Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Meet Your Family


__ADS_3

Tatapan Ayu terkunci pada pintu rumah orang tuanya. Kedua tangannya saling meremas berusaha menahan kegelisahan. Semua keluarga Ayu ada di dalam sana, dan rasa takut mulai menggerogotinya.


"Gugup?" tanya Alex sambil meraih satu tangan Ayu, "dingin sekali."


Ayu menatap Alex sekilas dan mengangguk pelan. Lantas menelan ludah saat melihat pintu itu terbuka. Di sana ada Ibu yang berdiri sambil menggendong bayi yang sepertinya sedang rewel.


"Masuk sekarang?"


Ayu menghembuskan napas kasar, kemudian mengangguk lagi.


ibu yang melihat mobil yang terparkir di depan rumah terus menatap mobil itu. Tidak biasanya ada mobil yang terparkir di dan kecuali ada tamu. Keluarga mereka tidak sedang menunggu kunjungan tamu, hanya Ayu yang kemungkinan datang. Tetapi, mobil yang terparkir bukan mobil Ayu. Dia pun belum pernah melihat teman Ayu mengedarai mobil itu.


Mobil itu mulai melaju memasuki pekarangan rumah. Tangisan bayi dalam gendongan mulai terdengar. Zahra, bayi Mbak Dita dan Mas Bima memang sangat rewel apalagi kalau sedang kepanasan atau berada dalam rumah, bayi itu sangat senang jika berada di luar rumah.


"Berani?" tanya Alex.


Ayu mengangguk lagi. Berani atau tidak, dia sudah memilih jalan ini. Bagaimana pun reaksi orang tua dan saudaranya, Ayu berharap Ibu dan Ayahnya tidak jantungan karena kelakuannya sekarang.


Ayu keluar dari mobil dan menyapa Ibunya yang terlihat heran.


"Yu, itu siapa?"


Ibu menatap ke arah Alex yang juga keluar dari mobil.


"Kamu belum bayar ojol-nya!" Ibu menegur Ayu yang terus melangkah mendekat


Ayu berbalik menatap Alex yang mengekorinya.


"Bukan ojol, Bu!"


Ayu menampakkan giginya dan langsung meraih satu tangan Alex. Dia menggenggam tangan Alex dan mengangkatnya ke udara.


Mulut Arini, ibu Ayu terbuka sedikit dan hilang fokus pada bayi yang dia gendong. Kemudian dia memaksa senyum dalam kebingungannya dan bergeser sedikit untuk membiarkan Ayu dan Alex lewat.


"Ayo ajak masuk, Zahra rewel!" Ibu mempersilahkan.


Ayu melepas genggaman Alex. "Biar aku yang gendong, Bu."


"Eh, ajak tamunya masuk dulu. Nggak sopan!"


"Nggak apa-apa, Bu. Biar aku yang gendong."


Ibu menyerah dan memindahkan Zahra dalam gendongan Ayu.


"Dia tau bahasa Indonesia, kan?" Arini berbisik pada Ayu.


Ayu hanya mengangguk, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Zahra.


"Ayo masuk!" ajak Arini pada Alex yang masih tampak malu-malu.


Ayu menimang Zahra dan berbicara pada bayi itu. Dia memang sangat mahir mengurus bayi, tidak butuh satu menit Zahra sudah tenang.


"Ibu masuk aja dulu!"


Arini tersenyum ramah pada Alex sebelum masuk.


"Sini, aku mau gendong juga!" pinta Alex pada Ayu dengan tangan yang sudah siap mengambil alih Zahra.


"Zahra rewel, dia nggak suka orang baru."


"Tenang, dia tidak bakal nangis. Aku ini calon ayah yang baik."


Ayu mengalah. Zahra kini berada di gendongan Alex. Bayi mungil itu tampak lebih tenang dalam delapan Alex, sementara Alex sibuk berceloteh ala bayi untuk Zahra.


Arini yang masuk ke dalam rumah, langsung menuju ruang makan di mana kedua menantunya sibuk menata makanan sambil bercanda. Dia menaikkan satu alis.


"Zahra mana Bu?" tanya Dita setelah melihat Arini masuk dengan tangan kosong. "Mas Bima udah turun?"


Arini menggeleng. "Belum, masih sama Ayah sama Pandu di atas."


Dita dan Ira saling pandang dengan kening berkerut.


"Lalu Zahra mana Bu!" tanya Dita lagi.


Arini menjawab dengan lingung. "Ah, ibu tinggal di luar."


"Loh, sama siapa, Bu?" Ira ikut panik.


" eh, panik begitu, ada Ayu di luar."


Ira dan Dita mulai bernapas lega. Ira lanjut menuang masakan ke mangkuk sementara Dita menata gelas minum di meja.


"Kursi sama piringnya ditambah, Ayu bawa teman!" pinta Arini.


"Teman? Karin apa Tamara?"

__ADS_1


Tangan Arini bergoyang di udara. "temannya lelaki."


Kedua menantu itu saling menatap lagi dengan alis terangkat pada satu sama lain. Tentu saja mereka sangat antusias melihat teman lelaki yang dibawah oleh asik ipar mereka, mengingat Ayu tidak pernah membawa lelaki pulang ke rumah selain Arya dulu. Jika sekarang Ayu membawa teman lelaki, berarti lelaki itu bukan hanya sekedar teman.


"Masa sih, Bu? Kayak gimana orangnya?" tanya Ira penasaran.


Dita justru langsung ingin keluar. "Iya, jadi penasaran. Aku mau keluar ah."


Arini menahan Dita. "Udah, liat sebentar aja."


"Kalo aku mati penasaran gimana, Bu? Mengintip dikit aja."


"Nggak boleh! Lanjut sajikan makanan, Ayah udah lapar dari tadi."


Dita mengalah dan lanjut menyajikan sepiring besar udang asam manis di meja.


"Tapi kok kayaknya ibu pernah liat teman Ayu sebelumnya."


Ira yang sudah selesai dengan pekerjaannya mendekat pada Arini. "Teman sekolahnya dulu kali, Bu. Kan lagi jamannya reuni terus CLBK gitu."


Arini berdecak kesal. "Mana Ibu pernah liat teman lelaki Ayu waktu sekolah. Yang antar jemput kan Bima kalo bukan Pandu."


Dita duduk di kursi sambil menikmati perkedel jagung. "Kalo gitu jangan-jangan anak tetangga, Bu."


Arini menggeleng. " Matanya bening, tinggi, putih, hidungnya bangir minta ampun. Kayak bule mukanya."


Ira dan Dita saling menatap penuh arti.


"Jangan bilang kalo Mbak juga mikirin apa yang aku pikir?" kata Dita   setelah meletakkan perkedelnya.


Ira mengangguk-angguk, memberi tanda pada Dita bahwa pikiran mereka sama.


"Aku keluar dulu, Bu!" Dita melenggang keluar menuju ruang tengah diikuti Ira yang berlari kecil untuk menyusul.


Karena makanan sudah tertata rapi di meja makan, Arini membiarkan kedua menantu perempuannya itu untuk menuntaskan rasa kepo-nya. Sementara dia sendiri memilih duduk dan lembut menghabiskan perkedel yang sudah dicicip sepotong oleh Dita.


Sura grasak-grusuk mengalihkan perhatian Arini. Dia berbalik dan mendapati Dita dan Ira saling mendorong. Wajah kedua perempuan itu pucat.


"Ada apa, sudah liat, kalian kenal?" tanya Arini belum menangkap perubahan ekspresi Dita dan Ira.


"Sepertinya Ibu harus keluar sekarang!" pinta Ira dengan suara berat.


"Iya Bu, aku takut Mas Bima hilang kontrol. Dia emosian soalnya, apalagi kalo masalah Ayu."


Arini langsung berdiri dan mengikuti kedua menantunya. dari ruang tengah dia bisa melihat di ruang tamu ada Ayu dan teman lelakinya serta Ayah, Bima dan Pandu yang sedang duduk di sofa.


Mau tidak mau, Dita melangkah mendekat pada Ayu dan meraih Zahra yang ada di gendongan Ayu. Dia sempat melirik ekspresi Pandu yang tampak mengerikan. Dia menelan ludah melihat wajah marah itu. Pandu yang dikenal oleh Dita adalah seorang kakak yang sangat penyayang, dibandingkan dengan suaminya yang tempramen, Bima, Pandu lebih lembut dan bijaksana. Sosok kakak impian Dita.


Dita memang tidak mendengar apa permasalahan yang membuat ketegangan itu bertahan lama. Cukup melihat teman lelaki yang Ayu bawa saja sudah memperjelas segalanya. Teman lelaki Ayu itu persis dengan lelaki yang ada di foto yang sedang viral siang tadi.


"Mbak, ayo temani aku di kamar?" minta Dita pada Ira.


Ira yang tidak mau ikut dalam konfrontasi itu memilih ikut dengan Dita. Lagipula dia tidak bisa membantu banyak kalaupun tinggal di tempat itu. Belum lagi wajah suaminya sangat mengerikan saat ini, dia tidak yakin akan mampu melihat amarah Pandu yang belum pernah dia lihat bahkan dalam pernikahan mereka yang sudah 8 tahun.


"Itu laki-laki yang di foto kan, Mbak. Aku nggak salah lihat, kan?" tanya Dita saat mereka mulai melangkah.


Ira hanya mengangguk mengiyakan.


"Aslinya lebih cakep ya, Mbak?"


Ira melirik tajam ke arah Dita. "Kamu ini, masih sempat mikirin itu."


"Tapi, kan emang bener, Mbak."


"Benar juga, sih." Ira menyetujui lalu tertawa kecil.


"Nih, Mbak ya, kalo aku jadi Ayu nggak bakal nyesel aku ditinggal nikah sama Arya, gantinya lebih keren."


***


Suasana menegangkan itu masih berlanjut. Tidak ada suara, hanya tatapan mata, namun jika sebuah tatapan bisa membunuh maka Alex mungkin dari tadi mati karena tatapan Pandu.


Ayu dari tadi hanya menunduk. Pandu sangat berbeda dari biasanya. Ayu masih ingat saat pertama kali dia memperkenalkan Arya pada kakaknya itu, Pandu sangat hangat dan menerima Arya dengan baik. Tetapi, Ayu sadar bahwa dia salah dan wajar jika keluarganya marah.


Kalau tidak mengingat bahwa apa yang ang tejadi pada Ayu juga merupakan kesalahan Alex, maka dia Tidka akan menempatkan lelaki itu dalam situasi genting seperti ini.


Ayu mengangkat wajah sekilas dan melihat Ayahnya yang terlihat sangat terguncang, juga Ibu yang wajahnya mulai memerah. Hanya Bima yang tampak tenang.


"Kamu kira pernikahan itu permainan!" bentak Pandu dengan suara keras dan dalam.


"Pandu, yang tenang. Malu didengar tetangga."


Di balik rasa tegang dan kecewanya, Arini masih memikirkan tetangga-tetangga yang kemungkinan mendengar keributan di rumahnya.


"Tenang gimana, Bu. Kurang apa kita sama Ayu!" teriak Pandu lagi.  "Dan lelaki brengsek itu, tidak tau diri!"

__ADS_1


Tatapan Pandu beralih dengan tajam pada Alex yang dari tadi terdiam. "Kamu pikir Ayu yatim piatu yang bisa kau ambil dan nikahi begitu saja!"


Dada Ayu mulai bergemuruh. dia melirik sekilas pada Alex, entah apa yang akan dilakukan oleh Alex saat ini. lelucon lelaki itu tidak akan membantu sama sekali dalam situasi seperti sekarang.


Kini Pandu beralih pada Ayu. Kali ini suara Pandu melembut. "Kamu anggap apa Mas sama Ayah, Yu? Kenapa kamu bodoh seperti ini?"


Ayu menunduk dan tak kuasa lagi menahan air matanya. Dia mengecewakan keluarganya berkali-kali, dan jika mereka tahu alasan Ayu menikah dengan Alex karena kesalahan satu malam akibat alkohol, maka Ayu tidak mungkin memiliki wajah untuk menatap mereka lagi. Sesakit apa pun itu, Ayu harus menahannya, dia harus bertahan.


Tiba-tiba Aku merasakan sentuhan lembut di tangannya yang saling meremas. Dia berbalik menatap pemilik tangan itu, lantas mendongak menatap mata yang berusaha meyakinkannya. Ya, Ayu tidak sendirian, ada Alex di sampingnya. Meski belum mengenal lama, tetapi semua tindakan Alex yang meskipun sedikit gegabah, namun lelaki itu sangat penuh tanggungjawab. Yang harus Ayu lakukan adalah mempercayai Alex seperti yang pernah Alex katakan bahwa dia selalu memiliki rencana.


Alex memegang erat tangan Ayu, mulai mengumpulkan keberanian sebelum mulai berbicara.


"Ayu sama sekali tidak salah, semua salah saya."


Mata Ayu membesar mendengar perkataan Alex. Dia mulai ketakutan, jika sampai Alex membocorkan kejadian yang sebenarnya.


"Dan saya sama sekali tidak pernah menganggap pernikahan adalah mainan. Meski tanpa sumpah dan janji pernikahan, tetapi saat pertama kali meminta Ayu menjadi isteri saya, saat itu juga saya bersumpah untuk menjadikan Ayu sebagai satu-satunya isteri dan ibu untuk anak-anak saya."


Wajah Alex sangat meyakinkan, nada suaranya pun sangat mantap. Jika saja  Alex mengatakan hal itu dengan tulus, maka Ayu mungkin akan menangis lagi karena tersentuh. Lelaki itu memang sangat berbakat untuk menjadi seorang aktor.


"Karena sejak pertama mengenal Ayu, saya yakin dia adalah perempuan yang sangat berharga yang harus saya jaga." Alex menambahkan.


"Kamu pikir alasan kamu itu cukup untuk membenarkan tindakan tidak bertanggungjawab-mu itu! Tidak tau malu!" balas Pandu dengan gigi gemeletuk menahan amarah.


Alex membalas tatapan Pandu. Dia tidak mau kalah, dia ingin membuktikan pada Kakak Ayu itu bahwa dia tidak main-main.


"Saya tidak bermaksud untuk membenarkan perbuatan saya. Dan kalau memang untuk Ayu, saya siap membuang rasa malu saya."


Pandu yang sudah sangat geram tidak bisa menahan diri lagi. Dia bangkit dan langsung menarik kerah baju Alex. Arini yang panik langsung berteriak histeris memanggil nama anak sulungnya. Sementara Dwiki mengelus dada berusaha menenangkan diri agar kondisi tubuhnya yang sudah mulai penyakitan tidak down.


Alex sama sekali tidak bereaksi saat tangan kekar Pandu mencengkram erat kerah bajunya. Dipukul pun sepertinya dia tidak akan melawan sama sekali, dia pantas mendapat amukan lelaki itu.


Bima yang berada paling dekat dengan Pandu langsung berdiri dan menarik kakaknya agar mundur.


"Sudah, Mas! Dia suami Ayu sekarang." Bima memilih bersikap rasional.


Pandu berbalik pada Bima setelah melepas cengkramannya.


"Pernikahan bodoh apa itu?"


"Loh, mereka menikah di Singapura dan itu sah. Secara hukum mereka suami-isteri."


Pandu mulai terdiam. Dia kembali duduk dengan rahang mengeras.


Ayu yang dari tadi memilih diam mulai angkat bicara. "Aku tau Aku salah, Mas. Aku minta maaf sama Mas, Ibu, Ayah!"


Pegangan Ayu di tangan Alex mengencang. Dia bisa merasakan elusan pelan jempol Alex di punggung tangannya.


"Tapi Mas tidak berhak menghakimi tindakanku dan Alex. Alex memang yang melamarkuu, tetapi yang meminta pernikahan mendadak di Singapura adalah aku." Ayu menegaskan.


Ayu berhenti dan menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri sendiri. Dia sepenuhnya tidak berbohong, meskipun tidak meminta secara langsung, namun dialah yang membuat Alex terdesak sehingga tidak ada cara lain lagi.


"Apa Mas pernah pacaran lama terus ditinggal begitu saja saat undangan sudah tersebar semua? Tidak! Setelah Arya pergi, aku pikir aku tidak akan pernah menikah. Bagi Mas mungkin tindakan kami tidak bertanggungjawab, tapi bagiku ini cukup membuktikan kalo Alex adalah lelaki yang sangat bertanggungjawab."


Pandu terdiam. Dia tentu saja masih mengingat bagaimana terlukanya Ayu saat Arya membatalkan pernikahan mereka. Hal itu yang membuat Pandu kehilangan kontrol, dia tidak ingin adik kesayangannya terluka.


Menurut berita yang beredar Alex dan Ayu baru berkenalan beberapa bukan yang lalu. Dan yang membuat Pandu semakin naik pitam adalah pengakuan Alex yang dengan entengnya mengatakan bahwa Ayu adalah perempuan berharga yang ingin dia jaga. Alex pasti tidak tahu bahwa sejak hari saat Ayu lahir, Pandu telah menjadikan Ayu sebagai mutiara berharga yang akan selalu dia jaga. Melihat mutiaranya direbut begitu saja, tentu saja Pandu tidak bisa terima.


Dwiki bangkit dengan lemah. "Bu, Ayah lapar, makanan sudah siap?"


Arini ikut berdiri. "I-iya, Yah."


Dwiki berjalan menjauh.


"Ayo makan dulu! Bicaranya nanti saja, tunggu sampai kepalamu dingin dulu."


***


Maaf karena updatenya lama, yah 🤦


Aku lagi sibuk nge-bucin sama Jin-oppa.


Jongmal mitanhae, jingguk. (Efek K-Poppers yang sempat murtad namun kembali karena JIN BTS yang memesona siang dan malamku)


Part ini harusnya agak sedih dan menyentuh relung hati, tapi karena aku-nya lagi berbunga-bunga karena habis nonton BTS bon voyage episode terbaru mungkin gak kesampaian feel-nya.


Maaf kalo aku mengecewakan para reader yang Budiman. Kedepannya saya akan berusaha lebih baik dan lebih cepat UP. 🙆


Neomo neomo kamsahamnida 😊


Saranghaeyo 💜


Borahae


Noye Sarang,

__ADS_1


Suddenly Army


__ADS_2