicara. Bukannya bermain catur, mereka justru bermain wayang.
“Sabtu nanti pernikahan Tamara, kan?” tanya Ira saat ia dan Ayu sibuk di dapur.
Ayu mengangguk, benaknya menerawang jauh pada masa lalu. Kalau saja ia tidak memikirkan Tamara, mungkinkah Alex masih ada di sampingnya?
“Kenapa? Kamu ingat Alex lagi?” Ira adalah teman Ayu berbagi cerita. Kakak iparnya itu lembut dan bijak menanggapi setiap curahan hati Ayu. Itu sebabnya, ia nyaman dengan Ira.
“Harusnya aku masih dengan Alex, Mbak. Harusnya aku dengarin perkataan Mbak Ira,” ungkap Ayu, matanya perih.
“Sudah, kamu harus kuat untuk Aleeya. Jangan sampai ayah sama ibu tau kamu nangis lagi! Mereka pasti ikut sedih.”
Ayu mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesak dan desakan air mata. Benar. Ia harus kuat, masih banyak orang yang menyayanginya.
*.*.*.
__ADS_1