Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
A Beginning


__ADS_3

Alex mengeringkan kepalanya dengan handuk kecil usai mandi. Dia bersiul kecil sembari menatap pantulan tubuhnya yang hanya dililit handuk di cermin. Jiwa narsisnya berdesir menatap pantulan itu. Dia menggeleng memuji keindahan dirinya sendiri.


Seusai mengenakan celana piyama, Alex meraih benda pipih persegi di nakas. Dia akan menghubungi Ayu untuk memamerkan wajah tampannya. Selain itu dia juga sangat merindukan isterinya itu karena seharian mereka tidak bisa mengobrol banyak. Alex ada beberapa rapat untuk dihadiri, Ayu pun sibuk dengan audit yang berlangsung di dua tokonya.


Sambil berbaring, Alex menatap layar yang sudah menampilkan senyum Ayu. Perempuan itu sedang duduk di sofa dengan stoples camilan di tangan.


"Kamu makan angin, Yang?" Alex melihat keripik kentang di tangan Ayu.


"Aku lapar."


"Sudah minum susu?"


Ayu hanya menggeleng karena mulutnya dipenuhi makanan.


"Aku dingin, Sayang," ungkap Alex dengan satu kedipan.


"Lah, salah sendiri nggak pake baju."


"Aku pengen dipeluk," pinta Alex dengan suara manja dibuat-buat.


"Pulang sini!" kekeh Ayu.


"Janji ya, kalau pulang nanti dipeluk manja."


Ayu mengangguk kecil. Mereka berbincang lama. Dengan rasa tidak rela, Alex mengakhiri panggilan karena Ayu mengeluh mengantuk. Dia masuk dalam closet untuk mengambil baju dan berniat untuk tidur juga. Namun, suara bel membuatnya urung.


Tidak sembarang orang yang bisa sampai di depan pintu unit Alex. Hanya orang yang dekat dengannya dan yang bisa memencet bel. Mungkin salah satu dari dua pengacau; Gio dan Jonny. Sial benar hidup Alex memiliki dua teman seperti mereka, tidak tahu waktu saat bertamu. Semalam saja, mereka datang mengganggu sesi teleponnya dengan Ayu.


Alex mematung saat melihat perempuan yang kini berdiri di hadapannya. "A-ada a-pa ka-mu ke sini?"


Senyum terulas di bibir Tamara. "Tumben kamu tanya, biasanya juga kamu yang paksa datang."


Ya, Alex dulu bahkan sering memohon pada Tamara agar mengunjunginya. Biasanya, perempuan itu hanya datang saat sedang membutuhkan tempat bersandar atau tempat berkeluh kesah.


"Boleh aku masuk?" tanya Tamara.


Alex bergeser dengan kikuk. Dia menoleh ke kanan dan kiri koridor sebelum menutup pintu. Bagaimanapun, dia bukan pria lajang, tidak seharusnya menerima tamu perempuan di larut malam seperti ini. Kalau ada yang melihat, mereka bisa salah paham.


"Kamu sendiri?" tanya Alex setelah keluar dengan secangkir teh chamomile kesukaan Tamara.


"Iya."


"Richard mana?"


Tamara menyeduh tehnya, lalu menjawab bahwa Richard sednag ada pekerjaan di luar kota dan tidak bisa ikut.


"Ada apa? Tumben kamu datang malam-malam begini, habis nonton?"


Perempuan di samping Alex menggeleng. Dia terdiam lama dengan tangan memegang cangkir teh. Alex bisa melihat ada hak yang salah dengan Tamara.

__ADS_1


"Aku kangen ...," ucap Tamara tanpa mengungkap siapa objek rindunya. Alex langsung menebak bahwa perempuan itu merindukan opa-nya.


"Ya, aku kangen Opa." Suara Tamara bergetar. Dia menyandarkan kepala pada Alex. Tak tahu harus berbuat apa, Alex pun hanya membiarkan perempuan itu. "Aku juga kangen saat kita kecil dan bermain bersama opa. Aku mau masa itu kembali."


Alex juga rindu pada masa kecilnya; pada Tamara, pada Opa, dan keberadaan orang tuanya. Namun, dia bahagia dengan hidupnya sekarang. Ayu dan calon bayinya yang akan lahir.


"Aku kangen," lirih Tamara disertai isakan dalam peluk Alex.


Alex tak membalas. Dia memang merindukan Tamara. Namun, jika dia diberi kesempatan untuk memutar waktu dan memiliki Tamara, dia akan tetap memilih hidup di masa kini--membangun keluarga bahagia bersama isterinya.


"Richard tahu kamu ke sini?"


Tamara menggeleng. Alex pun mengelus pelan rambut perempuan itu. Setelah di rasa mulai tenang, dia melepas peluk Tamara dan membawanya menuju kamar.


"Kamu istirahat di sini. Biar aku tidur di ruangan kerja." Alex menarik selimut untuk Tamara sebei memasuki closet yang memhubungkan dengan ruang kerja dan perpustakaannya.


Alex tidak berpikir untuk membuat kamar baru di apartemennya, selain kamar bayi untuk anaknya kelak. Lagipula, dia tidak berniat menerima kunjungan untuk bermalam, selain Ayu tentunya.


Sebelum tidur, dia mengirim pesan pada Richard. Dia merasa perlu memberitahu lelaki itu tentang keberadaan Tamara agar tidak khawatir dan tidak ada salah paham.


***


Tidur di sofa lipat membuat badan Alex pegal. Namun, dia tidak mungkin membiarkan Tamara tidur di sofa, apalagi tidur di sebelah perempuan itu. Sudah saatnya untuk memulai aktivitas pagi seperti biasa. Selain itu, dia juga harus segera menghubungi Ayu. Kalau sampai terlambat, Ayu bisa marah.


Saat masuk ke dapur, Alex mendapati Tamara sedang sibuk dengan celemek yang terpasang di tubuhnya. Perempuan itu tersenyum menyambut kedatangan Alex.


"Ini, jus apel. Minuman wajibmu di pagi hari, 'kan?"


"Kamu olahraga aja dulu, biar aku yang buat sarapan," kata Tamara dengan lembut.


Alex tidak membalas, dia langsung melenggang menuju ruang gym. Selama berolahraga, dia hanya terpusat pada gerakannya. Tidak ingin terganggu dengan senyum dan perbuatan manis Tamara.


Selesai olahraga, dia mandi dan bersiap untuk bekerja. Di meja makan, Tamara sudah menunggu dengan kaya toast bread dan scramble egg.


Dalam benak Alex, dia membayangkan bagaimana rasanya jika Ayu bisa bersikap seperti Tamara. Ah, dia tidak akan membawa Ayu secara paksa untuk ikut dengannya. Kalau perlu dia akan memasukkan Ayu dalam karung agar menurut. Tanpa sadar, Alex tertawa kecil membayangkan pikiran gilanya.


"Ada apa, Lex?"


"A-ah, bukan apa-apa."


Alex mengambil tempat di kursi. Dia tidak pernah sekaku ini dengan Tamara. Biasanya, dia yang paling cerewet dan jahil pada Tamara. Entah kenapa ada rasa bersalah di dalam dirinya, tetapi tidak tahu untuk apa.


"Lex, tadi Ayu nelpon. Aku angkat, katanya dia ada rapat pagi. Jadi, kalau mau nelpon nanti siang aja."


Matilah Alex, semoga Ayu tidak berpikir macam-macam karena Tamara yang mengangkat teleponnya.


"Ya, dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Alex yang sebenarnya ingin bertanya apa Ayu terdengar marah.


"Dia baik-baik saja, kami mengobrol singkat. Aku juga bilang kalau aku nginap di sini karena ada urusan dan tidak ingin sendirian di hotel."

__ADS_1


Alex mengangguk pelan. Untunglah, Tamara juga sahabat Ayu. Dia yakin Ayu tidak akan marah dan cemburu pada Tamara. Dia tersenyum dan kembali menyantap sarapannya.


Duduk dan makan berdua dengan Tamara membuat Alex semakin merindukan Ayu. Pasti akan lebih menyenangkan jika yang duduk di hadapannya adalah Ayu.


***


Ayu menanti telepon Alex sedari tadi. Dia menekan egonya dan memberanikan diri untuk menelepon terlebih dahulu. Namun, apa yang dia dapat tak seperti harapannya. Tamara di sana bersama Alex. Perempuan itu menginap di apartemen suaminya.


Wajar bukan bila Ayu merasa cemburu dan sakit hati. Apalagi dia tahu bahwa hati Alex masih milik Tamara. Dia meraih tas dan memilih untuk segera berangkat bekerja. Meskipun, saat berada di dalam mobil, dia tidak langsung melaju.


Air mata yang dari tadi tertahan telah mengalir di pipi Ayu. Dia menyandarkan kepala di setir mobil dan terisak sendiri. Di sini dia menangis, sementara Alex dan Tamara mungkin sedang tertawa bersama.


Setelah tenang, Ayu mengemudikan mobilnya. Sialnya, saat di lampu merah dia tidak begitu memperhatikan sehingga terus melaju. Tabrakan ringan pun tidak bisa dihindari saat mobil di depannya telah berhenti mengikuti tanda lampu. Tubuhnya terlonjak ringan, dia langsung bmemegang perutnya yang sempat terdorong karena seat belt yang kencang.


Dia mengutuk kecerobohannya. Saat seseorang mengetuk kaca mobil, dia segera menurunkan kaca dan mendapati lelaki yang gusar.


"Mbak, bisa nyetir nggak sih!" bentak lelaki itu. Mereka sudah menjadi pusat perhatian di pagi hari. Banyak suara yang ikut bicara, menyuruh kami menyelesaikan di bahu jalan karena mengganggu lalu lintas.


Tidak ingin masalah itu memanjang, aku dan pemilik mobil yang kutabrak akhirnya meminggirkan mobil masing-masing.


"Mas, maaf yah. Aku tidak liat lampunya tadi."


"Memangnya maaf bisa memperbaiki bumper saya!" Lelaki tempramen itu membentak Ayu.


"Ini kartu namaku, aku akan bayar biaya bengkelnya. Tapi, aku burui karena ada rapat."


"Kamu pikir saya tidak memiliki urusan. Kamu pikir lelaki seperti saya pengangguran yang bisa kapan saja membawa mobil ke bengkel. Enak saja!"


"Ayu!"


Ayu langsung berbalik begitu mendengar namanya dipanggil oleh pemilik suara yang sangat dia kenal. Di antara semua orang yang dia kenal, lelaki itu yang sangat tidak dia harapkan muncul.


"Ada apa?" tanya Arya yang kini sudah berada di samping Ayu.


Tidak sempat Ayu menjelaskan, lelaki dengan tempramen buruk itu langsung memberi penjelasan, bahkan menambahkan bahwa Ayu seharusnya tidak membawa mobil karena bisa membahayakan orang lain. Lelaki itu tak sepenuhnya salah, tetapi nada bicara arogannya membuat Ayu naik pitam. Ingin rasanya Ayu melempar lelaki itu dengan batu.


"Kalau cuma itu masalahnya, nanti mobil Anda biar saya yang urus. Kebetulan saya punya showroom dan bengkel. Nanti biar karyawan saya yang mengambil mobil Anda dan akan diantarkan segera setelah selesai. Saya juga akan memberi kendaraan sementara sampai mobil Anda dikembalikan."


Usai menyelesaikan urusan dengan lelaki yang mobilnya dia tabrak, Ayu berpamitan dan berterimakasih pada Arya. Selain itu, karena mobilnya juga lecet, Arya juga akan ikut memperbaiki mobil Ayu itu.


"Makasih, Arya. Kalau bukan kamu, urusannya pasti bakal panjang."


"Anytime, Yu. Kapan pun kamu butuh bantuan, jangan sungkan hubungi aku."


Tatapan itu masih sama dengan tatapan yang diingat oleh Ayu. Dia mungkin sudah merelakan Arya. Namun, dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa sampai kapan pun lelaki yang berada di depannya itu akan selalu memiliki tempat sendiri yang tak tergantikan di hatinya.


Tidak ingin lama-lama terjebak masa lalu, Ayu segera melambai singkat dan kembali ke mobil. Dia mengelus pelan perutnya yang mulai membesar. Dia membayangkan bagaimana hidupnya jika ayah dari janinnya adalah Arya. Pasti dia akan sangat bahagia, tidak perlu ada kejadian buruk seperti pagi ini karena Arya akan selalu ada menjaganya. Arya akan selalu ada di sisinya, bukan menginap dengan perempuan lain.


***

__ADS_1


Maaf untuk Typo dan tulisan yang berantakan. Mata merem-melek nahan kantuk demi UP sebelum pagi 😊


Semoga kalian suka dan terhibur. Badai udah mulai dicicil 😉


__ADS_2