
Ayu selonjoran di sofa setelah mengantar Marissa keluar. Dia memicing menatap Alex yang baru saja datang dengan stoples biskuit cokelat almond.
"Ini camilan malam buat Aleeya." Alex duduk di samping kaki Ayu sembari mengelus pelan perut buncit isterinya. "Wah, kamu pasti lapar, Sayang." Dia terus berbincang pada bayi di dalam perut Ayu.
"Kamu ini kenapa sih, Lex!" bentak Ayu saat ciuman Alex yang tadi menempel di perutnya mulai berpindah di pipinya.
Alex yang tidak tahu apa-apa hanya melongok. Keningnya mengerut menatap Ayu yang mencebik.
"Kamu tidak seharusnya bersikap seperti itu sama Mami!" tukas Ayu.
Lelaki itu menyeringai. "Lalu harusnya seperti apa? Hubungan kami memang seperti ini." Tangannya terus mengelus perut Ayu. Dia mendapat ketenangan di sana, saat jemarinya bermain bersama calon bayinya.
"Dia ibu kamu, Sayang." Suara Ayu melembut. Dia mengusap pipi Alex, ingin memberi sedikit semangat pada lelaki itu. Entah kenapa, dia selalu menangkap wajah berbeda saat Alex membahas orangtuanya.
"But we never act like mother and son, Sayang. Aku bahkan kadang merasa tidak memiliki keluarga sama sekali. Mereka melahirkanku hanya untuk dibuang dan diacuhkan." Kepada Alex sudah bersandar di pundak Ayu. Lantas menyeruduk ke cekungan leher perempuan itu, menyesap aroma harum yang ia sukai.
Tangan Ayu terus mengelus pipi Alex. "Tidak begitu. Biar bagaimanapun Mami itu ibu yang sudah melahirkanmu," paparnya. "Mengandung itu bukan perkara mudah, Lex. Lihat, aku sangat tersiksa. Kalau tidak mengingat kehidupan yang akan kuantar untuk melihat betapa indahnya dunia, aku mungkin akan menyerah dari awal." Dia melanjutkan dengan tatapan mengawan-awan.
Alex terdiam. Dia memejamkan mata dan mengeratkan peluk pada Ayu. Tentu saja dia tahu bahwa mengandung itu susah, tetapi kecewa dan sakit sudah mendarah daging. Jauh dalam lubuk hatinya ada cinta yang tak terukur untuk orang tuanya.
"Sometimes I thought how it feels if I was born from a happy family like yours," ungkap Alex dengan suara lemah.
"Kamu tau, ayah selalu bilang sama aku kalau kunci hidup bahagia itu tidak mendendam. Benci dan dendam hanya akan membawa ketidaktenangan," jelas Ayu. Dia mengecup pelan kening Alex.
Lelaki itu diam lagi. Bisa Ayu rasakan embusan napas berat Alex di lehernya.
"Aku sama seperti kamu, kadang berpikir untuk memiliki keluarga lain. Aku dan ibu paling sering bertengkar," tambah Ayu. Dia tersenyum kecil mengingat bagaimana dia dan Arini sering berselisih paham hanya untuk hal kecil. Ibunya tipe ibu penyuruh dan dia terlahir manja dan malas. "Kami pernah dengar 'kan kalau rumput tetangga itu selalu lebih hijau."
Alex mengangkat kepalanya. Dia menatap Ayu yang sedang melirik ke arahnya.
"Apa kamu pernah berpikir bagaimana menjadi anak-anak di panti asuhan. Atau orang-orang yang sudah kehilangan orang tua mereka?"
Alex menunduk mendengar ucapan Ayu.
"Kamu itu masih beruntung, setidaknya mereka masih hidup. Dan, mereka cinta sama kamu," lanjut Ayu lagi.
"Aku tidak merasa dicintai oleh mereka, Ay," bisik Alex.
Ayu menggeleng-geleng. Dia mulai menceritakan bagaimana Marissa mengungkapkan rasa cintanya pada Alex. Pun dengan semua keluh-kesah perempuan yang telah melahirkan Alex siang tadi.
"Daddy selingkuh?" Dia spontan menarik wajahnya menjauh dari cekungan leher Ayu. Matanya membesar. Selama ini yang dia tahu orang tuanya bercerai karena sudah tidak sejalan--tidak lagi memiliki waktu bersama karena sibuk dengan urusan masing-masing.
"Kata Mami, itu karena mereka sibuk. Mereka memiliki dunia masing-masing. Aku menceritakan hal ini bukan agar kamu semakin membenci Daddy-mu," seloroh Ayu. "Mereka berusaha untuk kamu, tetapi mereka tidak ingin hidup tanpa cinta dan berakhir semakin melukaimu."
__ADS_1
Angan Alex melambung. Saat kecil, dia mengagumi ayahnya. Lelaki itu meski jarang di rumah, saat pulang selalu menghabiskan waktu dengannya. Sedikit berbeda dengan ibunya yang saat pulang hanya sering menghabiskan waktu sendiri di kamar atau beristirahat di halaman rumah.
"Mami capek, Sayang. Main sama Pipik dulu." Itu yang sering Marissa katakan padanya.
Saat tinggal bersama neneknya di New Zealand, ayahnya yang bekerja di Melbourne sering berkunjung. Mereka bahkan pernah berlibur berdua. Setidaknya, hal itu yang kadang menghibur Alex. Namun, ayahnya juga mulai sibuk dengan urusannya--kerjaan dan perempuan--saat Alex mulai beranjak remaja.
"Aku tidak mengerti, Yu. Kalau mereka menikah karena saling mencintai, kenapa mereka bisa berhenti dan menyerah?" pungkas Alex.
Ayu mengerutkan kening. "Cinta itu datang dan pergi."
Seringai kecil muncul di bibir Alex. "Tidak--" Alex menggeleng-geleng, "yang aku tau sekali kamu jatuh cinta, maka cinta itu tidak akan hilang."
Tatapan Ayu yang tadi tertuju pada Alex langsung menunduk. Ucapan lelaki itu membenarkan bahwa dalam hatinya hanya akan ada satu cinta, Tamara. Dia menggeleng pelan, mencoba menghapus pikiran tentang Tamara. Bagaimanapun, kini Alex adalah suaminya. Selain itu, Tamara tidak mungkin memiliki perasaan yang sama.
"Kejadian itu sudah lama, Lex. SepertiĀ buku, setelah lembaran satu selesai, maka saatnya membuka lembaran baru. Kita hanya perlu mengambil pelajaran dari lembaran sebelumnya," jelas Ayu lagi. Kalimat bijak itu bukan semata-mata untuk Alex, juga untuknya yang terus saja terpaku pada cinta lalu Alex.
"Tidak semudah itu, Ay," tukas Alex. "Setiap kali melihat Mami, aku selalu mengingat masa kecilku. Bagaimana dia seakan tidak menganggap aku ada."
Ayu memilih diam. Dia menunduk, lantas menyandarkan kepalanya di kepala Alex. Dia tahu tidak mudah bagi suaminya itu untuk memulai hubungan yang dekat dengan Marissa. Lelaki itu telah menyimpan luka dalam untuk waktu yang lama. Luka itu telah tumbuh dan berakar kuat di dalam hatinya. Tentu saja tidak akan langsung sembuh dalam semalam.
"Apa kamu bisa bayangin bagaimana Mami juga sakit kami perlakuan seperti itu? Bukan hanya kamu yang tersiksa, Lex! Coba bayangkan kalo kamu yang di posisi Mami, misal anak kita juga menjauh?"
"Itu sebabnya aku tidak akan mengulangi kesalahan orang tuaku, Yu. Aku akan selalu bertahan di sampingmu, menjaga, dan menyayangimu untuk anak kita."
"Kamu juga akan bertahan sampai akhir kan, Sayang?" tanya Alex.
Ayu tak langsung menjawab. "Aku tidak janji, Lex."
Senyum Alex terulas pada Ayu. "Aku tidak minta janji, Sayang. Aku ingin komitmen. Janji bisa patah, komitmen akan selalu dipegang."
Hanya anggukan kecil yang menjawab Alex. Bagi Ayu, janji dan komitmen tak ada bedanya. Jika janji bisa ingkar, komitmen bisa lepas.
"Kalau begitu boleh aku minta satu hal, Lex?" tanya Ayu yanh langsung disahuti Alex, "apa pernah aku tidak mengabulkan permintaanmu, Sayangku?"
"Coba dekatkan diri sama Mami. Dia sangat menyayangi kamu, tidak berbeda dengan sayangnya pada Reina dan Reihan," ucap Ayu yang tidak dijawab oleh Alex. "Apa aku dan anak kita tidak bisa kami jadikan obat untuk masa lalumu?"
Alex diam lagi. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kalau mau jujur, dia juga ingin berada di samping ibunya. Dia hatinya masih ada ragu dan takut akan penolakan yang menahan.
***
Marissa duduk di bangku outdoor restoran yang berada di Salah satu hotel, tempatnya menginap. Sudah dua hari dia di Singapura. Sebenarnya dia datang hanya untuk menghadiri salah satu arisan sosialita-nya. Siang nanti, dia akan kembali ke Jakarta. Dari tadi, Reina sudha menelepon, mamaksanya untuk pulang. Kalau bukan karena mendapat telepon dari Alex kalau ingin bertemu, maka dia mungkin sudah bersiap untuk ke bandara.
Dia langsung berdiri melihat yang ditunggu telah datang. Senyumya mengembang menyambut kedatangan Alex. Dengan tangan terbuka dia mulai memeluk Alex dan mencium pipi anaknya itu. Dia tidak peduli jika orang-orang berpikir bahwa lelaki yang di dalam peluknya kini mungkin berondong-nya.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa?" tanya Marissa antusias. Dia sudah berniat melangkah mengambil beberapa sarapan di meja yang tersedia secara prasmanan.
Alex menggeleng menolak. "Aku sudah sarapan di rumah."
Marissa duduk kembali. "Ah, tentu. Masakanmu tidak kalah dengan cheft di sini."
Alex tidak membalas dan hanya tersenyum. Sementara, Marissa mulai memotong roti, lantas mengunyah pelan. Dia tidak bisa melepas pandang pada anak sulungnya yang kini duduk di depannya. Tentu ini seperti mimpi bagi Marissa. Setelah sekian lama menanti, dia bisa duduk bersama dengan putranya itu, meski harus berteman kecanggungan.
"Kami dan Ayu akan menetap di sini?" tanya Marissa memecah hening antara mereka.
"Ya." Alex membenarkan semabri mengangguk pelan.
"Ayu berarti tidak akan bekerja dan menjadi ibu rumah tangga?"
Alex mengangguk dan membenarkan lagi.
"Itu pasti sedikit susah. Perempuan yang terbiasa bekerja dan sibuk, kemudian hanya tinggal di rumah mengurus anak biasanya akan sedikit stres. Kamu harus bisa luangkan banyak waktu, juga membiarkan Ayu meluangkan Me time." Marissa memberi wejangan berdasarkan pengalamannya.
Dulu, dia sangat sibuk, kemudian hanya berdiam untuk mengurus dua anak membuat dia sempat stres. Dia bahkan mengalami baby blues setelah melahirkan Reihan, apa lagi anak keduanya itu lahir prematur. Dia selalu khawatir pada Reihan tanpa sebab, merasa bayinya itu selalu dalam bahaya. Saat Alex menjatuhkan bayi itu, Marissa langsung murka dan mengirim Alex pada mantan suaminya untuk diurus.
Kalau bisa memutar waktu, Marissa akan mencoba mengerti arti kecemburuan Alex. Dia akan berusaha untuk membagi waktu pada anaknya itu, memberikan perhatian yang sama. Namun, saat itu dia juga sedang berjuang melawan pikirannya. Dia bahkan harus mengunjungi psikolog untuk mengobati depresi yang sempat ia derita.
"Aku tau, Mi," kata Alex Akhirnya.
Tangan Marissa terangkat dan mulai menggenggam satu tangan Alex yang ada di meja. "Mami minta maaf!"
Alex terperanjat. Napasnya tercekat merasakan sentuhan ibunya juga permintaan maaf yang mungkin sudah dia tunggu sepanjang hidupnya. Kata maaf yang dia harap diucap lebih cepat.
"Kamu mau 'kan maafin, Mami?"
Bibir Alex kaku sehingga memilih hanya diam. Dia sendiri juga bingung, apa dirinya bisa menerima maaf itu. Dia tidak tahu cara untuk mengobati lukanya. Apa mungkin maaf saja cukup untuk menutupi sakitnya?
Marissa menunduk dengan tarikan napas yang berat. "Mami tau, maaf saja tidak cukup untuk semua yang sudah Mami lakukan, Sayang. Tapi, Mami tidak ada maksud untuk menyakiti kamu atau membuat kamu menjauh."
Kedua bibir Alex saling melekat. Dia tidak mengerti sedikit pun dari ucapan Marissa. Jika bukan bermaksud membuatnya menjauh, maka mengapa perempuan yang melahirkannya itu mengirim dia begitu saja pada ayahnya. Bukan mengantar dengan baik, dia dibawa oleh pengasuhnya. Di simpan sendiri di rumah ayahnya di Melbourne, lantas dititipkan lagi pada neneknya di New Zealand. Dalam hati Alex kecil saat itu, dia merasa seperti kotak yang terus dibawa ke sana-sini, dititipkan pada siapa yang hendak menerima.
Bertemu dengan Marissa, bukan membasuh luka hatinya. Justru kini luka itu menganga semakin lebar.
"Alex," lirih Marissa. "Maafin, Mami!"
Senyum terulas di wajah Alex. Dia mengangguk pelan. "Kenapa harus minta maaf, bukan salah Mami. Mungkin aku yang kurang mengerti."
Alex memilih berbohong. Dia sudah berkata pada Ayu untuk mulai belajar memaafkan orang tuanya. Ayu juga berkata padanya agar mulai melupakan masa lalu, mengubur kenangan kelam itu dan memulai masa kini dengan senyum tanpa tekanan.
__ADS_1
***