
Antara sadar dan tidak sadar, Ayu berjalan sambil berpegangan dan bersender di lengan Alex. Tidur kurang lebih satu jam di pesawat bukannya membuat Ayu sedikit segar, justru membuat kepalanya pening.
Sementara Alex kesusahan dengan ransel di punggungnya, tas Ayu di tangan kiri, serta Ayu yang harus tetap dia jaga agar tidak terjatuh.
Mereka pulang menggunakan Taksi bandara. Setelah menyampaikan tujuannya, Ayu bersandar dan berniat untuk melanjutkan tidurnya yang terputus setelah turun dari pesawat.
Dan Alex menjatuhkan tubuhnya kasar dengan perasaan lega setelah beberapa saat bekerja ekstra untuk membawa barang dan juga menahan bobot Ayu.
Alex bersandar sambil meluruskan tangannya. Juga meregangkan otot lehernya yang kaku.
Ayu hanya melirik sekilas pada lelaki yang duduk di sampingnya. Dalam hati dia berharap Alex mengambil Taksi lain karena mereka memiliki tujuan pulang yang berbeda. Tetapi, ada baiknya Alex ikut, jadi saat Ayu tertidur lelaki itu bisa membangunkannya.
"Capek sekali!" keluh Alex memalingkan wajah pada Ayu.
Ayu mengangguk mengiyakan. Hari ini adalah hari yang sangat sibuk dan melelahkan bagi Ayu, bahkan mengalahkan sibuknya saat harus lembur karena ada audit eksternal atau laporan penjualan ataupun pertanggungjawaban. Hari yang menyebalkan, juga sangat berkesan dan akan selalu menjadi memori untuk Ayu -- sekalipun dia dan Alex berpisah nantinya.
Jalanan lengang, sehingga tidak butuh waktu lama untuk Taksi itu memasuki perumahan Ayu. Seorang security membuka palang setelah melihat Ayu berada di kursi penumpang.
Tadi Ayu berniat untuk tidur, namun entah kenapa matanya tidak bisa tertutup. Sehingga dia sudah sangat sadar saat turun dari Taksi. Dia berniat membayar Taksi itu, namun Alex mendahuluinya.
Kening Ayu berkerut menatap Alex. "Kenapa kamu ikut turun?"
"Aku capek, butuh tempat istirahat," jawab Alex dengan wajah lesu. "Lagipula ini rumah istriku, tidak salah, kan?" Alex melanjutkan.
Taksi berjalan meninggalkan mereka berdua. Tidak mau ambil pusing dengan Alex, Ayu melangkah masuk ke pekarangan sambil merogoh kunci rumahnya.
Hanya lampu teras yang menyala, kemungkinan Bu Ina datang mencuci dan sekalian menyalakan lampu. Setelah membuka pintu, Ayu menyalakan lampu ruang tamu dan melanjutkan di ruang tengah.
Pintu dia biarkan terbuka. Dia sangat tahu bahwa mengunci pintu dan tidak membiarkan Alex masuk hanya akan memancing keributan. Lelaki itu pasti akan mengetuk pintu dan menerornya sampai mengizinkannya masuk.
Lantas Ayu masuk ke dalam kamar yang sangat dia rindukan. Di meletakkan tasnya di atas sebuah meja yang di atasnya ada sebuah laptop dan beberapa berkas-- meja yang tepat di bawah jendela. Tirai kamar Ayu yang terbuka membuat meja dan ranjang disirami cahaya bulan purnama yang indah.
Sejenak Ayu memandang rembulan itu sambil memuji sebelum menarik tirai. Dia berbalik dengan pikiran yang mulai kacau memikirkan bagaimana cara untuk membuat lelaki yang secara legal adalah suaminya angkat kaki.
Tiba-tiba Ayu memekik ketakutan saat berbalik. Sosok gelap berdiri sangat dekat dengannya membuat jantung Ayu berpacu dengan kencang. Rasa takut itu hanya sebentar, sampai dia menyadari bahwa orang yang berdiri itu adalah Alex.
"Di sebelah ada kamar kosong, kamu bisa tidur di sana," kata Ayu setelah selesai mengutuk lelaki itu dalam hati.
"Aku takut tidur sendiri." Alex membalas.
Ayu yang baru saja menyalakan lampu kamarnya bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Alex yang dibuat seperti anak tujuh tahun yang merengek.
"Memangnya selama ini kamu tidur dengan siapa?" sinis Ayu
"Ini tempat baru. Aku belum biasa, jadi masih takut." Alex beralasan.
"Tidak usah banyak alasan Alex. Tidur di kamar sebelah atau angkat kaki dari rumahku," tegas Ayu.
Alex tampak berpikir. Dia tidak akan keluar dari rumah Ayu. Toh, dia sudah berencana untuk tinggal di rumah itu selama di di Jakarta. Dan satu lagi, dia ingin tidur sekamar dengan Ayu, bagaimanapun caranya.
"Ayolah Sayang! Masa malam pertama kita tidurnya pisah."
"Alex! Aku ngantuk, capek, jangan mulai!" Suara Ayu mulai naik satu oktaf.
__ADS_1
"Aku tidur di bawah, ya, ya!" rengek Alex.
Tidak mau berlama-lama berurusan dengan Laex yang keras kepala, Ayu lebih memilih untuk mengalah.
"Terserah! Ingat jangan pernah berani naik ke ranjang atau aku telepon polisi, ngerti!"
Alex mengangguk kegirangan seperti anak kecil yang dapat mainan. Dia sebenarnya tidak mengerti kenapa Ayu selalu mengancam dengan membawa-bawa polisi, padahal Alex tahu perempuan itu tidak akan pernah punya nyali untuk melapor ke polisi. Kalau memang ingin Alex berurusan dengan hukum, pasti Ayu sudah melaporkannya sejak awal
Ayu meninggalkan Alex dan berjalan menuju kamar mandi sambil membawa baju ganti. Dia keluar setelah beberapa menit dengan menggunakan piyama bermotif Minnie Mouse.
"Imut sekali!" puji Alex sambil tertawa pelan.
Ayu tidak peduli, dia justru langsung mengusir Alex yang sedang duduk di pinggir ranjang. Kemudian, dia mengambil sebuah selimut tebal dari lemari dan melempar nya turun ke lantai.
Alex turun dari ranjang dan memperbaiki selimut yang dilempar oleh Ayu. Selimut itu akan menjadi alas tidurnya untuk malam ini -- hanya malam ini karena dia memastikan bahwa besok dia bisa naik di ranjang Ayu.
Ayu yang sudah bersiap untuk tidur melempar satu bantal dan mengenai tepat di kepala Alex yang sedang mengatur tempat tidurnya.
"Terimakasih, Sayang!" ucap Alex sambil memeluk bantal.
Ayu mencibir sekilas, sebelum merambah ke dinding untuk mematikan lampu. Dia berbaring kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut erat untuk jaga-jaga.
"Yu, Ayu!" panggil Alex sudah berkali-kali.
"Ayu! Kamu udah tidur, ya?" Alex terus memanggil.
"Apa lagi, sih! Mana bisa aku tidur kalo kamu ngoceh terus!" omel Ayu.
"Aku takut!" rengek Alex.
Ayu mendesah frustrasi. " Ya Tuhan, Alex!"
"Perempuan itu tidak mau berhenti menatapku," keluh Alex.
Kening Ayu berkerut meski tak tampak karena pencahayaan yang minim.
"Perempuan apa lagi, sih?"
"Itu di depan ranjang, yang paket chosam!" ungkap Alex dengan nada yang bergetar dan setengah berbisik.
Mendengar pengakuan Alex, Ayu mulai panik. Dia mengeratkan pegangan pada selimut. Dia menelan ludah setelah mengingat bahwa pemilik pertama rumahnya adalah Oma Teressa, nenek rekan kerjanya yang merupakan keturunan Cina. Rumah itu sempat disewakan berkali-kali sampai akhirnya dibeli oleh Ayu.
Ayu tadinya hanya menganggap bahwa Alex sedang mempermainkannya lagi. Namun, Oma Teressa memang dulu memiliki foto berbaju chosam di gudang belakang sebelum Ayu mengembalikan foto itu beberapa bulan lalu, saat dia datang melayat.
Mata Ayu membesar, dia segera bangkit dan meraba untuk menyalakan lampu lagi. Dia berbalik pada Alex yang sedang duduk sambil menutup mata erat. Sepertinya Alex memang sedang ketakutan.
Ayu dergidik ngeri menatap ke depan, kemudian langsung beringsut turun dari ranjang sambil membawa satu bantal. Dia bersembunyi tepat di belakang punggung Alex.
Alex yang tidak menyangka respon Ayu setakut itu membuka mata. Dia hanya bercanda -- menutup mata pun hanya karena lampu yang tiba-tiba menyala.
"Dia kayaknya suka aku di sini, katanya aku ganteng," ungkap Alex dengan percaya diri. Tubuhnya bergetar bukan karena ketakutan seperti Ayu, melainkan karena tertawa.
Sadar dipermainkan sekali lagi, Ayu mundur sedikit dan menyerang Alex berkali-kali dengan bantal yang dia pegang.
__ADS_1
"Dasar brengsek! Gila!" teriak Ayu tidak bisa menahan amarahnya.
"Ampun! Tidak lagi, aku janji!" kata Alex sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan untuk menahan pukulan Ayu.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Ayu kembali naik ke ranjang dan melanjutkan tidurnya. Dia mematikan lampu dan bersembunyi lagi ke dalam selimut. Dia berusaha menutup mata, namun rasa takut masih menghampirinya. Dia terus mengingat Oma Teressa dengan Chosam merah seperti di fotonya dulu.
Ayu bergerak ke kanan-kiri dengan gelisah. Dia sempat melirik sekilas ke arah bawah tempat Alex tertidur. Lelaki itu tampak bernapas teratur yang berarti sudah pulas dalam mimpinya. Dalam hati Ayu hanya bisa berharap lelaki menyebalkan itu bermimpi buruk, seburuk-buruknya mimpi.
****
Mata Ayu terbuka pelan sedikit demi sediki -- berusaha membiasakan matanya dengan cahaya matahari yang mulai menyusup dari cela jendela. Setalah terbiasa, matanya terbuka sepenuhnya. Bibirnya tertarik ke samping begitu lebar.
Setelah meregangkan badan, dia bangun dengan perasaan yang sangat senang. Entah apa yang membuat mood-nya begitu baik pagi ini. Dia menatap ke lantai, tidak ada apa-apa di sana. Seingatnya semalam Alex tidur di tempat itu.
Ah, Ayu tidak mau peduli. Pagi ini dia bersemangat, tak seperti pagi-pagi sebelumnya di mana dia tidak memiliki tenaga karena tersiksa morning sick. Dia berniat keluar kamar, sebelum pintu kamarnya terbuka dan Alex muncul dari balik pintu. Ada segelas air di tangan Alex.
"Air lemon hangat!" Alex menyodorkan gelas itu pada Ayu. "Selain kaya vitamin C dan air alkali, ini juga bisa meredakan mual." Alex lanjut menjelaskan.
Ayu meraih gelas itu dengan senyum dan mengucapkan terimakasih dengan suara kecil.
"Ah, kamu mau sarapan apa?" tanya Alex meraih kembali gelas kosong dari tangan Ayu.
makan
"Mau keluar beli ?" Ayu balik bertanya.
Alex menggeleng. "Aku yang masak."
Satu kening Ayu terangkat mempertanyakan kesungguhan perkataan Alex.
Alex mendekat dan mendaratkan kecupan singkat di kening Ayu, tangannya mengusap rambut perempuan itu.
"Kamu siap-siap aja, nanti tinggal makan."
Ayu mengangguk. Dia sangat jinak pagi ini, senyum pun tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Kamu mandi pagi-pagi?" tanya Ayu sambil mengendus pelan ke tubuh Alex.
Alex mengendus tubuhnya pula. Justru dia sempat olahraga sebentar dan membuatnya sedikit keringatan.
"Aneh!" ucap Ayu kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Dia terus bertanya-tanya tentang pagi yang aneh ini. Selain mood dan morning sick-nya yang tidak kambuh, biasanya Ayu membenci aroma tubuh atau pun parfum, namun dia sangat menyukai aroma tubuh Alex yang keringatan.
***
😍
Aku bagi dua part ya, hehehe
Lanjutannya ditunggu.
Jangan bosan-bosan, 😘
__ADS_1