
Ayu keluar dari lift dan langsung menuju sebuah cafe di mana Alex berada. Ayu berhenti tepat di luar cafe berdinding kaca itu, tatapannya tertuju pada lelaki yang sedang duduk sambil memainkan HP. Alex menunggunya selama dua jam di sana, entah berapa gelas kopi uang telah denganmengaliri kerongkongannya.
Sekali lagi Ayu membatin mengenai kelanjutan kehidupan pernikahannya ke depan. Mulai bimbang mengenai keputusan yang akan diambilnya sendiri, melanjutkan pernikahan atau bercerai setelah Ayu merasa cukup untuk mulai mampu membesarkan anaknya sendiri. Impian Alex adalah membentuk sebuah keluarga bahagia, dan Ayu yakin tidak mungkin ada pernikahan bahagia tanpa ada cinta.
Air mata Ayu mulai menetes. Dia mengasihani diri sendiri, juga Alex yang harus mengubur impiannya. Ayu tidak mungkin bisa mewujudkan impian Alex untuk memiliki keluarga bahagia seperti yang diimpikannya. Ayu tidak mencintai Alex, begitupun sebaliknya.
Tidak berani masuk, Ayu memilih berdiri sambil menenteng tas dengan kedua tangan di depan pahanya. Dia hanya menatap kosong ke arah lelaki itu, membiarkan pikirannya melayang dengan penyesalan lagi dan lagi. Dia menunduk sejenak sambil memejamkan mata, berusaha untuk menenangkan diri agar air matanya tidak menetes.
Saat Ayu mengangkat wajah dan kembali menatap Alex melalui kaca cafe, lelaki itu tampak melambaikan tangan dengan senyum yang melengkung. Senyum itu indah, Ayu mengakuinya. Sayangnya, senyum itu bukan miliknya. Dia tidak akan pernah bisa mengklaim Alex sebagai miliknya.
Meskipun ada kekecewaan dalam hati Ayu, namun saat melihat senyum itu bibirnya seakan memiliki naluri sendiri untuk ikut melengkung. Kakinya mengambil langkah cepat, seakan berlari kecil untuk cepat sampai di meja Alex.
"Mau minum?" tawar Alex.
Ayu menggeleng.
"Pulang sekarang?"
Ayu mengangguk.
"Singgah di super market sebelah dulu, boleh?"
Ayu mengangguk setuju.
Alex berdiri diikuti oleh Ayu. Mereka berjalan beriringan menuju supermarket yang berada di kawasan pusat perbelanjaan yang berada di gedung yang sama dengan apartemen Karin.
Di super market, Ayu hanya memandangi Alex yang mendorong troli. Lelaki itu sesekali mengamati beberapa barang dan menunjukkannya pada Ayu, seakan meminta pertimbangan atau persetujuan pada Ayu untuk membeli barang itu.
Alex berhenti di rak berisi berbagai jenis susu untuk ibu hamil.
"Ini susu yang kamu minum, kan?"
Ayu membalas singkat. "Ya."
Kening Alex mengerut. Dia membaca satu persatu kandungan gizi dalam susu itu kemudian membandingkannya dengan beberapa kotak susu dengan merek yang berbeda.
"Yang ini kandungan kalsiumnya lebih tinggi, mending minum yang ini saja," kata Alex sambil menyodorkan kotak susu dengan merek yang berbeda.
Ayu hanya tersenyum. Dia sudah cukup pusing dengan pikirannya saat ini, sehingga memilih untuk menuruti keinginan Alex. Lagipula, menurut Ayu semua susu sama saja.
Alex meletakkan dua kotak susu di troli. Sebelum melanjutkan langkah, Alex mencoba melihat merek susu yang lain.
"Vitamin D susu yang ini lebih tinggi, kalsiumnya juga sama, yang ini saja." Alex mengambil kembali kotak yang ada di troli dan menggantinya dengan yang baru.
Lantaran tidak tahan dengan Alex yang plin-plan, Ayu mengambil alih troli dan mendorongnya. Dia tidak peduli dengan Alex yang protes dan memintanya untuk berhenti dulu. Di rak tadi banyak sekali jenis susu untuk ibu hamil, dalam satu merek saja ada dua sampai tiga jenis. Kalau Alex ingin menguliti satu persatu kandungan nutrisi susu itu, sampai besok pun kegiatan berbelanja Alex tidak akan usai.
"Tunggu dulu, Sayang. Aku belum selesai milihnya." Alex membujuk Ayu.
"Itu yang di troli apa, Lex. Kamu terlalu pemilih." Protes Ayu.
Alex membela diri. "bukan pemilih, tapi aku cuma mau yang terbaik buat kamu dan calon anak kita."
Ayu mulai tak mau kalah. "Nggak, kamu terlalu pemilih. Dimana-mana semua susu ya sama aja gunanya. Lagian juga dokter udah resepin beberapa multivitamin."
Alex menarik napas panjang, kemudian tersenyum. "Baik, baik, yang penting kamu senang, Sayang."
Mereka melanjutkan kegiatan berbelanja. Ayu sama sekali tidak meraih satu barang pun, dia hanya bertugas untuk memberikan pendapat pada setia produk yang ingin dibeli oleh Alex.
Ayu menatap troli yang sekarang di dominasi oleh sayuran dan buah. Alex tadi beralasan bahwa ibu hamil butuh banyak vitamin dan nutrisi. Selain itu Alex juga menekankan bahwa kulkas Ayu tidak pantas dikatakan sebuah kulkas karena nyaris kosong dan hanya didominasi telur, air dan es krim.
"Kamu suka yogurt yang mana? Yang ini yang itu?" tanya Alex sambil menunjuk dua yogurt literan.
Ayu berlipat tangan di depan dada. "Yang mana aja, toh sama-sama yogurt."
Alex menggeleng pelan. "Ya jelas beda, kan produsennya beda. Satu pabrik aja bisa beda rasanya, kamu biasa pake yang mana?"
Ayu menatap kedua yogurt itu. "Aku nggak terlalu suka yogurt."
"Ya udah, yang ini aja, aku pake yang ini." Alex memutuskan sendiri setelah melihat Ayu sama sekali tidak membantu.
Ayu memutar bola matanya. "kenapa nggak ambil yang itu dari tadi, sok pake bertanya segala."
"Yang mau makan kan kamu, Yang. Ini itu namanya komunikasi. Komunikasi yang baik akan menghasilkan kerja sama yang baik, Right?" Alex menjelaskan.
Ayu hanya mengangguk-angguk, meski sebenarnya tidak mengiyakan pernyataan Alex.
"Ada sesuatu yang kurang, atau yang mau kamu beli?"
Lagi, Ayu hanya menggeleng. Dia tidak ingin berlama-lama di sana. Yang Ayu inginkan saat ini adalah pulang dan beristirahat. Dia sangat lelah dengan segala masalah di kantor, juga Alex, si sumber masalah terbesar yang pernah dihadapi oleh Ayu.
__ADS_1
Alex mendorong troli menuju kasir, tidak banyak antrian sehingga mereka hanya tinggal menunggu seorang lelaki menyelesaikan transaksi. Dia mengeluarkan barang satu persatu dari troli dibantu oleh Ayu yang kebetulan berada di depan troli itu.
"Mbak, satu rokok Marlboro merah boleh?" pinta lelaki dengan kemeja biru di depan Ayu.
Mata Ayu membulat. Suara bariton yang akrab di telinga Ayu, juga merek rokok yang sering kali dia patah. Ayu menatap ke depan -- ke arah pundak lebar. Bahkan, ditatap dari belakang saja Ayu tahu siapa lelaki itu.
Tatapan Ayu terus tertuju pada Penggung lelaki itu, sehingga saat tiba-tiba si lelaki berbalik spontan Ayu kaget dan mengangkat wajah. Mata besarnya semakin besar, menatap pemilik wajah tangan sedang dia tatap.
Dua tahun tidak berjumpa, tidak mengubah ingatan Ayu tentang lelaki itu, Arya.
"A--Ayu?"
Ayu menelan ludah saat mendengar namanya di panggil. Susah payah Ayu melengkungkan bibir.
"H--hai!" sapa Ayu kaku.
Ayu menatap mata itu, mata yang selalu dia rindukan. Mata yang dulu menatapnya penuh cinta dan rasa takut kehilangan. Menatap mata itu hampir membawa Ayu kembali pada manis dan pahitnya memori lama, namun sebuah panggilan menyadarkan Ayu.
"Sayang!" panggil Alex lembut.
Ayu berbalik menatap Alex dengan tatapan kosong, kemudian berbalik lagi ke arah Arya seperti orang linglung.
"Ah, jadi benar di foto itu kamu," ucap Arya.
Ayu sempat mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan ucapan Arya, namun kembali teringat dengan fotonya dan Alex yang terpasang di salah satu akun gosip Instagram.
"Ah, iya." Ayu mengiyakan dan beralih pada Alex di belakangnya.
Ayu menggoyangkan tangan di udara sebagai tanda memanggil Alex mendekat.
Alex yang tidak tahu apa-apa hanya menurut dan mendorong troli ke belakang untuk mendekat pada Ayu yang dari tadi berinteraksi dengan seorang lelaki.
"Ini Alex," kata Ayu pada Arya.
Alex memberi senyum pada lelaki yang ada di depannya, kemudian beralih pada Ayu yang tiba-tiba menggandeng tangannya. Alex merasa Ayu sedikit berbeda, biasanya perempuan itu menjaga jarak beberapa sentimeter darinya.
"Sayang, ini Arya." Ayu memperkenalkan Arya pada Alex.
Nama lelaki yang berdiri di depan Alex, memperjelas sikap aneh Ayu yang berubah.
"Arya? Teman kantor?" tanya Alex seakan tidak tahu apa-apa.
Ayu menggeleng dan tersenyum. "Bukan, teman lama."
"Ah, kami ada resepsi Jumat nanti. Kami tidak menyebar undangan, tapi kalo ada waktu kami pasti akan senang kamu datang." Alex mengundang Arya dengan ramah seakan lelaki di depannya itu adalah temannya.
Dari tadi Alex terus memperhatikan raut wajah Arya. Ada rasa tak senang di wajah lelaki itu, meski wajahnya dibuat seramah mungkin.
"Wah, selamat." Arya membalas singkat, tidak menolak ataupun menyetujui undangan Alex.
Alex tidak terlalu peduli dengan jawaban Arya. Dia pun tidak serius saat meminta lelaki itu datang di resepsi pernikahannya. Dia hanya menikmati perubahan mimik Arya. Melihat Arya tersenyum dengan rahang yang mengeras, cukup menghibur Alex.
Sementara kedua lelaki itu berbincang, Ayu mulai mengatur barang di depan kasir. Ayu hanya bisa berharap Alex tidak salah bicara di depan Arya.
"Ah, kalau begitu aku duluan." Pamit Arya sedikit membungkuk pada Alex.
Arya beralih pada Ayu. "senang ketemu kamu lagi, Yu."
Ayu berbalik pada Arya dan menjawab dengan kaku. "Ya, aku juga."
Ada yang berbeda dengan tatapan Arya, Alex sangat tahu arti tatapan itu. Sebagai suami Ayu, Alex tidak suka dengan tatapan itu. Cemburu? Tidak juga, Alex hanya tidak suka saat miliknya diganggu, bahkan hanya dengan tatapan.
"Yang, ini!" Alex menyodorkan dompet pada Ayu. "aku ke sana dulu, sebentar sekali."
Tanpa menungguku balasan Ayu, Alex berlari kecil setelah dompetnya dipegang oleh Ayu. Dia menghampiri Arya yang berjalan lambat.
"Hei, Bro!" Alex menepuk bahu Arya.
Arya berbalik, ekspresinya tak terbaca. Namun, Alex tahu tidak ada kesan ramah di sana, sedikit berbeda saat di depan kasir tadi.
Dalam hati Alex mulai memikirkan hal apa yang harus dia lakukan pada Arya. Sedikit bermain-main pasti akan semakin menyenangkan.
"Kebetulan sekali kita ketemu di sini," ucap Alex.
Arya hanya terdiam dan memberi seulas senyum.
"Aku cuma mau tau, apa kalian dulu pernah dekat? Kamu dan isteriku?" tanya Alex yang sengaja menggunakan kata isteri sebagai bentuk kata ganti milik.
Bukannya menjawab, Arya justru balik bertanya. "Apa dia tidak pernah cerita tentangku?"
__ADS_1
"Ayu sangat tertutup tentang masa lalunya, karena itu aku senang bertemu denganmu." Ungkap Alex.
"Aku tidak punya hak untuk itu. Dia tidak cerita mungkin karena memang bukan sesuatu yang penting." Balas Arya.
Alex mengangguk mengerti. "Benar juga, aku tadi pikir kalian dulu cukup dekat."
Arya hanya diam dan rahangnya mengeras.
"Permisi," pamit Alex.
Alex berbalik dengan senyum puas. Dia tidak punya dendam pada Arya, namun mengingat apa yang dilakukan lelaki itu pada Ayu membuatnya sedikit jengkel.
"Kamu ngomong apa sama Arya?" Todong Ayu setelah Alex tiba di sampingnya.
"Bukan apa-apa, hanya sekedar tanya kabar."
"Tanya kabar? Jangan bohong!"
"Bukan hal penting, cuma mau tau makanan kesukaan kamu apa?"
"Terserah! Bawa belanjaanmu sendiri!" ketus Ayu seraya berjalan sambil berlipat tangan.
***
Setelah mengatur belanjaan, Ayu duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Mulai memilih salah satu channel asal Korea yang menampilkan sebuah variety show tentang ayah selebriti dengan anaknya. Ayu hanya menonton sebentar, karena perhatiannya kembali teralihkan oleh layar HP-nya. Seperti malam-malam sebelumnya, dia selalu membaca satu persatu laporan penjualan.
Saat serius mengetik pesan, HP Ayu tiba-tiba ditarik oleh Alex. Ayu mencoba meraih HP-nya, tetapi Alex memegang erat HP itu dan menyembunyikannya di saku belakang jeans-nya.
"Alex, balikin!_
"stop main HP-nya, minum susu dulu!" Alex menyodorkan segelas susu hangat pada Ayu.
Ayu meraih gelas itu dan langsung meminumnya. Gelas kosongnya kemudian disodorkan kembali kepada Alex.
"Balikin HP-ku!"
Alex berbalik, pura-pura tidak mendengar permintaan Ayu. Dia masuk ke dalam dan mencuci gelas minum Ayu.
"Alex! HP!" teriak Ayu dari luar dengan suara melengking.
Dari arah dapur, Alex hanya tersenyum menatap tatapan membunuh Ayu.
Tangan Ayu terangkat. "HP-ku!"
"Sibuk banget sama HP, kan ada aku."
"Itu tuh masalah kerjaan, lagi baca report."
Alex berdecak. "Di rumah ya di rumah." Dia kemudian melanjutkan, "emang gak mau quality time bareng suami tampanmu ini Sayang ?"
Ayu mencibir. "Kok jadi eneg dengernya."
Alex menggeleng-geleng. "Ini nih sifat yang paling aku suka dari kamu Sayang, jaim dan jual mahal, bikin penasaran."
"Duh, sumpah, kamu nyebelin banget. Aku cuma minta HP-ku balik, nggak usah ngelantur kemana-mana!"
Dengan tawa kecil Alex mengembalikan HP Ayu. Dia mengambil tempat di samping Ayu. Sementara Ayu melanjutkan kerjanya, Alex memilih bersandar di pundak Ayu sambil menonton Televisi. Ayu berkali-kali menggeser kepala Alex menjauh, namun lelaki itu Tidka menyerah sehingga Ayu memilih untuk membiarkan kepala Alex di pundaknya.
"Wah, makannya lahap sekali!" Alex memuji balita di acara yang dia tonton.
Ayu yang sudah selesai dengan laporan via WhatsApp-nya beralih pada layar televisi.
"Ini acara seru, apalagi pas bagian Hammington family, lucu. Yang sulung itu namanya William, yang bungsu Bentley. Mereka lucu, kan?" Ayu menjelaskan.
"Ya." Alex mengiyakan, "keren ya, si Ayah bisa kerja sekaligus bermain dengan anaknya. Lihat, bagaimana mereka sangat dekat dan bisa mengekspresikan perasaan mereka dengan baik. Anak penyayang biasanya dibesarkan dengan penuh kasih sayang juga."
Ayu melirik sekilas pada Alex yang mengangkat kepalanya dari pundak Ayu. Ayu tidak bisa membaca ekspresi Alex, namun ada rasa iri di sana saat Alex melihat kedekatan keluarga kecil di acara itu.
"Bagaimana dengan kamu, kamu penyayang atau bukan?" tanya Ayu tiba-tiba.
Alex mengalihkan pandangan pada Ayu yang juga sedang memandang ke arahnya. Mereka saling bertatapan singkat. Alex menarik sudut bibirnya pelan.
"Entah? Menurut kamu bagaimana?"
Mata hazel dan suara lembut itu seakan mematikan seluruh saraf Ayu. Dia tercekat, dan nyaris tidak bisa berpikir apa-apa. Meski tidak tahu jawabannya dengan pasti, Ayu tahu satu hal bahwa jika Alex masuk ke dalam kehidupannya dengan cara dan waktu yang tepat maka tanpa diminta pintu hatinya dengan mudah terbuka untuknya.
Ayu mengenal Alex sangat singkat, dan diwaktu yang singkat itu dia sangat yakin bahwa Alex adalah lelaki yang tulus.
***
__ADS_1
.
Aku bagi dua part ya, part selanjutnya diusahakan lebih lebih cepat. 💜